-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SELENDANG DEWANGGA UNGU, KOTA BARU (Dua Cerpen Wiwin Herna Ningsih)

Kamis, 27 Juni 2019 | 13:05 WIB Last Updated 2019-12-04T22:33:47Z
SELENDANG DEWANGGA UNGU, KOTA BARU (Dua Cerpen Wiwin Herna Ningsih)
Foto Penulis

KOTA BARU

Senja di trotoar mengelabu, ketika semilir angin memberi kisah baru, tentang rasa yang haru, pada pucuk-pucuk Akasia yang meneduhkan di Kota Baru.
Pada getar kenangan yang merapat dalam gigil di tembok bisu.

Di sini tapak-tapak rindu terbias di penghunjung bulan September menjejak di ujung dedaunan Akasia. Menghanyutkan rasaku.
Rasa memacu pada kebisingan lalu lintas di sepanjang bahu jalan.

Ketika aku dan Semmy berhenti di sebuah pohon teduh Akasia.
"Yuk...kita ngobrol di sini, kayaknya enak adem!" Katanya, sambil menunjuk pohon besar yang teduh.

"Ayo...!" Kataku, mengikuti langkahnya yang panjang-panjang, di bawah pohon Akasia kita berdua hanya diam membisu, aku tahu, aku dan Semmy masih terluka dengan masa lalu masing-masing.

Rasaku yang membiru, meruap pada netramu seluka laut dalam, hanya kemerisik angin dendangkan dedaun kering Akasia yang jatuh beterbangan ke tanah.

"Sany maafkan aku ya!" Kata Semmy sambil membuang nafas seperti membuang rasa yang sesak di dada.

Aku masih terdiam, entah apa yang akan kumulai, di sini di tempat yang meneduhkan, namun rasanya bulir air mata menggenang pada netraku segera akan berhamburan jatuh.

Aku dan Semmy sama-sama terluka dalam perpisahan yang memakan waktu panjang dan melelahkan.
Kami masih terhanyut oleh masa lalu yang menyakitkan.

"Sany,Sany,Sany...sekali lagi aku minta maaf padamu, bukan ini kan yang kita bincangkan!"

Katanya, sambil salah tingkah, karena kudiamkan, karena kami dalam pikiran masing-masing, dan aku tahu, dia belum ikhlas melepaskan perasaan dan kenangan yang ada di pikirannya. Tapi aku mencoba mengikhlaskan yang telah pergi, dan tak akan kembali lagi.

Karena kenangan masa lalu serupa roda-roda yang melaju di jalan aspal, berlarian memacu waktuyang di tinggalkan di belakang, seperti pucuk-pucuk Akasia yang beterbangan di tiup angin entah ke mana.

Hanya tinggal debu-debu yang terbawa angin singgah pada kedua mata dan kelilipan, dan sakitnya meresap tak hilang-hilang.

"Tak apa-apa, Sem!" Aku mencoba mengerti perasaannya, "aku maklum apa yang kau rasakan , dan jangan di paksakan, yaaa!"
Dan kamipun terdiam dalam pikiran mading-masing, selama dua jam.

Kisah Semmy dan aku seperti jejak yang meriak membelenggu jiwa, yang tak bisa di rengkuh satu sama lain, pada rasa yang sendiri, hampa, terbawa jejak kenangan yang menancap tajam, begitu sulit untuk melepaskan, menyatu dan mendarah daging dalam jiwa, seperti meraih mimpi dan mimpi itu meruap sirna menjauh, meninggalkan rasa nyeri sembilu.

"Sany...maafkan aku...mengapa isi kepalaku tak bisa hilang dan selalu menggelayut, terus mengikutiku!"

Aku tahu, kamu semakin hilang jejak di hembus angin duka.
Dan aku tahu, kamu seperti daun-daun kering Akasia yang berguguran berhamburan di tiup angin yang berdebu.

Aku tahu, aku takkan memaksaku untuk melabuhkan rasamu padaku, yang kita tahu sama-sama dalam keterpurukan.

"Sudahlah...Sem, aku tak memaksamu, tenangkan dulu pikiranmu!"
"Yuk, kita pulang, hari sudah semakin senja!"

Setengah memaksa, aku bangkit dan meraih tangannya untuk pulang, aku tak mau dia leb8h dalam lagi kesulitan hidupnya.

"Aku bingung, Sany, maafkan aku, kali ini aku tak bisa memaksamu, untuk sayang padaku!" Katanya, sambil menjalankan motornya.

Aku terdiam sepanjang perjalananku seputar Kota Baru, dan aku semakun mengerti, cinta tidak bisa di paksakan, bila hati masing-masing tidak ikhlas menjalaninya.

Dan aku akan menjauhinya, untuk sementara waktu, akan kuberi waktu untuk mengendapkan semua perasaannya, aku takkan pernah memaksanya untuk mencintaiku.

Biarkan waktu yang akan menjawab, dan seiring waktu pula aku dan Semmy semakin jauh, karena tidak ada kecocikkan satu sama lain, dan aku ikhlas menjalaninya tanpanya.

Senja semakin meluruhkan bentangan jingganya, menuju redup pada kelam, seiring kisah perjalananku dengannya, seperti daun-daun Akasia yang meneduhkan namun kering berguguran di trotoar jalan, menghempas beterbangan bersama debu-debu jalanan, terbang entah ke mana.

Begitu juga perjalanan kusah aku dan Semmy, meruap sirna pada kabut malam untuk selamanya.

Kota Baru, 25 Desember 2018

SELENDANG DEWANGGA UNGU

Rindu, serupa langit yang menghampar berwarna kelabu di laut biru, membias menawan netraku yang merintik.

Menjelma wajahmu yang basah, menghentak geloraku, meretak potret dirimu di ujung senja.
Seperti larik-larik puisi yang menggantung di angkasa, menenggelamkan rasaku yang ngungun.

Nyanyian angin pesisir pantai memberi pemandangan sendu, kunikmati kesunyian ini, di sini, tiada camar yang melantung di tiang layar kapal, aku sendiri menanti bayanganmu dari jauh.

Setiap hari aku memandang laut biru, terkadang sampai senja, setiap kapal yang singgah kupandangi, adakah kau di sana?

Ketika aku melamun menghitung jejak-jejak kaki di pantai, tiba-tiba bahuku ada yang menepuk perlahan.

"Dini...bangunlah...ada kapal yang singgah tuh!" Aku kaget, ternyata keponakan Edho yang menepuk bahuku.

Dia Renzi, seumur dengan aku, dia juga yang mengenalkan aku pada Edho, Renzi adalah sahabat dekatku, dia pegawai swasta di Jakarta, sampai detik ini dia belum menikah juga. Jomblowan sejati.katanya kalau aku menggodanya. Kapan akan punya momongan? Kataku, menggodanya.

"Ayo, kapalnya sudah datang!" Aku berdiri, mengikuti langkahnya menuju dermaga, di dermaga sangat ramaidengan orang-orang yang datang dan pergi, aku masih melamun sambil melangkah.

"Itu dia yang pakai kaca mata, ajudan Edho, dia mendekat ke sini, katanya, sambil melambaikan tangan, yang di lambaikan tangannya mendekati kami, di tempat duduk, Renzi sering ke Aceh Lubuk Linggau, tak heran dia sudah mengenal dekat sekali dengan ajudan Edho.

"Hai...apa kabar, kawan?" Katanya, sambil memeluk Renzi, mereka berdua melepas kangen.
Lalu aku di perkenalkan sama ajudannya Edho, matanya menunduk, ketika menatap wajahku, dia menyalami tanganku erat sekali, seolah tak ingin melepaskannya.

"Din...ini ajudannya mas Edho, namanya Pak Adri, beliau mau menyampaikan sesuatu sama kamu, tapi janji ya, harus tenang!" Katanya, membuatku penasaran.

Sejak awal aku curiga, kenapa Renzi ngajak ketemuan di dermaga, dia ngeles, katanya kangen sama aku.

Ternyata, dia janjian sama Pak Adri, ajudannya Edho. Aku semakin penasaran, dag dig dug jantungku, memacu lebih keras, dan...buyarlah lamunanku terhenti.

"Mbak Dini, ini ada bingkisan buat mbak dari Pak Edho!" Katanya, sambil memberikan bungkusan kecil, di bungkus kertas batik coklat putih, aku menyambutnya sampai tanganku gemetar, aku penasaran, apa isinya?

"Ini...buatku...!" Kataku tergagap, aku mencium aroma yang tak enak di hatiku.
"Iya mbak!" Katanya,

"Salam dari Pak Edho"
"Kapan dia ke sini?" Kataku, sambil memandangnya.

"Dini...sini dekat aku, coba buka bungkusannya!" Kata Renzi, dengan tangan gemetar aku buka bungkusan bersampul batik, ternyata isinya selendang berwarna ungu, indah sekali, kukalungkan ke leherku, rasanya hangat dan lembut.

"Bagus ya!" Kata Renzi,sambil memandangku mengamati aku dari depan ke belakang.
"Iya," kataku, sambil mengusap-usap pemberian dari Edho.

"Dini...ini selendang dari Edho simpan baik-baik ya!" Katanya, sambil memegang ranganku, tatapannya menyiratkan kesedihan, aku merasa tak enak padanya, aku bertanya-tanya ada apa? Di dalam tatapannya.

"Dini...sebetulnya berat sekali aku mau mengutarakan sesuatu padamu," katanya, sambil memalingkan wajahnya memandangi laut biru.

"Ada apa Renzi?" Kataku penasaran.
"Katakanlah, aku tak apa-apa, sungguh!" 

"Dini...ini sungguh berat kukatakan padamu, aku takut sekali padamu,"
"Biar saya yang mengatakannya Renzi!" Kata ajudan Edho, menimpali ketika kami saling diam.

"Mbak Dini, sesungguhnya, saya ke sini mau memberi tahu mbak, bahwa tiga hari yang lalu Pak Edho menitipkan bungkusan itu pada saya, dan itu sebelum kejadian kecelakaan,"

"Apa? Kecelakaan? Dengan Edho? Apa yang terjadi?
Aku histeris, memotong perkataan ajudan Edho.

"Katakan ada apa dengan Edho, mas!" 
Aku meraung, menjerit, sehingga orang-orang di dermaga menoleh kepadaku.
"Tenanglah mbak!"

Ajudan Edho memegang tanganku menenangkanku.
"Dini...tenang dulu ya!"
Renzi mrmeluk aku,agar aku tenang.
"Baiklah, katajan apa yang terjadi dengan Edho?"
Aku menghentikan tangiskuyang tinggal sesenggukkan.

"Mbak Dini, harus bersyukur, Pak Edho itu orang yang baik, Allah sayang padanya, sehingga Allah memanggilnya,"
"Percayalah, suatu saat kitapun akan menghadap-Nya,"
Mataku tiba-tiba gelap, kepalaku berputar-putar, aku pingsan.

Ketika kubuka mataku, aku melihat ke semua ruangan, aku ada di rumah sakit, kuingat-ingat apa yang terjadi?

Yaa Tuhan...ternyata Edho telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya, ketika aku dan Edho akan meresmikan pertunangan tahun depan. Aku menangis, tak kuasa, hatiku begitu pedih, serasa seribu pedang mengiris jantungku.

Di sebelah kiriku, Renzi duduk dan mengelus tanganku, agar aku tenang, wajah Renzi juga terlihat murung.

Sebelah kananku, ajudan Edho, Pak Adri, memandangku kuyu, mereka berdua sama sepertiku, di rundung duka, orang yang kami sayangi telah pergi, dan Edho tak melupakan aku, menitipkan selendang dewangga ungu, pemberiannya yang basah oleh air mataku, Edho, mengapa secepat ini kau pergi? Di saat aku merindukannya.

Setahun telah berlalu, setelah kepergian Edho, hatiku tetap mengelabu seperti langit yang berbingkai laut biru, tempat aku menunggu Edho, tetap sunyi dan hampa hatiku.

Semua kesedihanku aku curahkan pada angin laut, pada kapal yang berlabuh, menanti bayangan Edho. Selamanya.

Selamat jalan Edho, biarkan angin laut mengabarkan rinduku padamu, dan kusemai doa untukmu di sepanjang pelabuhan yang membingkai kepergianmu, dan selendang dewangga ungu tetap menjadi teman setiaku, menutupi resahku, sedihku, dan harapan yang kandas.

Aku ikhlaskan engkau di pangkuan-Nya.
Semoga bahagia dalam tidurmu yang abadi.
Selamat jalan Edho.

Biarkan langit mengelabu
Membawa riuhnya jiwa yang lara
Di ujung riaknya ombak laut biru
Pada kehangatan selendang dewangga ungu
Setia menanti sepanjangnya

Bandung Barat, 26 juni 2019

×
Berita Terbaru Update