-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Cerpen; Kenangan Di Pondok Batu

Minggu, 30 Juni 2019 | 23:19 WIB Last Updated 2019-12-04T22:22:35Z
 Cerpen; Kenangan Di Pondok Batu
Gambar diambil dari mediaharia.blogspot.com

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Ketika gerimis di bulan September, gigilkan rasaku dalam perjalanan. Aku dan Gio berteduh di sebuah warung bubur ayam, kecil dan artistik.

Menanti gerimis reda, dan kabut mulai menebal, pandanganku samar, di jalan raya sunyi, hanya satu, dua, kendaraan yang lalu lalang, semua menepi, karena jalan raya terhalang kabut.

"Gea, kita makan bubur ayam dulu ya, supaya perutmu tak keram!" Katanya, sambil memesan dua mangkuk bubur ayam yang hangat.

Selama makan, aku terdiam, merasakan dingin yang menggigit tulang, walau jaket dan jas hujan kupakai, tetap tanganku dan bibirku beku membiru.

Gio mengambil tanganku, dan di usap-usapnya agar aliran darah tak membeku. Ada rasa hangat menjalar dari pori-pori seperti aliran listrik yang menyengat perlahan, dan aku tak kedinginan lagi. 

Setelah gerimis reda, perjalanan dilanjutkan kembali menyusuri bukit hijau yang asri dan pepohonan pinus yang basah mengembun, terasa sejuk dan teduh di mataku. Jalanan berkelok dan menikung curam, Gio melambatkan laju motornya, agar tak terpeleset.

Betapa indah dan hijau di kiri kanan bahu jalan, menambah teduh suasananya. Mataku dimanjakan oleh alam, seperti dalam lukisan, dan aku ada di dalamnya ikut mewarnai alam raya.

Aku dan Gio berhenti di sebuah pondok batu yang dingin, mungil dan artistik, dan aku naik ke lantai dua, menuju balkon, pemandangannya begitu menakjubkan, bunga-bunga mekar beraneka warna, di bingkai hutan pinus kecil, menambah melotot mataku.

Senja sehabis gerimis, semua basah mengembun, menambah gigil badanku, aku kenakan syal warna merah muda di leherku, agar tak masuk angin.

"Gea, ayo kita ke bawah, untuk persiapan api unggun," kata Gio mengagetkan ketakjubanku.

Malam yang dingin sehabis hujan, bertambah dingin, walau cahaya api unggun mengalun, menghangati malam. Pikiranku tak karuan, walau Gio ada di sebelahku, tetap hatiku tak tenang.

"Gea, ada apa?" Katanya, membuatku bingung harus bagaimana, orang yang kupikirkan dari kemarin, terlihat santai dan tenang, aku bertambah panik.

"Hayo, kok, melamun terus, lihat, orang-orang semua gembira, kamu malah murung, ada apa?" Tanyanya.

Tak sadar aku ambil tangannya dan kudekapkan pada wajahku, tak kuasa aku menangis di tangannya.
Kulihat wajah Gio bertanya-tanya, kenapa, ada apa denganku.
"Gea...kenapa, ayo, kita nyanyi bersama ya!" Katanya.

Aku berhenti menangis, dan mengangguk, aku ikut menyanyi dengan iringan gitar Gio, dan air mataku tetap bercucuran.

Aku takut sekali kehilangan Gio, dia begitu baik dan perhatian, dia memperlakukan aku seperti barang antik yang takut pecah.

Aku masih kepikiran oleh resep dokter yang Gio sembunyikan di bawah pakaiannya. Ketika akan mengepak pakaiannya ke dalam ranselnya.

Tanpa sengaja aku membaca surat kontrol dokternya, bahwa kanker yang menggerogoti otaknya akan tak lama lagi umurnya. Tapi melihat wajah Gio, dia tak seperti sedang sakit. Gio selalu ceria dan semangat di hadapanku.

Malam semakin remang cahayanya dari sinar api unggun di pondok batu, menambah temaram pada rasaku, aku naik ke balkon sendiri, karena Gio masih berbincang dengan teman-temannya.

Di balkon aku menangis dalam diam, Gio...begitu malang nasibmu....dan kau akan meninggalkan aku sendiri, tanpamu, pikiranku tak tentu arah, bicara sendiri.

Di bawah balkon, pohon-pohon pinus menjulang berbaris rapi dan mengembun, menambah pilu hatiku, bisakah aku tegar tanpanya.

Gio...kau seperti pohon-pohon pinus itu, meneduhkan dan melindungi, walau nanti kau akan berpulang ke rumah Tuhan, tanpaku, mungkinkah di sini di pondok batu dalam keremangan cahaya api unggun, adalah kenangan terakhir?

Aku tak tahu jawabnya. Dan akupun tertidur dalam gigil.

Pagi, kabut masih menyelimuti perkemahan bukit hijau, pohon-pohon pinus masih mengembun, tiada angin, dan gigilku, mengingatkanku pada Gio, aku cari Gio ke mana-mana tak kutemukan. Pikiranku kacau, dan aku tak tahu harus bagaimana, tiba-tiba pemandu perkemahan mendatangiku, aku kaget dan bertanya-tanya.

Dari informasinya, aku ikut ke rumah sakit terdekat, untuk melihat Gio, sesampainya di sana, aku menangis, melihat Gio terbaring lemah, padahal kemarin dia begitu gembira dan ceria.

Aku lihat, tapi Gio tidak mati, dia masih hidup, terlihat dari tangannya, yang melambai padaku, aku lari ke ranjang Gio dan menggapai tangannya dalam tangisku.

"Gea...tenanglah ya, jangan menangis, aku tak apa-apa ko!" Katanya, sambil mengusap air mataku.
Tak apa-apa katanya, ya Tuhan, mengapa dia bilang seperti itu.

Aku setengah mati memendam perasaan tentangnya. Sejak kemarin aku menangis, memikirkannya.

"Aku ingin kau tetap tersenyum untukku ya!" Katanya, sambil mengelus tanganku yang gemetaran.
"Jangan hiasi wajahmu yang ayu dengan air mata, hapuslah air matamu!" Katanya, aku semakin sesenggukkan menahan tangis.

"Gea...kamu harus kuat tanpaku, seperti pondok batu yang kita diami semalam, walau dingin, walau panas, tetap kokoh!"

Ooohhh....Gio....aku bukan pondok batu yang kokoh, aku hanyalah sebuah pualam yang retak dan berserakan, tak kuat menahan rasa sedih bila kau tiada. Aku tak sanggup kehilanganmu.

"Gea...coba sunggingkan senyummu yang paling manis untukku ya!" Pintanya.

Aku sekuat tenaga untuk tersenyum yang Gio pinta, dengan deraian air mata, dan ternyata aku bisa. 
Dan Gio menikmati senyumku yang paling manis, ketika kusadari genggamannya melemah. Dan...matanya menutup, aku tak percaya, apa yang terjadi. Gioooooo...................

KENANGAN DI PONDOK BATU

Ketika api unggun mengalun
Dalam hening malam
Serupa kenangan yang meruap
Sirna menjadi kabut

Pada pondok batu hitam kelabu
Terpancang kisah menjurai
Di langit-langit rindu yang resah
Membayang di ujung kelam

Menghangati jiwa yang sunyi
Seperti batu-batu bulat yang membisu
Memberi selarik puisi di ujung serimbun pinus
Pada jejak kenangan yang mengabur di pondok batu...

Cianjur, 29 September 2018
×
Berita Terbaru Update