-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUNCAK PASS (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)

Rabu, 26 Juni 2019 | 21:46 WIB Last Updated 2019-12-04T22:42:16Z
PUNCAK PASS (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)
Foto Penulis

By : Wiwin Herna Ningsih

Dalam pekatnya kabut perjalanan tetap di lanjutkan.
Dari kaca spion kulihat wajahmu membiru, seiring gerimis yang menitik satu persatu, sebentar lagi hari akan gelap, motorpun berhenti di perbukitan teh yang mengembun, aku ingin mengabadikan momen yang indah dan sejuk.

Di ketinggian bukit, aku rasakan ada geletar yang merambat pada pori-pori darahku yang menghangat, walau bibirku kelu menggigil, kupandangi wajah yang kukasihi sepanjangnya, ada nada sayu di dalam netranya, entah apa, aku tak tahu, sepertinya di kedalaman telaga aku menyelam jauh semakin dalam, dan tak kutemukan sesuatunya.

"Dian!" Katamu, mengagetkan aku yang sedang tenggelam dalam lamunan.
"Ada apa?" Katamu lagi, aku semakin grogi di pandang seperti itu.

"Tak ada apa-apa!" Kataku, sambil memalingkan wajah, aku tahu dia sepertinya tahu apa yang kupikirkan.

"Lihatlah aku Dian!" Katamu, sambil memegang tanganku.
"Malam ini aku akan menyusuri bukit Pangrango, dan kamu tidur di rumah kakakku ya!"

"Iya," kataku, aku mengangguk, karena sudah biasa dia pergi mendaki setiap sabtu malam, seperti jurit malam Sang Raider.

Malam ini aku dan Dion sampai di rumah kakanya di Puncak Pass, tempay aku menginap, dan Dion melanjutkan perjalanannya untuk mendaki. Padahal hatiku tak mengijinkan, rasanya aku takut sekali di tinggalkannya, tapi kutepis perasaan itu.

Aku tenangkan pikiranku, untuk tak memikirkan yang tidak-tidak.
Biasanya di sebuah perbukitan sinyal susah di dapatkan, seperti aku ingin menghubungi Dion begitu susah, karena kabut begitu tebalnya.
Akhirnya akupun tertidur.

Pagi, kabut tebal, menggigilkan rasaku, gerimis terus berpacu dengan waktu, merambat perlahan menjemukan, aku nikmati pagi yang gerimis, menghitung titik hujan, mengingatkan aku pada pertemuan pertama dengan Dion.

Ketika aku berteduh di sebuah pohon Flamboyan yang rindang di sebelah gereja, ketika tiba-tiba dia menubrukku.

"Oh, maaf," katamu waktu itu. 
Aku hampir jatuh, untung tangannya sigap menangkapku.

Aku terdiam dalam tatapannya, dia memelukku dengan tidak  sengaja, ada rasa yang merona yang membuatku melepaskan pelukannya.

"Oh, maaf ya!" Katamu, sambil salah tingkah.
"Boleh aku tahu namamu?" Katamu, waktu itu.
"Boleh!" Kataku.

"Namaku Dian!" Kataku, sambil mengulurkan tanganku, dia genggam jemariku sambil menatapku tajam.
"Oh iya namaku Dion!" Katamu,

"Kita samaan ya namanya, mungkin kita sejodoh!" Katamu. Sambil tersenyum.
Aahhh...aku tersipu malu bila ingat pertama mengenalnya.

Tak terasa hubunganku dengan Dion sudah tiga tahun.
Selama kisah cintaku, tak pernah kami bertengkar, aku nyaman ada di sampingnya, dia begitu sayang padaku, sampai....

"Kakak!" Ada tangan mungil memegang pundakku, aku kaget dan buyarlah semua lamunan indah aku dan Dion.

"Oh iya, ada apa sayang?" Kataku sedikit gugup.
"Kakak, kata mamah , kakak harus sarapan supaya badan kakak tidak sakit!" Katanya nyerocos tak ada jeda dalam bicaranya.

"Ayo!" Kataku, mengikuti langkah si kecil, menuju meja makan, selesai makan, aku di kagetkan, rumah terasa ada gempa, semua pijakan bergetar, aku melongo seperti patung, tak bisa apa-apa, aku kaget, panik, tak bisa berpikir sedikitpun, tiba-tiba pijakanku melorot ke bawah, seperti ada yang menarik kakiku untuk terjun dan mataku gelap, aku tak ingat apa-apa lagi.

Ketika mataku terbuka, semua orang memandangku, dan aku terbaring tak berdaya, aku lihat satu persatu, teteh Dion dan anaknya yang berumur lima tahun tak kelihatan, antara sadar dan tidak, aku bertanya"kemana tetehku?" " kemana adikku?" Kataku, panik.

"Tenanglah ya!" Kata ibu yang berbaju ungu, menenangkanku.
"Ayo minum dulu, supaya kamu tenang!" Katanya, sambil mendudukkan aku, dan memberi minum padaku.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Kataku sedikit bingung.
"Tenanglah nak, rumah tetehmu terkena longsor, hanya kamu yang selamat!" 
"Tetehmu dan anaknya tertimbun longsor!" Katanya, mengagetkanku, tak tahan aku meraung-raung menangis, tak ingat rasa malu, semua hilang.

Dalam panik aku ingat Dion, kupanggil namanya, Dion di mana?
Tak kutemukan Dion di kerumunan orang-orang yang mengelilingiku.
"Sabarlah nak!" Kata bapak yang seperti pak ustad gaya pakaiannya.

"Nak Dion belum di ketemukan!" 
"Semua orang dan Team SAR sedang mencarinya, karena kabut tebal, kami tak bisa meneruskan pencariannya!"

Aku menggerung seperti harimau yang sedang marah.
Yaa Allah...betapa komplit penderitaanku.
Semua yang kukasihi hilang semua, aku menjerit, dan...gelap...aku pingsan lagi selama tiga jam.

Ketika mataku terbuka, tanganku telah di pegang  temannya Dion, dia namanya Syarif, dia ahli dalam jurit malam, pencari jejak, dia menenangkanku.

Katanya"Sabar ya, Dion sudah di temukan, sekaramg ada di rumah sakit PMl, nanti kalau sudah pulih kita tengok dia ya!" Kata-katanya meneduhkan hatiku.

Aku menangis sesenggukkan, betapa kesedihan yang tiada tara menderaku, walau mereka bukan keluargaku, tetapi mereka sangat baik padaku, Yaa Rabb...mengapa orang-orang yang baik selalu cepat di panggil-Nya.

Tiga hari aku terbaring dan kini aku sudah kuat untuk menengok Dion di rumah sakit PMI Bogor, dengan hati yang berdebar, aku lihat Dion, terbaring lemah, seperti lemahnya aku dalam menjalani hari-hari, yang semakin sulit, tapi aku percaya akan semua keajaiban.

Akhirnya Dion sembuh seketika, kala melihat aku di depannya, itu benar-benar anugrah dan keajaiban yang Tuhan beri.

Tiga tahun berlalu sejak kejadian longsor di Puncak Pass, tempat kakaknya tinggal, kini akupun akan di tinggalkan Dion untuk sementara waktu atau selamanya aku tak tahu, yang pasti Dion memilih menjadi Polisi dan jauh dariku, dan di tugadkan ke Aceh Lubuk Linggau, rasanya begitu berat sekali, aku tak kuasa tanpanya.

Aku menangis sepanjang hari, dalam mimpiku selalu kucari ke mana Dionku.

Sepeninggal Dion dalam waktu yang begitu lama, aku dan Dion masih berkabar setiap hari melalui telepon.

Ini sudah tiga hari dia tak meneleponku, ada apa ya? 
Aku bertanya-tanya, ada rasa takut, kecewa, sedih, dan lain-lain rasa yang berkecamuk di kepalaku.
Tiba-tiba telepon berdering, kuangkat dengan hati yang berdebar.

"Hallo..." kataku, "Apa kabar Dion?" 
Tapi yang menjawab bukan suara Dion,   ad suara laki-laki yang lain, suaranya bass, sedangkan Dion suaranya riang.

" Ya, di sini ajudannya Pak Dion!" Katanya.
"Maaf, ini dengan teteh Dian?" Katanya lagi, membuat tanganku bergetar dan lemas.
"Betul!" Kataku, bibirku terasa kelu dan tak karuan.

"Jenasah almarhum Pak Dion sudah di semayamkan hari ini, tiga hari yang lalu almarhum mengalami kecelakaan, ketika akan berangkat ke kantor, menabrak trotoar!"

Katanya, dan aku limbung, gagang teleponku jatuh, di seberang sana masih terdengar halo,halo,  mataku gelap seperti banyak bintang-bintang berputar di sekitar kepalaku, dan...aku pingsan untuk yang kedua kalinya seumur hidupku.

Setahun setelah Dion pergi menghadap-Nya, hari-hariku terasa sepi, pucuk-pucuk pinus meranggas kering, kemarau telah membawanya pergi, seperti keringnya hatiku yang terbawa oleh kenangan lampau.

Dan kenangan tentangnya selalu membayang setiap gerimis tiba, membasahi pucuk-pucuk pinus di sepanjang perbukitan teh, kabut telah menutupi kisahku dengannya selamanya.

Selamat jalan Dion, semoga engkau damai di sisinya, dan kuhapus air mataku untuk kesekian kalinya.

Cianjur Puncak Pass, 21 Desember 2018

×
Berita Terbaru Update