-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HUJAN, KERETA MALAM, NYANYIAN SUNYI

Jumat, 05 Juli 2019 | 01:55 WIB Last Updated 2019-12-07T01:02:34Z
HUJAN, KERETA MALAM, NYANYIAN SUNYI


HUJAN

Angin merintih
Air mata menitik
Kelebat bayangmu berselimut kabut
Menjelma dari reruntuhan jiwa yang terkoyak

Basah merambah anganku
Seperti denting hujan yang meluruhkan jarum jarum kecil
Menusuk pilu
Menekan rasa

Kukejar bayangmu
Sirna sekejap di kelabu langit sendu
Kugapai rasaku meniti rerinduan
Tangga tangga batu berlumut
Menapak gigilmu kelu

Hujan...
Kini membiaskan aroma luka
Yang takkan berhenti 
Pada semusim jejakku

NYANYIAN SUNYI

Malam...
Kidungkan untukku sebuah balada
Tentang rindunya hati pada Sang Perwira
Ikatan rasa menyatu bersama kabut kelabu
Nyanyian sunyi kupersembahkan padamu

Air mata mengurai rerinduan
Yang menggema di langit kelam
Pedihnya hati menunggumu
Melolong dalam sunyi

Malam...
Kabarkan padanya melalui gemintang
Yang melintasi cakrawala hati yang kelam
Seperti lima musim yang lalu

Malam...
Biarkan di sini nyanyian sunyi 
Tetap melantun
Dalam heningnya hati

KAU

Adalah bias bias rindu yang tertinggal
Oleh musim yang telah usang
Bersua dalam rasa yang sama
Seia sekata

Di sini...
Di jiwa ini tertanam namamu
Di netramu ingin kumengembara
Menelusup meniti hari hari
Genggamlah erat jemariku

Bawalah aku berkelana bersama angin
Yang selalu mendesir di lembah hatimu
Bawalah aku terbang dan rengkuhlah bersama kepak sayapmu
Yang selalu menghangati jiwaku yang menggigil

Di sini...
Di musim yang telah usang
Jiwamu adalah rumahku
Tempat kuberteduh
Kau adalah batas terakhir
Tempatku singgah

RIMBA

Senja berkabut
Bayangan melamur
Kuberlari menempuh sang waktu
Di musim dingin menggigil
Terseok menembus luka rimba raya

Di sini kuhentakkan rasa yang gemuruh
Kuingin teriak pada angin
Ke manakah harus kubawa langkahku
Jiwa hilang entah melayang ke mana

Resahku, gundahku, perihku...
Dan semua luka lukaku
Tertancap di ranting kering yang meranggas
Menusuki luka lama yang belum kering

NELANGSA

Angin...
Biarkan jiwaku luluh lantak 
Merimba pada kabut
Menutupi rasaku yang sakit
Pilu...pedih...

Biarkan aku tersesat di alam raya
Yang mengurungku dalam kelam
Semua sirna...
Merajam kejam menggeram
Menikam langit langit hampa
Yang kuingin lupa

NYANYIAN SENJA

Di sini...
Senja jingga menghampar
Menautkan hati yang gelisah
Ombak laut sunyi
Sesunyi pesisir pantai

Tapak tapak kerinduan
Menjejak dalam tak hilang oleh musim
Ada sendu merayu di keheningan
Sampanku berlayar tanpa sauh
Me.beri gemalau pada pucuk pucuk nyiur

Alangkah sunyinya senja ini
Bebatuan basah membisu
Tempat kita mengurai rindu
Kenangan menggenang
Di sisa sisa pasir pantai
Yang menjejak dalam
Sedalam rinduku padamu
[4/7 09:25] win az: 7.
Langit biru berdendang
Mengikuti arus kisah cinta yang tak pernah hilang
Sepanjang musim
Seperti pucuk pucuk teh yang di basahi embun pagi
Menyegarkan rasa yang kemarau
Memberi alunan syahdu asmarandana

Di derasnya gemericik air Kalimuju
Dari lembahnya yang berkabut
Mendenting sesayup petikan gitar dari jauh
Yang meresap pada senandung senandika
Menggema di buana alam Mandala Kitri

Seperti meliuknya api unggun di malam terakhir
Mengawang di jabaning langit
Di sini, cinta pertama menjejak
Pada tangga tangga batu perkemahan
Terpatri pada pepohonan pinus tua
Abadi sepanjang musim

KERETA MALAM

Langit malam gemerlap gemintang
Bersama agin dari selatan
Menunggumu di peron
Kereta malam segera tiba
Membasa rindu yang membuncah

Wahai Sang Teruna, selamat datang
Gemetar setangkup jemari
Memberi rasa pada sukmaku
Derapmu kunanti dari medan laga

Membuai syahdu senandung rindu
Mendenting irama malam
Menyibak kabut di netraku
Menyaput kelabu impianku

Wahai sang Teruna
Bawalah jiwaku melayang
Mengawang ke jagat raya
Menghempaskan lelahmu
Di kehangatan wajah teduhmu

PUISIKU TAK PERNAH USAI

Angin barat membawaku mengembara ke lembah sunyi
Berkabut
Tirainya menghalangi pandanganku
Ingin kutapaki hamparan rerumputan hijau
Tempat bunga Edelweis mekar menghampar
Kelopaknya mengingatkanku pada wajah teduhmu

Dan mata lukamu
Ketika sayapmu patah berderak
Seperti ranting ranting pinus yang kering meranggas
Dan pondok terakhir tempat kita berteduh
Yang di hiasi bunga Lavender ungu
Memberi kenangan
Pada sebuah lagu balada
Tentang kisah para pendaki

Yang mencari cinta di terjalnya tebing tebing tinggi
Dentingan gitarmu sesayup hilang di telan kabut senja
Seperti puisiku yang tak pernah usai
Menggantung di ujung rindu

HAMPARAN BUNGA EDELWEIS DI LEMBAH MANDALAWANGI

Langit biru
Awan putih berarak
Sesayup angin mendesau
Menyejukkan jiwa
Sang mentari menghangati perjalananku

Hamparan bunga edelweis
Marak menghiasi sukmaku yang sunyi berkabut
Terpana dalam cericit burung pagi
Kemerdekaanku luruh di sini

Menapaki kenangan
Melenakan penatku
Denting gitar membawa mimpiku
Terkurung di lembah Mandalawangi

Nyanyian pucuk pucuk pinus memberi kisahku terpatri sebagai prasasti memberi arti
Ketika kutinggalkan kau lembahku
Kubiarkan hamparan bungamu menghiasi mimpi mimpiku
Takkan kupetik kau Edelweisku

Dan...
Kubiarkan kau tetap dalam nyanyian alam raya
Yang selalu di rindukan derap sang pendaki
Dari musim ke musim
Abadilah bungaku
Biarkan tetap menghampar di lembah Mandalawangi
Suatu musim nanti tuk kembali ke lembahmu yang berkabut

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Ilustrasi diambil dari mimpikiri.blogspot.com
×
Berita Terbaru Update