-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PURNAMA DI MANDALA KITRI

Senin, 24 Juni 2019 | 19:49 WIB Last Updated 2019-12-07T04:29:09Z
PURNAMA DI MANDALA KITRI


By : Wiwin Herna Ningsih

Di sepanjang perjalanan perkebunan teh terhampar indah laksana permadani hijau lumut, indah meneduhkan netra yang gersang, angin menggigilkan badanku, walau sudah kupakai jaketku, di trotoar jalan, pepohonan pinus meranggas melambai di tiup angin, seperti berlari menjauh, memanjakan rasaku.

Di sini di bumi perkemahan Mandala Kitri, kulewati arus Kalimuju yang deras dan airnya sedingin es.

Batu-batu tangga berlumut dan licin sisa hujan semalam masih terasa basah ketika kupijak.
Bila sedikit saja tidak hati-hati, mungkin aku terpeleset jatuh.

Dan, lihatlah, lapangan rumput yang hijau menghampar laksana karpet tipis yang di hamparkan untuk menyambutku.

Aku terpesona dengan keindahan alam yang asri, hijau dan meneduhkan.
Aku bagaikan dalam sebuah lukisan hidup, dan terperangkap di dalamnya.

Kabut masih menyelimuti perbukitan teh, karena sinar matahari masih mendekap kabut tebal, seakan tak ingin menampakkan cahayanya.

Aku kedinginan, gigiku gemelutuk, kugerakkan tanganku agar tak beku aliran darahnya.

Kutemukan bangku panjang pinus tua lapuk di dekat serimbunan pohon pinus, aku duduk dan istirahat sebentar untuk melepaskan penat.

Tiba-tiba dari balik kabut ada seorang laki-laki yang berpakaian coklat, memakai kaca mata hitam menghampiriku sambil membawa gitar.

"Boleh aku duduk di sini?" Katanya.
"Boleh!" Kataku, sambil menoleh kepada siapa yang datang.

"Yuk, kita nyanyi bersama, aku yang main gitar, kamu yang nyanyi, mau tidak?" Tanyanya.
"Hehehe...!" Kataku, karena aku yakin suaraku merdu seperti kaleng kerupuk yang di pukul.

"Ayo, tak apa-apa, suara jelek juga, yang penting hati hepi!" Katanya, setengah memaksa.

Tanpa aba-aba, akupun menyanyikan lagu Jayanti Mandasari yang berjudul Bukit Hijau.
Dengan irama yang riang, walaupun suaraku serak sember. Aku senang bisa seriang ini, dan dia melirikku terus tanpa henti, sampai aku malu di buatnya.

Rasanya pagi ini indah sekali dan menyenangkan.
Seharian aku ngobrol dan menyanyi sampai waktunya makan siang, ternyata dia, Raka, baik juga padaku, biasanya dia acuh tak acuh pada setiap teman perempuan, tapi kenapa dia senang berteman denganku, aneh juga nih anak.

Selesai salat ashar dan makan sore, aku kembali lagi duduk di bangku tua pinus yang lapuk, sendiri sambil menikmati pemandangan indah.

"Doooorrr....!!!" Katanya, mengagetkanku.
"Hayooo...kamu melamun yaaa!" Katanya,  sambil cengar cengir.
Dia senang melihat aku cemberut dan ketakutan.

"Dari pada duduk melamun, yuk kita jalan-jalan lihat-lihat pemandangan!"
"Di lembah bunga ungu indah sekali pemandangannya!" Katanya lagi.

Aku berdiri, mengikuti ajakannya, karena penasaran, ingin melihat, sampai di lembah , owwww....betapa menakjubkan sampai mulutku melongo.

"Awaaas...ada lalat masuk mulutmu!" Katamu mengagetkanku.
"Iihhh...dasarrr kamu tuh, suka mengganggu kesenangan orang!" Aku cemberut.

"Dasarrr tukang jahilll!" Kataku, sambil mengambil kerikil kecil dan kulemparkan pada kakinya.
"Tuh, kan, segitu aja ko marah, hehehe...!" Katamu.
"Ayo kejar aku kalau berani!!!" Katamu, menantangku.

Aku kejar dia sampai jauh ke hutan pinus tapi tak kutemukan, sampai kabut menyergapku, aku tersesat, dan terperangkap kabut tebal, aku ketakutan dan menangis, sambil memanggil-manggil nama Raka.

Tapi suaraku menggema di sekitarku, tak ada tanda-tanda Raka di hadapanku, aku meraung dan menjerit ketakutan.

Tiba-tiba bahuku ada yang memegang, aku terperanjat sambil berlari, tapi tanganku ada yang menahanku, dan tubuhku tiba-tiba di peluknya, sambil berbisik di telingaku, dia berkata" maafkan aku Rani, dari tadi aku ada di belakangmu, tak kemana-mana!"

Aku sesenggukkan menangis menahan rasa takut dan marah pada Raka yang menjahiliku, walau begitu aku bersyukur dia ada di hadapanku.

"Ayo, kita ketempat duduk kita lagi!" Katanya, sambil menuntun tanganku dan yang sebelah kiri membawa senter ukuran saku.

Sampai di tempat duduk bangku panjang pinus lapuk, aku duduk dan menenangkan hatiku yang masih kaget.

"Rani, aku minta maaf ya, tadi aku ingin lihat, seberapa beraninya kamu di tempat yang asing, sendiri lagi!" Katamu, sambil mengusap air mataku.

Aku terdiam tak mau berkata-kata lagi, aku masih marah dan kagetku belum hilang.
"Sebetulnya aku sayang kamu sejak kita sekolah SMP, tapi aku baru berani mengutarakannya sekarang!"

Katamu, membuatku lebih kaget, mana mungkin dia sayang aku, orangnya acuh tak acuh, dingin, jahil, bagaimana bisa, seribu pertanyaan ada di kepalaku, aku semakin diam, dan kutundukkan kepalaku, menekuri diri, mana bisa dia sayang aku, kita sama -sama hidup di dunianya sendiri,.

Namun betapa aku, terutama hatiku, kutanya diri sendiri, apakah betul dia sayang aku, aku bingung harus menjawab apa.

"Rani, nanti malam ada pentas seni untuk acara api unggun, kamu mau membuatkan aku sebuah puisi, kan?" Katamu, sampai melotot melihatku, dan aku tersenyum, kasihan juga dia, aku diamkan dari tadi.

"Iya, dan kamu yang memberi irama pada puisiku dengan gitarmu, mau yaaa!" Kataku setengah memaksa.

"Iya, tapi ada syaratnya!" Katamu, membuat aku penasaran.
"Apa syaratnya?" Kataku, penuh tanda tanya.

"Maukah kamu jadi pendampingku untuk selamanya?" Katamu.
Ya Tuhan, itu adalah kata-kata sakral yang belum pernah kudengar seumur hidupku dari mulut seorang lelaki, dan kini, dia mengutarakannya pada saat yang tepat, ketika aku mulai suka padanya.
Aku tak menjawab, tapi kepalaku mengangguk.

"Terima kasih Rani, kutitipkan hatiku pada kamu selamanya ya!" 
Tanganku bergetar, pipiku merona, aku merasa senang juga malu, tak pernah aku sebahagia ini, seumur hidupku.

"Dan ini setangkai pucuk pinus, kamu simpan di buku diarymu, agar kamu selalu ingat tentang kenangan kita di lembah bunga ungu ketika kamu tersesat, ya!"

Katamu, dan aku langsung mencubit lengannya, ingat atas kejahilannya padaku.

Selesai salat lsya, di Bumi Perkemahan Mandala Kitri, acara puncak yang di tunggu-tunggu yaitu api unggun yang selalu mengalun setiap aku kemping.

Malam semakin larut semakin menggigil walau terang dan hangat oleh api unggun, namun hatiku sehangat api unggun yang di ciptakan Raka ke hatiku, merona di sepanjang malam.

Giliran aku membaca puisi dan di iringi gitar Raka semakin syahdu menyelami malam yang penuh warna dari rasa cinta yang pertama terpatri di hatiku dan Raka.
Dan inilah puisiku buatanku semalam.

PURNAMA DI MANDALA KITRI

Malam berkabut menggigilkan rasa
Ada warna yang merona dari sinar api unggunmu
Yang terpatri dalam jiwa sederas arus Kalimuju
Dalam lembah hati di hamparan semak bunga ungu
Seindah cinta yang menjejak pertama kali

Pada kenangan bangku pinus tua yang lapuk
Tempat kita mendenting rasa pada malam yang purnama
Di kekaburan pucuk-pucuk pinus yang tertutup kabut
Setangkai pucuk pinus kan kusimpan pada buku diaryku
Tempat aku mencurahkan kasih sepanjangnya

Di sini cinta menjejak di antara batu-batu yang berlumut, menghiasi hari-hariku, sepanjang kisahku, aku dan Raka begitu bahagia, bertabur bunga ungu, di antara rimbunnya keteduhan pohon pinus, seperti purnama di Mandala Kitri, kenangan terindah sepanjangnya.

Cianjur Pacet, 21 Desember 2018

Gambar diambil dari infoastronomy.org
×
Berita Terbaru Update