-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jürgen Habermas, Tokoh Intelektual yang Tetap Produktif Di Usia 90

Rabu, 19 Juni 2019 | 18:00 WIB Last Updated 2019-06-19T11:12:12Z
Jürgen Habermas, Tokoh Intelektual yang Tetap Produktif Di Usia 90
Gambar diambil dari urania-josegalisifilho.blogspot.com

Siapa yang tidak mengenal Jürgen Habermas di kalangan orang-orang yang belajar filsafat dan teologi, khususnya di kampus-kampus filsafat dan teologi?

Tokoh intelektual yang kini berusia 90 tahun itu tetap produktif, bahkan sedang mempersiapkan buah karya terbarunya yang mengupas tuntas Agama dan Pengetahuan dengan tebal 1700 halaman dan akan dirilis menjelang akhir tahun ini. 

Habermas dilahirkan 18 Juni 1929 di kota Düsseldorf, kini  tokoh pencerah di abad 21 ini menghabiskan masa tuanya di kota kecil Starnberg di selatan Jerman.

Nama Habermas harum dan mendunia khususnya dikalangan para pencari jejak kebenaran atau orang yang belajar filsafat. 

Habermas selalu dikaitkan dengan kota Frankfurt, tempat di mana dia berkiprah dan menjadi salah satu pentolan Frankfurter Schule (Mahzab Frankfurt), yang didasarkan pada pendekatan Teori Kritis.

Dia adalah model kaum intelektual yang sangat rajin menulis buku dan diberbagai media sebagai penulis dan jurnalis. Banyak gelar yang disematkan pada dirinya. 

Dia menolak fanatisme dan konflik dan berusaha memecahkan peperangan-peperangan besar melalui dialog. Dia secara tegas menolak aksi-aksi kekerasan dan menolak kelompok-kelompok yang mempropagandakan kekerasan untuk melakukan perubahan.

Dia adalah tokoh intelektual yang selalu menganalisa perubahan sosial masyarakat. Dia sangat mengkritisi situasi kehidupan sosial dan berusaha menemukan solusinya. 

Habermas sering terlibat dalam polemik dan debat tentang etika dan kebebasan. Namun dia tetap setia pada kredonya yakni menolak kekerasan dan menawarkan solusi integratif melalui dialog dan komunikasi.

Habermas mengikuti perubahan masyarakat dengan sikap kritis. Kecerdasannya berbuah pada pelbagai cara pandang tentang eksistensi kehidupan. 

Buah karya mengenai Agama dan Pengetahuan merupakan kelanjutan dan cita-cita yang sudah ada sejak muda. Habermas bermaksud untuk menghentikan konflik, kekerasan dan peperangan dan berusaha mengintegrasikan masyarakat yang makin heterogen dan kompleks dalam sebuah sistem nilai yang mengedepankan kebebasan, solidaritas, dan komunikasi. 

Tulisan ini bersumber dari dw.com dan ditulis dengan bahasa penulis sendiri
(Nasarius Fidin)
×
Berita Terbaru Update