-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Membangun Literasi dari Desa

Jumat, 14 Juni 2019 | 22:32 WIB Last Updated 2019-07-09T15:03:11Z
Membangun Literasi dari Desa

Oleh : Bruno Rey Pantola

Pada era sekarang, literasi menjadi modal penting untuk ‘pembangunan’ manusia. Standar keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh pemesatan literasi. Di Negara-negara yang memiliki tradisi literasi mapan, melimpah ruahnya informasi yang disajikan di berbagai media disikapi dengan bijak. 

Kemampuan manusia untuk bersikap kritis mulai diukur dari hal-hal demikian. Bahwa, kekuatan literasi mampu menghalau berbagai jenis tekanan-tekanan kelam manusia menjadi terang benderang. Oleh karena itu, sebuah keberhasilan dalam dunia literasi adalah, teks digital maupun buku dibaca dengan kritis, dianalisah, hingga sampai pada penerapan maknanya dalam kehidupan kesehariannya. 

Dalam kurun waktu dekade ini, Indonesia disentakan oleh survei-survei yang mengukur literasi anak-anak Indonesia. Proporsi jumlah melek huruf di atas  90%, sisanya adalah buta huruf dan itu banyak ditemukan di desa-desa (Sofia Dewayani; Menghidupkan Literasi di Ruang Kelas; 2017). Kemajuan ini seharusnya membuat kita berbangga dan terus mewartakan semangat literasi yang berkembang dengan pesat.

Melihat perkembangan literasi di Indonesia saat ini, lebih dominan terlaksana mulai dari perkotaan. Misalnya, taman-taman baca, berbagai kegiatan diskusi dan kegiatan akademis lainnya  yang selalu dilaksanakan  di Kota (tempat yang lebih ramai dan mudah untuk segala akses), lupa bahwa literasi menjadi penting ketika didekatkan dengan orang-orang yang sangat membutuhkannya. 

Desa, sejauh ini masih dalam pandangan mayoritas bahwa, Desa hanyalah sebuah tempat (kampung) yang selalu dikonotasikan dengan keterbelakangan dan ketertinggalan. Anggapan-anggapan ini akhirnya menjadikan Desa tak memiliki daya untuk keluar dari kungkungan ‘ketertindasan’ sebab, tidak ada tindakan nyata atau solusi untuk mengatasinya, baik dari pemerintah desa sampai pemerintah pusat maupun masyarakat sendiri. Ketertindasan yang paling dirasakan adalah kemiskinan (pendidikan dan ekonomi).

Ketika ditelisik lebih jauh, Desa memiliki ‘aset-aset’ kemanusiaan yang mampu bersaing dalam aspek pengetahuan dengan Sumber Daya Manusia yang ada di Kota. Bagaimana tidak?

Anak-anak Desa yang mengenyam pendidikan di Desa harus berjalan kaki berkilo-kilo untuk mendapatkan sekolah. Listrik, jalan, dan air bersih yang pada umumnya belum mampu diakses oleh desa tidak melunturkan semangat mereka untuk terus menggeluti pendidikan. Semangat merekalah yang diandalkan. Artinya, bila pembangunan secara infrastruktur dan kemanusiaan yang merata,  dalam hal ini berkaitan langsung dengan perkembangan literasi seperti yang sudah terjadi di Kota, masayarak desa juga sangat diperhitungkan. 

Sebagai salah satu contoh, di Desa Oelnunuh, sebuah desa yang berada di pedalaman pulau Timor, NTT, Kabupaten TTS, Kecamatan Polen ini, hanya memiliki satu buah Sekolah Dasar yang terletak paling ujung di Desa tersebut. Anak-anak yang tamat dari sekolah tersebut akan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP) di luar desa. Sekitar dua puluhan kilo untuk sampai pada sekolah  yang berada di desa tetangga itu.  Banyak juga desa-desa lain yang tidak ditampilkan dalam tulisan ini yang mengalami nasib sama. Namun, semangat mereka tak pernah lekang kendati berjalan kaki tiap hari pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Untuk buku, jarang sekali mereka temui di rumah atau di lingkungan sekitar tempat tinggal. Buku-buku hanya ada di sekolah. Itu pun buku-buku pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. 

Nah, bagaimana dengan Masyarakat Desa pada umumnya?
 Untuk itu, penetrasi literasi yang hanya berkecimpung di Kota seharusnya mulai merembes masuk ke dalam desa-desa yang notabene masih sangat minim pengetahuan. 

Literasi dapat dikumandangkan serta dilaksanakan mulai dari Desa (diharapkan dari Desa yang sangat terpencil). Ada beberapa sebab urgen yang senantiasa Desa harus disuplai dengan asupan-asupan literasi.  Salah satunya adalah, lingkungan desa memiliki potensi-potensi Sumber Daya Alam yang sangat kaya. Namun, kenyataannya, kemiskinan di Desa belum teratasi secara gamblang. Masyarakat Desa cenderung pasrah terhadap situasi lingkungan di sekitarnya. Ketidaktahuan akan ilmu membuat mereka ‘nyaman-nyaman’ saja di atas penindasan dan keterpurukan. 

 Untuk menjaga kekayaan yang ada di Desa serta mengembangkannya, tidak sebatas dengan memaksa orang atau tergantung Pemerintah Desanya menerapkan regulasi-regulasi yang bersifat kaku dan umum. Tetapi, harus senantiasa menjadi kesadaran individu dan koleftif yang masif. Untuk itu, pengetahuan merupakan jalan satu-satunya untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh Masyarakat Desa.

 Pengetahuan tidak  harus ditempuh melalui pendidikan formal atau sekolah saja. Lewat membaca, berdiskusi dan kemampuan menganalisah apa yang menjadi penyebab kesenjangan yang masih bercokol di Desa. Kegiatan ini bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, di luar lingkungan sekolah yang penuh dengan aturan. Peran sekolah perlu tumbuh menjadi media tempat mengembangkan kecakapan multiliterasi. Dengan menjadikannya sebagian dari kurikulum formal, pengembangan kecakapan multiliterasi (yang telah berjalan di area publik dan rumah siswa) menjadi lebih terintegrasi dan terarah. 

Desa akan gagal jika yang dijalannkan hanya pemerintahnya/rezimnya. Desa harus mampu menciptakan lingkungan dan kehidupan baru yang memicu masyarakat bersikap soliter. Kesolitan maksudnya adalah upaya menghidupkan modal sosial (kebersamaan, kerja sama, solidaritas dan kepercayaan) yang kaya melimpah. Literasi dianggap sebagai kegiatan yang soliter karena membaca dan menulis dapat dilakukan tanpa berinterkasi dengan orang lain. Tidak cukup di situ, Desa sebagai yang memiliki otoritas dan kewenangan berperan menumbuhkan secara alamiah bersama dengan budaya dialog serta mensosialisasikan pentingnya berdiskusi antar individu sebagai upaya memecahkan isi buku yang sudah disediakan.  

Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, terdapat dua asas penting yang diberikan ke desa yakni, asas subsidiaritas dan asas rekognisi. Asas subsidiaritas lebih mengemukakan tentang  pengalokasian Dana Desa yang diberikan ke desa itu sendiri. Sedangkan, asas rekognisi adalah kewenangan dan pengakuan yang diberikan sepenuhnya kepada desa (tidak adanya intervensi langsung dari pemerintah daerah sampai pemerintah pusat). Kedua asas ini membuka pintu dengan lebarnya untuk dapat memasukan literasi sebagai aspek progresif dalam dunia pengetahuan di desa. 

Sebagai asas subsidiaritas yang adalah ‘pemberian uang’ itu sendiri, dapat disisikan untuk memfasilitasi masyarakat dengan mengadakan taman baca serta buku-buku bacaan, dan yang terpenting adalah membiayai fasilitator yang mampu mendekatkan literasi serta menuntun Masyarakat Desa untuk mengenal literasi lebih jauh. Lalu bagaimana dengan asas rekognisi?

 Asas rekognisi dikonsentrasikan bagi keberlangsungan kegiatan literasi tanpa aturan-aturan pemerintah yang mengatur dengan regulasi-regulasi yang sistematis. Artinya, kegiatan literasi dapat berjalan seperti air yang mengalir, kapan saja, tanpa dibatasi oleh sistem-sistem yang ada. Bahwa, kewenangan itu memberikan keluasan baik waktu maupun ruang untuk masyarakat berkreasi mengembangkan nilai-nilai akademis. 

Sebuah argumentasi dalam UU Desa yakni  Bab 1 pasal 1 No. 12, menggambarkan dengan jelas; pemberdayaan adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penerapan kebijakan program kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa. Capaian UU Desa ini ketika ditelaah lebih dalam, merujuk pada bagaimana Ilmu Pengetahuan memberikan dampak yang besar dalam kehidupan masyarakat. Ilmu pengetahuan merupakan hasrat ingin tahu manusia tentang fenomena yang ada di sekitarnya. 

Pembangunan masyarakat merupakan fenomena yang muncul sepanjang kehidupan manusia, atau lebih tepatnya sepanjang manusia hidup bermasyarakat. Tanpa pengetahuan dan referensi yang cukup (buku-buku), kesulitan utama dalam masyarakat yakni kemiskinan akan terus mengemabara di Desa sampai kapanpun tanpa dtelusuri apa penyebabnya.

Sebagai inovasi baru, terlepas dari semangat pemberdayaan masyarakat terhadap ekonomi (material) yang sudah ada, literasi harus menjadi senjata yang dapat mempreteli ketidakmampuan (pendidikan) alami maupun tersistem. Sehingga pembangunan masyarakat desa yang bertujuan menyejahterakan tidak semata-mata diberikan secara mentah-mentah kepada masyarakat. Masyarakat harus memiliki ide kreatif untuk mengembangkan apa yang mereka punya berbasis literasi. Artinya, literasi sebagai sarana utama membantu masyarakat bersedia berinovasi dengan pengetahuannya yang mapan. 

Menurut hemat saya, finansial dari pembangunan di desa tidak terbatas pada kesuksesan menjalankan segala aturan yang diatur secara hukum yang mungkin hanya bersifat jangka pendek, namun, terlampau pada membuka perspektif masyarakat lebih luas demi sebuah keberlanjutan hidup yang lebih panjang. Asumsinya; desa dapat menciptakan banyak generasi yang mampu bersaing secara Nasional bahkan Internasional. Maka, terwujudlah Desa membangun Indonesia, membangun Indonesia dari Desa. Artinya, dengan kecakapan keilmuan, kesiapan mental, dan integrasi dalam setiap pribadi, desa-desa di Indonesia pada umumnya dan setiap desa pada khususnya dapat diperhitungkan. 

Bruno Rey Pantola, lahir di Lospalos 23 Maret 1997. Saat ini tinggal di Yogyakarta. 

×
Berita Terbaru Update