-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

TELAGA, PASIR PEUTI, PASIR MENTENG, CILOK, ARTI SEBUAH MIMPI

Rabu, 03 Juli 2019 | 23:43 WIB Last Updated 2019-12-07T01:20:12Z
TELAGA, PASIR PEUTI, PASIR MENTENG, CILOK, ARTI SEBUAH MIMPI


TELAGA

Terik sang mentari pada kemarau, tanah berdebu, angin kencang menerbangkan ilalang kering sepanjang jalan mendaki, melalui jalan setapak yang banyak kelokan.

Aku, Ai Mila, Ai Riska, Yuli dan Shinta, membawa tongkat bambu untuk mendaki sedikit ke pinggiran bukit bambu.

Sambil mengambil anggur hutan hitam kecil di sepanjang jalan setapak, lalu di makan, rasanya manis, dan banyak tumbuh di tanah yang agak curam yang bisa di makan sepanjang jalan.

Seperti sang pengelana, kami mendaki, menurun, berbelok, mengikuti kelokan jalan setapak. Juga banyak tumbuhan cecenet yang sudah kuning, rasanya masam.

Semua tumbuhan hutan banyak dan marak, kebetulan semuanya sedang berbuah dan matang, untungnya kami tak menemukan binatang melata satupun, hanya semut api yang hitam, bila menggigit kulit kaki atau tangan akan terasa panas, perih dan bengkak.

Talaga atau telaga tempat mangkal para petani di tengah hutan. Mereka membuat gubuk di tengah hutan, ada sawah, kolam ikan, dan palawija beraneka macam di tanam di huma atau ladang.

Aku begitu takjub melihat sekeliling talaga, gemercik air dari pancuran bambu terasa sejuk mengalir tak henti-hentinya.

Di kolam ikan banyak tutut atau keong sawah, yaitu semacam keong hitam kecil, bagus untuk yang punya penyakit cacingan.

Ada kangkung di pinggiran kolamnya, genjer juga ada, semua tanaman sayuran seperti terung ungu, terung bulat putih yang manis, kacang panjang, semua serba ada, memanjakan mata, dan membuat gatal tanganku ingin memetiknya.

Gubuk para petani rata-rata berjauhan dalam jarak setengah kilo perjalanan ke gubuk yang lainnya. Mereka biasanya pulang bila sudah dua minggu ke rumahnya, ada juga yang menetap di sana sampai padi menguning dan siap di panen.

Mereka adalah petani yang rajin dan tak mengenal lelah. Mereka betah dengan kehidupannya sebagai petani, terlihat dari wajah-wajah yang sederhana dan ramah.

Aku dan anak-anak sampai ke gubuk mami, yaitu neneknya Ai Mila. Kami disambut wajah ramah, betapa betahnya diam di sini, alamnya hening, sejuk, jauh dari polusi udara, pikiranku menjadi tenang, angin sepoi-sepoi membuat mataku menjadi ngantuk. Rasanya seperti di dunia yang indah, serba hijau, penuh aneka dedaunan.

Aku memperkenalkan diri sama neneknya Ai Mila. "Kebetulan nasi sudah matang, Ai, ambil ya makanannya, yuk kita sekalian makan!"

Mami berkata sambil menyuguhkan kami sebakul nasi merah pulen yang masih hangat, Ai Mila membawakan pesmol ikan mas, tutut yang sudah digoreng, juga tutut yang direbus, ikan asin tawes, belut dendeng, sambal terasi, dan lalapan, ada terung, leunca, kamandilan, tespong, juga cah kangkung.

Kami makan dengan lahap dan nikmat, karena seharian berjalan jauh mendaki dan menuruni punggung bukit bambu, lelah seharian, dan perjalanan ke talaga jaraknya dua kilo meter. Lumayan membuat kakiku pegal-pegal.

"Bu, kita ke tegalan yuk!" Kata Ai Mila, sambil membawa karung.
"Ayo!" Kataku, penasaran apa tegalan itu. Sesampai di sana, aku melihat lima kotak tegalan yang luas, aku yang tak tahu apa-apa, hanya melihat banyak rumput dan ilalang.

Tetapi Ai Mila berbeda lagi penglihatannya. "Mau apa ke sini, Ai?" Kataku, tak mengerti, mengapa Ai Mila mengajakku ke tegalan.

"Ibu belum tahu ya!" Kata Ai Riska. "Ini kan seribu satu macam lalapan, ibu!" Kata Shinta, sambil menunjuk semua tanaman yang ada di tegalan. "Coba ibu perhatikan, yang bunganya kuning kecil ini dan panjang tangkainya, ini namanya kamandilan!" Kata Ai Mila.

"Ooooh!" Kataku, baru mengerti, selama hidupku, aku belum pernah melihat begitu banyak lalap-lalapan yang bisa dimakan. Karena dulu hidupku dihabiskan di barak tentara.di asrama.

Setelah Ai Mila menjelaskan semuanya, aku baru semangat ikut memetik lalap-lalapan. Ada kamandilan, antanan kecil, antanan besar, tespong, jotang, sintrong, dan lain-lain yang kulupa namanya.

Akhirnya, karung putih bekas beras, penuh oleh lalap-lalapan. Rasanya ada keasyikkan tersendiri, bermain dengan anak-anak, banyak pengalaman yang belum pernah kubayangkan sebelumnya dan kualami.

Satu karung penuh dengan aneka macam lalap-lalapan, yang satu karung lagi ada beras, ikan mas, belut, tutut, dan sayuran. Anak-anak itu walaupun badannya kecil-kecil tetapi kuat berjalan dan kuat memanggul karung. Sedangkan aku, membawa diriku saja sudah ngos-ngosan, kelelahan.

Aku dan anak-anak berpamitan pulang pada mami neneknya Ai Mila yang sudah repot-repot menjamu kami dengan sajian makanan yang begitu nikmat dan tak akan kulupakan, walau sampai kapanpun kebaikannya.

Bandung Barat, 3 juli 2019

PASIR PEUTI

Aku dan anak-anak yang sepuluh orang beriringan konvoi seperti pasukan yang akan menyerbu hutan, ketika itu langit berwarna biru, dan awan putih berarak, pada kemarau yang kering.

Di sepanjang jalan setapak, semua ilalang dan rumput yang kuinjak kuning layu seperti pesakitan, dan terik matahari begitu panas terasa pada wajahku dan wajah anak-anak yang berkeringat.

Mendaki dan menuruni punggung bukit adalah sesuatu yang tidak mudah bagiku, bila aku masih kanak-kanak mungkin ingin menangis, tak kuat melalui medannya yang curam dan terjal.

Ketika menaiki bukit aku harus merayap memegangi akar, agar bisa naik ke atas puncaknya, dengan menahan beban badan, dan ketika menuruni bukit, kakiku harus di selonjorkan lurus, seperti orang mau terjun, karena melalui tanah yang kering dan merah akan mudah meluncur sampai bawah.

Itu baru melalui satu bukit, dan merasa lega sedikit ketika menapaki langkah di jalan setapak di lembah.

Dan begitu pula ketika mendaki bukit yang kedua, membuat nafasku terasa sesak, tak terbayang olehku perjalanan seperti ini.

Bagi anak-anak, mereka sudah terbiasa, mereka menikmati suatu permainan yang menggembirakan, mereka tertawa-tawa, tiada lelahnya, sedangkan aku tersenyum kecut, terasa menyiksa, seperti latihan fisik sewaktu ikut jurit malam dalam kepramukaan.

Dengan perasaan lega, sampailah kami ke tempat yang di tuju, yaitu menengok murid kelas lima yang sakit, anak-anak mengajak aku untuk ikut menengok temannya yang sakit, dan tak terbayang perjalanan ke rumahnya, medannya sangat sulit.

Aku berpikir, mereka tetap semangat pergi ke sekolah dengan medan seperti itu, tak terasa air mataku menitik, dan anak-anak yang sehat, karena terlatih melalui perjalanan yang tak mudah bagiku untuk melaluinya.

Rumah temannya Eka ada di atas bukit, aku takjub dengan rumahnya yang memakai keramik di dindingnya, bagaimana mungkin mereka mengangkut bahan bangunan seperti semen, keramik dan lain-lain, sedangkan pasir dan batu, kayu, sudah tersedia.

Pasir Peuti adalah gudangnya penghasil batu-batu besar dan pasir, karena sebagian besar bukitnya banyak batu dan pasir.

Tak heran, di sepanjang jalan raya banyak pabrik-pabrik keramik, cendera mata dari batu yang indah-indah. Mungkin bila aku membangun rumah di atas bukit pasti menggunakan jasa helikopter, dalam khayalanku.

Pasir Peuti adalah penghasil kerajinan coet dan ulekan, alu batu, kipas bambu untuk mengipasi nasi.
Akupun pernah di beri coet dwi fungsi atas bawah bisa di pakai, yang bawah kecil lingkarannya, dan yang atas besar lingkarannya.

Juga penghasil sapu ijuk yang kuat ikatannya dan awet.
Gula arenpun terkenal enak dan asli buatan warga Pasir Peuti.

Dan bila anak-anak ada pelajaran prakarya tentang kerajinan tangan di sekolah, mereka ada yang membuat asbak dari batu, ulekan kecil, lumpang kecil, dan alunya, kipas kayu, parutan kelapa dari bahan limbah kaleng khongguan dan kayu, atau berbagai bentuk binatang dari batu yang lucu, dan sebagainya.

Aku dan anak-anak masuk ke rumah temannya Yudi yang sudah kelas lima, dan aku di perkenalkan anak-anak kepada orang tuanya, bahwa aku adalah guru baru di SDN MEKARSARI SELAJAMBE.

Orang tuanya begitu ramah menyambut kami yang masih ngos-ngosan nafasnya karena lelah selama di perjalanan.

Kami disuguhi beraneka macam penganan dari pisang tanduk, pisang ambon, pisang uli, kue bolu, tengteng ketan, tape uli, dan makanan yang lain yang aku masih asing namanya.

Anak-anak begitu semangat mungkin karena lelah dan lapar, aku hanya tersenyum melihat mereka makan dengan semangat.

"Ibu, ayo dimakan, jangan bengong saja!" Kata Yudi menggodaku, hanya Yudi yang banyak tersenyum dan banyak melucu. Akupun kaget dan tersenyum. Melihat tingkah mereka.

Kamipun disuguhi makan nasi pulen hangat, semur jengkol, sambal goreng pete, kerupuk dan ikan asin.

Rasanya Yaa Allah nikmat mana pula yang Engkau berikan pada kami, aku bersyukur anak-anak baik padaku dan akupun dekat dengan orang tuanya.

Ketika pamitan pulang kami diberi semua penganan untuk oleh-oleh di jalan, katanya, bila lapar ada makanan yang akan di makan.

"Bu, kita kayak yanh mau seserahan ke pengantin ya!" Kata Yudi sambil tertawa-tawa. Anak-anak yang lainpun ramai tertawa karena banyak sekali bawaannya.

"Iya, ibu pengantinnya!" Kata Adi, menggodaku sambil nyengir. "Husss...jangan begitu, pamali!" Kataku, sambil tertawa pula.

Melihat tingkah mereka dengan cara membawa makanannya seperti orang yang mau seserahan. Lucu. Dan menggemaskan.

Tak terbayang pulangnya membawa semua penganan yaitu pisang tanduk besar satu turuy, yang membawa dua orang Eka dan Yudi, sedangkan yang perempuan membawa kantong keresek isinya kue bolu, tengteng, opak, dan singkong panjang besar, Adi yang bawa.

Mereka bergotong royong memakai rancatan bambu semacam yanggungan untuk membawa makanan.

"Ibu tak usah bawa apa-apa ya!" Kata Adi, karena dia tahu, aku membawa diri sendiri saja sudah ngos-ngosan.

"Terima kasih anak-anak!" Kataku, terharu dengan perhatian mereka padaku.
Kamipun pulang dengan mendaki dan menuruni dua bukit, sampai ke rumah, aku menamgis, anak-anak kaget.

"Ibu, kenapa menangis?" Serentak anak-anak bertanya.
Yang aku bayangkan mendaki dan menuruni dua bukit jaraknya ada dua kilo setengah, menempuh ke sekolah, sedangkan aku mengajar kelas satu dan kelas dua, tak terbayang anak-anak sekecil itu, tak memgeluh dan semangat pergi ke sekolah.

"Anak-anak, ibu bangga pada kalian semua, walau jarak sejauh apapun, kalian tetap sekolah!" Kataku, sambil menangis.

Begitu besar pengorbanan mereka hanya untuk menuntut ilmu. Tak mengenal jarak dan waktu. Aku bangfa pada kalian, semoga Allah memberikan kesehatan untuk kalian semua. Ammiinnn....

Bandung Barat, 3 juli 2019

PASIR MENTENG

Jalan setapak di bukit bambu masih basah, sisa hujan semalam.
Sabtu pagi anak-anak semua memakai baju olah raga, Kepala Sekolah beserta guru-guru juga tak ketinggalan, menggiring anak-anak ke bukit.

Mendaki dan menuruni bukit, sudah biasa bagi anak-anak.
Mereka berjalan dengan cepat, berlomba mendaki dan menuruni bukit, mereka senang dan gembira konvoi berbaris rapi sepanjang punggung bukit.

Aku berjalan paling belakang, karena jalanan basah dan licin, kalau tak hati-hati akan terpeleset.

Setelah sampai di puncak bukit Pasir Menteng, kulihat sekelilingnya begitu indah pemandangan Cikande, ada setu atau telaga, anak-anak bilang itu adalah laut.

Keindahannya laksana manik-manik hijau di antara air yang biru, berkilauan terkena sinar matahari.
Sejauh mata memandang, begitu asri, hijau, dan sejuk .
Aku begitu takjub semua menghampar indah.

"Ayo semua kita bikin nasi liwet!" Kepala Sekolah memerintahkan semua membuat nasi liwet yang di tumpangi ikan asin, bahan sambal, jengkol dan petai yang di tutup daun pisang.
Aromanya begitu wangi.

Anak-anak sibuk membuat nasi liwet beberapa kastrol.
Aroma puncak bukit berpadu dengan aroma nasi liwet, rasanya sangat membuatku lapar.
"Nasi liwetnya sudah pada matang!" Kata anak-anak serentak.
"Yuk kita makan!" Katanya lagi.

Anak-anak menghamparkan beberapa lembar daun pisang, kami semua membentuk lingkaran, melingkari daun pisang yang di isi nasi liwet, dan makan dengan lahap.

Terlihat dari wajah polos anak-anak, mereka begitu suka cita, rasanya begitu nikmat makan nasi liwet beralaskan daun pisang bersama semilir angin gunung.

Setelah selesai makan, mereka semua membentuk barisan, laki-laki dan perempuan di pisah.
Semua guru memberi perintah untuk tugas laki-laki, untuk mencari tanaman obat di sekitar gunung.

Dan tugas untuk perempuan mencari bunga-bunga yang tumbuh di sekitar gunung.
Merekapun berpencar sesuai tugas masing-masing.

Aku menikmati aroma rerumputan begitu segar sambil menunggu anak-anak selesai dengan tugasnya.

Mereka dengan sigap tak memakan waktu dua puluh menit untuk menyelesaikan tugas.
Aku begitu takjub setelah mereka membacakan satu persatu nama-nama tanaman obat dan nama bunga yang ada di sekitar punggung gunung dan manfaatnya.

Anak-anak itu cukup handal dengan pengetahuan di sekitar gunung, juga jago dalam lari marathon.
Rata-rata badan mereka kuat-kuat dan sehat.

Jarang ada yang sakit.
Dalam jarak tempuh dari rumah mereka ke sekolah ada kurang lebih dua kilo setengah, tak terbayangkan bila hujan.

Setelah puas menikmati pemandangan sekitar pegunungan, kamipun pulang dengan membawa segala manfaat yang di temukan di sekitar gunung.
Itulah kenangan indah yang tak bisa kulupakan bersama anak-anak.

Bandung Barat, 3 juli 2019

CILOK

Untuk mengisi waktu senggang kami bersebelas main ke Cihalimun, iseng ingin jalan-jalan mencari suasana baru, dan jenuh di rumah seharian di hari libur.

Cihalimun adalah penghasil gula aren, tepung singkong dan tepung sagu.
Aku dan sepeluh anak-anak, iseng ingin membuat cilok, cilok itu dalam bahasa sunda singkatan dari aci di colok.

Yaitu campuran tepung sagu dan tepung singkong yang di beri bumbu rempah-rempah, di bulat-bulat seperti membuat bakso lalu di rebus .

Dan untuk membuat sambalnya yaitu dari sangrai kacang kulit yang di tumbuk dan di beri bumbu pecel.

Aku dan anak-anak membuat percobaan cara membuat cilok, setelah adonan di kukus, lalu kami beri bumbu sambal.

Yang pertama mencicipi penganan cilok anak yang bernama Shinta, kulitnya putih, cantik, rambutnya panjang hitam lebat, badannya agak besar, dan giginya seperti gigi kelinci besar-besar.

"Ibuuuu....!" Katanya, sambil nyengir, tangannya memegang cilok yang ada giginya yang besar, menempel pada cilok.

"Kenapa?" Kataku, sedikit kaget, semua anak malah tertawa terbahak-bahak.
"Ciloknya keras, gigi Shita copot!" Katanya, sambil memperlihatkan cilok yang ada giginya.

Aku juga kasihan dan ingin tertawa seperti anak-anak, hanya mulutku mesem saja, takut menangis, dan kucoba ciloknya, ternyata ciloknya memang keras.

"Wahhh, ibu mah gatot!" Kata Ai Riska, sambil nyengir.
"Apa itu gatot?" Kataku, tak mengerti apa yang di ucapkan Ai Riska.

"Gatot itu gagal total, ibuuuu....!" Serentak anak-anak koor seperti paduan suara.
"Oooohhh...ituuu!" Kataku, baru mengerti, dan tak kuat aku tertawa bersama anak-anak.

Cilok yang sebelumnya di kukus, aku ubah dengan di rebus, setelah mengapung di permukasn air yang mendidih, lalu aku angkat dan kucampurkan dengan adonan sambal kacang, setelah anak-anak mencicipi, barulah mereka mengacungkan jempol, pertanda sukses membuat cilok.

Itulah kenangan manis cara membuat cilok tanpa ilmu.
Dan Shintapun mau menjajakan cilok buatanku di sekolah dan laris manis.

Shinta anaknya berbakat untuk menjadi pedagang.
Dan kenangan itu melekat sampai sekarang.
Bila ingat dengan Shinta dan giginya yang copot.

Bandung Barat, 3 juli 2019

BAKSO DAN PERTUNJUKKAN WAYANG

Di Cihalimun ada pernikahan, biasanya ramai dengan segala pertunjukkan, yang terkenal yaitu wayang golek.

Seumur hidupku baru satu kali menonton pertunjukkan wayang golek, ketika aku kelas lima sekolah dasar, yang di adakan di asrama Kujang l Cilodong, dengan dalangnya Asep Sunandar.

Akupun di undang ke pernikahan penduduk setempat di Cihalimun semuanya ramah dan baik hati.

Aku dan anak-anak merencanakan dagang bakso di sana, kami bersiap-siap, ada yang mengangkut meja, kursi, juga gerobak bakso.

Dari pukul dua siang sudah standby di atas kiri gundukkan tanah yang tinggi, tapi sudah dua jam tak satupun yang membeli bakso.

Kami tak habis pikir, ada apa? Apa ada yang salah?
Aku memutar otak, bagaimana caranya agar dagangan laris.

Filingku mengatakan, aku harus mencoba pindah ke bawah sisi sebelah kanan di seberang jalan, dan kucoba peruntungan, kami angkut-angkut lagi semuanya.

Baru juga duduk, pembeli sudah banyak yang antri.
"Wah, filing ibu hebat!" Yudi mengacungkan jempolnya padaku sambil nyengir.

"Pasti ada magicnya ya bu!" Kata Adi menimpali perkataan Yudi.
"Ah, cuma peruntungan saja atuh!" Kataku, sambil tertawa.

Mereka walaupun suka jahil, hatinya baik, anak-anak itu periang, terkadang suka ngotot, dan berantem adu mulut, tapi tak lama, mereka baikan lagi. Mereka tetap kompak.
Dan sayang padaku.

Aku suka pada mereka, karena mereka mau menemani aku tiap malam, menginap.

Pertunjukkan wayang golek, tidak sembarang memainkan wayang, ada mantera-manteranya, terutama untuk para pedagang, semua pedagang rata larisnya, mungkin terbawa dengan aroma magisnya dari sang pawang.
Semua pedagang senang dagangannya habis.

Kami semua senang, pulang dengan dagangan yang habis manis tanjung kimpul, menurut orang Cihalimun.

Kami puas dan anak-anak senang walau lelah dan angkut-angkut lagi perabotan bakso.
Terimakasih anak-anak...

Eka, Yudi, Adi, Ai Mila, Ai Riska, Shinta, Ade, Yuli, Ai, Asep, dll, yang tak bisa di sebutkan.

Bandung Barat, 3 juli 201

ARTI SEBUAH MIMPI

Di Selajambe bila ada perhelatan pernikahan pasti ramai, ada pertunjukkan dangdut hiburannya.
Aku dan anak-anak mencoba peruntungan lagi dengan dagang bakso.

Siapa tahu beruntung seperti waktu ada pertunjukkan wayang.

Aku dan anak-anak sudah siap untuk memulai peruntungan.
Namun sampai pukul empat sore, tak satupun yang membeli baksoku.

Kami semua saling menatap dengan tatapan penuh tanda tanya.
Entah apa lagi yang akan terjadi.

Aku pamit dulu sama anak-anak ingin pulang dulu, ada yang tertinggal di rumah, mengambil air minum.

Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan Mak Uli, orangnya baik, wajahnya mirip orang Ambon, kulitnya hitam.

Mak Uli bertanya padaku, " mau ke mana neng guru?" Katanya, sambil memegang tanganku.
Aku bilang" mau ambil minuman", sambil menatap Mak Uli.

"Neng, sebaiknya jangan dagang bakso ya!" Katanya.
"Memangnya ada apa Mak?" Kataku , penasaran.

Mak Uli menjelaskan padaku, bahwa daganganku ada yang menjahilinya. Dia kasihan padaku, "pantesan!"

Kupikir lagi, aku baru ingat apa arti mimpiku semalam.
Walaupun aku tak percaya, karena aku terutama hatiku tak pernah punya rasa dengki pada orang lain.

"Mak Uli, semalam aku mimpi gerobak baksoku banyak darahnya!"
Mungkin itu arti dari mimpiku.

Pantesan daganganku tak laku dan tak seorangpun yang meliriknya, walaupun aku  tak percaya urusan magic, tapi itulah kenyataannya.

Mak Uli itu orang yang bisa nerawang seperti paranormal.
Bisa melihat dan merasakan aura orang yang berniat jahat.
Mak Uli orang yang baik hati padaku, sering memberi nasihat yang berguna.

Aku dan anak-anak akhirnya angkut-angkut lagi, semua perabotan.
Dan mungkin kali ini aku tak beruntung.

"Tak apa-apa," kataku dalam hati.
Aku ikhlaskan semuanya.
Karena Tuhanlah yang Maha pemberi rezeki.

Setelah ngobrol ngalir ngidul bersama Mak Uli, mataku baru terbuka.
Bahwa di daerahnya masih angker, dan perang magic masih kental.

Akupun merasakannya dari semua kejadian-kejadian yang tak terduga.
Seperti ada suara gamelan di tengah malam, suara berdehem yang berat, dan mangkok baksoku terbang, hiiiiyyyy...

Bandung Barat, 3 juli 2019

Foto ini hanya sebagai ilustrasi (Gambar diambil dari auliatravelmedan.com)
×
Berita Terbaru Update