-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KETIKA CINTA SEJATI DIGADAI DENGAN SENILAI UANG

Jumat, 14 Juni 2019 | 19:45 WIB Last Updated 2019-06-14T14:54:17Z
KETIKA CINTA SEJATI DIGADAI DENGAN SENILAI UANG

(Oleh Nasarius Fidin)

Diera kemajuan tehnologi ini, dunia semakin dikejutkan dengan pelbagai fakta aneh yang mengguncang hati nurani manusia. Sesama bahkan kekasih jiwa dipandang sebagai liyan (yang lain). 
Banyak faktor yang menyebabkan persoalan penghancuran cinta sejati, salah satunya yakni persoalan ekonomi. Masalah ekonomi dapat membongkar keabsahan cinta  yang termeterai di mesbah suci.
   
"Ketika cinta digadai dengan senilai uang", maka cinta itu nir makna. Cinta sejati itu sekedar berwujud dalam bentuk obyek yang bisa digadaikan atau diperjualbelikan. Oleh karena itu, penulis bermaksud untuk mengkritisi dan merefleksikan persoalan seorang suami yang gadaikan istrinya demi suatu tujuan tertentu. Tujuannya, agar cinta setia yang sudah diikrarkan tetap terjaga, terpelihara, dan terabadikan di setiap irama kehidupan. 

Pria Gadaikan Istrinya

Baru-baru ini, ada fakta seorang pria, Hori (35) yang berasal dari Lumajang Gadai Istrinya sebesar Rp 250 Juta kepada Hartono (40) warga desa Sombo. Pristiwa ini menghebohkan warganet atau masyarakat Indonesia karena pria itu melakukan tindakan amoral. 

Setelah satu tahun berlalu, Hori ingin menebus utangnya dengan sebidang tanah kepada Hartono. Namun Hartono tidak mengizinkan pengembalian itu karena harus dikembalikan dengan uang pula, bukan sebidang tanah. 

Karena kekecewaan itu, Hori sangat marah dan dendam kesumat kepada Hartono. Wujud kemarahannya, dia berusaha mencari Hartono di desa sebelah. Namun, tujuan pembunuhan tak kesampaian. Hori mengira, Muhammad Toha yang bertemu di jalan itu adalah Hartono. Dia membantainya dengan benda tajam. Saat itu, kemarahannya tak bertuan. Hatinya segarang halilintar, wajahnya seserem harimau liar yang tengah lapar dan mencari mangsa, dan tangannya sekasar kerikil api yang panas. 

Pria yang menjadi korban itu terkapar, terbaring kaku di bodi jalan. Darahnya menganak, tercecer di antara lubang-lubang jalan. Rohnya tidak tahu, entah ke mana. Apakah ada jeritan jiwanya di balik tetes-tetes darah dari sekucur tubuhnya yang kaku? Apakah senyumnya terurai dari ketakbersalahannya? Aku pun tidak tahu.  Namun, kenyataannya, dia sudah tiada karena keberingasan seorang pendendam yang salah kaprah. 

Sang pendendam tersulut emosi dan tidak mampu mengendalikan diri, dia mengira pria yang di jalan itu adalah sosok yang menjadi tujuan pelampiasan amarannya. Kebutaan nalar dan mata hati menghalangi kejernihan melihat realitas dan kebenaran yang sesungguhnya. 

Seusai membacotnya, sepasang mata dan setitik cahaya kesadaran baru muncul dari bilik kebekuan dan kekakuan tubuh korban. Penyesalan pun datang terlambat. Nyawa korban tidak bisa dipulihkan kembali. Hidup dan kehidupan si korban berlalu bersama perputaran waktu dan tak pernah datang lagi. Sebab hidup dan kehidupan si korban sudah dipisahkan dan disahkan benda tajam di tangan Hori, seolah-olah itu merupakan ketukan palu. 

Hori, di mana cintamu berada saat matamu menatapnya di sebidang jalan itu? Di mana ketajaman kesadaranmu tatkala benda tajam di tangamu meraung-raung? Kau terlalu tega menghanguskan keindahan cinta kasih yang Tuhan torehkan di sebentang perjalanan hidupnya. Dia belum saatnya pulang. Mengapa kau memotong tapak-tapak kehidupan yang sudah Tuhan rencanakan untuk dia? Hori, kau terlalu terpengaruh apa kata roh kemarahan dan kesesatan dunia. 

Kejadian itu menghebohkan dunia khususnya Indonesia dan lebih khusus di kalangan Kapolres Lumajang. Kapolres Lumajang, AKBP Muhammad Arsal Sahban, menilai adanya pergeseran nilai moral pada Hori. Persoalan ini bukan hanya kasus pembunuhan saja, tetapi juga kasus penggadaian istrinya sendiri. 

Kedua kasus itu sangat menyayatkan hati manusia pada umumnya karena pristiwa itu sungguh di luar akal budi manusia. Oleh karena itu, tindakan keadilan ditetapkan pada pelaku kejahatan. 

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lumajang menerangkan pelaku diancam hukuman selama 20 tahun penjara sesuai dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Cinta Sejati Di Atas Semuanya

Persoalan Penggadaian istri dan pembunuhan orang tak bersalah merupakan persoalan cinta setia, HAM, kemanusiaan, moral dan sebagainya. Kedua tindakan itu melawan keutuhan cinta yang telah disabdakan oleh Sang Pemilik Cinta. Apa yang telah ditetapkan dalam kebeningan pernikahan tetap terjadi selamanya. Kesetiaan cinta terungkap dalam kesadaran hubungan cinta itu sendiri. Persoalannya, apakah cinta sejati itu?

Dalam konteks hubungan suami dan istri, cinta sejati adalah cinta yang berwujud dalam pemberian diri yang utuh antara dua insan yang termeterai dalam kesucian. Cinta sejati melampaui harta, uang dan segala keterpikatan dunia.  

Al. Bagus Irawan, dalam bukunya yang berjudul sex, selibat, dan persahabatan sebagai karisma mengungkapkan ketotalan cinta suami dan istri. Cinta suami dan istri harus total. Ketotalitasan relasi dan komunikasi cinta suami dan istri diungkapkan dengan kekekalan. Keduanya saling memberikan keseluruhan diri dan waktu secara total dan tak terbagi-bagi dengan alasan apapun. Artinya suami dan istri harus menunjukkan cinta setia sampai mati. Sebab hal ini merupakan bukti kesetiaan perkawinan suci. Dengan demikian, cinta yang utuh dalam kekekalan bukan sebagai syarat terlahir dari luar diri melainkan muncul dari dalam diri. Persoalannya, bagaimana seni merawat cinta sejati itu?

Seni merawat cinta sejati merupakan perkara kesadaran rasionalitas dan kesetiaan cinta itu sendiri. Kesadaran rasionalitas menjadi salah satu fundasi yang dapat menggarisbawahi kesetiaan cinta suami dan istri. Rasionalitas bermaksud untuk mengkritisi dan berpikir bijak terkait persoalan-persoalan seputar bahtera rumah tangga. Rasionalitas juga menimba pelbagai pengetahuan kebenaran agar suami dan istri memiliki wawasan yang luas dalam merawat cinta. Cinta tanpa ada campurtangan rasionalitas, maka relasi dan komunikasi suami istri bisa digadaikan dengan apapun termasuk uang bahkan berujung pada kasus pembunuhan. 

Cinta sejati bukan milik kedua insan yang saling mencinta, melainkan milik Sang Pemberi cinta itu sendiri. Allah adalah Sang Pemilik Cinta.  Allah sangat setia menggenggam cinta itu dan menorehkannya pada dua insan yang menyatu dalam keberbedaan. 

Kesetiaan Allah dalam mengikat cinta pada dua pasang mata membutuhkan tanggapan, tanggungjawab dan kesetiaan yang menyeluruh. Jadi, ketika ada manusia yang menggadaikan cinta sejati, berarti dia sedang mengkianati Sang Pemilik cinta sejati itu sendiri. Dia sedang melawan kemahakuasaan Allah. Dia berdosa terhadap kekasih jiwanya, sesama manusia, bahkan terhadap Sang Pemilik Cinta itu sendiri. 

Penulis adalah alumnus STF Widya Sasana Malang.


×
Berita Terbaru Update