-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ALAM SARI (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)

Senin, 01 Juli 2019 | 07:57 WIB Last Updated 2019-12-04T22:18:58Z
ALAM SARI (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)
foto diambil dari www.tripadvisor.co.id

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Berkata tentang cinta tak ada habisnya, tak ada bosannya. Begitu juga merasakan cinta yang nyata dari seseorang yang kukenal lama sekali.

Ketika aku duduk di sekolah dasar. Sampai sekarangpun cinta itu menjadi semanis madu, seindah mawar, bila tepat menempatkannya.

"Ayooo...ting sepertiga jalan lagi menuju puncak!" Kata Uly, menyemangati kita-kita, gank pendaki gunung. Kami adalah pendaki gunung amatiran, yang ikut-ikutan para senior yang telah jauh jam terbangnya.

Aku, Uly, Lely, Ayub, Dedi, Nina, hanya untuk fun saja dalam mendaki, paling di sekitar punggung bukit. Tak serius. Karena untuk olah raga melawan hawa dingin. Kebetulan dekat dengan rumah Uly.

Di atas puncak perkebunan teh. Untuk menuju ke rumah Uly hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja. Kami tiba di rumah Uly dengan nafas yang ngos-ngosan.

"Yuk, kita menuju Alam Sari, di sana indah pemandangannya, puncaknya tinggi, nanti di sana kita ketemu teman-temanku yang juga pendaki!" Kata Uly promosi tempat indah. Dan memang di sana suka juga di gunakan pendaratan para layang.

Kami berenam berangkat menuju Alam Sari, dengan menaiki kendaraan mobil kecil. Karena hanya lima belas menit sampai ketujuan. Setelah sampai kami bergabung dengan teman-temannya Uly. Ramai sekali dan seru.

"Lho...lskan ke mana, kok tak kelihatan batang hidungnya!" Kata Uly lagi , sambil celingak-celinguk mencari satu orang lagi yang belum hadir.

Karena satu orang lagi belum hadir, maka kami berpencar mencari kesibukan sendiri-sendiri, karena yang di nanti belum juga nongol, katanya membantu dulu para layang di bawah.

Dari pada bete diam saja, aku keliling punggung bukit, di sekitar perkebunan teh, ramai banyak orang dengan keperluannya masing-masing. 
Aku duduk dekat batu besar sambil melayangkan pandangan menikmati keindahan alam yang sejuk udaranya . Jalan aspal seperti ular melingkar mengelilingi bukit. Lampu kerlap kerlip sepanjang jalan dari semua kendaraan yang lewat.

Tiba-tiba.....BLUUUGGG....suara orang yang jatuh dengan parasut para layang, aku kaget, dia jatuh di hadapanku ketika aku sedang duduk di batu besar menikmati pemandangan. Aku kaget, diapun kaget, kami sama-sama mematung saling memandang. 

"Ohhh...maaf...maaf...maaf...!" Tangannya di tangkup di dadanya. Dia meminta maaf padaku, dan aku masih bengong saja memandangnya. Dia menggulung parasutnya dan disimpan dalam rangselnya.

Mungkin para layang yang nyasar ke kebun teh, pikirku, semua para layang mendarat di titik lapangan nun jauh di bawah, ini kok nyasar di sini di hadapanku.

"Kenapa non sendirian di tempat ini!" Katanya lagi sambil duduk di dekatku, tanpa basa basi permisi.

"Lagi nunggu teman!" Kataku, singkat, tanpa menoleh padanya. Dia mengeluarkan dua botol minuman air mineral, satiu di berikan padaku, langsung pada tanganku, satu lagi dia minum.

Aku berpikir, nih orang kok aneh, tanpa ba bi bu lagi, seperti yang sudah kenal lama sama aku. Tiba-tiba gerombolan gank aku, mengagetkan aku.

"Hayoooo....lagi pacaran yaaa...di sini, di cari-cari tak ketemu!" Kata Uly, mengolok-ngolok aku. "Yeeee...siapa yang pacaran, aku tak kenal ko!" Kataku membela diri.

"Kami sudah jadian tadi, ini buktinya kami minum bersama!"  Katanya membuat aku malu dan kaget, mereka semua tertawa.

"Makanya, kalau pacaran jangan diam-diam, berbahaya tahu!" Dedi, menimpali olok-olokkan Uly.
Aku cemberut dan diam saja, dan tak mau banyak bicara.
"Iskan, kamu ko kenal Dian di mana!" Kata Lely sambil nyengir.

"Uuuhhh...sudah lama banget, sejak dulu!" Kata yang di panggil lskan.
Aku tambah cemberut, mereka akan berangkat bersama menyisir sebuah punggung bukit untuk melatih otot kaki.

Mereka dua gank bersama berangkat duluan.
Dan aku, tanganku di tahan oleh lskan, katanya biar mereka dulu, kamu sama aku saja, nanti jatuh.

Wah nih orang sok tahu, di sangkanya aku penakut. Aku mau tak mau tanganku di tuntunnya dengan hati-hati. Aneh. Dari gaya bicaranya dia slebor, tetapi memanduku dia penuh kehati-hatian takut aku jatuh.

Ketika nafasku ngos-ngosan, dia mengajak berhenti dulu, dan memberiku sebatang coklat, katanya untuk menjaga stamina.

"Dian, kamu lelah ya," katanya, suaranya lembut di telingaku. "Ah, tidak!" Kataku berbohong. "Coba lepaskan sepatumu, biar aku pijitin kakimu ya!"

Tanpa menunggu persetujuanku, dia melepaskan sepatuku, pijitannya enak dan lembut, ada rasa yang merambat pada jantungku, dan aku tak tahu apa itu, rasanya indah, perkebunan teh yang hijau seperti di sulap menjadi bunga-bunga aneka warna, aku mabuk kepayang, dan.....

"Dian kenapa!" Katanya, membuyarkan taman bungaku. Aku tersipu malu.
"Sudah enakkan, kakimu, ada urat yang keseleo, untung dipijit, kalau tidak, nanti malam kamu tak bisa tidur!" Katanya, nyerocos.

"Dian, kamu masih ingat tidak, sama anak yang badannya gendut, doyannya makan coklat, namanya lskandar, sewaktu di Sekolah Dasar dulu!" Katanya, mengingatkan aku ke masa lalu sewaktu sekolah dasar, memang ada anak yang gendut namanya lskandar.

Anaknya pendiam, temannya sebatang coklat, setiap hari yang di kunyahnya sebatang coklat, tidak ada yang lain.

"Hey, kamu kok tahu sama teman SD aku, memang kamu siapanya dia!" Kataku penasaran.
"Iskandar itu sahabatku waktu SD, dia selalu memberi aku sebatang coklat!" Kataku meyakinkan.

"Dan aku tak tahu kemana dia sekarang, ya, kira-kira kamu tahu dia nggak!" Kataku lagi.
Iskan hanya cengar cengir saja melihat aku bengong.

" Kira-kira kamu kangen nggak sama si gendut!" Katanya, sambil tergelak.
" lya, aku kangen sama dia, sampai sekarang, nggak pernah lupa!" Kataku lagi.
"Nih mau lagi nggak coklatnya, biar kangenmu hilang!" Katanya, sambil memberikan lagi sepotong coklat padaku.

"Kira-kira kasih tahu nggak ya!" Katanya sambil nyengir.
"Dian, kamu itu kangen sama si gendut atau sama coklatnya?" Katanya lagi, menggodaku.

"Yaaa...kangen dua-duanya!" Kataku, sambil mengunyah coklat yang penghabisan.
"Dari tadi juga aku tahu kamu kangen lskandar, iyaaa kan!" Katanya.

"Ih, sok tahu, memangnya kamu peramal apa!" Kataku, sambil mencubit lengannya.
"Dian, seandainya orangnya ada di hadapanmu, bagaimana menurutmu?" Katanya, menggodaku lagi.

"Ah, mana mungkin, kamu kan tegap badannya, lskandar itu gendut!" Kataku, tak mau kalah.
"Siapa tahu dia sekarang sudah langsing!" Kata lskan meyakinkan.

Tiba-tiba dompet lskan terjatuh dari celananya, dan foto anak SD wajahnya mirip lskandar yang gendut, berceceran di tanah.
Aku memungut dompet dan foto yang jatuh, dan aku kaget.

"Iskan kok kamu menyimpan foto sahabatku sih, ini dari mana?" 
"Dian, sebetulnya itu fotoku waktu kecil!" Kata lskan, mengakhiri perbincangan aku dan dia.

Aku terkejut tak menyangka, jadi selama ini yang ada di hadapanku adalah lskandar yang dulu gendut dan pendiam.

"Iskandar, kamu jahat ya sama aku!" Kataku, sambil mencubit lengannya, dia sudah mengerjai aku selama ini. Aku tak sadar bahwa lskandar suka sama coklat, itu aku yang bodoh tidak cepat tanggap.

"Nah, apa masih kangen lagi sama si gendut?" Katanya, membuat aku tersipu malu.

"Dari pertama melihatmu cara duduk, aku sudah tahu, bahwa kamu Dian, dan tak seorangpun yang duduk seperti itu!"
"Dan aku tak bisa melupakan sahabatku waktu kecil," 

Aku antara senang dan malu, tiba-tiba dia memelukku, sambil berkata "Dian aku kangen sama kamu, bertahun-tahun aku mencarimu!" 

Aku menangis di pelukkannya, dan memeluknya erat. Aku merasakan teman mainku yang dulu hilang, kini bertemu lagi, betapa suka citanya aku, dan bahagia bertemu di saat aku dan lskandar sedang mendaki. Itulah keajaiban Tuhan yang tidak terduga-duga.

×
Berita Terbaru Update