-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DI TINGGAL AYAH BERTUGAS, IBU?

Sabtu, 13 Juli 2019 | 09:35 WIB Last Updated 2020-01-30T06:51:34Z
DI TINGGAL AYAH BERTUGAS, IBU?

DI TINGGAL AYAH BERTUGAS

Inilah saat-saat yang menyedihkan kami anak-anak di barakan bintara, kami semua akan di tinggalkan ayah kami, untuk bertugas ke Timor Timur, untuk menjadi benteng negara.

Kami berkumpul di lapangan untuk mengantarkan ayah kami, yang sudah siap berangkat ke sana, dengan peralatan perangnya, dan ransel yang super besar, sudah numpuk tinggal di angkut naik helikopter hercules kapal perang.

Kami semua menangis, dan di peluk cium satu persatu, di pikiran kami, perang itu mungkin tak akan mengembalikan ayah kami lagi, karena ke sana adalah untuk mengantarkan nyawa, itulah pikiran kami anak-anak, dengan memeluk ayah kami yang akan berangkat.

Sebelum berangkat, kami di foto sambil berlinangan air mata. Di lapangan penuh ibu-ibu dan anak-anak yang menangis melepaskan ayah mereka yang akan pergi ke medan laga.

Rasanya dunia seperti akan runtuh, penuh isak tangis di mana-mana, kami harus merelakan ayah kami, mau tak mau, itulah resiko sebagai anak tentara.

Karena ayah bukan saja milik kami anak-anaknya, tetapi milik negara, yang harus patuh kepada Negara Kesatuan Republik lndonesia.

Satu persatu ayah mereka dan ayah kami di berangkatkan dengan kapal terbang, lapangan lengang, dan semua semakin kencang menangis.

Bagi kami, ayah kami adalah seorang panutan dan teladan di rumah kami, begitu baik kepada kami, tak pernah marah, sosok yang pendiam, tapi kami segan, walaupun kumis ayahku baplang seperti Si Pitung, dan menakutkan.

Tapi hatinya baik, di manapun ayah berada, tak pernah menyakiti ibuku, justru selalu membantu pekerjaan ibuku. Kesukaannya adalah mengepel lantai dan mengelap kaca jendela.

Aku ingat ketika masih di asrama di Bandung di Jalan Tongkeng, yang sekarang menjadi Jalan Aceh, waktu itu adikku yang nomor empat lahir, ayahku memandikan kami bertiga di barak wc umum.

Setelah di dandani ayahku, beliau memasak nasi dan sayur kangkung,  untuk di bawa ke rumah sakit Sari Ningsih, menengok ibu kami yang melahirkan.

Waktu itu ibuku tertawa melihat sayur kangkung pakai kunyit, tapi ayahku tidak marah, beliau ikut tertawa. Kami tahu, ayah kami paling baik sedunia.

Kini di asrama seperti tidak ada denyut kehidupan, semua ibu-ibu dan anak-anak seperti berkabung.
Di setiap barak yang terlihat wajah-wajah sedih. Tiap hari kami menangis kehilangan ayah kami.


Di asrama hanya ada penjaga pos yang patroli setiap hari, dan pegawai sipil yang ada. Di barak sipil ramai karena ayah mereka tidak di berangkatkan.
Hari-hari terasa sepi tidak ada ayah di rumah.

Semua mengurung diri, tak ada yang keluar malam karena takut.
Suasananya seperti mencekam.

Kami semua dapat surat dari Timor Timur sebulan sekali, kami sangat senang, semua berebut ingin membaca, bagaimana kabar ayah kami.

Syukur Alhamdulillah ayahku baik-baik saja, aku berdoa dalam hati, Yaa Allah lindungi ayah kami, beliau orang yang baik.
Ayah kami berpesan, agar kami baik-baik saja, jangan lupa belajar, katanya.

Ayah mengirim foto yang sedang jongkok dengan memegang burung beo, warnanya merah kuning dan hijau, indah sekali, ayahku memang suka piara burung, dan penyayang binatang. Berbeda denganku,  binatang takut sama aku bila aku mendekatinya.

Foto yang satu lagi sedang memegang burung kakaktua warna putih tulang, sangat besar, sepertinya sdmua binatang jinak di tangannya.

Ayah kami bercerita tentang anak laki-laki berumur empat tahun, yang di tinggalkan orang tuanya entah ke mana, rambutnya ikal, kulitnya hitam, kelihatannya lucu, dan ayah menirimkan foto anak kecil itu, namanya Andeu.

Setiap bulan ayah kami tak pernah telat mengirim surat dan foto, juga cerita tentang Timor Timur. Kami senang, surat dari ayah kami, adalah sesuatu yang menghibur kesepian kami. Semoga ayah cepat pulang. Dua tahun bukan waktu yang sebentar, rasanya seperti seratus tahun.

Dua kali lebaran tanpa ayah kami, hati kami terasa hampa, juga di lapangan semua ibu-ibu dan anak-anak banyak yang menagis, apalagi yang kehilangan ayahnya yang tertembak dan meninggal.
Jantung kami teraca copot, doa kami semoga ayah cepat pulang.
Sambil berlinangan air mata.

Bandung Barat, 9 Juli 2019

AYAH PULANG

Dua tahun sudah ayah berada di Timor Timur Dilli, tiba saatnya hari yang penuh debaran jantung kami.
Ayah akan pulang, kami semua senang, kasihan yang ayahnya meninggal di medan laga, mereka sedih dan menangisi kepulangannya.

Tiba hari H nya, kami berkumpul di lapangan untuk menyambut Sang Pahlawan.
Dengan hati yang berdebar-debar, kami menunggu kapal yang akan mengangkut semua pasukan.

Yang pertama datang adalah kompi A, sedangkan ayah kami dari kompi B, tiba helikopter yang ke dua, kami lihat-lihat apakah ada ayah kami di antara kerumunan, ternyata tak ada.
Semua orang ayahnya sudah tiba di antara keluarga masing-masing.

Kami tak menemukan ayah kami, entah di mana beliau, kami gelisah dan sudah ingin menangis saja, sambil kepala tengok sana tengok sini.

Dari belakang kami ada yang mengagetkan kami,   "Dorrrr!" Katanya, membuat kami yang sedang tegang begitu kaget setengah mati.

Yang mengagetkan kami seorang tentara yang rambutnya gondrong, kumisnya baplang dan panjang, kalau tidak membaca papan namanya, kami sudah akan marah, ternyata ayah kami, kami tak mengenali wajahnya yang semrawut itu.

Mungkin ayah ingin memberi kejutan pada kami. Kami langsung memeluknya, di serbu anak tujuh pasti kewalahan. Akhirnya kami terduduk di lapangan, menangis sambil tertawa.

Dari kompi A sampai kompi Markas, yang terakhir datang keranda mayat.
Kami tertegun dan ikut menangis ketika keranda mayat di kerumuni keluarganya.

Kami bersyukur pada Tuhan, karena ayahku selamat.
Dengan barang-barang yang begitu banyak, kami gotong royong membawa barang-barang ayah, sambil bercerita juga sambil menangis.

Sesampai di rumah, barang-barang ayah kami di bongkar semuanya.
Ayah membawa burung beo dan burung kakaktua     yang ada di foto.

Hanya anak kecil yang bernama Andeu yang tidak di bawa.
Ransel kecil isinya surat-surat kami yang di kirim ke Timor dan foto-foto kami sewaktu berangkat ke Timor.

Ransel yang besar isinya NATURA yaitu perbekalan kalengan , ada nasi kornet, sarden, kornet, permen, coklat, susu, kue biskuit, sayur-sayuran, sambal bajak, saos, kecap, dan lain-lain.
Ada sendok dan garfu khas Timor, kain tenun, dan misting beserta kompornya untuk masak.

Juga yang menarik adalah kaos oblong yang ada tulisan Timor Timur Dilli, semua kebagian satu orang satu kaos.

Aku kebagian yang kuning gading langsung kami pakai dan berbaris di foto bersama para tetangga. Mengabadikan kenang-kenangan pulang dari Timor.

Alangkah suka citanya kami setelah ayah pulang, dan banyak cerita tentang keadaan di Timor, seperti ingin durian, pohonnya langsung di tebang.

Sewaktu di hutan menemukan seekor sapi, lalu sapinya di potong rame-rame dan di buat dendeng, dan dendengnya di tinggalkan, tak boleh di bawa.

Juga cerita tentang temannya yang mau ke wc di hutan sambil bawa bedil laras panjang, ada yang bersuara, di tanya siapa itu, tidak di jawab, langsung di tembak, tak tahunya seekor kijang.

Seperti dapat rejeki nomplok. Dan banyak cerita yang asyik di dengarkan.
Ayahku seorang yang terbuka dengan keluarga, tak ada rahasia dalam hidupnya.

Dan ayahku adalah pelatih lapangan, banyak perwira yang baru datang dari Akademi Militer, yang datang ke rumah, mereka seperti saudara, menganggap ayah sebagai Father mereka.

Semua perwira yang datang di latih oleh ayah. Ayah bilang kepada kami, walaupun selalu memegang bedil laras panjang, belum pernah satupun peluru di tembakkan.

Apalagi membunuh musuh, belum pernah sekalipun.
Ayah tahu aku senang membaca, semua majalah di bawa dalam tas ranselnya, karena ingat sama aku yang kutu buku.

Ayah dan ibuku akan ke Purworejo mengantarkan keranda mayat alm Pak Kimplong yang meninggal di Timor.

Karena kami anak-anaknya sudah biasa di tinggal-tinggal, menjadi mandiri.
Di rumah walaupun ada tujuh orang, tetap terasa sepi, teman-temanpun di ajak nginep di rumah, baru rumah ramai lagi.

Ayah ibuku hanya tiga hari di Purworejo naik truk mercy.
Setelah pulang kembali ke rumah, banyak cerita di perjalanan, sewaktu mengantarkan keranda, di tengah jembatan kali Serayu, katanya mobilnya mogok.

Setelah di beri klakson baru bisa jalan kembali.
Pulang dari Purworejo, membawa oleh-oleh tiga karung, yang isinya jengkol, petai, durian, jagung dan rambutan.

Alhamdulillah, kami sekeluarga kumpul kembali.
Senang rasanya di rumah semua komplit.

Tak terbayangkan oleh kami, bagaimana kalau ayah tak ada.
Kami bergidik bila ingat ke sana.
Kami bersyukur Tuhan masih memberi umur panjang dan sehat pada ayahku.

Bandung Barat, 9 Juli 2019

SETU KALIBARU

Kami anak-anak barakan bintara senang berpetualang, menjelajah tiap pelosok, ada saja yang kami kerjakan, bila sedang libur hari minggu atau liburan sekolah.

Banyak daerah di Cilodong di ubek sampai ke kampung-kampung.
Seperti kami akan main ke Setu Kali Baru, masih kawasan Cilodong, hanya daerahnya masuk ke pelosok, jauh ke jalan raya, lumayan ada tiga kilo bila di tempuh dengan jalan kaki.

Setu Kali Baru adalah sebuah setu yang di manfaatkan penduduknya untuk menambak ikan, juga ada tempat pemancingan, bisa untuk berenang juga, lumayan dalam, ada sekitar tiga meter dalamnya.

Kami seperti pergi ke laut, karena di sana banyak pohon kelapa, berbaris sepanjang pinggiran setu.
Persis seperti di pantai.

Di Setu Kali Baru banyak teman-teman kami satu sekolah, dan guru kamipun tinggalnya di sana.
Teman kami yang paling akrab namanya Nurjanah, dia baik sekali, ibunya dulu seorang guru sekolah dasar, semenjak matanya buta, beliau pensiun dini, kata orang matanya ada yang menjahili secara halus.

Walaupun buta, beliau bisa merasakan kehadiran kami, orangnya baik dan ramah. Sepertinya orangnya sabar.

Kami heran, orang sebaik beliau, kenapa harus di jahili secara hslus?
Ayahnya Nurjanah seorang tentara, beliau juga baik dan ramah.
Keluarga Nurjanah taat dalam beribadah.
Kami sering berkunjung ke rumahnya untuk main.

Dan keluarganya juga senang di kunjungi kami yang selalu rombongan bila bepergian.
Kami di suguhi segala macam penganan.

Dan kamipun bermain-main ke Setu Kali Baru, rasanya adem, dengan angin yang mendesir seperti di pantai dan minum air kelapa muda ramai-ramai, asyik sekali.
Sambil bermain air, anak laki-laki semua berenang,  anak perempuan duduk-duduk sambil menonton mereka berenang.

Setelah puas bermain, kami mengunjungi ibu guru kami namanya bu Yati, orangnya cantik, putih, masih muda, dan ramah.
Kami senang mengunjunginya.

Kami di suguhi penganan  seperti tenteng ketan, dan kue bolu, di serbu langsung habis, itulah kami, bila di suguhi tidak malu-malu, langsung di makan dan habis.

Walau begitu lbu Yati senang di kunjungi kami yang konyol-konyol dan badung-badung tapi baik hati.

Dari rumah Bu Yati, kami mengunjungi guru kami yang satu lagi, bila di kelas beliau itu galak, tetapi kepada kami beliau ramah.

Pernah suatu hari, kami sekelas di suruh ke rumahnya, tak tahunya kami di suruh mengepel rumahnya, yang mengepel di pilih hanya orang-orang yang dari kampung saja, kami yang dari asrama tidak di pilih dan di suruh baca-baca koran di depan.

Kami semua tak suka di perlakukan seperti itu, seperti ada perbedaan yang menyolok, walaupun bukan kami yang di suruh mengepel, kami menjadi tak simpati padanya.

Walaupun kami badung-badung, tetapi melihat teman-teman kami di perlakukan seperti itu, kami tak terima, akhirnya kami turun tangan membantu teman-teman mengepel.

Setelah beres kami pulang, dan bercerita pada ayah tentang guru kami.
Kata ayah, kita harus belajar menghormati teman, sayang kepada yang muda, dan dopan kepada yang lebih tua.

Juga kata ayah, kita tidak boleh membeda-bedakan status sosial.
Kita anak tentara adalah manusia, orang-orang kampungpun juga manusia, apa bedanya? Kata ayah waktu itu.

Ayah menanamkan tentang sikap solidaritas dan saling menyayangi antar sesama manusia.
Binatang saja harus di sayang, tanamanpun harus di sayang, apalagi manusia.

Kami selalu ingat bila melihat guru kami yang satu ini.
Kini mungkin setelah kedatangan kami, guruku ini menjadi malu.
Padahal kami tak mempermalukannya.

Mungkin beliau insyaf dan malu kepada kami yang notabene badung-badung, tapi solidaritas kami tinggi, kami anak kolong, akan selalu siap bila ada yang kesusahan.
Dan kami akan membantu sekemampuan kami.

Bandung Barat, 10 Juli 2019

AYAH

Kami bangga punya orang tua seperti ayah, orangnya pendiam, jarang bicara, sayang kepada keluarga, tak pernah menyakiti ibu kami.

Walaupun ayah kami seorang militer, tetapi beliau tidak sewenang-wenang.
Beliau selalu berkata, status itu hanya titipan.

Beliau adalah panutan keluarga kami dan teladang di rumah kami.
Bila kami tak mau belajar, ayah bilang, "Lebih baik kamu jadi tukang beling, selalu mengais-ngais beling, tak berguna," begitu selalu beliau katakan.

Pernah suatu hari kami ngadu pada ayah, di cepret tangan oleh guru, karena tak mengerjakan PR, ayah malah menasehati, katanya" salah sendiri, coba kalau PR nya di kerjakan, guru takkan menghukum."
Semenjak itu kami tak mau lagi mengulangi perbuatan yang serupa.

Dan juga bila kami berkelahi atau bertengkar dengan teman, kami ngadu pada ayah, bukannya kami di bela oleh ayah, malah di marahi.

Katanya" bila di cubit, cubit lagi, bila di tonjok, tonjok lagi, lawan, jangan diam saja, dan jangan suka ngadu ke orang tua," itulah ayahku, cara mendidik kami agar mandiri, tidak tergantung pada orang tua, " asal jangan kita yang menyakiti orang lain," katanya.

Sewaktu ada pengemis ke rumah, ayah menyuruh ibu menyiapkan makanan dan pakaian untuk di bawa. Pengemis itu di suruh mandi dan berganti pakaian. Juga di beri makan sampai kenyang.

Katanya, kepada kami anak-anaknya,"kita harus mau membantu orang yang kesusahan, walaupun rejeki kita tak seberapa."

Kami, anak-anaknya tak pernah di sentil sekalipun, tak pernah menggunakan tangannya untuk menyakiti kami, bila kami bertanya kenapa?

Beliau menjawab, "anak-anak itu titipan, bila di pukul nanti ada yang marah," katanya.
Tetapi teman-teman kami pernah ada yang datang ke rumah sambil menangis, pipi dan tangannya pada biru, ayah memaggil orang tuanya, dan menasehatinya, katanya, "anak itu bukan samsak yang harus selalu di tinju, memangnya tak ada cara lain untuk mendidik anak," itulah beliau.

Maka tak heran ayah sering kedatangan tamu, aku ingat ketika di asrama Bandung, ada seorang ibu yang menangis dan ngadu pada ayah, mungkin masalah rumah tangganya, ayah menasehati suaminya.

Agar selalu sayang pada istri, istri itu harus di jadikan mitra keluarga, bukan di jadikan partner bertinju, kata ayah.

Di keluarga aku yang paling dekat sama ayah, walaupun tidak membeda-bedakan anak-anaknya, bila aku mau salat, air wudhu sudah di sediakan olehnya.

Dan ayah tahu, aku suka membaca buku, dari kantor selalu ada saja yang di bawakan untukku, seperti Bulletin Kujang, majalah-majalah bekas, atau koran-koran yang sudah di baca dan tidak di baca lagi oleh orang kantor.

Aku pernah tas sekolahku di geladah oleh ayah, isinya buku komik semua, aku di marahi, katanya, mau sekolah apa mau baca komik, ya mungkin beliau  menasehati agar aku tetap bila sekolah ya belajar, baca buku ada waktunya, mungkin seperti itu.

Ayah kami selalu kedatangan prajurit dari Kompi B, mereka sayang pada ayah, terdengar dari percakapannya, bila mereka sudah gajihan kami di beri uang jajan oleh Om Prajurit.

Karena ayahku seorang pelatih Perwira baru yang datang dari AKMIL, para perwira yang tinggi-tinggi dan gagah, selalu penuh di rumah kami, berbincang dengan ayah dan kami anak-anaknya.
Kami selalu di ikut sertakan bila ada tamu dan di perkenalkan oleh ayah.

Kami, anak-anaknya walaupun badung-badung, kebadungan kami hanya sebatas suka melancong main jauh-jauh, menjelajah tempat-tempat yang belum kami kenal.
Bukan badung yang merusak diri sendiri atau mempermalukan orang tua.

Ayah kami tak pernah memukul anak-anaknya, seperti teman-teman ayah, bila ada anak yang bandel di pukul pakai kopel yaitu ikat pinggang seragam tentara, sampai biru dan sakit.

Kami bersyukur punya ayah yang baik, kata orang, wajah ayah seram dengan kumis baplangnya, mungkin di pikiran orang-orang, ayah kami kejam, padahal kami sebagai anak-anaknya segan kepada ayah.

Bandung Barat, 11 Juli 2019

IBU

Ibu kami adalah sosok yang keras, berperan besar dalam rumah kami, sesuatu selalu beres bila ada ibu, walau begitu kami sayang ibu kami.

Ibu orang yang bertanggung jawab penuh kepada kami anak-anaknya, bila kami malas pergi ke sekolah, ibu selalu bilang "silahkan tidak sekolah, sana pergi ngangon domba di hutan!" 

Dan kami takut bila di suruh ke hutan, dari pada ke hutan, kami tetap sekolah.  Bila berdebat dengan ibu kami, kami anak-anaknya tak akan menang. Kami segan pada ibu.

Pernah kami seharian main, pulangnya kami duduk berbaris dengan kaki di selonjorkan, tangan ibu memegang sapu lidi, kalau seikat penuh tidak akan sakit, tetapi tiga batang lidi di ikat, lalu kaki kami di cepret bergantian.

Semenjak itu kami jera. Tak main lagi sebelum rumah rapi.
Ibu kami bukan orang yang fanatik, kami boleh main, asal membantu dulu pekerjaan yang sudah di bagi-bagi pada kami, baru boleh main. Tetapi bila ibu memarahi atau mencepret kami pakai lidi, ayah tak pernah ikut campur. Ayah hanya memandang kami dan menasehati kami.

Yang paling sedih dan repot bila ibu kami sakit, kami anak-anaknya kelabakan, walau begitu, karena kami sudah terlatih mandiri, masih bisa di tangani kalau masalah di rumah.

Yang kami bingung mengatur jadwal menengok ibu kami di rumah sakit. Karena semua anak-anak ingin ikut, dan tak mau di tinggal.

Sedangkan di rumah tak bisa di tinggalkan. Kami sepakat mengatur jadwal, kami bertujuh, sebagian di rumah, bergiliran ke rumah sakit. 

Ibu kami seorang yang dermawan sama dengan ayah, bila ada yang kesusahan, ibu selalu sibuk menyiapkan beras atau pakaian bekas untuk di berikan pada pengemis, atau pedagang kecil yang lewat.

Kami selalu di nasehati, tidak boleh merendahkan orang yang lemah dan kecil, karena orang lemah doanya selalu di kabulkan oleh Allah. Kami menjadi takut.

Walau kami, anak-anaknya badung, kami tetap peduli dan suka membantu orang yang kesusahan, terkadang uang jajan kami patungan, di kumpulkan, kami berikan, pada orang yang membutuhkan.

Begitu kuat, ibu kami menanamkan perilaku peduli orang lemah dan kesusahan, kepada jiwa kami anak-anaknya.

Bandung Barat, 12 juli 2019

(Gambar diambil dari google)
×
Berita Terbaru Update