-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KOTA BUNGA (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)

Sabtu, 29 Juni 2019 | 23:48 WIB Last Updated 2019-12-04T22:28:14Z
KOTA BUNGA (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)
Ilustrasi diambil dari theresident.co.uk
Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Perjalanan kali ini, udaranya sejuk bersama angin yang mendesau, menambah indah suasananya.
Aku dan Dery berkeliling mengitari komplek Kota Bunga, Kota sejuta bunga beraneka warna, terasa seperti di simpan di taman hati yang berbunga-bunga.

Di sepanjang jalan komplek, gedung-gedung artistik seperti masuk ke istana Romawi, aku ini seperti sang putri yang di persilahkan masuk ke istana oleh sang pangeran.

Pintu gerbang ke Venice Little terasa anggun dengan pilar-pilar tinggi besar berwarna merah muda, semakin menambah kemegahannya, juga patung-patung berbagai karakter binatang, besar-besar dan menyeramkan.

Sungguh seperti masuk ke dunia jaman Romawi, indah dan mengagumkan. Di dalamnya ada telaga untuk berperahu sangat menenangkan dan meneduhkan.

Aku dan Dery berjalan-jalan berkeliling memandangi semua bangunan megah dan artistik.
"Aku mau es durian ya, Dery," kataku, menggamit lengan Dery, mendekati stand es durian, satu cupnya di hargai lima belas ribu rupiah.

Dan aku tahu, Dery tak suka durian, katanya suka pusing, tapi demi aku dia mau mendekati stand es durian.

"Dea...makannya jauh-jauh dariku ya, aku tak kuat mencium aromanya!" Katanya, sambil menjauh dariku, aku hanya nyengir saja, melihat tingkahnya.

"Iyaaa...deh, kamu beli bubur ayam saja ya!" Kataku, sambil menunjuk ke stand bubur ayam Cianjur.
Aku asyik dengan es durian, dan Dery asyik dengan bubur ayam Cianjurnya.

Setelah beres mengisi perut masing-masing, aku dan Dery duduk di bawah pilar besar warna merah muda. Tempat duduknya bisa muat delapan orang dewasa, duduknya melingkar.

Kulihat banyak yang antri beli tiket untuk ke telaga yang harganya sekitar dua puluh lima ribu rupiah per orang dewasa, sedangkan anak-anak lima belas ribu rupiah.
Aku paling malas antri, lama dan menjenuhkan.

Aku dan Dery berbincang dengan pedagang jamu gendong asongan, mbak jamunya sudah tua dan ramah ketika di ajak ngobrol.

Aku dan Dery membeli jamu tolak angin harga per gelasnya sepuluh ribu rupiah. Mbak jamu sudah tinggal di Cianjur sekitar dua puluh tahun. Tak pernah alih profesi, tetap menjual jamu gendong sejak dulu dan turun temurun.

Aku dan Dery paling senang berbincang dengan para pedagang kecil, seperti mereka.
Demi meghidupi keluarga, mereka merantau ke Jawa Barat, dan mudik setahun sekali bila hari raya idul fitri tiba.

Aku dan Dery bisa memetik pengalaman dari mereka, tentang keuletannya, kesabarannya, dan pantang menyerah.

Keringat di wajah Dery semakin basah, karena cuaca kebetulan panas sekali, tanpa lelah dia mau berkeliling mengikuti langkahku, katanya demi aku, dia mau mengikuti kemanapun aku pergi, kecuali durian, dia takkan mau, dan akan menjauh bila aku menyebutkan buah kesukaanku, aku tahu, bila dekat-dekat dia akan mabuk durian.

"Dea, kamu senang ya, aku lihat wajahmu begitu ceria," katanya, sambil menatap aku yang sedang bahagia.

"Iya, makasih ya, sudah mengajak aku jalan-jalan, walaupun kamu sedang tak enak badan," kataku, tanpa rasa bersalah, sebetulnya aku kasihan sama Dery, kulihat dia tidak fit, tapi dia memaksakan diri hanya untuk menyenangkan aku.

"Dea, aku ingin suatu saat, kamu menjadi putri di istana Venice Little ya," katanya, sambil menunjuk bangunan indah yang mungil artistik.

"Iya semoga saja, aku doakan, semoga mimpimu menjadi kenyataan, dan kamu menjadi pangeranku," kataku, aku tergelak dengan obrolan cerita dongeng sang pangeran dan sang putri.

Waktu telah senja, ketika perjalananku berakhir dengan sejuta bunga kebahagiaan,  suasana sore, terlihat indah, lampu neon di sepanjang trotoar indah kemilau, memancarkan cahaya yang penuh warna warni menambah semarak perjalananku.
Aku sangat bahagia.

Hidup terkadang seperti mimpi yang indah dan menakjubkan, seperti khayalanku tentang seorang putri penghuni Venice Little bersama seorang pangeran.

Dan aku memang merasa hidjp di negeri dongeng bila dekat dengan Dery.
Dia memperlakukanku layaknya seorang putri.

Dan keindahan ini bersama kenangan sepanjang kisah perjalananku dengan Dery takkan kulupakan.
Akan menjadi sebuah mimpi yang indah dan penuh dengan nuansa merah muda.

Penuh harapan yang akan menjadi sejuta bunga di Kota Bunga dalam balutan kisah kasih sepanjangnya.
Laksana seorang putri dan pangeran di pondok Venice Little yang indah.

Cianjur, 28 september 2018
×
Berita Terbaru Update