-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Maropokot, Kidung Malam, Masa Lalu, Hampa, Kapitalis

Jumat, 21 Juni 2019 | 12:39 WIB Last Updated 2019-12-08T00:29:32Z
Maropokot, Kidung Malam, Masa Lalu, Hampa, Kapitalis


MAROPOKOT

Pada keteduhan senja tadi 
Di bawah kaki bukit air panas
Mata memandang penuh haru
Menatap desaku tercinta
Tanah penuh sejarah
Yang dihuni dari berbagai penjuru
Tanpa ada kata kamu, dia, apalagi mereka
Tetapi kita adalah Satu

Kebun dan pantai
Menjadi aset penuh arti
Menjamah hidup di bumi pertiwi
Tetaplah rukun dan damai
Jangan biarkan kedamaian
Sirnah dari dekapan kita
Kuatkan barisan seperti
Jejeran pohon kelapa dan mangrofe
Yang tak muda rapuh
Meski dilekang waktu dan zaman

KIDUNG MALAM

Dalam malam yang ditaburi bintang
Aku ingin hadir di antara mereka
Bersinar dengan penuh ketulusan
Cahayanya memancarkan kedamaian
Di setiap sudut malammu
Aku ingin hidup seribu tahun lagi
Bagaikan bintang yang dengan setia menemani malam
Cukup aku saja di antara bintang diangkasa
Di mana yang akan setia menemani malam mu

MASA LALU

Andai waktu bisa diulang kembali
Bersua denganmu adalah anganku
Cerita dan bercanda tanpa cemas
Di bawah langit biru
Andai  waktu bisa diulang kembali
Bersamamu ku yakin bahagia
Cinta kita yang begitu besar
Di antara hal istimewah lainnya
Andai waktu bisa diulang kembali
Berjanji engkau tak akan ku tinggalkan
Cerita tentang kita pasti lebih panjang
Dan akan berakhir bahagia

HAMPA 

Jika,
Akhirnya kamu hanyalah ilusi
Kisah yang tak bisa
Ku lukiskan jadi nyata
Lalu...
Untuk apa dulu kamu hadir
Mengutarakan hati
Tentang arti sebuah cinta
Yang ingin kamu lakukan di masa depan!
Kini…
Semua menjelma keperihan
Kamu hanyalah kenangan
Yang hanya bisa melukis luka
Dan meninggalkan lara

KAPITALIS 

Aku hanya binatang jalang
Tanpa mau ada kekangan
Yang hanya ingin mencari kedamaian
Di antara kesempurnaan yang mulai sirna
Kini kejujuran terkamuflase dengan kemunafikan
Yang kontras tereja mata hanyalah pura-pura
Berbicara realitas tapi hanya berujung modus
Dasar kapitalis
otak seperti bringas
dan berpikir seperti ular
biarlah kami menentukan hak kami
Lantas…
apapun yang terjadi,
biarkan kami yang akan bertanggung jawab
atas hak dan kewajiban kami
engkau bukan Tuhan,
yang mengatur kemana tujuan hidup kami.
Percakapan Obrolan Berakhir

Oleh: Christ Jata
×
Berita Terbaru Update