-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PESAN SOSIAL PUISI "DIAMLAH" KARYA SITI AMINAH (Oleh Dian Rusdi)

Senin, 24 Juni 2019 | 20:24 WIB Last Updated 2019-06-24T13:29:48Z
PESAN SOSIAL PUISI "DIAMLAH" KARYA SITI AMINAH (Oleh Dian Rusdi)
Ilustrasi diambil dari https://majalahayah.com
Oleh: Dian Rusdi 

Apresiasi ini saya sampaikan dalam bentuk esai agar semua kalangan bisa memahaminya. Juga sebagai penghargaan dari kami karena telah ikut meramaikan kesusastraan di Indonesia juga di grup kami. Semoga bisa bermanfaat.

DIAMLAH

Diaaammm....!!!!
Aku benci bicara mu..
Serasaa engkau paling mulia..
Surga dan nereka serasa engkau yang tentukan..
Sungguh..!!
Engkau telah letakan kesombongan mu..
Kau namakan atas agama mu..
Dan maaf kan aku tak sudi ikuti mu..
Karena Muhammad junjunanku..
Mengajarkan ku kasih dan sayang..
Penuh lembut walau tak lemah..
Karena ku tahu..
Agamaku Rahmatan Lil'alamin..
Bdg,30 november 2016
#saveNKR

Jika dipandang dari segi sosio-linguistik merujuk pada nada-nada dalam komunikasi yang terbentuk dari kontekstual karya bu siti ini sedang tidak mengatasnamakan siapa-siapa. Beliau hanya menulis tentang kekecewaan yang terjadi selama ini baik di tanah air atau pun di luar sana. Di mana banyak segolongan orang-orang di luar sana yang berbuat anarki dan sewenang-wenang terhadap apa saja atas nama agama itu sendiri. Seperti yang dituturkan pada beberapa larik di atas. 

Sedang untuk hastag di bawah #save NKRI adalah sebagai bentuk ajakan/pengaruh untuk mengajak kepada semua pihak untuk kembali kepada kesatuan RI yakni menjadi bangsa indonesia yang selalu berpedoman kepada Pancasila. Di mana di dalamnya ada kerukunan, kedamaian, saling menghargai antar semua umat beragama, sosial dst. Layaknya sebuah karya sastra "wacana" di mana kata #save NKRI ini adalah sebagai----Persuasi yang mempunyai tenaga yang kuat.

Positive thinking itu lebih baik. Jangan kita memandang sisi puisi atau prosais dari sekedar tulisan saja.
Coba sekarang kita tandai karya di atas di mana saja letak-letak makna tersembunyinya.

DIAMLAH

Diaaammm....!!!!
Aku benci bicara( )mu..
Serasaa engkau paling mulia..
Surga dan nereka serasa engkau yang tentukan..
Sungguh..!!
Engkau telah letakan kesombongan( )mu..
Kau namakan atas agama( )mu..
Dan maaf( )kan aku tak sudi ikuti( )mu..
Karena Muhammad (junjunanku.. < )
Mengajarkan( )ku kasih dan sayang..
Penuh lembut walau tak lemah..
Karena( )ku tahu..
(Agamaku < ) Rahmatan Lil'alamin..
# saveNKR

Tulisan di atas memang terlihat aneh tak seperti tulisan biasanya, karena banyak kata ganti yang dipisah dengan kata yang diikutinya. Seperti kata ganti "-mu, -ku, kata yang terpotong menjadi serpihan seperti partikel -kan, serta setiap akhiran kata ganti selalu diakhiri dengan titik dua. 

Ini memang menarik meski sedikit rumit, karena kita harus dipaksa memasuki alam pikiran penulis kenapa semua itu harus memakai spasi. Selain untuk jeda nafas, bunyi atau intonasi membaca sekaligus sadar tidak sadar penulis telah menyelipkan kata di dalamnya---di dalam spasi tersebut. Seperti halny kita ketahui pada contoh kata kerja di bawah ini : (disalib). Orang itu harus -- disalib -- di lapangan agar jera artinya sudah pasti seseorang yang harus -- disalib. Dan untuk kata kerja sendiri tidak ada spasi atau jarak yang memisahkannya, sama hal dengan kenyataan di mana orang yang bekerja tentu bersentuhan langsung dengan pekerjaannya. 

Nah berbeda dengan tulisan seperti ini : 
(di salib); karena pengaruh spasi ini artinya menjadi berbeda. Artinya adalah di mana menunjukkan suatu hal yang ada di atas atau di dekat salib. Sebagai contoh; tolong ambilkan paku-paku itu "di(atas)salib atau di(belakang)salib" itu. Kenapa bisa harus memakai spasi karena kata jika kata --- "di salib" --- ini memakai spasi maka akan terbentuk suatu kata tunjuk tempat. Di mana dalam kenyataannya sudah pasti ada jarak untuk mencapai tempat tersebut. Dan spasi itu adalah -- jarak -- yang dalam jarak tersebut kita bisa mengisi dengan apa saja asalkan selaras dengan makna kalimat tersebut.

Begitupun dengan pada prosais di atas. Kenapa saya sebut prosais bukan puisi atau prosa? Yang membedakannya adalah jika puisi adalah kumpulan kata-kata yang penuh makna, sedang prosa adalah kumpulan kata-kata yang dapat diartikan sesuai dengan makna leksikalnya. Sedang prosais adalah sejenis prosa tetapi ada beberapa saja yang mengandung makna tersembunyi selebihnya adalah leksikal itu sendiri.

Kita kembali pada postingan di atas. 
Seperti kita perhatikan pada beberapa larik di atas banyak sekali kta ganti yang terpisah spasi dan partikel yang terpisah dari kata yang mengikutinya. Baiklah akan saya telaah dalam versi saya.

--- Diaaammm....!!! ---
Larik ke satu kita sudah pasti tahu apa makna dari tulisan "diam" tentunya si penulis menyuruh diam dengan tegas kepada objek yang disuruhnya diam. Namun kita tidak tahu apa makna tersembunyi dari 4 titik tersebut. Karena selain titik-titik ini berguna sebagai titinada juga secara sadar tidak sadar kata teriakan "diam" ini ditunjukan pada sebuah objek yang memang dia samarkan pada 4 titik tersebut entah mungkin terlalu kasar, atau menghargai yang lain. Tetapi si penulis hanya menceritakan sedikit kronologis kenapa dia begitu marah atau kesal.

Coba perhatikan larik ke 2.

Aku benci bicara mu.. Atau 
Aku benci bicara( )mu..

Bicara itu identik memakai mulut. Penulis menyuruh "diam" harusnya diakhiri juga dengan tanda seru sebagai bentuk ketegasan atau rasa menolak pada sesuatu yang telah dirasa, dilihatnya. Dan bicara itu selalu identik dengan --- mulut, sedang untuk sesuatu perkataan yang ditolak atau disuruh diam itu biasanya sebuah omong kosong maka kata yang pas untuk mengisi pada jarak spasi tersebut adalah dengan kata "omong kosong" atau "kosong". Sehingga bentuk frase tersebut menjadi sintaktis karena kata ganti "mu" telah menemukan kata yang sesuai diikutinya menjadi : 
Aku benci bicara (kosong)mu..

Artinya: penulis sudah bosan dengan bicara yang seolah-olah benar padahal tidak benar karena membawa-bawa agama yang merugikan nama agama itu sendiri. Merasa paling benar padahal yang dilakukannya banyaklah merugikan orang lain. Seperti dikutip dalam kalimat di bawahnya: 
--- merasa engkau paling mulia.. ---

--- surga neraka serasa engkau tentukan.. --- 
Artinya: merasa mereka yang paling benar atas apa yang mereka lakukan.

--- sungguh..!!! 
(Diakhiri 2 titik yang berfungsi sebagai bunyi sekaligus ada makna yang tersembunyi dan tanda seru sebagai penegas)

--- engkau telah letakan kesombongan mu.. ---
Kata "letakan" di sini mungkin maksudnya adalah menaruh di tempat terbuka sehingga terlihat oleh orang lain. Di akhir larik ada kata ganti "mu" yang dipisah dari kata yang diikutinya yaitu:
Kesombongan mu. Mari kita beri tanda menjadi --kesombong( )mu -- sehingga nampaklah satu kata yang memang mengandung spasi yang kalau dalam kepenulisan bahasa baku ini memang tidak ada. Pemisahan kata ganti ini selain berguna untuk bunyi pada larik karya tersebut juga sekaligus memperlihatkan satu makna yang tersembunyi. Di mana antara kata "kesombongan" dan "mu" ada rentang waktu yang menghalanginya. Oleh karena itu mari kita cari tahu apa kata yang pas untuk mengisi jarak ini. Agar kalimat ini menjadi sintaktis.

Seperti kita tahu, orang-orang yang sombong adalah orang-orang yang selalu membusungkan dadanya ke depan seolah dia yang paling kuat padahal belum tentu karena manusia tidak berhak sombong di dunia ini. Jadi kata yang pas menurutku adalah kata "dada"
Serta adanya penambahan preposisi pada kalimat depan agar kalimat itu menjadi benar-benar sempurna. Sehingga kalimat itu menjadi :
--- engkau telah letakan (tampilkan) kesombongan dengan dadamu.. Atau dengan membusungkan dadamu.. --- artinya: merasa paling benar.

(Nah sudah sedikit terlihat lebih baikkan?)

Sekarang kita lanjutkan pada larik selanjutnya:
--- kau namakan atas nama agama mu.. --- atau: 
--- kau namakan atas nama agama( )mu.. ---
Seperti:  kita tahu agama adalah sebuah keyakinan yang dianut segenap kaum karena percaya adanya Tuhan---rukun iman. Kemudian berlomba-lomba untuk beribadah demi mencari keridhoa-Nya di dunia dan akhirat.
Dan kata yang pantas untuk membantu kata ganti "mu" di atas adalah "(keyakinan)mu" - sehingga larik tersebut menjadi: 
--- kau namakan atas nama agama (keyakinan)mu.. ---
Artinya: semua tindakan kejahatanmu atau omong kosongmu kau lakukan atas dasar keyakinanmu dalam beragama. 

--- dan maaf kan aku tak sudi ikuti mu..
--- 
Melihat kata maaf kan atau: maaf( )kan di mana terpenggal spasi di tengahnya selain ini sebagai tarikan nafas atau irama atau bunyi dalam larik juga secara tak sengaja membetuk sepenggal kata yang terpenggal. Spasi ini mempengaruhi bahwa -kan ini adalah sebagai potongan kata dari sebagian kata yang memang hilang atau memang tersembunyi. 

Entah sadar atau tidak penulis menuliskannya tapi mari kita perhatikan baik-baik karena saya telah menemukan sebagian kata yang hilang tersebut. 
-kan yang membentuk partikel terpisah tersebut adalah penggalan dari kata:
 --bu-kan-- . Sedangkan untuk pengisian kata atau makna yang tersembunyi pada kata ganti "mu" karena lagi-lagi kita menemukan kata ganti yang terpisah dengan kata yang diikutinya. Merujuk kita pada larik sebelumnya yaitu tentang keyakinan beragama maka kalimat ini jika disatukan membentuk satu klausa sehigga kita tidak terlalu sulit untuk mencari  kata pada spasi tersebut. 

Maka saya isi jarak ini dengan kata "keyakinan" juga. Sehingga kalimatnya menjadi
--- dan maaf (bu)-kan aku tak sudi ikuti (keyakinan)mu.. --- atau:
--- dan maaf bukan aku tak sudi ikuti keyakinanmu.. ---
Sebuah ungkapan di mana si penulis tidak ingin ikut-ikutan atas pendapat yang dianut oleh orang-orang tersebut meskipun satu agama. Karena si penulis tahu, bahwa agamanya tidak mengajarkan begitu.

--- karena Muhammad junjunanku.. ---

Di sini si penulis menegaskan perkataannya dengan tidak memisahkan kata ganti "ku" dengan kalimat yang diikutinya. Menandakan tidak ada jarak antara kata junjunan dengan dirinya---penulis. Seperti pada umumnya umat islam selalu memakai atau menyandingkan kata "junjunan" tersebut di setiap pemanggilan Nabi Besar Muhammad S.A.W. 

Junjunan atau jungjunan sendiri berasal dari bahasa sunda yang berarti kekasih. 
Ini jelas kenapa si penulis tidak memisahkan kata ganti "ku" dengan kata "junjunan" seperti halnya kata ganti yang penulis tulis sebelumnya. 
Kenapa tidak "junjunan(spasi)ku" maka kita bisa memaknainya dengan "hati, atau jiwa, kalbu" menjadi "junjunan (hati)ku, atau junjunan (jiwa)ku, atau junjunan (kalbu)ku. Asal kita tahu, ini dikarena dengan kata "junjunan" sendiri sudah mewakili untuk seluruh tempat. Karena seorang kekasih yang menjadi pujaan sudah pasti ada dalam hati, jiwa, dan kalbu.

--- mengajarkan ku kasih dan sayang.. ---
Atau: 
--- mengajarkan( )ku kasih dan sayang.. ---
Coba lihat ruang kosong akhir kata pertama yang telah saya beri tanda kurung. --- mengajarkan( )ku kasih dan sayang.. --- lagi-lagi saya harus berpikir kata apa yang pas untuk menjawab dan mengisi jarak yang kosong ini. Namun tidak mengurangi makna yang terkandung dalam sintaktisnya.

Setelah berpikir dan mencoba menyesuaikannya maka saya akan membantu sebagian pemikir agar makna tersembunyi ini bisa terjawab. Makna yang hilang di sini adalah kata "hidup". Yang seharusnya ada menjadi kepala pada kata ganti "ku" ini. Sehingga kalimat yang ada menjadi lebih terlihat bermakna :
--- mengajarkan (hidup)ku kasih dan sayang.. --- atau:
--- mengajarkan hidupku kasih dan sayang.. ---.
Maksud dari kalimat ini adalah: di mana agamanya telah mengajarkan dia kasih dan sayang di dalam kehidupannya.

Dan seharusnya memang seperti ini agar tetap rukun dan damai tidak saling menghujat dan menghargai. Tidak merugikan orang lain. Dan jika ada yang seperti itu maka jangan salahkan --- agama --- , karena itu adalah orang-orang yang mengatasnamakan agama. Sama halnya dengan pemerintahan yang selalu dikotori dengan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Orang-orang yang awam pasti langsung memvonis bahwa pemerintahan memang tidak bersih, dan itu adalah pendapat yang keliru. Karena pemerintahan itu tetap bersih, yang tak bersih itu adalah orang-orang di dalamnya. Orang-orang yang mana? 

Orang-orang yang mementingkan kepentingan diri, dan keluarganya bukan mementingkan kepentingan bersama atau rakyatnya. Akhirnya, konsekuensi dari paradigma orang-orang seperti ini berdampak tidak baik juga kepada orang-orang yang benar-benar jujur dalam amanah. 
Nah, jika ditilik dari sebuah disertasi, ini tidak jauh juga beda dengan agama. Agamanya tetap bersih, agama manapun itu dan yang kotor itu orang-orangnya yang kadang berbuat semena-mena atas nama agama, sehingga bagi orang yang awam "agamamu agama yang jahat". Ini sudah pasti mengotori nama agama juga orang-orang yang berkelakuan benar.
Baiklah kita kembali ke telaah larik berikutnya.

--- karena ku tahu.. --- atau:
--- karena ku( )tahu.. ---
Seperti kita tahu penempatan kata ganti itu harus rapat dengan kata yang diikutinya. Di sini kita juga melihat kata yang seharusnya --- "kutahu", menjadi --- "ku tahu" --- di mana terselip spasi di antaranya. Menunjukan di sini juga ada makna yang disembunyikan. Saya telah menemukan beberapa kata untuk menyempurnakannya. 1. Memang. 2. Pasti. 3. Sudah. 
Di antara ketiga kata ini saya lebih tertarik untuk memasukan kata "pasti".
Sehingga kata terbentuk menjadi:
--- karena ku pasti tahu.. ---

Kenapa saya memilih kata "pasti" untuk mengisikan makna di sana? Kenapa tidak yang lain.
Saya memilih ini sebagai bentuk ketegasan, kepastian dan keselarasan seiring dengan kalimat-kalimat yang mengusung sebelumnya. Karena penulis tahu dan merasakan agamanya memang mengajarkan seperi itu---ketenangan dan damai.

--- Agamaku rahmatan lil alamiin.. ---
Di dalam larik ini pun penulis menunjukan dan kembali membedakan dengan kalimat-kalimat sebelumnya di mana kata ganti "ku" di dalam kata "agamaku" kembali digabungkan. Sebagai bukti tegas juga bahwa agama telah menjadi pengakuan dalam diri tanpa jarak yang memberi cahaya kebaikan bagi seluruh alam. Aamiin.

--- #save NKRI ---
Dan jika ada pembaca yang melihat karya ini hanya melalui "makna tematis"  maka seharusnya dua kata ini bisa mewakili untuk menjawabnya. Bahwa tidak ada yang mengatasnamakan siapa-siapa. Penulis hanya mengajak secara halus untuk kembali ke dalam simbolis NKRI itu sendiri. Saling menghargai dan menghormati agar tercipta kembali satu kerukunan dalam sosialisasi beragama. 

Untuk setiap larik di atas semua diberi akhiran titik 2x, itu selain berguna untuk titinada juga sebagai menyembunyikan makna. Jika benar, maka untuk hal itu biar penulisnya saja yang mengetahui.

Pesan dalam karya ini:
Pesan 1. Jelas mengajak kita untuk jangan mudah terprovokasi dengan yang mengatasnamakan agama---agama manapun itu. 
Pesan 2. Dan jangan berbuat sewenang-wenang dengan mengatasnamakan agama. 
Pesan 3. Serta kembali untuk hidup berpancasila di mana ada sisi ketuhanan, kemanusiaan yang harus kita maknai dengan benar. Agar kembali tercipta satu kerukunan umat di dalam negara.

Unsur batin : kuat 
Pesan kepada penulis: tulisan Anda mempunyai karakter yang bagus beda dengan yang lain. Kembangkan terus, pelajari tatabahasa, pembedaharaan kata. Harus percaya dan yakin pada tulisan dan intuisi Anda sendiri maka tulisan akan lebih berkembang serta mempunyai taste lagi. 

Demikian penelahaan saya atas karya di atas, semoga bermanfaat. Buat saya, Anda dan juga buat para penulis serta pembaca yang lain.
Mohon maaf jika ada kesalahan makna, karena benang merah tulisan tetap ada di penulis itu sendiri.
Wasalam.

(Dian Rusdi - Des 2016)
×
Berita Terbaru Update