-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AIR MATA DI MALAM TUGURAN (Cerpen Marsel Natar)

Senin, 24 Juni 2019 | 15:57 WIB Last Updated 2019-12-04T22:57:26Z
AIR MATA DI MALAM TUGURAN
Foto penulis yang diambil dari FB miliknya

Sudah empat pekan, hati dan pikiran kakek Polus tidak pernah tenang. Selama dalam kurun waktu tersebut, ia juga jarang berkebun dan hampir tidak pernah tidur setiap malam.

Betapa tidak, memasuki masa Pra-paskah cucunya diserang penyakit yang boleh dikatakan sangat aneh.

Satu hari sesudah terkena penyakit itu, kakek Polus dan Natus anaknya mengantar anak itu ke Postu lalu kemudian mendapatkan rujukan agar diperiksa ke Rumah Sakit Umum Daerah setempat. 

Apa yang diperjuangkan ibarat menjaring angin. Pihak rumah sakit tidak menemukan jenis penyakit apa yang menyerang tubuh anak itu.

Penyakit itu memang sangat aneh. Akal sehat pun tak sanggup menerjemahkannya. Dibilang aneh, ya memang aneh. 

Penyakit itu selalu datang menggerogoti tubuh anak itu tepat pada waktunya. Antara lain adalah setiap pukul 15.00 (petang hari),  pukul 03.00 (subuh hari)  dan pukul 12.00 (siang hari) serta pada pukul 24.00 (malam hari).

Penyakit itu bergerak sesukanya, dari satu anggota tubuh menuju anggota tubuh yang lain. Terasa seperti benda tajam yang menyayat daging dalam tubuhnya. 

Setiap kali penyakit itu mulai bergerak dari satu organ tubuh menuju organ tubuh lainnya, anak itu menjerit kesakitan.

Sesekali bola matanya memutih sembari menggertakkan gigi tanpa sebersit suara kecuali bunyi nafasnya yang menghembus dengan suara yang keras.

Sementara sekujur tubuhnya bersimbah keringat walau suhu tubuhnya tidak menunjukkan bahwa ia sedang sakit. Atas dasar itulah kakek Polus dan Natus selalu dilandai kecemasan dan kegelisahan. 

Kakek Polus memiliki seekor anjing jantan berwarna hitam. Anjing itu bernama Blaky. Dari dahulu,  kakek Polus memang hobi memelihara anjing berwarna hitam.

Ini tentu bukan tanpa alasan. Ia memelihara anjing berwarna hitam atas dasar saran dari mendiang bapaknya. 

Konon,  mendiang bapak dan ibunya bertahun-tahun menetap di pondok pada kebun mereka. Siang dan malam tidur dengan aman tanpa gangguan dari mana dan atau apapun.

Menurut mereka, anjing hitam mempunyai kelebihan paling istimewa. Selain sanggup menggonggong makhluk yang kelihatan, ia juga sanggup menggonggong sekaligus mengusir makhluk yang tak kelihatan mata manusia.

Berdasarkan pemahaman itulah, kakek Polus memelihara anjing berwarna hitam. Akan tetapi terkadang pemahaman dan kenyataan tidak selalu sejalan. 

Orang-orang kampung dengan mayoritas masyarakat beragama Katolik, Pra-paskah adalah masa di mana semua umat merenungkan sengsara dan penderitaan Yesus Kristus. Setiap hari jumat, umat memenuhi gereja untuk mengikuti ibadat jalan salib. 

Umat merenungkan penderitaan Kristus dalam jalan salibNya, sekaligus mendapatkan peneguhan iman bahwa setiap pengikutNya harus berani menanggung dan memikul salib hidupnya setiap hari, teristimewa ketika kemalangan datang menimpa kehidupan ini. 

Kakek Polus dan Natus mengerti baik tentang ajaran iman tersebut. Apa yang dialami mereka saat ini adalah salib nyata yang harus dipikul sehingga mengikuti ibadat jalan salib pada hari jumat dianggapnya tidak perlu.

Anggapan itu berakar kuat dalam batin Polus dan Natus, sehingga dengan keras mereka melarang anggota keluarga untuk ke gereja pada hari jumat dan pada hari minggu. 

Polus dan Natus bahkan menegur anggota keluarga yang hanya membuang-buang waktu pada hari-hari itu, yang terbaik adalah meninggalkan rumah setiap hari untuk mencari alternatif lain demi kesembuhan anak tercinta. Setiap hari, hampir semua anggota keluarga berjalan dari satu kampung ke kampung yang lainnya mencari obat. 

Yang dicari bukan dokter atau perawat melainkan orang-orang yang dianggap ada kelebihan khusus atau sebut saja orang pintar atau dukun.

Suatu ketika,  Polus dan Natus tiba di sebuah kampung di daerah pegunungan. Di sana mereka bermalam di salah satu rumah dan menceritakan semua maksud dan tujuan pengembaraan mereka. 

Pemilik rumah itu menyebut sebuah nama yang dikenal cukup hebat dan ampuh dalam hal menangangi penyakit non medis.

Keesokan harinya, orang itu mengantar mereka ke rumah orang yang disebutkan semalam. Orang itu sudah berumur. Seumuran kakek Polus. 

Mereka pun mulai membuka pembicaraan mereka sembari menyeruput kopi. “ Apa tujuan kalian mengunjungi gubukku di pagi buta ini.” tanya  dukun itu penasaran.

“ Sudah empat pekan, cucu saya mengalami sakit yang sangat aneh. Kami sudah keluar masuk Rumah Sakit, tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak medis cucu saya sehat.

Karena itu saya berinisatif mencari pengobatan alternatif hingga berada di sini saat ini.” Jelas Polus lugas. 

“Bawalah kemari cangkir kopi kalian. Aku hendak “membaca” sesuatu dibalik semua itu.” Pinta dukun itu. Polus dan Natus menyodorkan cangkir kopi yang sudah tidak berisi kopi lagi.

Setelah beberapa kali mengamati isi cangkir tersebut, dukun itu lalu berkata, “ Kalian berdua sangat kuat. Pun keluarga yang lainnya.

Hanya anak ini yang dengan mudah menerima angin-angin jahat yang berusaha merusak keluarga kalian. 

Ada orang yang menaruh dendam kesumat terhadap keluarga kalian,  dan dia masih ada hubungan keluarga juga dengan kalian.

Penyebab dari semua ini karena keluarga kalian tidak mendukung salah satu caleg pada pemilu kemarin. Silakan diingat-ingat, dan saya yakin kalian tahu siapa orangnya. 

Mengapa penyakit dalam tubuh anak itu bisa bergerak?  Ini tentu terjadi atas permintaan penyantet.

Saya tahu, penyakit ini tidak hanya berpindah-pindah tetapi juga hanya datang pada waktu tertentu sesuai ketentuan penyantet. Orang ini sungguh keterlaluan, membuat orang lain menderita hanya karena beda dukungan dalam pemilu. Sekarang juga, kalian pulang!  

Malam ini adalah malam jumat, malam di mana ia akan ke gunung di sebelah utara kampung kalian. Ia hendak memberi sesajian kepada makhluk gaib yang menjadi sumber ilmunya.

Pulang dan singgahlah sebentar di hutan, cari dan galilah Raut lalu irislah menyerupai butir telur. Bawa dan taruhlah Raut yang menyerupai butir telur tersebut di atas batu tempat sesajian ditaruh apabila kalian ke gunung.”

Jelas dukun itu kepada Polus dan Natus. Beberapa saat kemudian, mereka pun pamit pulang. 

Hari ini adalah hari kamis putih. Dalam tradisi gereja Katolik, Kamis Putih merupakan hari di mana semua umat Katolik mengenangkan peristiwa Perjamuan malam terakhir antara Yesus dengan para murid Nya.

Setelah perayaan ekaristi biasanya akan diadakan tuguran. Tuguran atau berdoa dalam diam dan hening di hadapan Sakramen Mahakudus sebagaimana Yesus sendiri berdoa di taman Getzemani.  

Semua umat bergegas menuju gereja. Polus beserta semua anggota keluarganya berdiam diri di rumah.  Batin Polus belum tenang, menunggu waktu untuk berangkat ke gunung.

Waktu yang dinantikan kini tiba. Polus dan Natus bergegas keluar rumah. Lorong dan gang masih ramai. 

Beberapa umat yang hendak mengikuti tuguran menyapa Polus dan Natus yang dikira hendak mengikuti tuguran juga. Polus dan Natus diam saja.

Langkah mereka kian panjang. Malam pun merentang panjang. Mereka melintasi lembah, ngarai dan perbukitan menanjak. Tibalah mereka di puncak gunung yang dimaksud, lalu menaruh Raut yang menyerupai telur di atas batu sesajian. 

Setelah itu, mereka menepi dan bersembunyi di bawah rimbunan semak dan pepohonan. Sekonyong-konyong,  angin bertiup kencang.

Seperti ada sesuatu yang lewat. Beberapa saat kemudian suasana berubah sunyi. Dedaunan tiada satu pun yang bergerak. Sunyi seperti berada di padang pasir. 

Makhluk gaib itu sudah datang. Secara mengejutkan, terdengar suara yang sangat aneh dan tidak ada satu kata atau kalimat pun dimengerti.

Seperti meraung-raung dengan penuh histeris. Sesekali seperti lolongan anjing, meringkik seperti kuda dan mengembik seperti kambing. 

Selain suara-suara yang aneh, mereka juga mencium bau lumpur yang sungguh menyengat. Tidak bertahan berada di tempat itu, mereka lalu memutuskan untuk segera pulang.

Akan tetapi sebelum beranjak pulang, Polus jadi teringat bahwa Raut yang ditaruhnya di atas batu sesajian adalah racun maut yang tentunya mematikan. 

Ia yakin bahwa makhluk gaib itu telah binasa. Berbeda dengan apa yang dipikirkan Nadus. Nadus memikirkan sesuatu yan sangat logis.

Akankah makhluk halus yang tak berwujud itu tewas atau binasa seusai menelan Raut yang dikiranya butir telur itu?  Mereka berdiri dalam kebingungan masing-masing. Nadus lalu memberikan isyarat kepada Polus untuk pulang. 

Sebelum memasuki perkampungan, telinga Polus mendengarkan suara ratap tangis yang sangat histeris. Dia pun memaksakan kedua kakinya untuk mengatur langkah lebih cepat.

Natus mengejarnya dari belakang. Memasuki perkampungan, suara tangisan itu semakin terdengar jelas. 

Betapa hati mereka hancur berkeping-keping ketika mendengar sumber suara tangisan dengan jelas. Ya, cucu dan anak kesayangan mereka sudah meninggal.

Bukan hanya dia yang meninggal, Nelis juga meninggal. Nelis adalah keponakannya Polus. Amarah Polus meledak-ledak, bahwa dugaannya selama ini benar.

Nelis-lah dalang dibalik ini semua. Umat yang baru pulang dari Tuguran pun langsung bergegas menuju ke dua rumah duka pada malam itu. Maut lebih kuat, ketimbang keheningan di Getzemani. 

Keterangan:

Raut: Sebutan dalam bahasa Manggarai untuk sejenis umbian yang tumbuh di hutan. Umbian ini mengandung racun yang sangat berbahaya, kendati demikian banyak masyarakat yang mengolahnya dengan baik dan benar untuk dijadikan bahan makanan.

Oleh Marsel Natar

Penulis adalah seorang Rohaniwan Katolik. Sekarang menetap di komunitas St.  Yoseph,Maumere-Flores.  Antologi cerpennya dihimpun dalam buku berjudul “ Ranjang untuk pengantin kecil” yang akan dicetak pada Agustus mendatang. 
×
Berita Terbaru Update