-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mengimplementasi Pembelajaran yang Paperless

Selasa, 18 Juni 2019 | 20:10 WIB Last Updated 2019-06-18T13:10:22Z
Mengimplementasi Pembelajaran yang Paperless
Ilustrasi diambil dari gulalives.co

Oleh I Made Kridalaksana, S.Pd.,M.Hum
(Guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 2 Mengwi)

Gogot Suharwoto, Direktur Pustekkom Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada buku program International Simposium on Open, Distance and E-Learning (ISODEL) 2018 menerangkan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, yang belakangan dikenal dengan Revolusi Industri 4.0, telah menciptakan perubahan-perubahan mendasar pada semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan. Terkait hal ini, khususnya proses pembelajaran pada satuan-satuan pendidikan yang ada di tanah air, pembelajaran berbasis kertas (paper-based learning) kini, perlahan-lahan bergeser menuju pembelajaran yang berbasis internet (internet-based learning). 

Salah satu konsekuensi pembelajaran berbasis internet tersebut adalah terjadinya pengurangan penggunaan kertas (paperless). Adapun istilah paperless ini pada oxforddictionary.com didefinisikan sebagai hal yang berhubungan dengan, atau, meliputi penyimpanan informasi komunikasi dalam bentuk elektronik, bukan dalam bentuk kertas. 

Berdasarkan definisi ini, bagi kita para guru, kemudahan penyimpanan informasi dalam bentuk elektronik ini memberikan sejumlah manfaat baik pada saat membuat rencana pembelajaran, mengeksekusi rencana pembelajaran ke dalam proses pembelajaran, selanjutnya melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran terkait.

Pada saat melakukan rencana pembelajaran, dokumen yang dibutuhkan bisa disimpan di dalam file folder yang dapat dibuka pada saat proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, dokumen-dokumen dalam bentuk kertas yang kerap kita bawa ke kelas seperti: kalender pendidikan, silabus, program tahunan, program semester, rincian minggu efektif, pemetaan standar isi, kriteria ketuntasan minimum, analisis penilaian harian, rencana pelaksanaan pembelajaran, jadwal pembelajaran, lembar penilaian, daftar hadir siswa, agenda pembelajaran, buku ajar, dan lain-lain, tidak lagi harus menjejali tas kita. Semua dokumen dalam bentuk kertas itu dapat kita simpan pada sebuah flashdisk yang apabila diperlukan, dapat dibuka melalui peranti laptop. 

Selanjutya, proses belajar-pembelajaran pun dapat dilakukan secara paperless. Setelah mendaftar pada aplikasi atau portal pembelajaran tertentu yang kini banyak bisa diunduh di internet, kita dapat melakukan pembelajaran dalam bentuk kelas maya (virtual class). Pada pembelajaran ini kita dapat menggunakan begitu saja materi ajar yang sudah tersedia pada portal pembelajaran tersebut. Kita juga dapat menambah, mengubah, maupun mengkreasi sendiri materi ajar yang hendak disampaikan kepada peserta didik sesuai kebutuhan.  

Bagaimana dengan evaluasinya? Untuk ulangan harian misalnya, kita dapat meminta para peserta didik mengerjakan soal-soal yang juga sudah tersedia di dalam portal pembelajaran tersebut. Sudah tentu kalau ingin membuat soal yang berbeda, kita juga dapat mengubah atau membuatnya sendiri di portal tersebut. Sistem evaluasi seperti ini memungkinkan kita memonitor melalui layar laptop maupun gawai sehingga kita tahu siswa-siswa mana yang sedang mengerjakan, yang sudah selesai mengerjakan, maupun yang belum atau yang tidak mengerjakan soal-soal ulangan atau ujian yang kita tugaskan. 

Selanjutnya, proses koreksinya serta penilaiannya pun secara otomatis dilakukan oleh sistem yang ada di portal tersebut. Oleh karena itu, kita tidak perlu bersusah payah lagi memeriksa hasil ulangan tersebut berjam-jam apalagi sampai membawanya pulang sebagaimana kerap dilakukan pada saat pembelajaran dengan eveluasi berbasis kertas. 

Selain ulangan harian, setiap satuan pendidikan dapat melakukan penilaian dengan model evaluasi paperless semacam ini. Pada saat melaksanakan ulangan tengah semester, penilaian akhir semester, ujian sekolah atau apa pun istilahnya, mereka tidak perlu lagi repot-repot menyiapkan serta menggandakan soal-soal ulangan atau ujian dalam bentuk kertas. 

Selanjutnya, karena sistem koreksi serta penilaian sudah bekerja secara otomatis, untuk koreksi serta penilaiannya pun kita tidak perlu menyita waktu. Dengan demikian, kita menjadi memiliki waktu luang yang lebih banyak untuk melakukan kegiatan positif lainnya seperti bercengkerama bersama keluarga, menyalurkan hobi dan bakat, bersosialisasi dengan lingkungan, bertamasya, dan sebagainya.

There’s no free lunch. Mengimplementasi pembelajaran yang paperless itu tentu tidak gratis. Siapa yang mesti membiayai penyediaan peranti keras maupun lunak, infrastruktur jaringan, maupun hal-hal terkait lainnya? Bagi satuan pendidikan negeri yang tidak melakukan pemungutan dana kepada para peserta didiknya, hal ini tentu sulit dilakukan. 

Untuk itu pemerintah mestinya berani melakukan alokasi anggaran yang memadai sehingga setiap satuan pendidikan mampu mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini. Dengan begitu, guru sebagai ujung tombak pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dapat melaksanakan kewajiban profesionalnya sebagaimana dimuat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2008 Tentang Guru, khususnya pasal 52 ayat (1), yang berbunyi: Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok: a. merencanakan pembelajaran; b. melaksanakan pembelajaran; c. menilai hasil pembelajaran; d. membimbing dan melatih peserta didik; dan e. melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru. Kalau implementasi pembelajaran yang paperless ini dapat dilaksanakan, kita tentu berharap para peserta didik kita dapat bersaing di era Revolusi Industri 4.0 ini. Semoga.



×
Berita Terbaru Update