-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Studio Alam, Bulan Puasa dan Lebaran, Belajar Naik Sepeda

Sabtu, 13 Juli 2019 | 08:40 WIB Last Updated 2020-01-29T13:23:06Z
Studio Alam, Bulan Puasa dan Lebaran, Belajar Naik Sepeda
Ilustrasi: Abdijayastudio

STUDIO ALAM

Hari minggu adalah hari libur buat kami untuk main sepuasnya. Kami berencana ingin main ke Studio Alam tanpa naik mobil, tanpa bayar di loket, karena bila lewat Cikumpa kejauhan, padahal Studio Alam berbatasan dengan asrama Kujang, lahan tanahnya berdekatan.

Hanya dari rumah kami lumayan jauh ke barak paling bawah di ujung kawat berduri.

Aku ingat, ada lubang yang menganga di bawah kawat berduri, tanahnya gembur gampang di keduk sama tangan, kami segera ke sana ke sisi sebelah kiri, ada lubang cukup untuk masuk kepala orang dewasa.

Kami bergiliran masuk dengan hati-hati, takut kepala kami terkena tusukan kawat berduri. Akhirnya kamipun bisa menikmati Studio Alam tanpa bayar, tanpa jauh-jauh naik mobil, dekat dan seperti dapat rejeki nomplok.

Di Studio Alam, kami bersama-sama menikmati para artis "JENDELA RUMAH KITA" sedang shooting, setelah puas melihat-lihat artis, kami berpisah dengan teman laki-laki dan berpencar. Tinggallah kami yang perempuan jalan-jalan menikmati suasana taman di Studio Alam.

Di Studio Alam kami melihat pondok sepotong hanya depannya saja yang terlihat, ada kolam ikan yang luas, dan air mancur.

Yang paling menarik adalah sekumpulan pekerja seni, seperti membuat ornamen dan kerajinan tangan dari tanah liat, menghias sebuah guci, menghias patung-patung yang akan di pecahkan dalam film silat.

Rambut mereka gondrong dan tegap badannya, mereka adalah seniman dalam bidang pahat memahat, ada juga yang membuat gapura untuk pembatas sebuah kerajaan. Tangan mereka begitu terampil dan ahli dalam bidangnya. Mereka bekerja dalam diam.

Setelah puas berkeliling area Studio Alam, kami istirahat di sebuah pondok yang teduh, ada sawahnya dan kolam ikannya. Kami membawa bekal dari rumah dan makan bersama-sama.

Dan di sela break shooting kami minta tanda tangan para artis pemeran utama, mereka ramah dan baik hati, kami senang dan mereka menyambut kami dengan baik.

Keisengan kami muncul lagi, ketika ada sekumpulan anak laki-laki yang melambaikan tangan, kamipun pasang senyum dan melambai kepada mereka.

Sekumpulan anak laki-laki itu mendatangi kami, tetapi sebelum sampai ke dekat kami, kami semua lari sekencang-kencangnya. Dan menubruk para tentara yang sedang latihan perang-perangan.

Dengan nafas yang ngos-ngosan kami minta maaf kepada para tentara itu. Untungnya bapak-bapak tentara itu baik hati, kami tak sampai di marahi.

Akhirnya kami ngobrol dengan mereka, sambil melihat-lihat peralatan perang, ad pistol genggam, bedil laras panjang, pisau belati, kompas, dan lain-lain.

Kami berfoto bersama dengan bapak-bapak tentara, dan merekapun tahu bahwa kamipun anak-anak tentara. Akhirnya kami diantarkan pulang ke tempat semula ketika kami masuk ke Studio Alam.

Bapak tentara yang mengantarkan kami geleng-geleng kepala sambil tersenyum, melihat tingkah kami yang mengais tanah untuk masuk ke kolong kawat berduri.

Kami mengucapkan terima kasih pada bapak tentara yang baik hati itu. Dan kamipun pulang ke rumah masing-masing dengan wajah puas bermain.

Bandung Barat, 8 juli 2019

PERSAMI

Sudah menjadi kebiasaan setiap hari Sabtu kami anak-anak tentara, ikut kegiatan Pramuka. Kami semua anak-anak di asrama Kujang mengadakan Persami yaitu perkemahan sabtu minggu.

Dengan acara jurit malam keliling asrama untuk mencari jejak. Kami bergiliran menguji nyali berangkat sendiri-sendiri. Mencari apa yang di perintahkan ketua regu.

Ada yang di suruh mencari saputangan merah, topi coklat, peluit, juga surat wasiat. Aku kebagian mencari saputangan merah, aku sendiri berjalan keliling lapangan sesuai petunjuk.

Ketika aku sedang berjalan di semak-semak mencari saputangan merah, tiba-tiba kakiku ada yang memegang, dan di baik semak-semak muncul pocong, aku berteriak dan lari sekencang-kencangnya sampai ke tenda, ketua regu yang piket di tenda kaget melihatku ngos-ngosan. Aku di berinya minum dan tenang kembali.

Ketika kuceritakan, mereka yang ada di tenda tertawa terbahak-bahak, aku menjadi keki, ternyata itu pocong bohongan. Akhirnya aku mencari lagi lagi saputangan merah.

Dan lebih berani dari tadi. Dan akhirnya mendapatkan apa yang kucari. Saputangan merah ternyata di ikatkan di atas pohon beringin.

Malam semakin meriah ketika api sudah di nyalakan, nyalanya berkibar-kibar di tiup angin malam, semua regu harus menampilkan kebolehannya dalam pentas seni.

Aku ikut daftar dengan membaca puisi. Ada yang menyanyi solo, ada yang duet, ada juga yang koor. Yang paling seru ada pertunjukkan pencak silat yang diiringi gendang dan terompet. Seru sekali.

Dan malam semakin hangat, kebetulan di langit sedang purnama terang. Aku bisa berjalan-jalan tanpa menggunakan senter.

Ketika malam semakun larut dan kami kelelahan, dengan bergilir tiap jam kami piket menjaga tenda. Baru juga tidur satu jam, sudah dibangunkan untuk giliran piket.

Untungnya aku biasa begadang sampai pagi bila di rumah. Jadi tak ngantuk ketika kebagian giliran menjaga tenda.

Setelah ayam berkokok dan kumandang adzan subuh, kami semua pergi ke barak prajurit ke pemandian umum untuk para prajurit. Kamar mandinya tiap barak ada dua barisan panjang seperti gerbong kereta api.

Kami mandi bergiliran. Setelah mandi dan wudhu kami pergi ke mesjid yang ada di barak paling bawah di tengah, kami menunaikan salat subuh. Juga sarapan kami antri di kantin.

Setelah beres sarapan dan beres-beres di dalam tenda, harus mengikuti kegiatan nonton film di gedung aula , film tentang sejarah angkatan darat.

Setelah serangkaian kegiatan beres, dan upacara penutupan. Kamipun pulang ke rumah masing masing.

Bandung Barat, 8 juli 2019

BULAN PUASA DAN LEBARAN

Ketika bulan puasa tiba, kami di barak bintara banyak acara yang harus  di laksanakan, yaitu taraweh ke masjid yang di barak bawah.

Setelah taraweh beres, mengadakan obor malam memakai truk mercy keliling sampai ke Depok, juga ada bedug yang di pukul sepanjang perjalanan.

Juga mengadakan santunan kepada anak yatim, ibu-ibu tua, janda, dengan membagikan uang dan makanan. Terkadang kami keliling asrama membawa obor dengan iring-iringan yang meriah.

Siang harinya kami gunakan bermain kartu, atau permainan yang tidak menguras tenaga.  Kami libur sebulan selama bulan puasa.

Terkadang aku membaca novel anak-anak, yang seru adalah seri petualangan, karena aku kutu buku, liburan adalah bagiku banyak membaca buku, seperti majalah bobo, komik Mahabharata, Ramayana, dan yang lainnya.

Ketika mendekati mau lebaran, kami sekeluarga dan semua orang di barak kami membuat kue lebaran, seperti kue bolu, kue semprit, dan lain-lain.

Dan waktu tak terasa begitu cepatnya, sehingga sampai mendekati lebaran, dua hari sebelum lebaran keluargaku membuat tumis lebaran dan berbagi ke semua tetangga di barak kami.

Kami anak-anak, tak pernah membeli baju lebaran, karena ibuku seorang penjahit, banyak kain yang bisa di buat baju beraneka rupa setelannya.

Ibuku orang yang kreatif, dengan kain sisa, bisa punya baju dua setel dari empat anak perempuan dan tiga anak laki-laki, karena ibuku punya bayi laki-laki yang ke tujuh, yaitu si bungsu.

Otomatis ibuku ekstra kerja keras siang malam menjahit baju pesanan, aku senang membantu memasang kancing baju, atau ngesom kain.

Baju lebaran kami bagus-bagus tak kalah dengan baju yang di toko, karena ibuku pandai memadu padankan kain untuk model baju, seperti atasan kuning, bawahannya oren, atau sebaliknya.

Semua baju kami meriah dan gaya, semua orang matanya tertuju kepada baju kami yang gaya ketika kami pakai di waktu lebaran.

Ketika lebaran tiba, kami salat idul fitri di lapangan, membawa koran untuk alas sajadah, dan lapangan sudah di beri tanda dengan tali rapia warna warni untuk pembatas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki di bagian depan, sedangkan perempuan di bagian belakang.

Pulang salat idul fitri, semua orang bersilaturahmi ke rumah atasan ayahku, yaitu DANYON Bapak Bambang Sumbodo, putrinya Friska adalah teman main kami anak-anak barakan bintara.

DANYON kami orangnya baik dan ramah, mereka adalah keluarga berada. Tetapi mengayomi semua prajurit. Semua keluarga di beri jatah bila anak-anaknya yang laki-laki sudah dewasa ada jatah untuk dua orang menjadi tentara, gratis, tidak bayar.

Kami di rumahnya di suguhi makan ketupat dan aneka penganan lebaran. Sambil di ciumi pipi kami anak-anak semuanya dan di beri angpau, lumayan untuk jajan.

Sorenya, semua orang kumpul di aula untuk halal bilhalal, sambil prasmanan, banyak sekali makanan yang di hidangkan di meja panjang sebelah kiri, dan makanan ringan di sebelah kanan. Semua senang dan bahagia penuh dengan kekeluargaan.

Kebiasaan di asrama Kujang, bila lebaran hari ke dua, di sediakan mobil truk mercy yang besar dan tinggi, untuk piknik selama seminggu ke berbagai tempat.

Kami tinggal pilih mau ke mana pikniknya. Semua mobil sudah di tulisi di depan kaca dekat sopir, ada yang ke Taman Mini lndonesia lndah, ke Ancol, Ke Kebun Raya Bogor, ke Ci bubur Taman bunga, ke kebun binatang, ke Pangandaran, ke Musium Satria Mandala. Kita tinggal pilih dan naik mobil.

Hari pertama piknik kami pergi ke TMII di Jakarta, di TMII banyak rumah adat, cocok buat kami anak-anak, ada nilai plusnya, banyak pelajaran yang kami ambil dengan melihat-lihat anjungan di TMII.

Hari kedua kami pergi ke Musium Satria Mandala di Jakarta, di sana kami melihat banyak ilmu yang di dapat, mengenal seragam TNI dan pangkatnya, yang di kenakan patung maniken, dan bantak sejarah yang kami ambil dan poto untuk pelajaran, juga diorama tentang manusia purba dan diorama masa perang di lndonesia.

Hari ke tiga kami piknik ke Ancol, di sana kami berenang di tempat yang dangkal dan semua permainan kami naiki karena tangan kami di cap, jadi bisa naik ke semua permainan.

Hari ke empat kami piknik ke kebun binatang Bandung, di sana pengetahuan kami bertambah dengan mengenal semua binatang dari seluruh nusantara.

Hari ke lima ke Pangandaran, di sana kami mengenal laut luas dengan deburan ombaknya yang besar, semua tukang cendera mata berkeliaran menjajakan dagangannya.

Kami membeli kaos Pangandaran dari hasil angpau yang semua orang beri kepada kami, karena lebaran di asrama  kami berbaris di ciumi pipi kiri kanan, dan di beri angpau, yang lumayan untuk jajan.

Hari ke enam kami sekeluarga piknik ke Kebun Raya Bogor, di sana kami mengenal berbagai pohon purba, beraneka macam pohon dan tumbuhan, sebagai primadona Kebun Raya Bogor yang terkenal adalah bunga bangkai yang sangat besar dan baunya seperti bau bangkai, warnanya ungu putih, juga melihat kolam besar dengan tumbuhan daun teratai raksasa, indah di pandang.

Dan jajanan beraneka penganan ada di sana,  juga cendera mata yang unik dari akar kayu bagus dan alami.

Dan berkelilung ke makam Belanda, juga ada makam keluarga Prabu Siliwangi, di tengah-tengah hutan Kebun Raya. Pulangnya kami membeli talas Bogor yang terkenal enak dan pulen.

Hari ke tujuh kami piknik ke Cibubur ke taman bunga, di sana banyak bunga aneka warna, semua tanaman bunga yang belum kami kenal ada di sana, sedap di pandang, memanjakan mata apalagi bila dekat air mancurnya...wahhh kami paling suka bermain air dengan teman-teman.

Selama seminggu kami sebatalyon kenyang piknik, ke berbagai tempat yang bisa di ambil pelajarannya dan menambah pengetahuan  kami semua yang kami lihat.

Bandung Barat, 9 juli 2019

BELAJAR NAIK SEPEDA

Kining...klining....klining....suara bel sepeda tua dan yang mengayuhnya juga sudah renta. Bapak tua penjual abu gosok, setiap pagi keliling asrama, dan mangkalnya selalu di depan rumahku.

Ibu-ibu di barakan kami semua memborong abu gosok untuk cuci piring, dan kami anak-anaknya selalu iseng, mencoba sepeda ontel tua karatan yang catnya sudah mengelupas, dan menjadi hitam karatan.

Bapak tua penjual abu gosok orangnya baik dan ramah. Beliau tidak marah, bila setiap pagi sepedanya di gilir anak-anak yang iseng ingin belajar sepeda.

Walaupun sepedanya tua namun masih kuat di kayuh oleh anak-anak setiap hari, sampai kami bisa naik sepeda.

Ibuku selalu mempersilahkan siapapun orangnya, kami sekeluaga tidak mengenal kasta, dan tidak membeda-bedakan orang dari keadaannya. Karena kita sama di mata Tuhan, adalah manusia yang punya hati, begitu selalu ibuku berkata.

Biasanya yang tinggal di asrama sebagian hidup penuh persaingan, dan saling panas memanasi satu sama lain dari berbagai hal.

Tapi Alhamdulillah, di barak kami barakan bintara, walaupun anak-anaknya banyak, seperti gang kelinci, kami kompak dan kekeluargaan kami umumnya erat tali persaudaraannya, bila yang satu sakit yang lainpun merasakannya.

Bila yang lain senang semua ikut senang. Sebadung-badungnya kami, kami bersyukur punya orang tua baik dan pengertian, walaupun ayahku seorang militer, kami bebas berpendapat, toleransinya tinggi, dan demokratis.

Ibuku sering memberi makan bapak tua penjual abu gosok, sambil menunggu sepedanya di pakai oleh anak-anak. Dan daganganpun laris, karena sambil belajar sepeda, anak-anak menjajakan abu gosok pak tua, sampai habis.

Pak tua senang dagangannya setiap hari habis, dan anak-anakpun senang setiap hari bergiliran mengayuh sepeda sampai lancar.

Kami semua merasa bahagia bisa mengayuh sepeda. Berkat pak tua yang baik hati, walaupun kami badung-badung, kami masih punya sisi nurani untuk si papa.

Kami membantu pak tua untuk menjajakan abu gosoknya, kasihan pak tua agar bisa istirahat.

Pak tuapun bahagia, kami seperti punya kakek yang baik hati dan pengertian. Kami menjadi akrab. Sampai suatu hari pak tua tidak berjualan lagi, sehari, dua hari, sampai sebulan, kami tak berjumpa lagi dengan pak tua, kami rindu pada pak tua.

Menurut informasi, katanya pak tua sudah meninggal.Kami sangat sedih mendengar beritanya. Berkat pak tua, kami bisa mengayuh sepeda, akhirnya kami punya seleda sendiri. Selamat jalan pak tua, semoga amal ibadahnya di terima di sisi-Nya. 

Bandung Barat, 9 juli 2019

Ilustrasi diambil dari pinturamariareis.blogspot.com
×
Berita Terbaru Update