-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ANTARA CINTA SI PENDULANG EMAS LIAR DAN TIARA (Cerpen Dominikus Siong)

Selasa, 25 Juni 2019 | 11:09 WIB Last Updated 2019-12-04T22:48:06Z
ANTARA CINTA SI PENDULANG EMAS LIAR DAN TIARA (Cerpen Dominikus Siong)


Aku terlahir dalam keluarga sederhana. Kamon adalah nama yang pernah diusulkan Kakekku untuk dilekatkan kepadaku. Nama itu sangat sesuai dengan diriku.

Tetapi yang terpenting bagiku bukan soal nama melainkan soal perjuangan hidup yang mulai kurajut kala kuberanjak dewasa kelak. 

Makanan wajib yang aku santap setiap pagi adalah singkong rebus atau ubi bakar yang senantiasa menemani suasana pagiku bersama adikku Atot, itu sebutan kesayangan untuk seorang anak bungsu laki-laki dalam kebudayaan suku Dayak Barai-Kalbar. 

Dalam suasana yang hening dan lembut itu kami sering melayangkan imajinasi kami kalau-kalau kelak kami berdua bisa meraih bulan ‘kesiangan’.

Tidak hanya itu, kami berdua sering berangan-angan suatu saat nanti kami bisa terbang menunggang awan-awan hitam yang tampaknya selalu berjalan ke mana-mana tanpa harus diperintah tuannya.

Angan-angan itu selalu berubah dalam tahun-tahun hidup kami. Namun pada kenyataannya Kamon dan Atot tidaklah demikian, aku tidak tahu apakah hidup ini sudah dikendalikan oleh takdir atau apakah yang mengendalikan hidup setiap insan, sehingga suatu saat perjuanganku selalu gagal.

Aku kini tidak lagi mengejar kecerdasan tetapi malah emas liar yang ada di hutan sana.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahku namanya Abak dan Ibuku  Dabung. Nama tersebut memiliki arti yang penting bagi mereka. Sekali lagi kukatakan bukan soal nama yang terpenting, tetapi soal perjuangan hidup yang utama.  

Aku meretas kehidupanku dengan cara yang keras bahkan tanpa kusadari aku memeras keringat dan tenagaku. Namun perjuangan itu juga bermuara kepada kisah unik di balik kisi-kisi waktu yang melaju.

Aku sebetulnya manusia yang tanpa arti. Pasalnya aku bukanlah pemuda terpelajar, tetapi soal mencintai adalah pengalaman setiap insan. Walau aku tidak pernah belajar filsafat cinta, namun ketika cinta lebih dominan di dalam diri saya, apa pun bentuknya aku pun mampu bernalar mengenai cinta. 

Di sini aku, Kamon muda, menyadari bahwa pengetahuan natural manusia itu dimiliki siapa pun, namun hanya perlu dibangunkan dari tidurnya. Aku saat ini telah menjalar ke pelosok desa yang jauhnya kira-kira dua hari perjalanan. 

Di sini aku tak lagi tergantung dengan Ibu dan Ayahku, namun hanya emas yang menentukan hidup matiku.

Dari hati kecilku yang terdalam aku tidak setuju melakukan pekerjaan ini, karena aku menyadari bahwa konsekuensi dari pekerjaan kami ini adalah bahwa alamku rusak, air sungai tercemar, bahkan burung pantai pun liar tanpa tempat tinggal. 

Seperti aku dan beberapa temanku yang terdampar di Pertamabangan Emas Tampa Izin (PETI) ini, kami sebetulnya terusir ekonomis karena untuk mengais rejeki di jaman ini perlu nyali.

Dalam tahun-tahun hidupku rupanya cara hidup seperti ini pun membutuhkan sesuatu yang lain. Itu adalah pendamping hidup. Namun apa dikata angan-angan selalu ditentukan oleh uang dan harta serta perjuangan yang tiada hentinya.

Telah lama aku merindukan Tiara. Ia sering kali berkutat di benakku, sampai aku tak mampu mendulang emas-emas kecil nan berharga. Ia adalah anak orang kaya, rumahnya beratapkan bata, berlantaikan kramik pilihan ayah bundanya. 

Halaman rumah mereka adalah kesejahteraan, namun aku tahu mereka kini ganjil. Aku tak tahu apa penyebabnya. Sedangkan aku adalah anak petani Karet dan saya si pendulang emas mulia.

Rumahku beratapkan langit, berpayungkan mata hari, lantainya adalah tanah. Aku tak bermaksud berendah diri, tetapi aku hanya mau supaya dia tahu, bahwa itulah aku.

Cerita ini sudah lama kupendam, namun aku tidak tahu kepada siapa aku harus katakan ini. Dunia seperti yang kutahu adalah pot yang mudah bocor. Rahasia tidak ada lagi di bumi, tetapi misteri kematian ada di tangan yang Ilahi.

Aku dekat dengan emas, namun jauh dari perhiasan emas mulia. Di kota-kota, aku melihat gadis anak saudagar kaya berperlente dengan antingnya yang jernih kekuningan, dan gelang-gelang emas murni semurni hati tiara yang kulihat. 

Mungkin khayalanku terlalu tinggi tetapi apa salahnya anak Karet mempeti kediaman anak putri raja? Aku tahu mereka ngantor dan aku selalu kotor. Tetapi aku tahu persis bahwa emas yang ia gunakan di jari manisnya adalah hasil keringatku sendiri. 

Tetapi apa daya, uang dan cinta suatu hal yang berlawanan. Untuk segala-galanya perlu uang, meskipun uang bukanlah segala-galanya.

Ah...untuk apa aku terus memikirkan Tiara, lebih baik aku, Kamon Muda, terus bekerja di pertambangan ini demi anak-anak muda yang layak kuhiasi dengan emas hasil keringatku siang dan malam. Namun Tiara tidak bisa lepas dari angan-anganku. 

Sejak pertama kali aku melihatnya di situ, di kursi itu dan di pantai penantiannya aku telah terpenjarakan wajahnya yang ayu, manis, dan menawan. Aku salah sangka, penampilannya sederhana, namun seleranya rupanya korea-an. 

Aku lalu mengaca diri, tetapi yang kulihat diriku hanya berbajukan lumpur, sedangkan dia. Dia berbajukan kain halus dan anggun.

Kakinya beralaskan sepatu kulit dan hangat, sedangkan aku beralaskan sandal jepit yang sesaat akan putus akibat keseringan terbentur batu-batu di jalan kehidupan. 

Demikian aku sadar bahwa mencintai tidak harus memiliki. Aku hanya mau mengabdi dalam hari-hari hidupku.

Namun cita-citaku sesungguhnya adalah hanya untuk menyenangkan Tiara, walaupun dia tidak tahu bahwa aku salah satu pemuda yang terus menerus mengintai wajahnya dengan cinta mulia. 

Yang terpenting bagi Kamon adalah bahwa suatu saat nanti aku akan menyaksikan dia dari jendela hari berpacu tatapan dengan seorang pemuda, itu bukan saya dan memasangkan cincin emas mulia yang kutitipkan kepada pengolahnya melalui titik-titik keringat darahku setiap hari.

Tahun demi tahun telah kulewati dan ternyata harapanku buyar di ambang janur kuning. Beberapa bulan yang lalu ia menyebarkan undangannya bahwa ia akan menikah dengan seseorang pemuda kota dan saya rasa, dia pantas dengannya. 

Aku hanya mendapatkan hembusan debu mobil pengantinya yang melintasiku saat pulang kerja. Aku tetap lusuh, namun aku bangga sudah berapa emas telah kuhasilkan dan membuat hidup banyak pasangan muda berani melangkah ke jenjang pernikahan suci dan simbol bermakna yang mereka yakini untuk mengikat Janji Suci mereka. 

Lagi-lagi tentang Tiara, itulah yang membuat kubangga bahwa emas-emas yang melingkar di jari manisnya dan di lengannya tertera titik keringat darahku akibat terbakar terik mentari yang menodai tubuh perkasaku.

Sekarang aku tahu diri bahwa cinta seringkali berpihak kepada orang yang berada. Dan ia tetap kumiliki dalam bentuk yang lain. Aku tidak cakap berbicara soal cinta.

Hati kecilku berkata, untuk mencintai tidak hanya dengan cara memiliki, sebaliknya mengambil jarak dan membiarkan dia memilih sampai cinta itu berpeluhkan kebahagiaan. 

Bagiku yang terpenting adalah bukan soal memiliki tetapi perjuangan hidup yang senantiasa tetap kujalani, walau kini harus tanpa Tiara yang sampai mati pun takkan pernah kumiliki.

Berbahagialah engkau bersamannya, teriring doa suciku untuk rumah tanggamu. Biarkan aku hanya menjadi pendoa dan pemuja rahasiamu.

Oleh: Dominikus Siong
Penulis adalah Mahasiswa STF Widya Sasana Malang
×
Berita Terbaru Update