-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pemda Ngada Dinilai Lemah Mengatur Pasar di Bajawa

Kamis, 13 Juni 2019 | 13:50 WIB Last Updated 2019-06-13T06:56:07Z
Pemda Ngada Dinilai Lemah Mengatur Pasar di Bajawa

Aksi demo yang dilakukan Sekertariat bersama (Sekber) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Stefanus dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Ngada dikawal keta oleh aparat kepolisian dari Polres Ngada dan pihak Sat. Pol PP Setda Ngada di Kantor DPRD Ngada, Rabu (12/6/2019).

Ketegasan Pemerintah Kabupaten Ngada dinilai lemah terkait eks pasar Inpres Bajawa tidak dimanfaatkan dan revitalisasi terhadap pasar Boubou berjalan dengan baik.

"Ketegasan pemerintah Kabupaten Ngada dalam mengatur pasar sangatlah lemah. Saat ini kita menyaksikan bahwa eks pasar Inpres Bajawa tidak dimanfaatkan dan revitalisasi terhadap pasar Boubou tidak berjalan. Banyaknya para pedagang (mama lele) yang harus gulung tikar karena selama sehari jual barangnya tidak pernah laku," ujar orator aksi, Moses Ade Putra saat diwawancara kupang.tribunnews.com.

Sekber PMKRI dan GMNI menduga Pemerintah Kabupaten Ngada tengah menyiapkannya untuk museum. 

"Semantara itu kita juga menyaksikan bangunan pasar inpres lama yang sampai saat ini publik belum tau pemanfaatannya. Sekber PMKRI dan GMNI menduga Pemerintah Kabupaten Ngada sedang menyiapkannya untuk Museum dan pada akhirnya mubazir," ujarnya.

Selain itu, tuntutan yang dilontarkan oleh Sekber PMKRI dan GMNI Ngada yaitu soal tutupnya Kampus Undana II Bajawa Kabupaten Ngada.

Menurut Moses, hemat Sekber PMKRI dan GMNI Pemerintah dan DPRD Kabupaten Ngada telah ditipu oleh pihak Undana induk di Kupang.

Sekber PMKRI dan GMNI patut memberikan apresiasi terhadap keberanian pemerintah dan DPRD Ngada untuk menghadirkan kampus di Bajawa.

Tetapi mirisnyaa, kebijakan itu seperti mimpi semalam. Suatu kebijakan yang tidak pernah dilandasi dengan aspek regulasi yang kuat. Ketika saat ini pihak Undana secara sepihak menutup kampus Undana II Bajawa, dimanaka peran pemerintah dan DPRD Kabupaten Ngada.

Moses menambahkan, Jangan sampai semua mau menerapkan politik cuci tangan dan seolah-olah tutupnya kampus Undana Il Bajawa tidak menjadi masalah. Perlu dingat dan dipahami secara matang bahwa, hadirnya kampus Undana II di Bajawa telah menelan APBD Ngada Miliard rupiah.

"Ini bukan angka sedikit. Jika tidak ada alasan dan pertanggungiawaban dari pemerintah dan DPRD Ngada, maka Sekber PMKRI dan GMNI hendak mengajukan pertanyaan, Bangunan Kampus di Turekisa selanjutnya manfaatkan untuk apa dan siapa yang memanfatkannya? Mudah-mudahan dari pikiran pemerintah dan DPRD Ngada untuk Kampus Undana II di Turekisa dijadikan museum kedua setelah pasar Inpres Bajawa," ujarnya.

Ia mengatakan selanjutnya bagaimana dengan kos-Kosan yang sudah dibangun oleh masyarakat Turekisa dan Bosiko Ubedolomolo, mereka bangun dengan penuh keterbatasan ekonomi, berdasarkan investigasi Sekber PMKRI dan GMNI di lapangan ada yang kredit di BRI dan Koperasi hanya untuk bangun kos-kossan.

Masyarakat yang bangun Kos-Kosan adalah korban penipuan dari pemerintah kabupaten Ngda bahwa skan menghadikan Universitas Negeri Flores Bajawa.

Tulisan ini sudah dimuat di kupang.tribunnews.com

×
Berita Terbaru Update