-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Belajar Makan Tanpa Nyampah

Selasa, 09 Juli 2019 | 20:55 WIB Last Updated 2019-07-09T14:42:49Z
Belajar Makan Tanpa Nyampah
Foto (fb. Ainia Angonide)
Tak sedikit dari generasi milenial yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup. Mencermati kondisi perubahan iklim global yang cukup ekstrim saat ini adalah wajar jika banyak orang prihatin terhadap berbagai kerusakan lingkungan terutama yang disebabkan oleh sampah yang kita produksi setiap hari. 

Sampah,  terutama sampah plastik semakin banyak mencemari lingkungan hidup kita, mengakibatkan kerusakan sumber daya air, pencemaran udara, pemanasan global,  dan menyusul berbagai bencana seperti banjir dan kekeringan. Maka menjadi tanggung jawab setiap orang untuk peduli dan memulai aksi menjaga kelestarian lingkungan hidup kita. 

Salah satu cara yang unik dilkukan oleh Ainia Prihantini,  gadis asal Yogyakarta yakni belajar makan tanpa nyampah. Melalui komunikasi messenger dengan crew societasnews.id, Ainia menceritakan caranya memanage sampah setiap hari. Dengan program makan tanpa nyampah,  ia memulai aksi pengurangan sampah dari dirinya sendri. Ainia berusaha untuk setiap hari mengurangi sampah dari berbagai aktivitasnya,  salah satunya sampah makanan. 

Sejak bulan ramadhan tahun ini, Ainia berusaha mengurangi mengonsumsi makanan atau jajan yang menggunakan kemasan plastik dan sekali pakai. Misalnya tidak membeli makanan instan yang menyebabkan adanya sampah plastik. Ia berusaha untuk memasak dengan bahan-bahan yang bisa habis dimakan, tidak menyisahkan makanan sedikit pun di piring. Sisa makanan berupa tulang diberikannya kepada kucing jalanan. 

Selain itu saat jajan pun ia tidak membeli jajan dengan kemasan plastik yang sekali pakai.  Dia berusaha untuk jajan ditempat yang biasanya wadah jajan itu biasa digunakan berkali-kali,  seperti memakai gelas atau mangkuk. Karenanya ia kerap memilih lebih baik jajan es buah atau mie ayam. Hal ini dilakukannya demi komitmen untuk mengurangi atau menghindari produksi sampah yang tentu akan menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup. 

Ainia juga mengakui sudah lama tidak minum air mineral dalam kemasan botol plastik. Bahkan ketika ia ditawari minuman kemasan botol plastik ia pasti menolaknya. Ia selalu membawa sendiri air minum dengan botol minum yang bisa dipakainya berkali-kali.

Kadang ketika menjumpai sarana air minum umum,  seperti di lingkungan UGM,  ia sengaja mengisi penuh botol air minumnya,  supaya setidaknya ia tidak terpaksa membeli air kemasan botol ketika persediaannya habis. 

Tidak hanya itu,  Ainia juga mengusahakan sampah-sampah yang harus dibuang dijadikannya berukuran kecil atau mengepresnya terlebih dahulu. Sampah-sampah seperti kertas atau plastik dilipat-lipat sedemikian rupa agar mengecil sebelum dimasukan ke tempat sampah. Tujuannya agar tempat sampah bisa dimanfaatkan dengan maksimal. 

"Sekitar 3 tahun lalu mulai nyicil, tapi masih sering melanggaraa, katanya. Mulai komitmen untuk lebih serius sejak ramadhan kemarin. Motivasi awalnya karena pingin jaga sumber daya air. 

Kebetulan pernah penelitian tentang beberapa permasalahan menyangkut sumber daya air. Makin ke sini makin sadar kalo yang dijaga gak cuma air, tapi banyak makhluk”,  Ungkap pemilik akun facebook Ainia Angonide ini.

Lebih lanjut, Ainia mengatakan motivasinya karena ingin menghormati setiap ciptaan Tuhan, mulai dari yg paling dekat dengan keseharian. 

“Gak lain ya dari pola makan, menjaga agar ga nyampah darinya. Belajar gak jadi tukang nyampah mulai dari diri sendir, dari yang kita bisa,  dan dari yang kita punya. Sulit,  tapi sulit itu bukan berarti tidak bisa." Ungkapnya.

Sekarng Ainia giat memposting kebiasaan positifnya ini melalui akun facebooknya Ainia Angonide dan akun Instagramnya. Tujuannya agar semangat positif menjaga kelestarian lingkungan hidup ini menyebar dan berguna bagi setiap orang. 

Ainia juga telah memulai kebiasaan mengusahakan untuk menanam sayuran sendiri. Supaya tidak menambah sampah plastik atau bungkusan dari pasar. 

Bagi Aina sekarang ia lebih melihat upayanya sebagi bentuk menghormati setiap mahluk ciptaan Tuhan yang juga membutuhkan lingkungan hidup yang nyaman.  Jadi level kesadarannya bukan lagi terbatas pada mengamankan hidup sendiri tetapi berpikir lebih luas,  yaitu kenyamanan lingkungan hidup bagi semua ciptaan Tuhan. 

"Sebab manusia diberi tugas dan tanggung jawab untuk menjaga,  bukan untuk mengusik dan merusak" tegas Aini. 

Bertanya tentang apa proyek ke depannya, Aini berencana untuk belajar bagaimana sampah dapur itu bisa dimanfaatkan kembali untuk kesuburan lingkungan. Ia sedang giat meneliti bagaimana sampah dapur bisa diolah menjadi kompos, sehingga bisa dijadikan pupuk untuk tanaman. 

Semangat Aini dalam mewujudkan tanggung jawabnya terhadap lingkungan hidup kiranya menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk mulai beraksi.  (EL/SNID).




×
Berita Terbaru Update