-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Melongok Eksistensi Kaum Kartini Milenial

Rabu, 24 April 2019 | 19:00 WIB Last Updated 2019-04-24T12:00:04Z
Melongok Eksistensi Kaum Kartini Milenial

Oleh I Made Kridalaksana

“Saya bukan seseorang yang memiliki koneksi pejabat atau uang buat nombok sana-sini, saya hanya berbekal kemampuan otak yang itupun saya dapatkan dengan belajar siang dan malam.” (Mellysa Kowara, 2017)

Tanggal 21 April setiap tahun diperingati sebagai Hari Kartini. Hari peringatan ini merupakan momentum bagi kaum perempuan untuk mengobarkan semangat emansipasi agar setara dengan laki-laki dalam berbagai hal. Upaya keras Raden Ajeng Kartini menancapkan tonggak sejarah perjuangan kesetaraan gender di masa lampau mampu menginspirasi lebih banyak perempuan milenial untuk lebih berperan aktif dalam memperjuangkan kesetaraan hak-haknya. 

Sekitar dua tahun yang lalu, publik di Bali dikejutkan dengan kehadiran sesosok perempuan muda yang namanya sempat wara-wiri baik di media sosial maupun media cetak. Ia adalah Mellysa Kowara. Kalau saja saat itu ada ajang penghargaan Kartini of the Year, Kartini Awards, Kartini Idols atau semacamnya, ia tentu layak dinobatkan sebagai salah satu pemenangnya. 

Sebagaimana perempuan muda era milenial pada umumnya, dalam kesehariannya, tentu ia bukanlah sosok yang selalu mengenakan kain kebaya lengkap dengan selendang maupun rambut yang disanggul. Namun, berkat semangat Kartini yang seolah mengalir di seluruh tubuhnya, ia melahirkan tradisi baru dalam memperjuangkan kebenaran, kesetaraan, pengakuan prestasi, sekaligus harga diri. 

Melalui bantuan media sosial, serta didukung keberanian yang membaja, secara jujur ia membuka ketidakadilan yang ia alami pada proses rekrutmen pegawai kontrak/non PNS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bali Mandara.  Hal ini sekaligus mendobrak tradisi koh ngomong—malas berbicara—yang bagi perempuan seusianya mungkin masih sangat membudaya. Sikapnya yang berani memperjuangkan diri ini sekaligus merupakan implementasi empat pilar pendidikan karakter. 

Pendidikan karakter terbagi dalam empat pilar yakni olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Olah pikir meliputi beberapa karakter seperti cerdas, kritis, dan kreatif. Selanjutnya, beberapa karakter olah rasa antara lain: nasionalis, bijak, sopan santun, apresiatif, dan mengutamakan kepentingan umum. Berikutnya, karakter olah hati meliputi sikap jujur, bertanggungjawab, adil, dan berintegritas Yang terakhir, karakter olah raga mencakup beberapa hal seperti: disiplin, bekerja keras, dan berdaya saing (Yaumi, 2014: 44-59). 

Terkait dengan olah pikir, Mellysa Kowara termasuk perempuan yang cerdas, kritis, dan kreatif. Sebagaimana ditulis di laman facebooknya, yang juga sudah beredar di media massa, ia termasuk sosok yang cerdas. IPK-nya pada bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat 3,87 serta didukung kemampuan berbahasa Inggris berkriteria competent user pada tes IELTS. 

Sikap kritisnya ditunjukkan dengan keberanian mengunggah ketidakadilan yang ia—mungkin juga rekannya—alami pada tahapan tes rekrutmen tenaga kontrak di RSUD Bali Mandara. Kalau Raden Ajeng Kartini dulu menyampaikan keluh kesahnya melalui surat, Mellysa Kowara menyuarakannya secara kreatif melalui postingan di facebook. Dengan memanfaatkan media sosial secara bijak, ia mengkritisi sekaligus mengharapkan solusi dari pihak terkait agar pelaksanaan rekrutmen pada tahun-tahun selanjutnya berubah ke arah yang lebih baik serta lebih terbuka sehingga menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang memang qualified dan profesional.

Pun demikian dengan olah rasa. Mellysa Kowara sangat menghargai prestasi dirinya. Ia yang lulus dari universitas ternama di Bali dengan IPK cum laud ini merasa mendapat perlakuan yang tidak adil. Ia yang memperoleh ranking dua pada Tes Kemampuan Dasar (TKD) melalui Computer Assisted Test (CAT) dari seluruh peserta ujian Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) harus terlempar bebas setelah mengikuti tes wawancara dengan pertanyaan sederhana yang berlangsung dalam hitungan menit. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau akhirnya ia mendatangi lembaga-lembaga yang berwenang untuk mendapatkan keadilan. 

Suatu langkah yang wajar dan solutif. Hal ini memberikan pembelajaran bahwa ketidakadilan yang kita alami jangan dibiarkan berlalu tanpa solusi. 

Berikutnya, olah hati. Kejujuran Mellysa Kowara untuk membuka ketidakwajaran tahapan tes sekaligus mengindikasikan ia menginginkan keadilan. Berkaitan dengan rasa keadilan yang ia dambakan, ternyata yang ia dapatkan malah sebaliknya, ketidakadilan. Ia yang mestinya lolos ke tahap selanjutnya malah harus tersingkir. Sementara, yang peringkat hasil tes berada di bawahnya malah banyak yang menyeruduk posisinya. 

Untuk memperjuangkan keadilan tersebut, kita perlu angkat topi, karena ia tidak lekas menyerah. Ia adalah perempaun muda yang bertanggung jawab. Melalui pernyataannya di sejumlah media, ia sudah mempertimbangkan konsekuensi serta resiko dari tindakannya dalam memperoleh keadilan. Oleh karena itu, dengan pertimbangan tertentu serta dukungan keluarganya, ia memberanikan diri menempuh jalur hukum, jalur politik.

×
Berita Terbaru Update