-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NYANYIAN PANJANG KEPULANGAN DAN DUA PUISI LAINNYA

Kamis, 20 Juni 2019 | 13:56 WIB Last Updated 2019-12-08T00:41:56Z
NYANYIAN PANJANG KEPULANGAN DAN DUA PUISI LAINNYA


Karya YS Sunaryo

LELAKI TEMBOK SURGA

Lelaki itu kokohkan
tembok tinggi-tinggi
pada sekeliling surga
di telapak kaki istrinya

Setiap hari ia menyiram
ragam tumbuh buah-buahan
mengolah makanan dan minuman
sajian wajib sebagai hamba Tuhan

Sedikit saja hilang perkasa
mata binatang tatap memangsa
apalagi tak daya, tak punya kuasa
sebabkan ia tercampak
merangkak ditindih sepi
di sekeliling jilatan api
membakar sendiri

Maka lelaki tangguh berbatu
adalah pemakan detak waktu
lalu suapi anak-anak kehidupan
tumbuh sehat dalam huni
rindang kasih sayang
pelukan surga ibu

Bandung, 18 Juni 2019

NIKMATI PENATMU, IBU

Kau nikmati tambahan penatmu, ibu
ketika belum pupus lipatan jidatmu
gurat jejak serbu lebaran baju baru
kini mesti jejerkan amplop-amplop
kado setumpuk undangan hajatan

"Lebaran ini usai pemilu"
katamu sambil memegang sapu

Suatu keadaan stagnan perputaran
kondisi daya beli terik memaki-maki
sekumpulan para pengatur sirkulasi
masih lantang kepal tangan kelahi
di sekeliling Mahkamah Konstitusi

"Lebaran ini jemput tahun ajaran baru"
katamu sambil mengelus daun pintu

Suatu kebiasaan membeli buku, sepatu,
pakaian seragam dan suara rengekan
pinta anak-anak yang begitu ragam
sebabkan cicilan terhenti bayar
penagih menghentak debar

Kau nikmati tambahan penatmu, ibu
dengan berlapis-lapis doa
kencangkan sabar dari dada
hingga kuat di atas kepala
menjadi indah wajah wanita
pantas nian diganjar surga

sedangkan sosok sang suami
bisa sesekali aman sembunyi
di mondar-mandir alibi
terbalik kaos kaki

Berdirilah, ibu
gairah menimba air wudu
untuk anak-anakmu

Bandung, 19 Juni 2019

NYANYIAN PANJANG KEPULANGAN

Kuteringat silam dalam gendongan
menanam cinta di hampar sawah
sepagi itu tabur biji-biji
tumbuh menjadi aku
kuberdiri, berlari

Kukenang pula dulu waktu beli sepatu
kelas tiga sekolah dasar kau tuntun aku
ke pasar naik bis bermoncong bising
dalam perjalanan subuh hingga petang
gabahmu melayang sepuluh kuintal
nikmati kasih sayang begitu kental

Aku bisa membaca nama-nama
aku menjadi pria gagah sarjana
perjaka pena matang pematang
tinggalkan rimbun sejuk desa
kelana buta sang pelupa

Kudengar kau telah tulang-belulang
terbujur lemah di rapuh ranjang
memanggil-manggil namaku
yang dibuat olehku piatu
"pulang, pulanglah"
usia telah payah

Ibu telah dahulu ke haribaan
telah punah sawah kehidupan
kau tergeletak ditusuk-tusuk sepi
hanya menatap cahaya malam hari
tak henti berucap ayat penutup
bagi nyawa dirasa mulai redup

Engkaulah utuh seorang ayah
dari aku sang sungsang bedebah
telah membuatmu didekap resah
lelah menghitung daun gugur
sampai dekati kubur

Ayah, telah jatuh air mataku
di jalan gelap menuju
pelukmu

Bandung, 19 Juni 2019
Gambar diambil dari talimulquranalasror.blogspot.com
×
Berita Terbaru Update