-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENIMANG BENINGNYA SUNYI, BULAT YANG DATAR

Senin, 10 Juni 2019 | 20:55 WIB Last Updated 2019-12-09T14:45:31Z
MENIMANG BENINGNYA SUNYI, BULAT YANG DATAR
Ilustrasi diambil dari deviantart.com

BULAT YANG DATAR

Karya: Yo Herie Suyidna

Bumi ini hanya satu
Satu pula arah edarnya
Bulat yang datar

Tentang hakekat bulat
Bulat mengisyatkan tak berujung maupun pangkal
Melengkung halus ke segala arah
Membentuk cakrawala satu yang padu

Tentang cara pandang yang datar
Datar itu tidak bergejolak
Merata di sudut tegak pandang retina
Merujuk satu arah ke depan
Hingga kaki langit bercakrawala
Dan lenyap di ujung tak terhingga batas semesta kelogilaan rasa

Bumi masih bulat yang datar
Bertumpu dari titik nol, berpijak
Kebulatan tekad memulai bentuknya
Terserah,
Menghadap keblat mana cara pandang retina di arahkan 
Asal melangkah tegap ke depan 
Di arah jalan pandang yang datar 
Tanpa mau berselingkuh di arah kiri dan atau kanan
Maka akan berakhir di titik nol semula

Inilah seharusnya,
Para praktisi negeri bersilaturahmi
Dalam hakekat mengolah tanah pertiwi
Yang dimulai dari titik nol 
Dan diakhiri di titik nol bumi pula
Karena titik nol sebenarnya adalah letak hati nurani
Pencipta kondisi bulat yang datar

Trenggalek, 10 Juni 2019

MENIMANG BENINGNYA SUNYI

Ketika langit mendung Nusantara melintas
Pengkutuban rasa pasti terbentuk
Jiwa  sang putra pun putri berserakkan,  pecah menyamudra
Mengkultus, meng'kristalisasi kilau mata di kutub masing masing

Sang Pujangga berjubah pandhita harus melintas juga
Lidah bermata belati harus disiagakan
Sorot mata elang jeli mengabdi disemaikan
Ketajaman senjata trisula digenggamnya
Dengan kokoh keteduhan diarahkan
Langkah kaki bergenderang perang dihalilintarkan
Melesat bak petir berkilatan, diaurakan
Demi menjaga langit dan bumi dari keretakan surgawi Nusantara

Jangan kau uji kebesaran jiwa sang pujangga
Pujangga sejati tak pernah mati
Tidak hangus dilahap api
Tidak lapuk dihujat rayap rayap pendulang murtad
Nusantara adalah raga dirinya
Pancasila tulang rangka tubuhnya
Dalam dagingnya mengalir empat puluh lima sungai nadi darahnya
Tak tertandingi kebesaran jiwa nasionalisnya
Harga mati taruhannya
Hanya untuk tercabutnya seutas kecambah 
Bakal pohon kalpataru bumi keragaman nusantara
Pahami itu

Kini engkau menggeliat karena nasehat
Meronta karena tikaman pesona
Kembalilah bergandeng rasa
Menyatukan jiwa
Berbangga menggenggam darah surga nusantara
Pesta pemilahan uji telah usai
Saatnya mengkaji hidup memprasasti
Tegakkan jiwa pujangga sejati
Di sini di haribaan ibumu Siti Pertiwi, ini

Pujangga Sejati tidak berkutub utara maupun selatan
Dan harus tetap menimang beningnya sunyi
Berdiri tegak menatap penyatuan warna pelangi keragaman

Bergumanlah 
Waaah jiwaku ini

#Untukmu Pujangga Milidan Christiani Herawati

Kediri, 02 Juni 2019


×
Berita Terbaru Update