-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENGGOSIP, TUMPANGAN, TIARA, WAJAH ITU

Sabtu, 15 Juni 2019 | 23:40 WIB Last Updated 2019-12-08T03:57:41Z
PENGGOSIP, TUMPANGAN, TIARA, WAJAH ITU

TERPENCIL

Di sudut kota mungil ini,
Aku kembali mewaktu, bersama aku-aku yang baru.
Suasana di sini teduh bagaikan hari sehabis hujan.
Sapaan-sapaan liyan memanahi aku yang mendekat
Ke kaki tangga sunyi itu.

Bualan senyum menebar di depan altar,
Pipi keriput bening bagaikan embun
berisi senyum ikhlas, tak sanggup aku membayarnya.
Namun demikian hanya satu bayaranku yakni, tidak memberi bayaran.
Hanya dengan itu cintakasih berarti.

Barisan para pengasih menerka bilik-bilik kekurangan,
melengkapi kekosongan, bukan badan atau nafsu, tetapi namun mereka baik
menggelitik para penarik perhatian yang tak berpengetahuan.
Entah apa kata orang, tapi bagiku potensialitaslah manusia.

Bukan ini, bukan itu, melainkan liyan yang beraku.
Mereka mengaku dalam aku-aku yang berkebutuhan,
namun pura-pura tidak menariknya.

Hari berlalu tanpa harus kukatakan: “berhenti!”
Namun Ia memberhentikanku di jalan ini dan di pondok ini,
Di mana aku akan menemui berbagai macam onak dan duri,
Salib dan kemuliaan, mati dan kebangkitan.

Pasuruan, Kamis, 24 Januari 2019

KAMBOJA

Di pekarangan tua, terdampar ia memutih kelamnya hidup dunia.
Tangisan bumi berairmatakan mekar kemboja muda, membuat penyajak
menari di atas kematian,
bersedih di atas pesta pora anak-anak dunia.

Kaki kakek tua hari ini turun ke liang kubur,
men-tanahlah ia bersama cacing-cacing gemuk melebur dosa di atas duka mulia.
Semua meratap, seraya memeras duka menanti teduhnya hati yang dibajak kepedihan,
Seakan termetraikan dalam ruang dan waktu.

Aku dari sudut kota ini melihat tangisan dan tawa menggemparkan dunia
dan bahkan nyanyian-nyanyian kematian berhenti di depan kebangkitan,
tulang-tulang tua bergumam menyapa surga.

Kamboja mekar pada waktunya, bunga-bunganya melambai penuh harapan,
putih tanah olehnya bagikan arwah berjubahkan kemulian menghadap sang raja kekal
Di pelataran keabadian.

Pasuruan, Jum’at 25 Januari 2019

PENGGOSIP 

Penyajak bertanya: Apakah itu penggosip,
Dari mana asal ususlnya, apa tujuan hidupnya, dan apakah yang menjiwai badannya?
Mulutnya berbusakan kata-kata, membelalak telinganya kala mendengar berita celaka.

Tidak ada kebenaran dari kata-nya, hanya busa sabun keketoran produksinya.
Ahhahaha...tawaku dalam hati, saat mendengar dengungan celotehan mereka,
namun kala kutanya, buyarlah pikirannya.

Mungkin mereka masih pubertas melihat dunia, apalagi merefleksikannya.
Aku melihat katak bersuara pada waktunya, namun ia beria-ria mengulas cerita yang tiada makna. Nama si anu itulah buruannya.

Bahkan aku-pun tak luput dari gosipannya.
ah...lebih baik kurangkai kata bijaksana,
seraya mengaca diri yang terus terintai para penggosip dalam dunia.

Kuarahkan pandangan ke arah arahan mereka, namun seketika aku membelokkan muka, karena nerakalah tujuan mereka bukan kebenaran yang membawa keselamatan.
Wahai adik-adik, ibu bapak, marilah bertanya kepada pohon-pohon mengapa mereka bercertia dengan diam? Mengapakah katak tidak mencuri uang manusia? Atau mengapa kumbang mengisap bunga-bunga? Dan untuk apa aku bergosip tentang orang lain yang tidak berdosa dan bahkan orang yang telah dianggap tak layak ada di dunia?

Bukankah TUHAN tidak pernah membeberkan dosa-dosamu kepada polisi?
Wah..aku jadi bertanya kepada diriku sendiri: Apakah aku sehingga merasa berkuasa menggosipkan orang lain? TUHANkah aku atas aku-nya?
Tidak! aku hanyalah debu yang tak berarti di matamu dan Mata-Nya.

Sabtu, 02 Februari 2019, Pasuruan

 TUMPANGAN

Tumpangan ini terlalu padat.
Aku bergeser digeser penumpang-penumpang beruang.
Diburitan hari kusaksikan para pengekslusi diri berdiri tak diperhitungkan.
Hari-hari mengecam keuntungan, para penukar diri dengan uang menyamar dalam damainya waktu.
Mataku memelototi kegetiran anak-anak di bawah kaki penjual manusia.
Ia diselimuti pujian mematikan.

Aku bergumam: “Sudah lupakah mereka bahwa ini hanyalah tumpangan saja?”
Aku tak kuasa bangga di atas sofa duka ini,
aku hanya mengiyakan kesederhanaan,
Di samping puteri-puteri jelita dan terpuji.

Mari semua kutarik kamu ke sampingku untuk menengok
Ke arah sana. Di sana ada harapan yang tak seorang pun dapat membeli bahkan memperjualbelikannya. Ia ada dari dirinya sendiri, tak diadakan dan ada sepanjang masa.

TIARA

Tiara mengapa kau tatap banyangku begitu jitu,
Aku semuka denganmu kalau itu, di Gereja.
Mengapa mataku rabun kasih Tuhan, olehmu aku goyang dalam menjalani panggilan.
Namun logikaku berkata: “Kesia-siaan sedang mengintai kepastianmu, jadi untuk apa mengharapkan langit merunduk ke tanah, sementara emas ditangan kau buang begitu saja”.

Namun tiara kau begitu akrab di mataku,
Dibalik matamu tersembunyi bayi kecil yang memintamu untuk mengeluarkannya.
Kau lembut, kau ayu, anggun, tetapi aku hanya sebatas mengagumimu saja.
Di balik kursi tua ini aku bercerita dengan Tuhan yang tak pernah kulihat rupa-Nya.
Kuceritakan apa yang ada di hatiku terhadapmu.

Waktu begitu cepat berlalu, kini aku harus beranjak dari pembaringan empuk ini,
beralih padang, dari memandang wajahmu yang di sana kepada pandangan baru.
Aku hanya bisa mempersembahkan doa ini untukmu: “Tuhan kiranya boleh terjadi, tunjukkanlah dia dengan pria yang pantas dan baik untuknya, Amin.”

WAJAH ITU

Di balik remang-remang hari berlabuhlah kau dihadapanku,
wajah itu asing bagiku, namun aku dipaksa terbiasa dengannya.
Semakin lama ia semakin akrab menyapaku. Demikianpun dia terhadapku.
Ia malu sekaligus pengen diganggu.

Namun getaran jiwaku terus menelisik beradanya.
Ia mungkin hanya menumpang lewat di halaman wajahku,
Tetapi aku tetap menikmati setiap tatapannya.

Bukan tatapan curiga, tetapi dahaga ilahi
Yang membuat aku dan dia terus menerus ingin bersemuka.

×
Berita Terbaru Update