-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Anak Kolong Semakin Seru

Senin, 08 Juli 2019 | 12:13 WIB Last Updated 2020-01-30T07:25:16Z
Anak Kolong Semakin Seru
Ilustrasi: Jalurmiliter

LEGOK BADUNG

Di pertigaan jalan asrama Kopur Linud, ada sungai di tengahnya seperti kolam, namanya Legok Badung. Kenapa disebut Legok Badung.

Karena saking bandelnya, tak bisa diapa-apakan, hanya memakan korban. Seperti kejadian sungainya akan diurug dan dibuat jalan tambahan, malah buldozernya terjungkal dan operatornya meninggal.

Walaupun sudah beribu kuncen memberi mantera dan jampi-jampinya, tidak mempan juga. Walaupun dengan tumbal kepala sapi tetap tak mau, para ustadpun turun tangan, tetap tak mau juga.

Pernah ada dua anak laki-laki memancing ikan di Legok Badung, ikannya dapat dua, yaitu ikan mas, setelah di goreng ikannya, dan besoknya dua anak itupun meninggal.

Dan ada para pemancing tiga orang bapak-bapak, hilang, dan ditemukan sudah mengambang di air tak bernyawa.

Ketika ada buldozer sedang istirahat, tiba-tiba buldozernya jalan-jalan sendiri di siang bolong, dan terjungkal ke dalam kolam Legok Badung. Mungkin saking badungnya, kolam itu tak mau diganggu oleh manusia.

Aku dan teman-temanku tak berani mendekati Legok Badung, walaupun kami juga badung, Legok Badung yang selalu minta korban, sudah bertahun-tahun Legok Badung itu susah untuk diurug. Mungkin saking badungnya, sekarang semua orang tak mau mendekatinya apalagi mengusiknya, nyawa taruhannya.

Mungkin juga sejak jaman nenek kita, Legok Badung susah diurusnya. Banyak juga yang uji nyali di sana.

Tetap saja, kalau tak mati, jadi sakit, atau ada yang gila. Entah ada apanya di dalam kolam Legok Badung tersebut, sampai-sampai orang banyak yang penasaran. Banyak yang ingin tahu kebenarannya. Dan tak ada yang kuat.

Hanya Tuhanlah yang tahu apa isinya, kita tak bisa mengganggu mahluk yang tak terlihat.Biarlah  seperti itu untuk selamanya.

Dan kita tidak mengganggunya, dan diapun tak akan mengganggu kita. Memang aneh tapi nyata dan itulah faktanya. Dan tidak sebadung kami anak-anak kolong.

Bandung Barat, 7 juli 2019

LAPANGAN KOPUR LINUD

Aku dan teman-teman jalan-jalan ke lapangan Kopur Linud yang lebih luas dari pada lapangan asrama Kujang.

Di pinggiran lapangan banyak tanaman peneduh seperti pohon karet. Dan buah karet yang bulat hitam selalu berjatuhan ke tanah lapang, kami memungutnya, dari rumah sudah persiapan membawa tas untuk wadah apa saja bila sudah di tempat yang di tuju.

Terkadang buah karet suka jadi mainan kelereng oleh anak laki-laki, berbeda dengan perempuan, buah karet dipungut sebanyak-banyaknya dan dibawa ke rumah, di rumah oleh ibuku diolah menjadi "dage" yaitu penganan untuk lauk makan nasi.

Cara mengolahnya gampang, yaitu buah karet digeprek kulitnya yang coklat dibuang, ambil buah yang putihnya direbus sampai empuk, kemudian diulek, dan diberi bumbu yang juga diulek seperti cabe rawit, bawang putih, bawang merah, kecombrang, kencur, gula merah, garam.

Lalu digoreng sampai matang. Pasti bila makan akan minta tambah lagi. Itulah "dage" olahan khas orang sunda.

Di lapangan tempur Kopur Linud, kami bermain lompat tali, balapan lari, dan bermain perang-perangan, dan aku selalu kebagian peran menjadi suster yang merawat orang yang luka kena tembak.

Pokoknya kami bermain puas sampai sore, dan sampai rumah kena marah orang tua, karena tidak ingat dengan waktu.

Masa kecil kami dihabiskan dengan bermain, terkadang aku dan teman-teman masuk ke barak prajurit, mengintip mereka, ada yang sedang melamun di pinggiran ranjang sambil menatap potret, ada yang sedang berkumpul bermain gitar, bila kepergok mengintip, kami dipelototin agar jangan mendekat.

Namun bila ada prajurit yang baik hati, mereka suka memberiku sebatang coklat besar, dan dimakan ramai-ramai, semuanya senang, terkadang juga suka diajak nyanyi dengan iringan gitarnya, atau membuat teka-teki yang harus ditebak.

Terkadang kami juga main di koperasi dan kantin makanan, di kantin yang bekerja ibu-ibu, mereka kenal dengan kami, mereka juga memberiku makan dan teman-teman dengan sayur daun singkong dan tempe juga ikan asin.

Kami juga suka membantu ibu-ibu cuci piring sebagai tanda terima kasih kami atas kebaikannya memberi kami makan. Dan kami mengucap syukur, sebadung-badungnya kami, kami tahu terima kasih.

Bandung Barat, 7 juli 2019

SEKOLAH

Setiap asrama mempunyai bis sekolah dengan ciri khasnya masing-masing. Karena sekolah ke SMP Cibinong jauh sekali, kami mempunyai angkutan anak sekolah berupa mobil truk mercy, yang panjangnya sedang dan tinggi, antar jemput setiap hari.

Semua di kesatuan masing-masing ada ciri tertentu dan kami saling ledek, meledek angkutan masing-masing.

Seperti angkutan Kopur Linud truknya super panjang, dan jadi ledekan dalam bentuk nyanyian yaitu "naik kereta truk panjang tut tut tut" itulah ledekannya.

Berbeda dengan jemputan Yon-In Para, adalah truk angkutan perang, mereka meledek "hayu perang-rang" itulah ledekannya.

Yang paling keren dari AURI, berupa bus mini warna biru, begitu WAH, terlihat elegan dengan warna birunya. Tetapi walaupun saling ledek kami bersahabat.

Kami dari kesatuan ada ciri khasnya, bila di Kujang kebanyakan orang sunda hampir 90 %, Kopur Linud 80 % orang jawa, Yon-In Para kebanyakan orang Jawa dan Menado, dan Palad 70 % orang sulawesi, di Brimob kebanyakan Jawa dan Ambon, Bek-Ang 60 % orang Bali.

Semua teman-temanku dari kesatuan berteman akrab, mereka baik hati. Karena Bhineka Tunggal Ika betul-betul diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kami berteman bisa barteran bahasa daerah, aku bergaul dengan mereka dari Sulawesi, Bali, Jawa, Ambon, semua sedikit-sedikit paham bahasa daerah mereka, merekapun paham bahasa sundaku.

Karena sekolah di Cibinong kebanyakan orang Tionghoa, walaupun begitu mereka tetap rukun, kami tak pernah bertengkar tentang masalah suku dan agama, kami saling menghormati, yang penting dalam berteman adalah rasa saling mengasihi sesama.

Terkadang aku suka diajak main sama Joyce ke gereja, hanya sebatas bermain saja di taman. Juga bila Made ngajak ke Pure, itu juga sebatas menikmati pemandangan indah. Mereka tak mempersoaljan suku dan agama, dan kami dalam berteman baik-baik saja.

Itulah indahnya perbedaan, beragam suku bangsa harus kita syukuri. Kita harus bangga hidup di lndonesia, yang beragam agama dan suku bangsa.

Indonesia kaya dengan kebudayaan, dan harus tetap dijaga pola saling asih, saling asah, saling asuh, dengan sesama.

Terkadang jemputan sekolah ada absennya juga, tanpa pemberitahuan, sehingga kami bingung, karena uang jajan habis.

Pernah suatu hari, jemputan tidak datang, kami semua jalan kaki dari Cibinong ke asrama Cilodong.

Dan pernah juga kami nyetop truk wahon, untungnya sopirnya baik, mereka tahu kami anak kolong, dan sopir yang baik hati itu mengantarkan kami pulang ke asrama dengan selamat.

Kami mengucapkan banyak terima kasih pada pak sopir. Para orang tua kamipun sama sangat berterima kasih pada sopir yang baik hati itu. Semoga Allah melimpahkan rejeki-Nya pada pak sopir....Amin...

Bandung Barat, 7 juli 2019

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Gambar diambil dari kamiindonesia.id
×
Berita Terbaru Update