-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DIARY BIRU DI MUARA BARU (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)

Kamis, 27 Juni 2019 | 12:52 WIB Last Updated 2019-12-04T22:37:44Z
DIARY BIRU DI MUARA BARU (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)
Foto sang Penulis

By : Wiwin Herna Ningsih

Ram...
Di sini di dermaga, laut dan langit begitu sama warnanya mengelabu.

Kisahku masih menjejak di sini pada sampan biru putih yang berbaris rapi bertaut di dermaga, kemarau membawa kenangan ke sini ke pesisir pantai Muars Baru, tempat aku dan kamu duduk di bebatuan, ketika ombak menebur mengenai kaki telanjangku.

Dan kau memakan bakso ikan habis dua mangkok karena saking laparnya.

Dan aku mentertawakanmu karena begitu fanatiknya sama makanan populer yaitu bakso ikan pesisir pantai. Waktu itu matahari begitu teriknya, tak kita rasakan. Yang ada senyummu mengimbangi ombak laut yang bernyanyi.

Aku paling suka melihat camar berseliweran di kepalaku, terkadang menukik, terkadang menyambar ikan yang datang menghampiri dekat dengan kakiku.

Tatapmu yang kusuka, setiap kali air laut mengenai wajahmu, kau sibuk mengusapnya, itu berulang berkali-kali, terkadang sampan menghampiriku untuk kunaiki, dan aku tak pernah mau karena ombak terlalu besar, dan kau memaksaku.

Ram...
Kau tahu...
Muara Baru adalah tempat kehidupan nelayan dari berbagai pulau berkumpul, bahu membahu, bekerja sama, menaikkan dan menurunkan muatan ikan hasil jaring mereka tangkap.

Melihat kehidupan mereka begitu keras, itu terlihat dari rahang dan dagunya, tertempa alam laut, yang menantang, dan terkadang nyawa taruhannya. Namun, di sisi lain, hati mereka begitu lembut.

Ram...
Aku masih termangu di sini di dermaga, menyilang tangan pada tembok penghalang, agar ombak tidak naik menerjang.

Ram...
Aku ingat kau, dengan semua kenangan ini, di bebatuan ini aku suka mengumpulkan cangkang yang kosong, siput dan keong yang lucu bentuknya untuk kujadikan hiasan.

Dan ikan yang kecil-kecil juga kutangkap dan kuberikan  pada pemancing ikan untuk umpan pancingan.

Ram...
Bila kapal-kapal besar merapat, aku ikut berlari bersama mereka anak-anak, menyambut kedatangan kapal besar, terkadang aku ikut-ikutan ceria bersama mereka. 

Aku sangat senang dan tertawa bersama mereka. Ketika camar melantung di tiang layar kapal, dan ketakutan bila kamu tiba ke tiang kapal.

Hariku begitu indah dan bahagia, dan kaupun ikut senang, melihat tingkahku seperti anak kecil.

Ram...
Kau masih ingat kan, sama anak perempuan yang berbaju merah, usianya empat tahun, yang sedang lucu-lucunya, menyanyi tentang ikan berenang, dan kau tertawa terbahak-bahak, karena tingkah anak itu lucu menyebutkan ikan jadi ikin. Perutku sakit kebanyakan tertawa.

Ram...
Terkadang aku sampai senja di sini, melihat matahari terbenam, seperti bulan merah yang mengambang ke pinggiran laut, karena di sana ada bayangan wajahmu yang sedang tersenyum.

Dan aku tersenyum sendiri bila ingat mimik lucu wajahmu, waktu itu kau katakan wajahmu seperti matahari tenggelam. Atau mungkin semburatnya yang jingga menghiasi langit senja yang membuat rinduku luruh menepi di garis pantai, namun tak pernah kutemukan lagi bayangan potret wajahmu di sana.

Ram...
Kenangan bersamamu ketika kita duduk di bebatuan menikmati senja dalam hamparan lembayung jingga, kau nyanyikan lagu kesukaanku tentang nyanyian laut, dan bila langit telah kelam, di sana tak terhitung begitu banyak gemintang bertaburan menghiasi malam kelam.
Terkadang kau katakan

"Ri...kamu mau bintang kupetik untukmu?" Katamu waktu itu.
"Tapi aku akan memetik bintang di hatimu, untuk kusematkan di hatiku, agar selalu kemerlip menerangi hatiku setiap malam sunyi!" Katamu.

Ram...
Sampai sekarangpun kemerlip gemintang tak pernah padam, akan tetap kujaga sinarnya, agar tak redup sepanjangnya.

Ram...
Yang membuat aku sedih adalah kata-katamu seperti waktu itu.

"Ri...bila waktuku telah redup, apakah kau akan setia menghitung hari untukku?" Katamu, dan aku tak mengerti apa yang kau katakan, apa maksudnya, dan kini, setelah kau pergi dari sisiku, kini kurasakan ucapanmu itu.

Ram...
Di sini aku berjanji, akan selalu menjaga hari-hariku, untukmu yang di sana, agar kau tetap tersenyum di keabadianmu, seperti kemerlip gemintang, akan terus bersinar sepanjang usiaku.

Aku berjanji pada nyanyian laut Muara Baru, agar tetap meriak membawa sampan biru sampai ke haluan, walau tanpa kayuh.

Ram...
Terkadang aku masih termangu dengan rasa yang ngungun, menghitung pendar gemintang untukmu, namun rak pernah terhitung karena banyaknya, dan aku terkadang putus asa, tak bisa memenuhi janjiku.

Terkadang ingin aku berlari mengejarmu walau sejauh gemintang.

Ram...
Telah tiga purnama aku masih menantimu, dan aku sadar kau telah tiada.
Namun jiwamu masih hidup tertanam pada jiwaku.

Kini, aku sendiri menyusuri setiap kelokan dermaga, bila senja tiba. Dan aku masih menghitung perahu biru putih yang berbaris rapih, juga tukang bakso ikan kesukaanmu, dia telah tiada, dan aku kehilangan semua yang kusayangi, walau kenanganmu takkan pernah hilang sepanjangnya.

Ram...
Biarkan aku meniti hari-hariku yang tersisa, pada senja yang usang, dan mentaripun tenggelam bersama rasaku yang kehilanganmu, betapa jiwaku sunyi sepanjang kelokan pesisir pantai ini, mengulum kenangan yang penuh misteri dan mencoba mengarungi samudra kehidupan yang kian renta.
Semoga engkau damai di sisinya....amin...

×
Berita Terbaru Update