-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ADA APA DENGAN LARA

Sabtu, 15 Juni 2019 | 15:37 WIB Last Updated 2019-12-04T23:11:50Z
ADA APA DENGAN LARA
Foto: Dominikus Siong


Oleh: Dominikus Siong

Lara namaku! Aku terdampar bak sampah tak berarti.
Dunia di sampingku mengatai aku ini dan itu. Telinga kecilku belum mengerti.

Tetapi banyak orang yang menghampiriku ramah, seolah akulah yang teristimewa di dalam dunia ini. Aku masih begitu belia memahami fenomena dunia yang kian berubah yang kini telah menelan sosok ayah yang aku dambakan.

Ada banyak orang melihatku ceria, tetapi hadirku mengatakan sesuatu yang tak terpikirkan olehku.

Ibuku kini ceria dalam kesepian, aku tahu persis deritanya, namun aku tak kuasa mengungkapkannya, apalagi kepada dunia yang tidak mampu menyimpan rahasia. 

Seperti kata seorang bijak bahwa “sesuatu yang rahasia ketika diceritakan kepada ‘sahabat’ yang kita anggap setia dan mampu menyimpannya, pada saat itu pulalah kita mengalienasi diri dari orang yang bersangkutan”. Aku sudah terlalu sering mengalaminya.

Namun telinga dan hati kecilku cukup luas untuk menelan semua itu. Bahkan kejadian-kejadian akhir-akhir ini membuatku semakin skeptis dengan kaum adam.

Ayahku telah pergi selamanya, walau masih berada di dalam dunia tetapi di mataku ia adalah orang asing.

Demikian pun aku di hadapannya, ia melihatku seperti bukan anaknnya dan bahkan tak pernah menganggap aku ada. Itu terasa kala ia mengunjungi keluarga pada perayaan tahun baru china, IMLEK. Walaupun makna imlek itu sangat dalam namun dangkal di hadapan sosok lelaki itu.

Saat ia tiba di rumah, ia lebih peduli dengan kakakku Selgis, aku dapat memahaminya sebab aku sejak kecil telah ditolaknya dan tidak pernah dianggap sebagai anaknya.

Mungkin kakakku merasakan itu kala melihat sosok lelaki itu mengunjunginya. Aura keayahannya kini pecah di ambang pernikahan yang tidak sah bersama wanita teman sekelas Ibuku.

Jika ditanya “Adakah seorang Ayah yang demikian kepada anaknya? Jawabannya ada di saya.

Saya mengalami keteralienasian sejak aku berada dalam kandungan ibuku. Denyut-denyut nadi mamaku berteriak keras kepedihan, seolah mengatakan bahwa Ayahku menolak adaku.

Sebagai anak yang manis aku hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa suara. Mungkin hanya dengan air mata beningku itulah aku bisa berteriak, mengapa TUHAN harus membuatku ada? Bukankah aku anak manis seperti yang dikatakan orang di sekitarku. Iya...

Aku di sekolah Sang Timur pun merasa enjoy, diterima dan bahkan disanjung-sanjung sebagai anak manis, cantik, pinter, dan ceria.

Tetapi seandainya kalian tahu latar belakangku kalian mungkin akan menarik segala apresiasi kalian itu kembali.

Tetapi bagi orang yang beriman akan Yesus Kristus justru aku menjadi orang yang “dispesialkan” dalam hidup. Sebab aku yakin tidak mungkin aku ada ke dalam dunia kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku.

Setiap jalan yang dipilihkan-Nya untuk kita mungkin bermacam-macam. Aku justru diberi melewati jalan sensitif ini, bahkan haram bagi orang yang dangkal berpikir sehat.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kierkeggaar bahwa manusia telah teralienasi sejak ia dilahirkan, sebab dalam keadaannya semula ia tinggal dalam kesatuannya dengan Sang Penciptannya.

TUHAN ALLAH KITA, YESUS KRISTUS telah menempuh jalan Salib yang sangat berat. Ia, sejak semula dalam rahim Ibu-Nya Maria telah memanggul salib.

 Adakah di muka Bumi ini anak Presiden mau menjadi pengemis jalanan demi pengemis-pengemis yang lain? Hidup bagaikan suatu keadaan keterlemparan, demikian ulasan Martin Heidegeer tentang manusia.

Aku salah satu puteri ‘Sang Ada’ yang berziarah di tengah dunia melalui jalan ‘genit’ ini. Genit yang saya maksudkan disini adalah bahwa ada semacam ketimpangan seseorang yang  kini telah lari dari diriku, itu adalah sosok Ayahku.

Dalam benakku, mungkin itu hanyalah ilusi nafsu yang membuatnya teralienasi dari cinta ibuku. Aku mengatakan itu karena ada ‘pembuta mata-cintanya’ akan ibuku oleh gadis lain terhadap ayahku.

Seandainya Ayahku bijaksana, mungkin aku dipeluk erat seperti anak yang hilang kembali pulang ke pelukan Sang Bapa-nya.

Sungguh manusia tetaplah manusia, atau mungkin sudah lupa menjadi manusia sehingga membinatangkan aku yang tidak tahu apa-apa.

Jika alasannya adalah kepuasan jasmani semata, mengapa jiwanya tidak diberi makan. Andaikata ayahku a wise men pasti aku dan ibu serta kakakku Selgis tidak akan ditelantarkan di jalan raya ini.

Setiap hari dan bahkan setiap saat kami hanyalah tontonan sekaligus trending topic pembicaraan penggosip-penggosip hari.

Luar biasa, aku hanya bisa tertawa dalam diam, menguping kebenaran, mau keluar rasanya aku malu kalau-kalau wartawan menanyai aku ini dan itu.

Tetapi di balik pintu masa kecilku, aku tetap pergi ke sekolah dengan ramah dan bahagia. Hanya hal ini yang kutakutkan bahwa kalau-kalau kelak aku-ku yang besar sulit menerima kenyataan dan celotehan tidak sehat dari teman-teman, sahabat dan bahkan keluarga dekatku.

 Langkahku rasanya pasti akan menyusut dan bahkan aku akan tua tidak pada waktunya.

Nenekku gambarannya, ia seorang yang sangat kuat. Dalam kesehariannya ia selalu menyempatkan dirinya untuk melayani orang lain.

Senyumannya bertahan dalam caci maki, hujatan diam-diam dari banyak orang dan bahkan kecurigaan-kecurigaan tertentu dari mata dan pikiran manusia lain. Aku membaca raut wajahnya, ia keliatan begitu tua, tetapi langkahnya tetap gesit menuju gereja dan meja kerjanya.

Titik-titik keringatnya menyuburkan rejekinya sehari-hari. Banyak orang menyukai meneladani cara hidupnya.

Walaupun aku dan mama serta kakakku Selgis sering memberatkan bebannya, namun ia adalah sosok ibu yang sudah berpengalaman menempuh hidup.

Atau dalam bahasa orang pada umumnya “sudah banyak makan garam”. Tetapi sampai kapan ia ada, siapa yang akan menggantikannya? Mungkin ibuku akan seperti itu.

Aku berharap hanya ibuku yang tahu dan mengerti aku. Kini aku mau berangkat sekolah lagi untuk mengisi diri sebagai bekalku di kemudian hari.

Eh o iya...ada yang lupa aku ceritain. Ini ada sepenggal cerita lagi. Bersabar ya! Jadi begini, akhir-akhir ini keluargu sering dikunjungi orang-orang yang mau bermurah hati kepadaku dan kepada keluargaku. Aku tidak tahu apa yang menggerakkan mereka demikian.

Namun dari dalam benakku aku berpikir rupanya “aku tidak sendirian” masih ada orang yang mau setia menyapaku, bahkan memuji aku cantik, pinter dan anak yang baik.

Tetapi apakah kamu tahu bahwa aku baik, sebetulnya ada sesuatu yang kusembunyikan. Bagi orang yang tidak biasa merefleksikan hidupnya dan hidup orang lain, samar-samar akan terjebak oleh langkah lakuku yang kadang-kadang seperti menipu.

Sekali lagi aku masih kecil, jadi beban yang selalu mengundangku untuk menjadi rendah diri masih bisa kutepis bersama teman-temanku di sekolah dan dengan mainan boneka kecilku.

Tetapi kamu semua tidak bisa membaca raut wajahku yang kelihatnya cantik namun menyimpan rasa malu terhadap teman-teman dan bahkan setiap orang yang datang.

Walaupun aku masih kecil dan belum tahu menahu tentang apa itu persoalan, tetapi aku melihat dan merasakan sesungguhnya banyak orang yang bisa membaca nasib hidupku.

Aku tahu itu karena mereka mengekspresikan kepedulian mereka dengan berbagai macam cara. Misalnya secara diam-diam ada orang mungkin dengan segala kemurahan hatinya telah menyisihkan penghasilannya untuk aku.

Ada pula yang sangat peduli dan menghargai keberadaanku dengan memberi sapaan, doa-doa dan bahkan hadiah-hadiah terbaik di saat hari ulang tahunku.

Meskipun tanpa kehadiran sosok pria itu, tetapi aku berusaha menjalaninya seperti biasa. Sebab aku tahu bahwa kelak aku akan mengetahui segala-galanya dan segalanya bagiku.

Penulis adalah Mahasiswa STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur
×
Berita Terbaru Update