-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CINTA SESAAT YANG MENJERAT

Minggu, 07 Juli 2019 | 14:37 WIB Last Updated 2020-01-30T07:02:33Z
CINTA SESAAT YANG MENJERAT
Ilustrasi: Paragram

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Ketika cinta membabi buta kepada seseorang yang terserang, tak bisa lepas dalam jeratannya.  Begitu juga kepadaku, kau hanya melampiaskannya padaku, hanya karena aku mirip dengan kekasihmu yang telah tiada. Aku hanya menyesali diri, pada cintamu, pada bayangannya, tanpa meraba bagaimana perasaanku.  

"Bily, aku mohon padamu, pergilah kamu dari hidupku!" Pintaku padanya, tapi dia tak perduli, dengan wajah acuh tak acuh, dia tak ingin melepaskan aku barang sedetikpun.

Di matanya aku adalah kekasihnya yang masih hidup, pikirannya hidup di masa lalu, bukan di masa sekarang denganku.  Aku hanyalah bayang-bayang kekasinya, yang entah sampai kapan dia begitu terhadapku.

"Dea, plisss, jangan tinggalkan aku, aku tak bisa hidup tanpamu!" Katanya, dengan wajah memelas, agar aku mengasihaninya.

Aku berupaya mencari cara agar aku terlepas dari kehidupannya.  Semua cara telah kucoba, namun dia bersikeras tak ingin melepaskanku.

Aku tak habis pikir, mungkin dia punya penyakit jiwa yang tak bisa di sembuhkan. Yang mengungkung hidupnya.

Aku kasihan juga, ingin kutinggalkan dia , aku tak tega. Tapi bila aku hidup terus dengannya, jati diriku seperti hilang, dan jangan-jangan akupun ikut-ikutan dia punya penyakit jiwa, yang tak bisa melepaskan sesuatunya yang telah menjerat.

Untuk menghilangkan rasa jenuh hidup dengannya, aku berinisiatif, kuajak dia mendaki gunung seminggu sekali. Sebetulnya karakter Bily, orangnya pendiam, orang rumahan, dia senang berlama-lama di dalam kamarnya memandang potret wajah kekasihnya yang telah tiada karena sakit kanker.

Bily menjadi pemurung, dia hidup, dan hidup itu dihabiskannya dengan bayang-bayang kekasihnya yang segalanya mirip denganku.

Dan aku ingat, ketika pertama bertemu dengan Bily, di sebuah pemakaman, waktu itu aku menengok makam sahabatku, dan dia juga menengok makam kekasihnya.

Saat itu hujan gerimis, dan aku berteduh di sebuah taman kecil yang dilindungi pohon flamboyan. Bily tersenyum padaku ketika aku menatap wajahnya. Dari situlah kami berdua menjalin kisah kasih karena kasian.

Karakter aku dan Bily berbeda antara langit dan bumi, aku berjiwa bebas, tak suka dikungkung, hidup merdeka, dalam artian yang positif, seperti aku menyukai alam bebas, dengan mendaki gunung, dan aku cinta alam bebas.

Setelah rutin kubawa mendaki gunung, bersepeda, menjelajah alam, sedikit demi sedikit ada perubahan di wajahnya, dia tidak murung lagi, ada sedikit keceriaan, terlihat dari sikapnya yang agak terbuka, dan dia mulai mengenal siapa aku sesungguhnya.

Dan itu semua menjadikanku ada rasa sedikit bahagia padaku. "Dea, terima kasih ya, sudah membuatku hidup lagi, dan aku bisa melupakan Thea sedikit demi sedikit!" 

Aku terharu dengan ucapannya yang tulus, dan aku bersyukur, dia sembuh, setidaknya, walaupun belum permanen. Cinta yang sesaat kini menjeratku lebih dalam.

Aku dan Bily akhirnya bahagia, seperti nyanyian angin gunung yang menggema menjadi tetabuhan rindu setiap detik bila tak jumpa dengannya. Bahagia itu bila salah satu berkorban dengan ikhlas, dan hasilnya akan mewujudkan sesuatu yang menakjubkan.

Bandung Barat, 6 juli 2019

Gambar diambil dari citra-ciki.blogspot.com

×
Berita Terbaru Update