-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

VILLA VANILLA (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)

Senin, 24 Juni 2019 | 19:09 WIB Last Updated 2019-12-04T22:52:08Z
 VILLA VANILLA (Cerpen Wiwin Herna Ningsih)
Foto sang Penulis Cerpen

By : Wiwin Herna Ningsih

" Coba kau pegang jemariku, beku tanganku!" Katamu.
Kupegang jemarinya, jari-jarinya membiru, tak bisa digerakkan, aku khawatir juga. Kuraba tangannya, kualirkan kehangatan dengan sarung tanganku, baru bisa digerakkan lagi.

Langit malam membiaskan aroma pinus, berkabut, walaupun sudah kupakai jaket kulitku, tetap tak bisa menghilangkan gigilku. Tanpa suara, di dalam perjalanan menembus kabut, laksana lukisan yang mengelabu, aku terjebak di dalamnya.

Melewati perbukitan teh, jalan berkelok, menikung tajam, dalam gerimis mataku tak bisa melihat jalanan, kabut menyergap dari semua arah, lampu sen motor, hanya remang-remang cahayanya.

Dalam gerimis yang belum reda juga, akhirnya sampai di sebuah warung tepi jalan dekat bukit teh.
"Yuk, kita isi perut dulu!"

"Kamu mau makan apa?" Katamu sambil menarik tanganku pada sebuah bangku.
"Hmm...aku mau sate kelinci pakai sambal incom!" Kataku.

Dan aku bisa menebak , dia pasti akan memilih mie instan dan telur rebus kesukaannya. Betul juga. Tebakanku.

"Kamu suka sate kelincinya?" Katamu, 
"Iya!" Kataku sambil nyengir. Aku ingat dia kepedasan makan mie instan...

Selesai makan, melanjutkan lagi perjalanan yang setengah jam lagi sampai ke tempat rumah temannya.
"Wooowww...kereeennn...," kataku.
Baru kali ini aku melihat villa-villa yang begitu anggun berwarna vanilla, artistik, sederhana, tapi menarik.

Kulangkahkan kakiku menelusuri lorong rumah yang sunyi, dengan temaram cahaya lampu neon, menambah rasa yang romantis, duh...batinku bicara sendiri, begitu indah, kulirik dia, dengan wajah yang kuyu kelelahan, namun senyumnya masih mengembang, padahal aku tahu, dia menahan rasa sakitnya, yang lama terpendam di badannya.

"Indah ya!" Kataku
"Kamu suka?" Katamu
"Iya!"

"Sini!" Katamu, sambil menarik tanganku, aku dibawanya ke balkon, dan lihatlah pemandangan malam berkabut berpadu dengan cahaya lampu neon warna warni, menghasilkan warna yang indah laksana senja merah saga di waktu sore, menakjubkan, aku terpesona.

"Kamu suka ya!" Katanya, 
"Itu seperti wajahmu!" Katamu.
"Ah, kamu, bikin malu saja!" Aku tersipu malu di godanya.

"Coba sini, lihatlah , malam ini khusus untukmu!" Katamu, sambil menatapku sayu, kutatap matanya, aku melihat ada wajah basah merintik di kedalaman matanya, kutatap diam-diam, dan aku terhempas ke dunia lain, aku begitu takut kehilangannya.

Tak terasa air mataku merinai, entah kenapa aku menangis, seolah-olah aku akan menghadapi sesuatu yang membuatku berpisah dengannya.

Jemariku di usap-usapnya dengan lembut.
"Kenapa menangis?" 
"Ahhh...aku tak apa-apa!"

Malam ini begitu indah sekaligus menyesakkan dada, malam yang temaram, berkabut, romantis, dan menggigil kedinginan, betapa aku ingin memeluknya selama mungkin, mata yang teduh dan sayu, senyum yang kulum, menyejukkan hatiku, rasanya ingin kuberlari ke pelukannya.

Tapi aku kerap terpaku diam mematung, tak kuasa, aku takut, takut sekali, kehilangannya.
Dia begitu baik, perhatian, dan sayang padaku.

Aku tahu, senyumnya laksana aroma pinus di waktu malam yang berkabut, pada saat cahaya temaram di lembah bukit teh, berkelip, warna warni, bibirnya membiru, kedinginan.
Aku terhenyak antara mimpi dan sadar, dengan perkataannya.

"Ari, seandainya besok mentari tetap tak bercahaya, aku titip sama kamu, agar kamu selalu secerah mentari, ya!"

Aku tak mengerti apa maksudnya.
"Ini malam yang indah, yang tak akan terlupakan, lihatlah, pinus-pinus itu tetap menjulang, walau kabut menghalanginya, keindahan dan keteduhannya tetap terjaga, aku ingin kamu seperti pinus itu, tanpaku suatu saat,"

"Duh...apa sih yang kamu bicarakan?" Kataku.
"Kamu kan lagi sakit Andara, ayo minum obatnya!"

"Ah, aku tak mau lagi minum obat, aku kan sekarang sudah kuat, tak perlu obat lagi!"
"Ya sudah kalau tak mau minum obat lagi, kalau ada apa-apa jangan salahkan aku ya!" Kataku.

Aku dan Andara terdiam dalam pikiran masing-masing, menatap kabut yang semakin tebal, dan warna dari cahaya neon tertutup, tak bersinar lagi.
Malam begitu singkat, aku tertidur di kursi balkon.
Pagi masih berkabut, aku pulang naik bus, karena Andara akan melanjutkan pendakian lagi, dengan rasa yang berat, yang tak bisa kudiamkan hatiku, rasanya ada yang salah pada diriku.

Tiga jam kemudian, ada telepon dari temanku, ketika aku sedang makan, bahwa Andara telah berpulang, kepalaku rasanya berputar-putar, dan pingsan. Aku melolong, menjerit, mengapa orang sebaik dia, kau ambil Tuhan....

Hari ke hari, waktu terus berpacu, kenanganku dengannya tak bisa kulupakan, Villa Vanilla bermain dalam mataku.

Pada kabut, pada temaram lampu neon yang kemerlip, pada gerimis yang membirukan wajahmu, pada aroma pinus yang mengembun, semua tersimpan pada jiwaku setiap saat, semoga engkau bahagia di alam sana, akan kusemai doaku untukmu sepanjangnya, engkaulah yang memberi keteduhan pada hidupku, akan kukenang kau di setiap musim, walau kabut tetap menyelumutiku.

VILLA VANILLA

Pada keremangan kabut
Di ujung balkon
Aroma pinus menggelora rasa
Menghempaskan jiwa yang lara
Pada kenangan abadi terpatri sepanjangnya

Puncak Pass, 11 Desember 2018

×
Berita Terbaru Update