-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ANAK KOLONG Karya Wiwin Herna Ningsih

Minggu, 07 Juli 2019 | 16:02 WIB Last Updated 2019-12-07T00:39:44Z
ANAK KOLONG Karya Wiwin Herna Ningsih


PINDAH

Ketika aku masih kelas empat sekolah dasar, keluargaku harus pindah ke Bogor, atas perintah DANYON, sebatalyon semua serentak pindah ke asrama bekas asrama haji waktu itu.

Tiba di Bogor Cilodong, kami menempati barak bintara bersebelahan dengan barak perwira, di Jalan Serda Luis.
Rumahnya ada tiga couple berbaris berhadapan.

Sewaktu kami tiba, aku melihat ilalang tinggi-tinggi hampir menutupi rumah-rumah, mungkin sudah berbulan-bulan tidak ditempati.

Suasananya terlihat angker dan menyeramkan. Di dalam rumah banyak ranjang tingkat kecil yang kosong. Terlihat seperti rumah hantu. Bulu kudukku bergidik waktu itu.

Padahal aku sudah kerasan tinggal di Bandung bersama teman-temanku, aku juga sedih meninggalkan teman-temanku juga sekolahku.

Di Bogor aku akan beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru, dan jarak sekolahku lumayan jauh dengan naik becak yang ongkosnya hanya sepuluh rupiah, dan uang jajankupun sepuluh rupiah, harga pisang goreng saja cuma lima rupiah dapat dua dan lumayan untuk mengganjal perut yang lapar.

Itulah resikonya sebagai anak kolong atau anak tentara, selalu berpindah tempat, lingkungan baru, teman-teman baru, semua serba baru.

Di Bogor, asramaku bersebelahan dengan asrama KOPUR LINUD. Sebetulnya di Jalan Cilodong KM 39, banyak berbaris asrama-asrama Tentara AURI dan BRIMOB.

Di sepanjang jalan seperti asrama AURI cat rumahnya khas warna biru langit, asrama YON ANGMOR catnya loreng hijau dan hitam, asrama PALAD cat rumahnya hijau polos baju tentara, asrama BEK-ANG hijau muda, asrama YON-IN PARA warna catnya hijau tua, BRIMOB cat rumahnya coklat tua dan coklat muda.

Lingkungan kami lingkungan TNI, makanya kami terkenal dengan sebutan anak kolong, karena terkenal berani dan badung-badung.

Walau begitu, ayahku dalam mendidik anak-anaknya tidak seperti seorang atasan kepada bawahan, ayahku terlalu baik di keluargaku, kami segan padanya, kami anak-anaknya belum pernah kena sentil jarinya, tetapi ketika aku mendengar cerita teman-temanku, ayahnya galak-galak, suka memecut anaknya dengan kopelnya. Iiiihhhh sereeemmmm....

Ketika kami pindah, kamilah yang pertama datang ke asrama, di barak bintara hanya kami yang duluan menempati rumah kosong.

Selama sebulan kami gotong royong membabat rumput ilalang, setiap malam kami membuat api unggun dari sampah yang ditinggalkan penghuni sebelumnya.

Di setiap ruangan banyak ranjang tingkat yang kecil, yang cukup di tiduri oleh satu orang. Di bongkar dan di tumpuk di belakang.

Kami bersyukur dapat rumah yang agak besar, dengan dua kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga merangkap ruang makan, kamar mandi satu dan dapur kecil satu di luar tempatnya.

Untuk keperluan cuci mencuci ada di luar sudah disediakan dekat dengan pompa air yaitu pompa tangan.

Karena keluargaku keluarga besar dengan enam orang anak, dan kedua orang tuaku jadi delapan orang sudah cukup ramai. Kami berbagi tugas masing-masing pekerjaan, dan ibuku bagian memasak.

Bila malam hari rumah kami ramai seperti di pasar, walaupun di sekitarku masih sepi, dan  jarang ada orang yang lalu lalang, kecuali penjaga pos depan yang suka patroli..

Bandung Barat, 7 juli 2019

SUASANA BARU

Setelah keluarga yang lain berdatangan, suasana di barak bintara menjadi ramai seperti di pasar, dan barakan aku, orang tuanya ada mempunyai anak sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dan dua anak. Jadi setiap malam di barak aku ramai sekali, penghuninya paling banyak, paling seru.

Setiap malam ada saja cerita yang seru sambil berkenalan dengan keluarga yang baru datang, kami cepat akrab, semakin lama barak bintara semakin ramai dan hangat. Tidak kesepian lagi. 

Tiap malam di jalan aspal kami bikin api unggun. Dan membuat bubur manado sepanci besar cukup untuk makan satu RT.

Dan malam haripun ada permainan volley ball, pingpong, dan bulu tangkis. Malam terasa seperti siang hari ramainya, terkadang sampai pukul dua malam baru pada tidur.

Kami anak-anaknya berbaur laki-laki dan perempuan bermain perang-perangan, masak-masakkan, sekolah-sekolahan, dan banyak sekali permainan yang kami mainkan, ada congklak, bola beklen, main tali karet, main kelereng, main enklek/ sondah, main encrak pakai batu kerikil.

Kami tak kehabisan permainan, kami ini seperti saudara saja, seru dan menyenangkan, masa kecil kami kenyang dengan bermain.

Terkadang bila pulang sekolah, aku makan siang, kubawa ke atas pohon singkong karet yang rindang dan mudah untuk dinaiki, terkadang aku makan di atas benteng atau di atap rumah, karena di sana ada sesuatu yang kunikmati, mungkin aku agak badung, senang naik benteng dan loncat ke bawah, tak ada rasa takut.

Semua asyik, dan menyenangkan, karena orang tuaku tak pernah melarang apa yang kulakukan, bila itu sebatas dalam kewajaran.

Terkadang bila kami pulang sekolah suka menjahili penjaga pos, dengan menyembunyikan bedil laras panjangnya.

Tapi penjaga pos tak pernah marah, mungkin takut diadukan sama orang tua masing-masing. Terkadang kami ikut menyetop mobil jeep untuk keliling asrama, ramai-ramai kami menyanyi riang.

Bila ada kapal helikopter datang, kami ramai-ramai menyerbu lapangan hanya sekedar untuk menonton saja.

Paling senang bila melihat baling-baling masih berputar, kepala kamipun ikut berputar, pasti orang-orang melihat kami, anak-anak yang konyol dan mereka tertawa terbahak-bahak dan geleng-geleng kepala melihat tingkah kami yang konyol dan lucu.

Bandung Barat, 7 juli 2019

BERKEBUN

Di belakang benteng rumah kami, ada sebidang tanah yang luas yang masih banyak ilalang yang tinggi-tinggi, dan rumput yang menjalar.

Tanahnya gembur berwarna merah, luasnya sampai ke kobakan yaitu sungai kecil yang banyak batunya. Airnya jernih sering di pakai mandi oleh para prajurit.

Ayahku, keluarganya adalah petani, maka tak heran beliau punya trah petani, di tangannya apapun jadi, bila menanam tumbuh-tumbuhan.

Kami sama-sama membabat ilalang dan rerumputan, setelah bersih, ayahku menanam bibit singkong, pepaya, rambutan, mangga, jambu biji, jambu air. 

Karena tanahnya gembur dan bagus bibitnya, juga pemeliharaannya, tangan ayahku di sebut si tangan dingin.

Tumbuh cepat membesar, dalam beberapa bulan, tanaman siap di panen, ternyata singkongnya sebesar paha orang dewasa dan pulen, seperti singkong mentega, kuning dan pulen, bila di goreng terasa renyah. Juga pepaya tumbuh subur, buahnya besar dan banyak, warna buahnya merah kekuning-kuningan, dan rasanya manis.

Jambu batu juga merah bijinya ada juga warna putih susu. Besar dan enak. Jambu air juga merah dan manis, semua tumbuhan yang ditanam ayahku bagus dan subur, lebat buahnya, juga ada mangga yang harum dan manis rasanya.

Kami banjir buah-buahan, juga buah rambutan gelong berair dan manis. Semua tetangga kebagian semuanya, sampai ke barak bawahpun kebagian. Karena barakan kami ada di atas, bila ingin ke barak bawah, jalanan menurun.

Bila aku ingin buah-buahan, aku tinggal naik ke benteng, dan memetik langsung, juga makan di atas atap rumah, karena pohon rambutan, pihon mangga, juga jambu air, jambu batu, tingginya mencapai atap, dan aku senang diam di sana karena teduh dan rimbun.

Terkadang aku seperti monyet yang nyolong buah-buahan. Entahlah, kenapa aku senang memanjat pohon.

Di depan rumahku dekat kamar depan ada pohon singkong karet, kubuat rumah-rumahan, di sana aku dan teman-teman senang bermain masak-masakkan dan main boneka-bonekaan, karena ibuku suka menjahit, dan banyak langganannya, banyak bekas potongan kain, dan kubuat aneka boneka dan bajunya yang berenda, aku juga suka membantu menjahit yang ringan-ringan, sampai sekarangpun aku bisa menjahit.

Bandung Barat, 7 juli 2019

KOBAKAN

Ketika kemarau panjang, semua orang di barakan, kami kekurangan air, terkadang seminggu dua kali, tangki air mengirim air ke tiap rumah, kasihan ibu-ibu rumah tangga di pompa airnya tak ada air yang keluar.

Aku dan teman-teman, bila sore hari, mandi di kobakan, berebut dengan  para prajurit, airnya tak pernah kering.

Aku dan teman-teman mandi sambil bermain, mengambil ikan yang kecil-kecil dengan saringan teh, dimasukkan ke dalam ember kecil yang berisi air.

Juga mengambil tutut dan haremis yang kecil, dan berenang bermain air di kobakan, karena untuk mandi, para prajurit membuat kolam kecil penampung air rembesan, jadi tidak mengganggu air untuk mandi.

Pulang mandi, kami menyusuri setiap pagar kawat berduri, sebagai pembatas tanah negara dan tanah perkampungan setempat.

Banyak lahan tanah yang dibiarkan tumbuh rumput ilalang, di sana banyak tumbuh anggur hutan yang kecil ungu, dan kamipun menamakannya harendong, enak di makan dan manis, kami memetik banyak sekali, pulang ke rumah, kami bawa ikan-ikan kecil, haremis, harendong, tutut, jadi gerah lagi sampai ke rumah. Terkadang kami balapan lari bersama om-om prajurit.

Terkadang bila bosan mamdi di kobakan, kamipun pindah ke kolam kepunyaan asrama kopur Linud, di Kopur aku punya banyak teman, jadi tak usah khawatir dimarahi.

Sebetulnya bukan kolam biasa, di bawahnya ada gudang penyimpanan peluru yang di tanam, untuk mengantisipasi agar tak panas dan meledak, di atas gudang peluru dibuat kolam untuk mandi, agar dingin suhunya.

Di sana kamipun sering menemukan ikan besar, tanpa ketahuan, lumayan untuk digoreng.
Prajurit Kopur Linud berbeda dengan prajurit Kujang l, prajurit Kopur bicaranya tegas, sedangkan prajurit Kujang ramah dan santun, mungkin karena sudah kenal lama dengan mereka. 

Jadi kami seperti teman biasa, dan ngobrol ngalor ngidul. Kadang-kadang juga suka kocak dengan lelucon mereka.

Bandung Barat, 7 juli 2019

KAMPUNG CIKUMPA

Kampung Cikumpa adalah berbatasan dengan lahan asrama Kujang, kami punya langganan namanya Emak Onde, yang setiap pagi dagang ke asrama, keluargaku adalah langganan tetapnya, onde buatannya besar dan enak.

Orangnya sudah tua dan latah. Kasihan juga, anak-anak senang mengolok-oloknya.

Bila datang emak onde, mereka yang suka jahil menyanyi "Onde sayang onde aya di si emak...aaaaa....!"

Itu lagu wajibnya mereka pada emak penjual onde, lantas emak onde ikut berdiri dan menyanyikan lagu onde sayang onde. Ibuku suka memarahi kami, anak-anak yang jahil.

"Jangan suka meledek orang tua, ya, awas tar kualat!" Kata ibuku, sambil mengacungkan telunjuknya kepada kami. Emak onde, walaupun sering diolok-olok, beliau tetap tersenyum, hatinya baik dan polos, juga pemaaf.

Semenjak dimarahi, kami tak pernah mengolok-oloknya lagi. Justru ibuku sering memberinya beras dan pakaian bekas layak pakai padanya.

Kami seperti punya nenek, saking akrabnya. Bila beliau tidak jualan, kami merindukannya. Mungkin sedang sakit.

Aku dan teman-teman, ceritanya mau menengok emak onde ke rumahnya di Cikumpa. Bicaranya totok asli betawi, yang aku ingat yang sering dikatakannya yaitu "Lha kagak kedumen!" Katanya, kami semua tertawa dengan logat dan ucapannya yang lucu.
"Kagak nibla bae!" Itu yang selalu ingat padanya.

Kami datang ke emak onde untuk meminta maaf, telah sering mengolok-oloknya, beliau terbaring lemah sambil tersenyum.

"Kagak ngapa-ngapa lha bocah!" Kata emak onde, sambil memegang tanganku.
Kami membawakannya kue untuk emak onde. Ternyata emak onde kehidupannya sangat sederhana, dan ramah orangnya, banyak senyum, walaupun sedang sakit.

Keluargaku sudah menganggap emak onde bagian keluarga kami, walaupun hanya sekilas-sekilas bertemu dengan emak onde.

Keluargaku sayang sama emak onde, beliau begitu bersahaja dan baik hatinya serta pemaaf, beliau berjualan onde untuk menghidupi dirinya sendiri. Tak punya keluaga.

Kami sedih ketika emak onde meninggal pada masa tuanya yang sendiri. Dan kami kangen dengan onde buatannya yang besar dan enak. Maafkan kami ya emak onde, semoga Allah menempatkannya di sisi-Nya.
Al-Fatihah
Amin.

Bandung Barat, 7 juli 2019

Foto (tegas.co) hanya sebagai ilustrasi dalam cerpen Novel "ANAK KOLONG"  Karya Wiwin Herna Ningsih
×
Berita Terbaru Update