-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUISI-PUISI TERBAIK WIWIN HERNA NINGSIH

Kamis, 20 Juni 2019 | 04:36 WIB Last Updated 2019-12-08T03:21:51Z
PUISI-PUISI TERBAIK  WIWIN HERNA NINGSIH

By : Wiwin Herna Ningsih

KISAHKU

Ketika kuceritakan pada laut
Tentang cinta yang berkaraman
Begitu lindap menenggelamkan rasa
Sampai ke dasar samudra paling palung

Mengembang ke permukaan menjadi riak ombak
Dan terhempas buihnya ke pesisir
Menghapus semua jejak kenangan
Dan kembali lagi ke dasar samudra

Juga angin tenggara meniupnya sampai ke seberang
Merupa bayang pada kapal layar
Yang terombang ambing tanpa sauh
Terdampar di ujung horizon yang sunyi

Sunyi dari nyanyian camar
Senyap bersama senja
Terkadang merah merona
Berganti lembayung jingga

Dan bayang membingkai langit biru kelabu
Tiada potretmu di sana
Tiada angin berhembus
Tiada gema yang bergaung

Semua sunyi, hening, senyap
Dan lengang menggapai titian hampa
Yang terseok pada langkah yang papa
Dengan jiwa yang tercabik sirna tiada sisa

Bandung Barat, 19 juni 2019

PADAMU DEE

Dee...
Rindu ini begitu riuh
Seperti camar yang menukik setiap senja
Ketika aku melipat tanganku di bebatuan karang
Menatap riak laut mengalun ke pesisir

Aku ingat ketika netramu yang teduh
Selalu menatapku dengan diam
Dan aku tahu kau tersenyum melihatku salah tingkah
Sampai tak terasa ombak membasahi wajahku

Dan kau tergelak melihat tingkahku
Yang seperti anak kecil merajuk
Menutupi rasa maluku
Yang tak tertahankan

Dee...aku tetap di sini untukmu
Mengenangmu sepanjangnya
Seperti waktu itu
Kau dan aku di sini dalam gelak tawa

Bandung Barat, 19 juni 2019

LAUT SUNYI

Laut sunyi...
Tempat aku melabuhkan resah
Dari basah yang menggigilkan
Tuk menepis semua kenangan

Namun jejak terkaram
Menghimpit langkahku
Pada palung rindu yang kian mengombak
Serupa suar pancarkan cahaya pada netraku

Di sini...
Aku merebak sunyi
Namun tetap hening
Bisu tiada suara

Laut sunyi...
Tempat aku tumpahkan keluh
Yang melenguh serupa buih
Tetap mendesah pada nafas rindu

Bandung Barat, 19 juni 2019

PEREMPUAN SUNYI

Di tepian lautan luas
Karang terjal membisu
Seumpama riak air membuih
Enggan mendekati

Dermaga sunyi
Tempat aku melabuhkan heningku
Langit pucat pasi mengelabu
Diam tiada gemawan

Akulah perempuan sunyi
Terdiam di antara bangku kosong
Yang berbaris di dermaga
Pada rindu yang tak bertepian

Bandung Barat, 19 juni 2019

SENDIRI

Sendiri menepi di batas langit biru
Ketika senja luruh di ujung buih ombak
Menyapa jejak kenangan di pesisir
Yang semakin dalam dan tenggelam

Tiada nyanyian camar
Tiada desir angin laut kelabu
Ketika kulangkahkan kakiku yang telanjang
Menyaput rasa sedihku di ujung sana

Biarkanlah aku duduk di sini
Pada karang terjal sebatas sunyi
Heningku dalam lamunan
Pada sepi yang setia menemani

Bandung Barat, 19 juni 2019
PUISI-PUISI TERBAIK  WIWIN HERNA NINGSIH

DIARY BIRU DI MUARA BARU

1.
Ram...
Di sini di dermaga
Laut dan langit begitu sama warnanya mengelabu
Kisahku masih menjejak di sini pada sampan biru yang berbaris rapi di dermaga
Kemarau membawa kenangan ke sini ke pesisir pantai Muara Baru
Tempat aku dan kamu duduk di bebatuan
Ketika ombak menebur mengenai kaki telanjangku
Dan kau memakan bakso ikan habis dua mangkok karena saking laparnya
Dan aku mentertawakanmu karena begitu fanatiknya sama makanan populer yaitu bakso ikan pesisir pantai 
Waktu itu matahari begitu teriknya
Tak kita rasakan
Yang ada senyummu mengimbangi ombak laut yang bernyanyi....

2.
Ram...
Aku paling suka melihat camar berseliweran di kepalaku 
Terkadang menukik
Terkadang menyambar ikan yang datang menghampiri dekat dengan kakiku
Tatapmu yang kusuka
Setiap kali air laut mengenai wajahmu
Kau sibuk mengusapnya
Itu berulang berkali-kali
Terkadang sampan menghampiriku untuk kunaiki 
Dan aku tak pernah mau 
Karena ombak terlalu besar
Dan kau memaksaku

3.
Ram...
Kau tahu...
Muara Baru adalah tempat kehidupan nelayan dari berbagai pulau berkumpul
Bahu membahu
Bekerja sama
Menaikkan dan menurunkan muatan ikan hasil jaring mereka tangkap
Melihat kehidupan mereka yang begitu keras
Itu terlihat dari rahang dan dagunya 
Tertempa alam laut yang menantang
Dan terkadang nyawa taruhannya
Namun...di sisi lain hati mereka begitu lembut...

4.
Ram...
Aku masih termangu di sini di dermaga
Menyilang tangan pada tembik penghalang
Agar ombak tidak naik menerjang
Ram...aku ingat kau...
Dengan semua kenangan ini
Di bebatuan ini
Aku suka mengumpulkan cangkang yang kosong siput dan 
keong yang lucu bentuknya untuk kujadikan hiasan
Dan ikan yang kecil-kecil juga kutangkap 
dan kuberikan pada pemancing ikan untuk umpan pancingan...

5.
Ram...
Dan bila kapal-kapal besar merapat 
Aku ikut berlari bersama mereka...anak-anak...
Menyambut kedatangan kapal besar
Terkadang aku ikut-ikutan ceria bersama mereka
Aku sangat senang dan tertawa bersama mereka
Ketika camar melantung di tiang layar kapal
Dan ketakutan bila kamu tiba di tiang kapal
Hariku begitu indah dan bahagia 
Dan kaupun ikut senang
Melihat tingkahku seperti anak kecil

Bandung Barat,19 juni 2019

DIARY BIRU DI MUARA BARU ( 2 )

1.
Ram...
Kau masih ingat kan
Sama anak perempuan yang berbaju merah
Usianya baru empat tahun
Yang sedang lucu-lucunya 
Menyanyi tentang ikan berenang
Dan kau tertawa terbahak-bahak
Karena tingkah anak itu lucu
Menyebutkan ikan jadi ikin
Dan perutku sakit kebanyakkan tertawa

2.
Ram...
Terkadang aku sampai senja di sini
Melihat matahari terbenam
Seperti bulan merah yang mengamvang di pinggiran laut
Karena di sana ada bayangan wajahmu yang sedang tersenyum
Dan aku tersenyum sendiri bila ingat mimik lucu wajahmu
Waktu itu kau katakan wajahmu seperti matahari tenggelam
Atau mungkin semburatnya yang jingga menghiasi langit senja
Yang membuat rinduku luruh mebepi di garis pantai
Namun tak pernah kutemukan lagi bayangan potret wajahmu di sana....

3.
Ram...
Kenangan bersamamu ketika kita duduk di bebatuan
Menikmati senja dalam hamparan lembayung jingga
Kau nyanyikan lagu kesukaanku tentang nyanyian laut
Dan bila langit telah kelam
Di sana tak terhitung begitu banyak gemintang bertaburan menghiasi malam kelam
Terkadang kau katakan
"Ri, kamu mau bintang kupetik untukmu?", katamu waktu itu
"Tapi aku akan memetik bintang di hatimu, 
untuk kusematkan di hatiku, agar 
selalu kemerlip menerangi hatiku setiap malam sunyi." Katamu
Ram...
Sampai sekarangpun kemerlip gemintang tak pernah padam
Akan tetap terjaga sinarnya
Agar tak redup sepanjangnya...

4.
Ram...
Yang membuat aku sedih adalah kata-katamu seperti waktu itu
"Ri, bila waktuku telah redup, apakah kau akan setia menghitung hari untukku?"katamu, 
Dan aku tak mengerti apa yang kau katakan
Apa maksudnya
Dan...kini...
Setelah kau pergi dari sisiku 
Kini kurasakan ucapanmu itu

DIARY BIRU DI MUARA BARU ( 3 )

1.
Ram...
Di sini aku berjanji
Akan selalu menjaga hari-hariku
Untukmu yang di sana
Agar kau tetap tersenyum di keabadianmu
Seperti kemerlip gemintang
Akan tetap bersinar sepanjang waktu
Aku berjanji pada nyanyian laut Muara Baru
Agar tetap meriak membawa sampan biru sampai ke haluan
Walau tanpa kayuh

2.
Ram...
Terkadang aku masih termangu dengan rasa yang ngungun
Menghitung pendar gemintang untukmu
Namun tak pernah terhitung karena banyaknya
Dan aku terkadang putus asa
Tak bisa memenuhi janjiku
Terkadang ingin aku berlari mengejarmu walau sejauh gemintang

3.
Ram...
Telah tiga purnama aku masih menantimu
Dan aku sadar kau telah tiada
Namun jiwamu masih hidup tertanam pada jiwaku
Kini...aku sendiri...
Menyusuri setiap kelokan dermaga 
Bila senja tiba
Dan aku masih menghitung perahu biru yang berbaris rapih
Juga tukang bakso ikan kesukaanmu 
Dia telah tiada
Dan aku kehilangan semua yang kusayangi
Walau kenanganmu takkan pernah hilang sepanjangnya

4.
Ram...
Biarkan aku meniti hari-hariku yang tersisa
Pada senja yang usang
Dan mentaripun tenggelam bersama rasaku yang kehilanganmu
Betapa jiwaku sunyi sepanjang kelokkan pesisir pantai ini
Mengulum kenangan yang penuh misteri
Dan mencoba tegar mengarungi samudra kehidupan yang kian renta
Semoga engkau damai di sisi-Nya...amin

Bandung Barat, 19 juni 2019

VILLA VANILLA

Villa Vanilla bermain dalam netraku
Pada kabut
Pada temaram lampu neon yang kemerlip
Pada gerimis yang membirukan wajahmu
Pada adoma pinus yang mengembun
Semua tersimpan pada jiwaku
Setiap saat
Semoga kau bahagia di sana
Akan kusemai doaku untukmu sepanjangnya
Kaulah yang memberi keteduhan pada hidupku
Akan kukenang kau di setiap musim
Walau kabut tetap menyelimutiku

VILLA VANILLA 2

Pada keremangan kabut
Di ujung balkon
Aroma pinus menggelora rasa
Menghempaskan jiwa yang lara
Pada kenangan abadi
Terpatri sepanjangnya

PUNCAK PASS

Hari-hariku terasa sepi
Pucuk-pucuk pinus meranggas kering
Kemarau telah membawanya pergi
Seperti keringnya hatiku
Yang terbawa oleh kenangan lampau
Dan...
Kenangan membayang setiap gerimis tiba
Membasahi pucuk-pucuk pinus
Kabut telah menutupi kisahku
Selamat jalan
Semoga engkau damai di sisi-Nya
Dan kuhapus air mataku 
Tuk sekian kalinya
PUISI-PUISI TERBAIK  WIWIN HERNA NINGSIH

PURNAMA DI MANDALA KITRI

Malam berkabut menggigilkan rasa
Ada warna yang merona dari sinar api unggunmu
Yang terpatri dalam jiwa sederas arus Kalimuju
Dalam lembah hati di hamparan semak bunga ungu
Seindah cinta yang menjejak pertama kali
Pada kenangan bangku pinus tua yang lapuk
Tempat kita mendenting rasa
Pada malam yang purnama
Di kekaburan pucuk-pucuk pinus yang tertutup kabut
Setangkai pucuk pinus kan kusimpan pada buku diaryku
Tempat aku mencurahkan kasih sepanjangnya

PURNAMA DI MANDALA KITRI ( 2 )

Di sini cinta pertama menjejak 
Di antara batu-batu yang berlumut
Menghiasi hari-hariku
Sepanjang kisahku
Aku dan kau bahagia
Bertabur bunga ungu
Seperti purnama di Mandala Kitri
Kenangan terindah sepanjangnya

Bandung Barat, 19 juni 2019

KOTA BARU

1.
Senja di trotoar mengelabu
Ketika semilir angin memberi kisah baru
Tentang rasa yang haru
Pada pucuk-pucuk Akasia yang meneduhkan di Kota Baru
Pada getar kenangan yang merapat dalam gigil di tembok bisu

2.
Di sini tapak-tapak rindu terbias di penghunjung bulan September
Menjejak di ujung dedaunan Akasia
Menghanyutkan rasaku
Rasa memacu pada kebisingan lalu lintas
Di sepanjang bahu jalan

3.
Senja semakin meluruhkan bentangan jingga
Menuju redup pada kelam
Seiring kisah perjalanan
Seperti dedaun Akasia yang teduh namun kering berguguran di trotoar jalan
Menghempas beterbangan bersama debu-debu jalanan
Terbang entah kemana
Begitu juga perjalan kisah
Meruap sirna pada kabut malam untuk selamanya

Bandung Barat, 19 juni 2019

SELENDANG DEWANGGA UNGU

1.
Rindu...
Serupa langit yang menghampar berwarna kelabu
Di laut biru
Membias menawan netraku yang menitik
Menjelma wajahmu yang basah
Menghentak geloraku
Meretak potret diri di ujung senja
Seperti larik puisi yang menggantung di angkasa
Menenggelamkan rasaku yang ngungun
Nyanyian angin pesisir pantai memberi pemandangan sendu
Kunikmati kesunyian ini
Di sini...
Tiada camar yang melantung di tiang layar kapal
Aku sendiri menanti bayanganmu dari jauh
Setiap saat kupandangi laut biru
Terkadang sampai senja
Setiap kapal yang singgah kupandangi
Adakah kau di sana?

2.
Di sini...
Hatiku tetap mengelabu
Seperti langit yang berbingkai laut biru
Tempat aku menunggumu
Tetap sunyi dan hampa hatiku
Semua kesedihanku 
Aku curahkan pada angin laut
Pada kapal yang berlabuh
Menanti bayanganmu
Selamanya
Selamat jalan 
Biarkan angin laut mengabarkan rinduku padamu
Dan kusemai doa untukmu
Di sepanjang pelabuhan
Yang mengiringi kepergianmu
Dan selendang dewangga ungu
Tetap menjadi teman setiaku
Menutupi resahku
Sedihku
Dan harapanku yang kandas
Aku ikhlaskan engkau di pangkuan-Nya
Semoga bahagia dalam tidurmu yang abadi
Selamat jalan kekasih hati

3.
Biarkan langit mengelabu
Membawa riuhnya jiwa yang lara
Di ujung riaknya ombak laut biru
Pada kehangatan selendang dewangga ungu
Setia menanti sepanjangnya

Bandung Barat, 19 juni 2019

×
Berita Terbaru Update