-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

STRUKTUR LAHIR DAN BATIN PADA PUISI TENUNAN NEGERI KARYA MAYA AZEEZAH

Minggu, 23 Juni 2019 | 22:46 WIB Last Updated 2019-11-30T09:10:25Z
STRUKTUR LAHIR DAN BATIN PADA PUISI TENUNAN NEGERI KARYA MAYA AZEEZAH

Oleh: Dian Rusdi

Membicarakan karya cipta memang selalu menarik. Terutama jika menyangkut seni budaya, adat, suku, dan agama.

Terlebih lagi di negeri kita, memang sudah lama dilanda krisis sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Penyimpangan-penyimpangan terjadi begitu frontal di mana-mana, sebagian bekerja secara halus mengatasnamakan pribadi, keluarga, golongan dan komunitas.

Namun dalam sebagian naskah ada juga yang selalu berdoa demi kedamaian negeri, memperjuangkan hak-haknya dengan benar melalui hal-hal positif, menjaga silaturahmi lewat karya cipta nyata dan sebagainya.

Tujuannya agar, bangsa tidak terpecah-belah hanya karena banyaknya perbedaan-perbedaan pendapat, apalagi menyangkut suku dan agama. 

Seperti halnya puisi yang akan penulis kupas di bawah ini, di mana dalam puisi ini, penyairnya begitu ingin semua perbedaan itu tetap terjalin rukun, bersama menjadi satu bangsa yang tetap berbudaya dan beragama serta tetap mengutamakan rasa sosial.

Demi persatuan dan kesatuan bangsa yang kini semakin pudar (terpecah-belah). 

Baiklah, seperti apa isi dari puisi ini dan apa saja yang dipesankan di dalamnya. Penulis akan mencoba mengapresiasi lewat struktur lahir dan struktur batin puisi ini, tentunya menurut pengamatan yang ditemukan oleh penulis sendiri. Selamat menikmati.

TENUNAN NEGERI PUISI

Adakah puisi hari ini 
yang kau tenun rapih 
Satu persatu warna aksara 
Terselip 
bukan sekadar rasa 
dan indah di mata 
Pesona puisimu menjadi 
Kain terpanjang di abad kini 
Terjalin layaknya kebhinekaan negeri 
Hingga batas Nugini 
Indahnya anyaman tiap bahasa 
Suku dan agama 
Apakah di antara kita tega memutuskan
tenunan negeri puisi? 
Menyiakan tangan tua ibu pertiwi  
#MA140817

A. STRUKTUR LAHIR PUISI

1. Tipografi (perwajahan puisi)

Wajah puisi pada karya di atas sangat bervariatif. Di bagian depan tulisan tidak semua huruf diawali kapital, ada juga kata-kata atau baris yang diawali huruf kecil.

Kata-kata ini terbentuk karena patahan-patahan baris yang dipotong dari baris di atasnya. Untuk tulisan bagian belakang tidak rata, sebagian pendek, ada juga yang melebar panjang.

Di baris akhir tertulis ciri khas dari penulisnya, yaitu dua huruf kapital beserta angka sebagai titimangsa dari tulisan puisi yang telah ditulisnya tersebut. Yang diawali dengan tanda pagar dan dua huruf kapital bertuliskan singkatan nama penulisnya.

2. Diksi

Diksi atau pemilihan kata-kata yang dipakai dalam puisi yang ada di atas sangat kuat. Bernada harapan dan keinginan.

Harapan dan keinginan seorang anak negeri yang menginginkan kebhinekaan di negeri ini tetap terjalin sebagai simbol persatuan dan kesatuan bangsa. Ini terlihat jelas karena penyairnya memperingatkannya sampai beberapa kali. "terselip", "terjalin", "anyaman", "apakah di antara kita tega memutuskan (jalinan/anyaman)?", "menyiakan tangan tua ibu". 

Kata "anyaman" di sini adalah persamaan kata, semacam "jalinan kebersamaan". (Indahnya jalinan/kebersamaan tiap bahasa, suku dan agama). Seiring-sejalan dalam karya yang positif.

3. Imaji 

Imaji yaitu kata atau susunan kata-kata imajinasi, yang dapat mengungkapkan pengalaman seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan gerak. Susunan kata-kata imaji ini dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, mencium, merasakan, seperti apa yang terjadi di dalam puisi tersebut. 

Pengimajian menurut Waluyo (1987: 78) "Adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan."

Lebih jauh S. Effendi dalam Waluyo (1987: 80) mengungkapkan bahwa Pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya, sehingga pembaca tergugah untuk menggunakan mata hati untuk melihat benda-benda, warna, dengan telinga hati mendengar bunyi-bunyian, dan dengan perasaan hati kita menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna.

Menurut Gumiati dan Mariah (2010:  20-23) berdasarkan indra yang digunakan pengimajian dapat dibedakan menjadi enam yakni, citraan pendengaran (auditory imagery), citraan penglihatan (visual imagery), citraan perabaan (tactil/thermal imagery), citraan gerak (movement imageri atau kinestik imajery), citraan penciuman, dan citraan pencecapan.

Kata-kata imaji yang ada dalam puisi di atas yang dapat ditangkap indrawi untuk Citra Penglihatan, adalah kata: "tenunan", "tangan tua ibu", "aksara", "terselip", "dan indah di mata", "kain", "anyaman", "menyiakan tangan tua ibu".

Seakan si aku lirik menyuruh pembaca untuk melihat atau membayangkan objek-objek yang biasa atau pernah dilihat mata. Meskipun ini hanya sekadar kiasan/perumpamaan saja.  

Untuk Citra Pendengaran dapat kita temukan pada kata: "Adakah puisi hari ini". Yang seolah-olah si aku lirik ingin mendengar kabar dari pembaca tentang karya cipta indah apa yang telah diciptakan hari ini.

Dapat ditemukan juga pada kata "bahasa" yang seolah-olah si aku lirik mengajak pembaca mendengarkan ucapan bahasa tiap daerah.

Kemudian dapat ditemukan juga pada kata : "Apakah di antara kita tega memutuskan tenunan negeri puisi?". Dalam kata-kata ini si aku lirik pun seolah-olah ingin mendengar jawaban atas pertanyaannya itu. 

Sedangkan untuk Citra Perasa terlihat pada kata : "Bukan sekadar rasa". Dalam kata-kata ini si aku lirik seakan menginginkan puisi yang lahir itu bukan hanya sekadar enak di lidah ketika kita membacakannya.

4. Kata Nyata (Kata Konkret)

Imaji (daya bayang) pembaca dibangkitkan dengan menggunakan kata-kata yang diperkonkret. Maksudnya menurut Waluyo (1987: 81)  ialah bahwa "Kata-kata itu dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh."  Tarigan (1984: 33) menjelaskan bahwa "Yang dimaksud kata nyata atau the concreate word adalah kata yang konkret dan khusus, bukan kata yang abstrak dan bersifat umum."

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata yang dibuat penyair sehingga mampu membangkitkan daya imaji pembaca  terhadap puisi yang diciptakannya. Kata konkret membuat pembaca dapat membayangkan secara nyata peristiwa, kejadian, atau hal yang dilukiskan penyair.

Kata-kata kongkret yang ada dalam puisi di atas ada pada kata: "Tenunan/sulaman", "kain" yang memunyai imaji sebagai "karya cipta". Karya cipta terpanjang/terbanyak di abad ini. 
Kata kongkret juga ditemukan pada "Tangan tua ibu" yang diartikan sebagai perjuangan (bangsa) yang sudah lama. 

Bukankah tenunan atau kain itu hasil dari keterampilan tangan yang memerlukan waktu? Yang jika (manual) pengerjaannya, maka mengerjakan memakai tangan. 
Kata "tua" itu sendiri saya beri arti sebagai lamanya perjuangan.  

5. Majas (Bahasa Figuratif)

Cara lain yang digunakan penyair untuk menimbulkan imajinasi adalah dengan memanfaatkan majas (bahasa figuratif). Hal ini dikuatkan oleh pendapat Waluyo (1987: 83) yang menyatakan bahwa "Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismastis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna." 

Lebih jauh, Waluyo (1987: 83 mengungkapkan bahwa "Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesutau dengan cara yang tidak biasa, yaitu secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang." Perrine dalam Waluyo (1984: 83 memandang bahwa bahasa figuratif lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, sebab:
1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif
2) bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam  puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca
3)  bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair
4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.
Untuk majas yang dipakai pada puisi "Tenunan Negeri Puisi" di atas, rata-rata memakai majas metafora dan sedikit majas hiperbola. Majas metafora terdapat pada kata: "Tenun", "Tenunan" sebagai perbandingan hasil "karya cipta". Kata "puisi" di sini sebagai perbandingan untuk sesuatu karya yang bersifat indah. Karena puisi selalu berhubungan dengan nilai estetika.  

Untuk majas hiperbola dapat kita temui pada kata: "Kain terpanjang" "kain", sebuah perbandingan untuk "karya cipta atau karya yang sudah dicipta".  Sedangkan kata "terpanjang" jika melihat keselarasan pada makna teks verbal puisi, berarti sebuah perbandingan dari kata paling banyak atau terbanyak. "karya cipta yang paling atau terbanyak di abad ini" 

6. Rima dan Ritme (Versifikasi)

Rima dan Ritme berpengaruh besar dalam memperjelas makna sebuah puisi. Rima dan Ritme berkaitan dengan bunyi dalam puisi. Menurut Tarigan (1984: 35) "Ritma atau irama adalah turun-naiknya suara secara teratur, sedangkan rima atau sajak adalah persamaan bunyi."
.
a. Rima

Menurut Waluyo (1987: 90) "Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi." Lebih jauh Waluyo (1987: 90) menjelaskan bahwa "Pengulangan bunyi dalam puisi itu untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika dibaca."

Sementara itu Sayuti dalam Gumiati dan Mariah (2010: 34) mengatakan bahwa "Persajakan (rima) adalah kesamaan dan atau kemiripan bunyi tertentu di dalam dua kata atau lebih, baik yang berposisi di akhir kata, maupun pengulangan bunyi yang sama yang disusun pada jarak atau rentangan tertentu secara teratur."

b. Ritme

Slamet Muljana dalam Waluyo (1987: 94) menyatakan bahwa "Ritme merupakan pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan."

Lebih jauh Gumiati dan Mariah (2010: 35) mengungkapkan bahwa "Ritme sangat berhubungan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritme akan dirasakan bila puisi dibacakan."

Rima untuk puisi di atas berpola tidak beraturan. Baris pertama sampai  ke empat berpola (c-b-a-d), patah pada baris ke lima sampai dua belas berpola (a-a-c-c-c-c-a-a). Sedang baris tiga belas sampai lima belas berpola (e-c-c).

Pada baris ke tiga terdapat rima suka kata pengulangan bunyi (satu persatu warna aksara). Baris ini juga termasuk rima akhir tak sempurna (tu-tu-na-ra). Rima awal (e-u-a) ditemukan di baris empat belas pada kata "tenunan". 

Namun meski tidak beraturan rima dan irama perulangan bunyi huruf konsonan (a) terlihat di baris ke tiga, yang diulang lagi pada bari ke lima dan keenam yang kemudian diulang lagi pada baris sebelas dan dua belas. Walau sempat dipatahkan pada baris ke lima.

Perulangan bunyi dan irama huruf vokal (i) juga terdapat pada baris ke dua (rapih: rapi), ke tujuh, ke delapan, ke sembilan, ke sepulah, ke empat belas, ke lima belas. 

Pada baris ke tiga, ke empat dan ke lima. "Satu persatu warna aksara", "Terselip", "Bukan sekadar rasa". Terdapat perulangan bunyi huruf konsonan (r) yaitu: (satu pe(r)satu wa(r)na aksa(r)a, te(r)selip, bukan sekada(r) (r)asa. 

B. STRUKTUR BATIN PUISI

1. Tema

Tema dalam puisi di atas adalah kuat menceritakan tentang ajakan kepada seluruh anak negeri (NKRI) untuk tetap bersatu melalui karya cipta yang indah. Selaras dengan judul puisi yang dipakai sebagai kepala dari puisi ini. 

2. Rasa 

Rasa pada karya puisi di atas adalah rasa ketakutan penyair akan keterpecahbelahan bangsa, penuh harapan, di samping itu juga ada rasa keingintahuan penyair(bertanya-tanya). Yang seakan merasa takut, semua kebhinnekaan bangsa semakin terpecah-belah. 

3. Nada

Nada atau tone yang terasa dalam puisinya seolah-olah penyair bersikap meminta kepada setiap pembaca terutama rakyat Indonesia, untuk terus berkarya dan bukan hanya asal sekadar berkarya saja. Tetapi hasilnya harus bermanfaat, bermakna bagi persatuan dan kesatuan bangsa. 

4. Amanat/Maksud

Penyair dalam puisinya berpesan kepada pembaca. Sebagai bangsa yang kaya akan adat, bahasa, dan budaya, untuk tetap menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Menjaga agar kebhinnekaan tetap terjalin dengan indah. Agar tidak sia-sia segala perjuangan bangsa (ibu pertiwi), yang begitu banyak mengorbankan jiwa, raga demi persatuan dan kesatuan NKRI. 

Supaya tetap "Terjalin kebhinekaan negeri", "Hingga batas Nugini". Karena betapa "Indahnya anyaman tiap bahasa", "Suku dan agama". "Apakah di antara kita tega memutuskan", semua "Tenunan di negeri puisi" Ini?

Demikianlah struktur lahir dan struktur batin pada puisi "Tenunan Negeri Puisi" karya Maya Azeezah..

Kesimpulan pesan yang ada pada puisi di atas adalah: penyair ingin menyampaikan keinginannya kepada seluruh lapisan rakyat indonesia terutama para pencipta dan pecinta seni untuk selalu mengedepankan rasa sosial, saling mendukung, menjaga, rukun dalam perbedaan, baik itu secara adat, kultural, suku, dan agama. 
Bersatu dalam satu karya cipta yang indah demi mewujudkan persatuan dan kesatuan di tanah air kita yang tercinta ini. 

Bandung 24.0817

×
Berita Terbaru Update