-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DINGIN SEPOTONG MALAM, DALAM PELUKAN DEMAM

Minggu, 23 Juni 2019 | 23:14 WIB Last Updated 2019-12-07T04:52:33Z
DINGIN SEPOTONG MALAM, DALAM PELUKAN DEMAM


DINGIN SEPOTONG MALAM

Musim dingin tahun kelima
gigilnya makin matikan rasa
padahal matahari memanasi
tak bakari sebatang sepi

Kabut di sekeliling hanya sergap
sedang tungku hangat sekejap
kembali tubuhku melemah

Memang bunga-bunga bermekaran
lambaikan ciuman wangi perayaan
dengan secangkir teh di teras senja
mengajak melahap keindahan jingga

Lambaian itu aku diamkan
sebab jiwaku sepotong malam
walau belum sungguh gulita
telah sudahi cerita desah

Satu-satunya pilihan
pulang tanpa pengkhianatan
ke ladang keyakinan

Bandung, 20 Juni 2019

DALAM PELUKAN DEMAM

Demam tinggi menggerayangi
memeluk, lebihi dingin musim ini
yang bekukan embun di daun-daun
dan para badan berbaju-baju tebal
dalam pendakian tetaplah terjal

Lelaki itu terdampar di ranjang tua
tanpa sapa, tanpa hadir siapa-siapa
merangkak mencari selimut hangat
tetap tak dapat-dapat

Kecuali ia menikmati pasrah
gemeretak gigi menggigit lidah
biarkan menjadi baring pelajaran
tentang arti sebuah kematian
berlangsung sendirian

Demam kali ini baginya paling gigil
serupa lirih rindu memanggil-manggil
bahkan tak pamit lagi, meninggalkan
dirinya yang butuh peluk pertolongan

Sakit hentikan banyak kenikmatan
jika mati, segala dimiliki menjadi
bangkai kehidupan diperebutkan

Bandung, 20 Juni 2019

ASUHAN DALAM TEMPURUNG

"Jangan ke sini! Ada zonasi!"
kata orang-orang pikiran sungsang

Membangun tembok-tembok
mengusir hidup adalah pilihan
pada sempit dunia pendidikan
belum kelar berkeadilan

Anak-anak dikembalikan
pada batas pandang jendela
hanya tatap dekat halamannya
seakan di sana ada bahaya
di sana bukan mereka

Padahal ancaman itu telah di sini
di tangan-tangan genggam liberalisasi
tanpa bimbingan ilmu pengetahuan
mencium meusum tanpa ikatan

Sejak dini, anak-anak anti persaingan
sedari awal, anak-anak diseragamkan
anak-anak dikarantinakan dalam
satu golongan-golongan

Iita sedang melakukan pendidikan
mengurung anak dalam tempurung
kelak keluar disergap bingung
tak tahu batas-batas peradaban
dibutakan luas kedaulatan

Jangan ke sini! Ada zonasi
membungkam masa depan generasi
gauli prestasi di saing globalisasi

Bandung, 20 Juni 2019

MEMBELAH DINGIN

Dari musim ke musim
engkau semakin dingin
sedang aku masih angin

Mengombang-ambing laju
perahu jauh dari dermaga
biarkan pantai takdir penantian
menjadi bibir ombak harapan

Dan ujung jarum waktu
menyeret senja tenggelam
menghukum malam sendirian
dipeluk gulita

Air mata tumpah ke tengah dada
bulir terakhirnya membuka mata
seolah pungkas segala cerita
tentang musim makin dingin
dan aku semakin angin

Tetapi anginku kali ini
adalah embus memaki musim
memisah muram mengeram sepi
aku berdiri, aku berlari
jibaku punguti mimpi
tak mau terjatuh
sisa tempuh

Hingga dingin dan angin
terbang beriring bersanding
menuju usang pembaringan
membelah rasa kemarin
yang semakin dingin

Bandung, 22 Juni 2019

BERTUDUNG SARUNG

Orang-orang selubung
selimut bertudung sarung
bertarung dengan dingin
dan angin

Sejak sergap musim
gigil cuaca membelaimu
hari-hari mengeram waktu
menetas sajak di ruang musala
suarakan sebenar-benarnya cinta

Biar telanjang dari mewah benda
asalkan sarung lindungi sebatang raga
sebagai pakaian nyaman paling jiwa
juga kain penjaga kedap suara
dari bising nyanyian alpa
sebabkan pikir bisa berpaling
seperti hari-hari kemarin

Tudung itu kerapkali dituding kampungan
namun dikucilnya panjang kenikmatan
ingatkan tak tanggal sembahyang
pada wajah-wajah sederhana
tutupi gila badan dunia
dari bolong celana

Teruslah bersarung orang-orang sahaja
walau kemolekan dandanan tertawa
tetapi tudungmu mengusir nestapa
para biasa pelahap hawa panas
berebut api di gelap pentas

Sarung penyaring kebudayaan
agar gerak zaman tak gegar
disambar sombong halilintar

Bandung, 23 Juni 2019

Karya YS Sunaryo

Gambar diambil dari www.jogja.co
×
Berita Terbaru Update