-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PERSPEKTIF EKOLOGIS-HEGEMONIS DALAM SAJAK "KIDUNG KODOK TERAKHIR" KARYA YS SUNARYO

Senin, 24 Juni 2019 | 16:22 WIB Last Updated 2019-12-07T04:43:43Z
PERSPEKTIF EKOLOGIS-HEGEMONIS DALAM SAJAK "KIDUNG KODOK TERAKHIR" KARYA YS SUNARYO


Oleh Dr. Agung Pranoto, M.Pd
(Kritikus Sastra dan Dosen Sastra Universitas Wijaya Kusuma Surabaya)

Perkembangan teori sastra mutakhir begitu pesat. Sejak munculnya teori structuralis/modernism lalu berkembanglah teori poststructuralis/postmodernism. 

Pada era postmodernism yang munculnya sejak abad 20-an, kajian sastra-budaya berkecenderungan transdisipliner. Transdisipliner yang dimaksud adalah menggabungkan beberapa teori untuk menganalisis karya sastra.

Kali ini, kita coba menelaah karya sastra (puisi) dari perspektif ekologis-hegemonis, yang menggabungkan antara teori ekologi sastra dan teori hegemoni.

Perkembangan modernisasi tidak menutup kemungkinan terjadinya gegar budaya pada masyarakat (Indonesia) seiring dengan kapitalisme yang mengungkung lajunya roda pemerintahan.

Dalam konteks ini tentu berdampak pada terjadinya disharmonisasi antara kelompok elitis dan kelompok marginal. 

Persoalan ekologis yang kini menjadi bagian yang tak sekadar diwacanakan melainkan sebagai sebuah gerakan akan pentingnya ekosistem, telah merambah pada dunia kreatif sastra.

Di dalam teori ekologi sastra atau kritik ekologis (ecology criticism), Garrad (2004) menyatakan bahwa ekologi sastra mengeksplorasi hubungan antara manusia dan lingkungan dalam segala hasil budaya.

Cheryl Glotfelty dan Harold From (1996) dalam "The Ecocriticsm Reader: Landmarks in Literary Ecology" berkeinginan mengaplikasikan konsep ekologi ke dalam karya sastra, yang pendekatannya menjadikan alam (bumi) sebagai centre study.

Mari kita cermati sajak Y.S. Sunaryo berikut:

KIDUNG KODOK TERAKHIR

Karya YS Sunaryo

"Tung, tung, tung"
Kodok malam berkidung
Syukuri sawah yang masih basah
Walau pematang mulai goyah

"Tung, tung, tung"
Menggugah petani agar tak bingung
Tersebab panen jauh diuntung
Mata nanar tandai linglung

Kidung kodok melemah
Petani membuncah resah
Cangkul terbang
Hinggap di punggung penagih utang

Kian lunglai lalu pingsan
Tatkala siuman terdengar siulan
Sawahnya berubah menjadi arena hiburan
Kidung kodok dimatikan

Petani pensiun tanpa agunan
Hidup di ladang pengasingan
Asing dendang kemodernan
Modern membungkam kesahajaan

Bandung, 31 Maret 2017

Mencermati sajak tersebut, kita temukan diksi sebagai penanda utama ekologi, seperti kata: kodok, sawah, pematang, cangkul, panen, dan seterusnya.

Penggunaan metafora alam dan yang terkait termasuk hadirnya onomatope berupa bunyi kodok "Tung, tung, tung" mencerminkan intuisi penyair dalam memotret pesona ekologis yakni keberadaan ladang subur.

Nilai-nilai ekologis dalam sajak tersebut ditunjukkan secara satir  dan ironis oleh penyair yakni ada rasa "sayang" dalam gejolak hati dan pikiran Y.S. Sunaryo terhadap gonjang-ganjing akan digesernya lahan-lahan subur itu menjadi gedung-gedung megah dari pemikiran kapitalis yang merambah pada arus modernisasi, seperti kutipan: //kian lunglai lalu pingsan/Tatkala siuman terdengar siulan/Sawahnya berubah jadi arena hiburan/Kidung kodok dimatikan//.

Sajak yang meyuarakan rakyat ini tentu penyair memiliki sikap berpihak pada rakyat.

Selain itu penyair berpihak pada penyelematan ekologis yang jika hal ini tidak menjadi pertimbangan utama oleh elitis maka akan memiliki dampak ke depan dalam kelangsungan hidup masyarakat luas. Bukankah manusia memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam?

Kearifan ekologis dalam sajak tersebut disuarakan penyair sebenarnya ingin sekali mempertahankan lahan pertanian dan yang terkait.

Meski hanya diwakili oleh bunyi kodok yang mencerminkan tanda kehidupan di desa yang akan semakin bergeser wilayah domisilinya.

Kajian ekokritik (ekologi sastra) dalam sajak tersebut mari kita arahkan juga pada kritik atas perlakuan manusia.

Dari keseluruhan makna yang terbangun secara kohesif dan koheren sajak tersebut, sangat gamblang bahwa manusia khususnya kaum berduit (kapitalis) lebih mengedepankan aspek pencapaian profit yang sifatnya sangat mempribadi dan tentu sangat mengabaikan pentingnya lahan subur untuk kemakmuran rakyat.

Contoh kutipan hadirnya kapitalis itu tampak pada diubahnya lahan subur menjadi tempat hiburan: /sawahnya berubah jadi arena hiburan/.

Selanjutnya, menikmati suasana sajak tersebut, ada armosfir kegetiran, kenestapaan, kegalauan di pihak "objek" yakni masyarakat petani tergilas oleh roda zaman.

Ketergilasan itu sebenarnya bentuk hegemoni atas elitis yang memberikan izin perubahan lahan basah nan subur menjadi gedung tempat hiburan.

Kegerahan masyarakat, menyikapi arus modernisasi itu tentu wujud hegemoni di era poskolonial.

Artinya rakyat tetap akan menjadi objek bukan subjek dan harus 'nurut' dan ini mencerminkan pada belum diperolehnya kemerdekaan yang hakiki pada pihak kaum marginal.

Sebab efek dari hegemoni, rakyat merasakan duka yang mendalam sebagaimana kutipan berikut: //Kidung kodok melemah/Petani membuncah resah/ Cangkul terbang/ hinggap di punggung penagih utang//.

Demikianlah telaah singkat atas puisi karya Y.S. Sunaryo. Semoga telaah ini bermanfaat.

Ilustrasi diambil dari steemkr.com
×
Berita Terbaru Update