-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MAKAN KETIKA TIDAK ADA (CERPEN I MADE KRIDALAKSANA)

Jumat, 14 Juni 2019 | 22:14 WIB Last Updated 2019-12-05T07:07:28Z
MAKAN KETIKA TIDAK ADA  (CERPEN I MADE KRIDALAKSANA)


Oleh: Made Kridalaksana

“Ini notanya, Pak. Totalnya tujuh belas juta lima ratus delapan puluh satu lima ratus rupiah.” Demikian pesan whatsapp dari Pak Gusti, pemilik usaha kayu tempat kami memesan pintu dan jendela. 

“Uang dari mana?” tanya saya dan istri hampir bersamaan. 
“Terakhir kita sudah menambah hutang di LPD. Itu pun sudah habis untuk pasang keramik di dinding tangga.” Istri saya lalu bergegas membuat sambal untuk peneman makan malam kami.

“Andainya kita tidak memesan pintu dan jendela dulu, mungkin tidak akan begini jadinya,” gumam saya sambil menahan bersin akibat bau cabai yang sangat menyengat. 

“Apa kamu bisa tidur kalau tidak ada pintunya? Apa kamu mau tidur bersama nyamuk, kecoak, tikus, kucing, anjing, kodok, bahkan ular?

Apa kamu tidak khawatir dokumen-dokumen penting kita dicuri sewaktu rumah kita tinggalkan?” Istri saya terus nyerocos bak ember bocor dituangi air.

“Kalau rumah kita belum ada pintunya, jangan pindah dari kos ini dulu,” balas saya sambil mengarahkan air-cooler ke tubuh yang panas bak tersengat bara. 

“Tujuh ratus ribu tiap bulan kamu kira sedikit? Kalau dikumpulkan, dalam beberapa bulan mungkin kita bisa bayar tukang atau belikan material lainnya. Kurang perhitungan!” umpat istri saya sambil menuang potongan bayam ke panci.

“Ini pembelajaran berharga bagi kita. Perhitungan kita berbanding terbalik dengan realitas. Hutang di BPD mestinya ditutupi gaji.

Sementara Tunjangan Profesi Guru atau TPG dan ongkos saya mengajar bahasa Indonesia kepada Mr. Park cukup untuk membayar hutang di LPD dan dan BRI,” kata saya menanggapi umpatannya. 

“Kamu terlalu berani. Hutang kan mesti dibayar tiap bulan. Sementara TPG cairnya tiga bulan sekali. Sering telat pula. Begitu juga dengan Mr. Park, pengusaha asal Korea itu.

Bayarnya telat sampai akhir bulan. Sekarang libur pula dia sebulan. Kalau demikian, bagaimana kita membayar cicilan hutang?” keluh istri sembari menaburi penyedap rasa pada adonan sayurnya.

“Sial benar nasib kita. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Saya coba daftarkan mobil dan motor kita pada angkutan on line. Barangkali saya bisa ngojek sepulang mengajar.

Sayangnya, usia kedua kendaraan kita itu melewati batas persyaratan,” lanjut saya menyesali beban yang saya ciptakan sendiri itu.

Kembali saya lihat pesan Pak Gusti. Saya tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah meminta penundaan waktu pembayaran. Mudah-mudahan ia bisa memahami.

“Maaf, Pak Gusti. Minta tolong beri saya waktu sampai akhir bulan ini. Kan tinggal beberapa hari lagi. Mohon doanya. Mudah-mudahan TPG saya dibayar dalam beberapa hari ini.” 

**********
Pagi itu, sambil meneguk kopi, mata saya tertuju pada kalender di dinding. Ternyata, hari itu tenggat waktu membayar cicilan di BRI.

Satu juta tujuh ratus ribu. Waduh! Uang dari mana lagi? 
“Kita pinjam saja pada ibu di kampung. Ia baru menjual babi-babinya kemarin.”

“Mestinya kita yang ngasih. Bukan malah minjam. Ibu kan juga perlu uang untuk biaya pakan ternak, beli kangkung, daun ketela, dan dedak. Kadang juga untuk dokter hewan kala babi-babinya kurang sehat,” jawab istri saya mengingatkan.

Agak lama saya terpaku di teras lantai kos. Hal yang ada di kepala hanyalah di mana harus meminjam uang hari itu.

Kalau tidak menyetor dana sebelum pukul 24.00 hutang kami akan dikenai denda. Saya mencoba menghubungi adik saya. Barangkali ia punya uang sejumlah itu.

Saya ulang dan ulang lagi. Ada nada sambung, tapi tidak diangkat. Mungkin dia masih tidur atau sedang menyetir. 

Saat hendak beranjak, saya membuka grup whatsapp sekolah kami. Satu per satu pesan baru saya scroll down. Tiba-tiba tatapan mata saya terhenti pada pesan Bu Nita, staf administrasi.

Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) untuk dua bulan terakhir katanya sudah cair. Kabar ini tentu membuat hati saya senang bukan kepalang.  

“Cicilan BRI hari ini terbayar.” Batin saya lalu menyusuri lorong kos menuju parkir motor. 

**********
Sore itu saya pulang dari menengok Mas Yono memasang keramik. Belum sempat saya duduk, istri saya langsung menghampiri.

“Uang tinggal lima ribu saja. Beras sudah habis.” Matanya nampak berkaca-kaca.
Dalam situasi kalut, tiba-tiba saya ingat Pak Made, rekan saya. Langsung saya menelepunnya.
“Ada apa, kok tumben?”

“Saya mau pinjam uang,” jawab saya tanpa basa-basi.
“Berapa?” 
“Dua ratus ribu, ada?” 
“Ada, besok saya beri di sekolah.” 
Mendengar janji Pak Made ini,  saya merasa sedikit tenang. 

**********
Pagi itu upacara bendera baru saja usai. Anak-anak masih berhamburan ke kelas. Saya masuk ke ruang guru. Di situ ada juga Pak Made.

Meski kami sempat ngobrol, tidak ada tanda-tanda ia ingat janjinya semalam. Saya pun tidak berani mengingatkannya. Lalu, saya langsung ke kelas melakukan pembelajaran sesuai jadwal.

Setelah pembelajaran selesai, dengan langkah gontai saya berjalan ke tempat parkir. Saya tidak tahu harus pergi ke mana.

Kalau langsung ke kos tanpa membawa uang, berarti istri dan anak saya harus menahan lapar. Kalau pulang harus membawa uang, mesti pinjam sama siapa? Dalam kebimbangan itu, saya keluarkan telepun android lalu mencari-cari nomor telepun sebuah kantor.

“Sampai jam berapa buka hari ini?” tanya saya.
“Sebelum jam 12.30, Pak. Di lantai dua,” sahut suara perempuan dari ujung telepun.

Sudah hampir pukul 12.00. Cukupkah waktunya? Apa pun alasannya, saya harus pergi ke sana. Saya buka tangki motor, bensinnya hampir habis. Kalau nekat berangkat, pasti motor akan mogok di tengah perjalanan.

Tiga lembar lima ribuan yang ada di dompet, saya belikan bensin di sebuah kios pinggir jalan. Selanjutnya, dengan dompet kosong melompong, motor saya laju. 

Saya menyelinap di antara kemacetan dan panasnya Kota Denpasar. Setelah beberapa kali pula harus mencari jalan alternatif, karena ada beberapa jalan yang ditutup, akhirnya, tibalah saya di depan sebuah gedung berlantai dua di sebelah kiri jalan. Setelah bersapa dengan sekuriti, saya langsung ke lantai dua. 

Di depan konter, seorang perempuan muda mengecek di komputer setelah meminta saya memperlihatkan KTP.

“Ada empat ya, Pak. Semuanya tahun 2017,” katanya lalu menyodorkan empat lembar kertas. 
“Silakan bawa ke lantai satu, Pak,” pintanya setelah saya tandatangani.

Saya bergegas ke lantai satu. Setelah tiba di depan sebuah konter, kertas-kertas tersebut langsung saya sodorkan.

“Totalnya tiga ratus sembilan puluh lima ribu rupiah,” kata seorang kasir perempuan sambil menyerahkan amplop berisi honor artikel-artikel saya yang pernah dimuat di koran terbesar di Bali tersebut.

Saya jadi tiba-tiba ingat dengan apa yang pernah diucapkan dosen saya dulu. “Makanlah ketika tidak ada!”

Bongkasa, 2019

Ilustrasi dari beritamoneter.com
×
Berita Terbaru Update