-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DAYA GUGAH DAN MEMUKAU PUISI YS SUNARYO

Senin, 15 Juli 2019 | 05:01 WIB Last Updated 2019-12-06T15:18:46Z
DAYA GUGAH DAN MEMUKAU PUISI YS SUNARYO
Gambar (Usman Ganggang diambil dari FB Usman Ganggang)
Oleh Usman D. Ganggang
(Redaktur Opini dan Sastra Harian Umum Stabilitas, Dosen, Peneliti, dan Penulis Buku-buku Sastra)

Bangga! Itu kata pertama keluar dari hatiku, ketika membaca puisi-puisi YS Sunaryo,  semalam. Bagaimana tidak? Tiga buah puisi sebagai berikut : (01) PEREMPUAN PEMANGKU LUKA; (02) MALAM TIMBANGAN; dan (03) PUISI ANAK-ANAK JANUARI.

Terimaksih Bung YS Sunaryo, saling berbagi itu, ujungnya memang muncul rasa bahagia.

Puisi-puisi YS Sunaryo selengkapnya mari kita simak sekaligus menikmati pesan- pesannya di balik pesan tersurat yakni pesan tersirat, untuk kemudian simpulannya kita ambil seterusnya dikonsumsikan dalam keseharian.

(01)
PEREMPUAN PEMANGKU LUKA

Luka masih menganga di tahun kelima
Meringkuk di pangkuanmu
Tak berdaya, berselimut doa-doa
Menunggu remuk batu-batu

Aku tahu di dadamu gunungan rindu
Matamu tak lagi memompa air mata
Kisah lalu membuatmu layu
Dan kini beban hidupmu berat tiada tara

Utuhkan dekapmu di sunyi sepertiga malam
Tuhan tak mungkin merajam
Pada doa dan usaha tak kunjung padam
Seperti Hawa, seperti Siti Hajar, dan seperti Siti Maryam

Mereka perempuan pemangku luka
Darah, keringat dan air mata tak berujung putus asa
Nikmat pasti didapatkan
Di waktu dan ruang yang Tuhan rencanakan

Tersenyumlah wahai para perempuan 
Di dahaga bahagia yang masih mengering di kerongkongan
Dan di tangisan buah hati yang sering menggelisahkan
Keikhlasan dan kesabaran menuntunmu akhiri penderitaan

Cirebon, 28 Desember 2017

(02)
 MALAM TIMBANGAN

"Timbanglah sebelum --kelak-- kau ditimbang"

Demikian khalifah agung mengingatkan
Pada pergantian tahun dan di tanda-tanda kematian
Di jiwa-jiwa bakhil pada kebaikan
Dan pada golongan mabuk urusan keduniawian

Kita pandai menuding orang lain bopeng
Namun lupa hitam diri yang bertopeng
Menghitung untuk kenyang dan senang
Lupa sembahyang dan buta kasih sayang

Di malam penanggalan baru
Basahilah dengan air wudu
Begadang untuk menimbang
Pulang, tak di jalan jalang kepayang

Satu malam menimbang amalan
Bukan malam hilang ingatan
Apalagi meregang, berpindah alam
Berjumpa dengan timbangan Tuhan

(03)
PUISI ANAK-ANAK JANUARI

Berlari anak-anak Januari
Di mana kalian bersembunyi
Ini pagi bola matahari
Menggelinding sendiri

Kata kalian satu semangat baru
Itu yang diucapkan di pesta itu
Di kembang api berapi-api
Bunyi petasan menjadi saksi

Dengkur membunuh waktu
Bercak hitam telah dicatatkan
Sama seperti masa lalu
Hanya rugi kalian sematkan

Hendaklah tak terulang di tahun ini
Perayaan robohkan jati diri
Bercerminlah di kaca hati
Jam kosong-kosong diisi amal bakti

Terbit Januari tak terluka
Jiwa raga enggan hilang rasa manusia
Anak-anak bangsa perkasa
Menakluk ombak dengan segala bisa

Ciamis, 31 Desember 2017

Setelah kita menikmati ketiga puisi YS Sunaryo di atas, muncul rasa gugah lantaran daya pukau dari larik-larik puisi tersebut.

YS Sunaryo berimajinasi, bermula dari mengobservasi detail-detail seorang perempuan yang hatinya terluka; di dadanya terbersit rindu; kondisi hatinya sunyi; perempuan yang penuh ikhlas dan sabar; dan solusi gelisah, yang kesemuanya tergambar dalam judul yang menghadirkan daya pukau yakni: PEREMPUAN PEMANGKU LUKA.

Dan tentu, seperti itu pulalah dilakukannya pada puisi “MALAM TIMBANGAN” dan “PUISI ANAK-ANAK JANUARI”.

Kata-kata kunci di atas, ditemukan setelah tahap mengobservasi dan menanyakan, mengapa kata-kata kunci itu hadir?

Lalu, kegiatan menggali hingga menemukan detailnya menuju tahap menyimpulkan, ternyata perempuan pemangku luka, disebabkan oleh berbagai sebab-musabab.

Hal-hal itu kemudian dikomunikasikan (Mengomunikasikan) sebagai hasil karya. Tahap ini namanya mencipta, hingga detail-detailnya kita nikmati sekarang.

Jadi proses intuisi kreatif YS Sunayo, kalau kita cermati, tampak ke permukaan, melalui proses atau tahap dengan sebutan : “6 M “ (Mengobservasi; Menanyakan; Menggali; Menyimpulkan; Mengomunikasikan, dan terakhir Mencipta).

Jadilah sebuah karya puisi yang bukan saja enak dibaca, karena kepuitisannya,  tetapi juga karena di dalamnya tersimpan sejumlah makna (nilai)  yang berguna buat kita sebagai penikmat karya.

Dari kerja seperti itu, patutlah kita beri aplous kepada  YS Sunaryo, karena sebuah karya imajinatif yang hadir melalui proses namanya proses kreatif yang bermula dari hadirnya intuisi kreatif, sudah dilakasanakan oleh saudara kita ini. Begitulah prosesnya dalam menyusun sebuah puisi.

Jadi,  perlu adanya upaya penggelandangan imajinasi, sehingga hasil dari penggelandangan itu, diramu dengan baik, diendapkan, lalu diedit kembali terutama terkait  korespondensi antarlarik, hingga korespondensi antarbait. Pemanfaatan diksi, dan iramanya. Hasil akhirnya, kita tergugah yang ujungnya terpukau menikmati hasilnya. 

Kegugahan kita sebagai penikmat, juga berawal dari upaya penyairnya yang selalu memberikan ruang bagi penikmat terutama ruang bertanya, sehingga, boleh jadi kita bertanya misalnya terkait judul: “Bagaimana sebab-musababnya sehingga hadirnya Perempuan Pemangku Luka?”

Lalu, Malam yang bagaimana lagi yang namanya “Malam Timbangan?” Terakhir,  "Ada apa dengan Puisi Anak-Anak Januari?”

Dan selanjutnya susul-menyusul pertanyaan diajukan, tentu, lantaran penyairnya memberikan ruang kepada kita sebagai penikmat. Pemberian ruangan ini dapat dijadikan alasan gugah hingga kita terpukau.

Kita sebagai penikmat, tentulah tergugah lantaran daya pukau yang dikemukakan YS Sunaryo ini, baik pada puisi pertama, kedua, maupun puisi ketiga, larik-lariknya menhipnotis kita yang pada akhirnya, selalu membuat kita hadirkan tanya, mengapa dan mengapa?

Karena memang penyairnya memberikan ruang buat kita, dalam artian, larik-lariknya tidak pernah memberikan semacam penjelasan seperti pada karya prosa.

Dan itulah salah satu ciri puisi, selalu memberi makna di balik yang tersurat, artinya yang kita cari adalah makna tersiratnya dari yang tersurat.

Kegugahan kita selanjutnya, adalah karena penyair ketiga puisi di atas, selalu menerapkan ekonomi kata. Maksudnya , yakni azas/prinsip yang mengandung pengertian :

1) Sikap kreatif memakai kata/istilah/ungkapan yang tertentu (sudah ada), memuat arti dan isi maksimal (sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya).

2) Sikap kreatif mencapai tujuan/isi/maksud yang sudah tertentu (target yang sudah diambil) cukup memakai kata ungkapan/istilah yang minimal (paling sedikit, paling kecil). 

3) Menyampaikan sebanyak-banyaknya idea/pesan, namun lewat sehemat-hemat kata; 4) Dapat diringkaskan dengan kata-kata minimal (paling sedikit) haruslah mencapai nilai/idea/hasil maksimal (paling besar). Perhatikan saja larik-larik ketiga puisi di atas, padat berisi.

Selain itu, kalau kita cermati dengan saksama, maka penyairnya juga memanfaatkan kimia kata, artinya setiap kata mempunyai unsur-unsur dan daya reaksi.

Nilai yang dikandung kata, banyak sekali. Daya cetus (ekspresi), daya gandeng (valensi), daya sampai (komunikasi), daya kena (relevansi), irama/bunyi (ritme), peri lambang (simbolik), daya terang ( denotasi ), daya khusus/bias (konotasi). Juga kata pun memiliki: sinonim (sama arti) , homonim (beda arti), nilai puitika (keindahan puisi), nilai musika (keindahan lagu), melodia (keindahan irama), sampai nilai huruf (bentuk), nilai isi (arti).

Hal-hal demikian, dipelajari sebagai ilmu (bahasa) atau sebagai seni (sastra) dan bidang khusus yang mengurusinya disebut dengan kimia kata.

Jadi, kimia kata adalah ilmu/seni yang meliputi pengolahan kata, ramu makna, reaksi bunyi, rangkai istilah, susun kalimat, bentuk irama.

Nah pertanyaan kita terkait ketiga puisi di atas, adalah, "Tergugahkah kita terhadap puisi YS Sunaryo di atas?

Dapatkah puisi Saudara kita itu, digolongkan ke dalam puisi yang memenuhi persyaratan?” Dan sejumlah pertanyaan susul-menyusul.

Menjawabnya gampang, jika tergugah, apalagi hadirkan daya pukau, pastilah puisi-puisi tersebut puisi baik. Baik, lantaran puisi-puisi tersebut sanggup berfungsi membangkitkan kesadaran bahwa kualitas pribadi pembacanya esok hari, lebih baik ketimbang kualitas pribadinya hari ini.

Namun bagi sang penyair sendiri, puisi memiliki fungsi sebagai: 1) medium kreasi (wadah buat proses dan hasil cipta); (2) Medium komunikasi ( lsarana untuk berhubungan dengan khalayak atau siapa saja); (3) Medium ekspresi (alat untuk mengungkapkan diri); (4) meng-abadi-kan idea, memori, suasana, proses, nilai, sesuatu tema/peristiwa, dll; dan (5) Proses dan medium buat meningkatkan akal-budi, mengembangkan daya cipta, memberi input/konsumsi bagi rohani jiwa dan hati, dan mempertinggi nilai insan/pribadi.

Bagaimanapun, ketiga puisi YS Sunaryi di atas,  sudah menghadirkan daya gugah dan daya pukau. Mengapa tidak?

Nikmati saja bait-baitnya, di sana ada pesan buat buat penikmat, di sana ada daya puitis, dan di sana pula ada iramanya, di sana ada penerapan ekonomi kata,  sekaligus kimia kata.

Bahwa masih ada kekurangan puisi Saudara kita ini, itu pasti. Namanya juga manusia, pasti punyai kelemahanan, ibaratnya, "Tak ada kaca yang tak pernah pecah” atau “tak ada gading yang tak retak”.

Meski demikian, kita tak percuma mencermati puisi-puisi di atas, karena setelah kita menikmatinya, muncul daya gugah sekaligus daya pukau.

Ujungnya kita ambil pesannya untuk dikonsumsikan dalam keseharian. Iya, mengapa tidak? Terbukti, puisi-puisi Saudara kita ini, telah menyodorkan sejumlah nilai yang bermanfaat. 

Salut YS Sunaryo, teruslah berkarya, sukses selalu!
×
Berita Terbaru Update