-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEMANDANG LANGIT, PUSARAN ANGIN, MENANTI TUNJUNG MEKAR

Jumat, 21 Juni 2019 | 20:35 WIB Last Updated 2019-12-07T05:18:05Z

MEMANDANG LANGIT, PUSARAN ANGIN, MENANTI TUNJUNG MEKAR

PADA PANCA INDRA

Begitu Pancadriyaku tiada peka
Tatkala ujung jemariku kaku
Tiada sampai pesanku padamu
Kutebarkan aneka rasa jiwa...
Rasa Jiwa terdalam
Ada namun tiada
Tiada tetapi siap sedia adanya
Hingga aku sampai padamu
Dengan sejuta keluh
Bersama ratapan pilu...
Andai kautahu
Namun tetap membisu
Disitulah nilai titik beku
Nurani yang membusuk
Di jasadmu nan hidup
Aksi monster rakus
Zombie mayat hidup
Tiada guna Pancadriya
Sia-sianya Sukma
Pribadi sejati sirna
Memandang namun tidak melihat
Mencicip tapi tiada rasa
Menciumi namun tak ngerti wangi
Mendengar tetapi tidak paham
Saat itulah 
Yang Tiada Netra Bicara
Beraksi merajai Semestaraya
Agar kau dan aku tahu
Pada Panca Indra
Yang terus kita sia-sia.
Pada Panca Indera
Hanya milik sejati para Tuna Netra
Cintanya adalah Semestaraya
Dialah...anak-anak sejatiNYA
Satria Piningit
Hidup dalam kepekatan driya
Namun penikmat sejati eloknya cakrawala
Mengapa kau diam saja?
Bernapas tapi...tanpa...jiwa!
Adanya telah sirna ditelan kauangkara!
Kauangkara
Tubuhmu manusia
Sifatmu raseksa!
Untungnya Kau dan aku
Tetap manusia penuh kasih cinta.

BUNGA-BUNGA

Bunga-bunga indah berumpun lemah
Sekali mekar
Kemudian layu.
Beruntunglah yang melihatnya pertama mengembang
Itu kekuatan
Daya hidup pemberi lapang jiwa.
Bunga-bunga itu terus bertunas
Sering juga memiliki biji
Butir-butir benih baru
Tidak secepat tunas rumpunnya.
Butuh proses panjang untuk seperti induknya.
Aku bersama bunga-bunga itu
Belajar merawatnya
Memelihara
Supaya mendapat lapang jiwanya
Berusaha meneladaninya
Di sisi indah
Baik
Benar
Tepat
Syukur bijaksana seperti mekar harum wanginya.
Bunga-bunga
Bunga
Bunga
Bunga
Kau
Aku
Bunga-bunga.... 

MENANTI TUNJUNG MEKAR

Di sini
Papa duduk
Pada Jembatan Batu Taman
Menanti Tunjung Mekar
Disepuh Sinar Mentari
Ditemani burung-burung.
Tekukur tiada henti bersyukur
Pipit muda
Trucukan
Grenjengan
Peking
Tengkek menghilang
Tetet melayang-layang menemani Sriti menghiasi awan-awan.
Air memercik bening gemericik
Mekar Tunjung Teratai perlahan
Tepat jam delapan berkembang
Menawan
Penuh pesona
Harum
Wanginya tak ditebar
Hanya buat yang mau.
Ikan-ikan menikmati jernih air
Mencemuti jagung yang tiap saat Papa tabur.
Bergerombol
Berhimpun
Bersama sesuai jenis.
Papa tersenyum
sebab saat ini lagi musim gerombolan orang
Orang-orang yang hilang kemanusiaannya
Melupakan kodrat
Mengabaikan pranata negara
Pranata bangsa
Pranata sosial
Pranata agama
Bahkan pranata privacy oleh manisnya provokasi.
Kembali memandang Tunjung Mekar
Surya Bersinar
ingatmu putri cahaya hidup Papa yang sudah mendapat Suami budiman, 
Cucu Tampan, sholeh mendampingi sholehah.
Kalian terindah
Makin indah
Ketika tulus ikhlas bersama jiwa.
Duduk di sorga bumi pertiwi
Belajar terus tulus mensyukuri
Menapaki hidup ini
Kehidupan biar ditaburi kasih sejati
Seindah Mekar Tunjung Teratai Putih.

PUSARAN ANGIN

Pusaran Angin memenuhi ruangan bilik
Keras
Hebat
Bilah-bilah bilik patah berantakan.
"Diam!"
bentakku.
"Berhenti!" 
seruku.
Beberapa saat pun hening
Himpunan udara bergerak diam
berlalu bagai kabut.
Roh halus
Arwah-arwah
Marah
Murka sebab amuk angkara manusia
Masih berbadan, namun tiada peduli sukma-sukma yang kehilangan raga.
Kunyalakan harum-haruman
Sebatang cigaret
Berdiri
Tegak
Membungkuk hormat,
"Terimakasih
Semua mengerti
Kembali ke tempat
Pada alam masing-masing."
Duduk diam aku di ruang bilik itu
Belajar lapang jiwa
Ikhlas menerima siapa saja
Sebagai saudara
Baik berbadan
atau pun tiada raga.
Aku tahu
Di tubuhku masih berdiam
Sukma seperti mereka
yang tiap saat bisa dimintaNYA
berhimpun dengan mereka yang sudah tiada tubuh.
Aku bersimpuh
Mengucap syukur
agar terus belajar tulus
Lurus
Pancer
Jujur
Pener
Bener
Jejeg
Ngedepleg....
Madep....

LUKISANNYA 

Surya bercahaya 
Menepikan kabut, awan, mendung, menjadi indah lukisan cakrawala.
Lukisan bergerak perlahan seiring sentuhan angin.
Sudah kuhentikan aneka ingin
Kupadamkan segala mau diri
Turut menggores cakrawala
Dengan menabur benih
Menanam bibit
Memelihara segala
Hingga memetik
Menikmati sesuai irama hidup.
Hidup tulus selaras kasihMU
Di kehidupan ini...
Engkau
Kau
Sanghyang saja bertakhta
agar semuaaaa...penuh...kasih cinta....

MEMANDANG LANGIT

Aku memandang langit
Penuh bintang-bintang.
Berbaring ditemani dingin.
Dingin sekali
Mengurai ingin diri
Juga mau rohani
di antara kerlap-kerlip di atas sana meluncur definisi mimpi. 

"LIGHT PEOPLE"
TERBATASNYA KAPASITAS MANUSIA 

Rohaniawan yang tiada tersentuh rohaninya, jadilah dunia gelisah.
Galau mencari
Resah bertanya
Ragu bicara
Cemas menyampaikan
Gamang
Kebimbangan tentang yang dijalani dan dilakoninya
Akibatnya ngawur

Pengabdi rohani sejati
Pasti teduh
Adhem
Nyaman
Tenteram
Sejuk
Damai sejahtera
Sehat lahir batin menyampaikan apa pun.
Hidupnya bercahaya dengan aneka karyanya
terus bersinar walaupun bukan matahari
Terus mencerahkan
Sederhana
Apa adanya
Memberikan hal baik, benar, tepat, bijaksana tentang apa pun
Di mana pun
Kapan pun
Dengan siapa pun
Terhadap apa pun
Dalam kondisi bagaimanapun
Hingga tumbuhlah daya hidup
mewakiliNYA
Weruh Sarira
Weruh ing Panuju
Gesang Langgeng kados ingkang maringi gesang.

Oleh: Mbahkung Buanergis Muryono
×
Berita Terbaru Update