-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEMAHAT TANAH, GUBUK PENCENG, INTERMEZO, BERANTEM

Selasa, 02 Juli 2019 | 03:25 WIB Last Updated 2019-12-07T02:06:02Z
MEMAHAT TANAH, GUBUK PENCENG, INTERMEZO, BERANTEM

Oleh: Mbahkungbuanergis Muryono

INTERMEZO

Dia bersenandung
Menggambar virtual
Menulis
Lalu bangkit bersama tangan lembut yang dibimbingnya.

Dancing
Menari
Menapak kiri
Menapak kanan
Melenggak atas
Melenggok bawah.

Aku terdiam
Ternganga.
"Kau serius?" tanyaku

Ia tersenyum
Tidak nyaman
Melepas pegangan tangan lelakinya yang masih erat memeluk pinggang.
"Intermezo saja di tengah padat kuliah."

Aku mengangguk-angguk
Memandang mereka
Balik kanan dan kembali menyiram, merawat tanaman dan tetumbuhan.
INTERNEZO

GUBUK PENCENG

Tumben
Bisa kupotret Rasi Bintang Gubuk Penceng
Masa kerja di sawah kian padat
Mengontrol tanaman
Menyiangi rumput

Matun
Ndangir
Mupuk
Memberantas hama
Memperbaiki pengairan
Mencegah ternak nakal yang dilepas liar.

Angin seperti berhenti bertiup sepertiku menahan napas
Melihat kembang-kembang kacang
Bunga-bunga palawija
Rumpun-rumpun padi
Jagung pun subur

Ada yang berdaun kuning akibat telat menerima air.
Aku duduk
Masih terpaku mengeja taburan bintang yang mengelilingi Rasi Bintang Gubuk Penceng.

BERAS

Beras bertaburan di lantai conblock
Anak-anak menebarkannya
Meniru para Jro Mangku yang melekatkan sejumput beras usai sembahyang di Pura.
Kupanggil mereka

Berbisik, "Jangan sia-siakan bahan makanan. Tidak boleh. Kecuali buat maturan sembahyang. Oke?"
Mereka mengangguk
Berlarian main kembali di masa libur panjang.
Kucari yang kuletakkan pada sisi meja
Sudah ada yang memungut

Aku masuk dan duduk bersandar
Mendengar canda dan cengkerama Burung Tekukur di pohon Intaran.
Dari lima hari terakhir
Mereka membangun saran
Berkembang-biak.
Terus bersyukur...

Angin sejuk
Meneduhkan jiwa
Ketika sejenak diam.
Diam

BERANTEM

Mengapa kau berantem
Masalah cowok.
Kenapa hampir tidak naik?
Minum arak di kelas.

"Apa ngerti? Kalau kalian anak-anakku kandung, jelas kukurung di kamar mandi dua hari tanpa makan.

Di kelas
Di sekolah
Tugas kalian belajar.
Biar pintar
Supaya bijak
Bukan berantem
Tidak tawuran
atau uji kekuatan menenggak minuman memabukkan."

Semua diam
Senyum kecut
Anak-anak remaja mau belajar acting, dikumbah dulu.

Dicuci jiwanya agar lapang.
"Sekarang
Bangkitlah
Tatap wajah kalian sendiri
Lihat tepat di antara alis.

Pandang
Mulai sebutkan nama kalian.
Ulang seribu kali dengan berbagai keadaan berbeda.
Nangis
Tawa
Senyum
Sedih
Teriak
Seruan
dan seterusnya.

Mulai!"
Mereka belajar
Supaya menjadi pribadi sejati
Tahu kekuatan dan kelemahannya
Melanjutkan jiwa adiluhung bangsa ini.
NKRI

MEMAHAT TANAH

Tanah-tanah terpahat
Sentuhan jiwa tergores di sana.
Seminggu ini kubersihkan dari pasir debu.
Kusiram
Kusapu
Kukuwas dengan seksama
Buat area tapak kecil anak-anak.

Berantakan....
Kurapikan ulang
Kusempurnakan pahatan
Supaya pemilik goresan punya wawasan
Pentingnya komunikasi dalam berkarya.

Kuaduk semen
Rongga-rongga tanah pahatan kutuangi adukan semen
Sebelum mengering kurapikan dengan kuas cat besar
Hasilnya di luar dugaan
Bagai pahatan batu alam tebing-tebing pegunungan.

Cukup
Melelahkan
Melegakan
Melihat hasil
Tanah pahatan

Tapi bukan untuk tapak permainan sebagaimana tujuan awalnya
Luapan jiwa yang menyimpan dimensi kreatifitas
Ketemu wadahnya
Mendapat wahananya
Terus berkarya
adalah semangat lapang jiwa
Welas Asih dasarnya.

Gambar diambil dari kumpulanpuisi-adakau.blogspot.com
×
Berita Terbaru Update