-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NYANYIAN KEMATIAN, SENGKETA KEMATIAN, MATA CINTA BERLARIAN

Sabtu, 15 Juni 2019 | 11:54 WIB Last Updated 2019-12-09T13:48:09Z
NYANYIAN KEMATIAN, SENGKETA KEMATIAN, MATA CINTA BERLARIAN
Gambar diambil dari en.netralnews.com

Karya YS Sunaryo

MATA CINTA BERLARIAN

Telah kulepas entah berapa
pasang mata cintaku
biarkan saja
berlarian

Biar menjadi asap
biar menjadi api
biar menjadi debu
biar menjadi tanah
biar menjadi lumpur
biar menjadi rayap
senyap, lenyap
dari tatapku

Di mana memberi bahagia
aku tak tahu
di mana memberi cahaya
aku tak tahu
di mana memberi buta
aku tak tahu
di mana memberi candu
aku tak tahu

Bahkan diam-diam menikamku
aku kehabisan darah
tubuhku lemah

pelan-pelan membunuhku
aku kehabisan waktu
remuklah jiwaku
dalam sajak-sajak itu

Mungkinkah ia akan jelma kemboja
rindang di samping pemakaman
bincang pohon masa depan
tentang erang kesakitan

BINTANG REMANG KESIANGAN

Bintang-bintang remang
menabur sangkaan: apakah gugus gelap atau semburat warna terang. Ia pun
seolah tak tahu

Padahal bumi beri kesaksian
bedakan mana ruang benderang
mana hidup dalam tempurung kegelapan
mana jalan berdesak sesak kesesatan
mana pula buliran kebenaran. Ia pun
seolah tak tahu

itu sebab ia kerlip hanya dihimpunnya
berjalan dengan segaris golongannya
padahal di luar ada terang lain. Ia pun
seolah tak tahu

Hingga semata bintang pada inginnya
bercahaya hanya pada edar ambisinya
sedang pada kejauhan telah buta gulita
berkuasa pada langitnya saja. Ia pun
tetap seolah tak tahu

Maka belajarlah bintang
pada indahnya rembulan
pada mengerti matahari
pada bening mata hati
pada ilmu pengetahuan
pada hikmah kebijaksanaan

tanpa terang karena dorongan-dorongan
bersekutu dengan kedip kunang-kunang kesiangan lalu takut terusir embun pagi
di ranting-ranting kering

JAKARTA, SUDAHLAH

Maka itulah Jakarta
takdir kota segala banjir
bentang pandang lautan
timbul tenggelam

Posisinya hilir dari
tumpah segala sampah
tampungan ragam kepentingan
menjadi akhir para pelari
arena seru perkelahian
penyandang gantungkan bayang
minuman haus kekuasaan

Telah lama jutaan terseret arus
dari wajah kota dianggap kusut urus
sedang para berdiri saling tenggelamkan
lubangi induk perahu pelayaran
menggapai-gapai daratan
yang telah berubah
gelombang resah

Maka itulah
Jakarta, sudahlah

NYANYIAN KEMATIAN

Para semampai itu tuangkan mabuk
di gelas-gelas berbentuk nisan
bersulang dalam seling nyanyian
sambil memanggil-manggil kematian
kemudian ditelan setiap malam

Alunan azan subuh mengabarkan
bahwa kematiannya dikabulkan
oleh bunuh dirinya sendiri
di piring-piring kemiskinan
dan di bayang kemakmuran

Tetapi di situ ia peran dimainkan
oleh remang kamar industri hiburan
yang menanggalkan helai-helai nyawa
di perkasa syahwat para kaum pria

Ia jiwa-jiwa paksa dilucuti
mati seluruh harga diri
tergelatak setiap pagi
bangun, menangisi
tubuh rapuh
terjatuh

SENGKETA JAKARTA

Jangan latah tenggelamkan saja
karena Jakarta Ibu Kota kita
walau kuyup seluruh tubuh
kayuh riuh tak sampai jauh
mainkan gelombang keruh
dalam berebut perahu pelayaran
di samudra ganas kekuasaan

Sebab banjir
takdir bagi tak punya tanggul
dijebol mesin pelenyap cangkul
air mencari para perampas lahan
karena alam lakukan perhitungan
di mulut-mulut busa sengketa
yang buncah menjadi air mata
generasi sahaja tak berdosa
tetapi patuh berdiri antri
sediakan deret-deret kursi

Sedang para duduk menyanyikan
kencang lagu-lagu pertengkaran
tanpa rampak kompak melodi
kecuali liar bola api
membakar balaikota
baranya jilati istana

Hingga banjir tak bisa alasan
padamkan bara penghabisan
yang memproduksi wajah arang
centang perenang saling coreng
tak peduli diam-diam Ibu Kota hamil
mesti menempuh jarak bermil-mil
dan jejaknya terancam hapus tergerus
sejarah patung proklamasi hangus

Tetapi jika ini soal masa depan
sebisa Ibu Kota diselamatkan
tanpa merenggut kehormatan
seperti yang sudah-sudah
warga kota gagah serakah
gegabah, menuai bah
teriak: pindah
×
Berita Terbaru Update