-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Anak Yang Tertinggal, Membayar BP3, Pindah

Kamis, 04 Juli 2019 | 22:33 WIB Last Updated 2019-12-07T01:08:49Z
Anak Yang Tertinggal, Membayar BP3, Pindah


MEMBAYAR BP3

Setiap awal bulan, semua orang tua murid berbondong-bondong datang ke sekolah. Ramai sekali, seperti mau kenaikan kelas. Mereka punya kewajiban untuk membayar SPP BP3 bulanan. Mereka baik dan ramah. 

Aku merasa begitu dekat dengan orang tua murid. "Neng guru, ini hatur lumayan, dari ibu!" Katanya, sambil memberiku bungkusan plastik, aku melongo, terheran-heran, semua orang tua membawa bungkusan untukku. Aku mengucapkan terimakasih atas pemberiannya yang begitu banyak.

Ketika sampai di rumah, kubuka bungkusan plastik yang begitu banyaknya. Isinya ada beras putih, beras merah, singkong, sayuran, kacang kulit, lalap-lalapan.

Aku mengucap syukur pada Allah, atas rejeki dari-Nya melalui tangan orang tua murid. 

Mengapa mereka begitu baik padaku, padahal mereka orang yang tinggal di gunung-gunung, yang jauh dari kota.

Hatinya polos dan bersahaja, aku belajar seperti mereka dalam hal kebaikan, dengan menyenangkan murid-muridku.

Di Selajambe, aku tak kekurangan apapun, walaupun honorku hanya cukup untuk membeli minyak goreng dan bumbu-bumbu saja.

Aku tak memikirkan apakah aku akan bisa makan atau tidak. Yang penting bagiku mengabdikan diriku sebaik mungkin untuk murid-muridku, aku mencintai mereka dengan tulus, terbukti anak-anakpun sangat dekat padaku. Juga dengan orang tuanya, akupun dekat.

Ada teman curahan hati bila dekat dengan mereka. Aku dan orang tua murid ada ikatan bathin yang kuat. Karena mereka baik hati dan ramah pada pendatang seperti aku.

Dan aku selalu mengunjungi mereka satu persatu setiap harinya sepulang sekolah. Menjalin silaturahmi memanjangkan usia dan rejeki. Dan jiwa raga menjadi sehat. Semua menjadikanku pembelajaran.

Bandung Barat, 3 juli 2019

ANAK YANG TERTINGGAL

SDN MEKARSARI adalah sekolah terpencil, jauh dari kota dan rumah sakit, dan minim guru. Aku kebagian mengajar kelas satu dan kelas dua. Begitu berat beban yang harus kutanggung. Tapi aku punya rasa tanggung jawab untuk mereka.

Mengajar kelas bawah harus super sabar dan ikhlas. Terkadang mereka banyak yang menangis, harus didampingi orang tuanya setiap belajar. 

Tak mau di tinggal. Aku berusaha keras agar murid-muridku betah di kelas, kubuat mereka tertawa dan periang, dengan cara mendongeng, menyanyi lagu riang, dan bercanda.

Dan aku mengenal semua karakter murid-muridku, ada yang keras kepala, ada yang sensitif, ada yang malas-malasan, juga ada yang perhatian, aku memperlakukan mereka tidak sama, sesuai dengan karakter masing-masing.

Seperti anak yang nakal dan hiper aktif, aku tunjuk sebagai ketua murid, dia kuberi tanggung jawab untuk memimpin teman-temannya di kelas.

Dan biasanya sukses. Sedangkan anak yang sensitif, aku beri arahan dengan banyak di ajak bercanda atau di ajak ngobrol.

Ada satu anak yang selalu tertinggal dari teman-temannya. Sebetulnya dia tidak bodoh, hanya harus di beri dorongan. Namanya Rizky, kebiasaannya memainkan pensilnya, buku di diamkan, matanya menerawang dengan khayalannya.

Bila teman-temannya sudah pulang, dia masih anteng duduk dengan dunianya sendiri. Aku dekati dia dan mengajaknya bicara dari hati ke hati, walaupun masih kanak-kanak, tetapi pemikirannya dewasa, bicaranya seperti orang tua.

Sehari, dua hari, dan telah seminggu dia kudekati dan telah akrab, akhirnya berhasil juga, dia mau menulis, dan menjadi berani bicara denganku, tanpa malu-malu lagi.

Itulah kebahagiaan yang tak terlukiskan olehku, melihat mereka ceria setiap pagi, dan banyak tersenyum.

Aku bangga pada mereka, aku selalu mendekati anak-anak yang bermasalah, dan berhasil dengan bicara dari hati ke hati, dan di ajak bercanda, akhirnya, separah apapun masalah mereka, bila di dekati dan di ajak bercanda, pasti menghasilkan sesuatu yang tak terduga.

Bandung Barat, 3 juli 2019

PINDAH

Ketika rumah dinas kepala sekolah yang kutempati telah ambruk, tak bisa kutempati lagi. Bu Wiwi, tetanggaku, menawariku untuk menempati rumahnya yang kosong di sebelahnya.

Akupun pindah rumah, dan anak-anak ikut mengangkut barang-barangku, aku menempati kamar yang kosong, dan bila malam hanya di temani oleh Tesa putrinya Bu Wiwi. Juga muridku di kelas dua.

Bu Wiwi adalah sosik yang berwibawa, ibadahnya bagus, ramah dan familiar juga dermawan. Keluarganya ramah tamah, dan aku betah tinggal di sana.

Dulu beliau adalah seorang pedagang yang sukses dan baik hati, seiring waktu dengan usianya, beliau tidak berdagang lagi. Putra-putrinya sebagian tinggal bersama neneknya di kota Bandung.

Di rumah hanya tinggal Pak Cuhlie dan Bu Wiwi serta Dery dan Tesa. Mereka adalah keluarga yang taat beribadah, juga terlihat pada masa mudanya mereka orang yang cerdas. Aku merasa seperti punya orang tua yang mengayomi dan melindungiku.

Kepindahanku adalah berkah bagiku, yang tak terduga-duga, selalu saja ada rejeki yang mengantarkan padaku.

Ketika aku bangun tidur,  pagi-pagi kubuka pintunya, di depan pintu berbaris jantong plastik hitam besar, ketika kubuka, banyak makanan mentah dan matang, aku sangat berterima kasih pada Tuhan, ternyata masih banyak orang yang sayang kepadaku.

Tetangga dan para orang tua murid setiap pagi selalu mengantarkan makanan untukku, seolah Tuhan datangkan rejeki dari langit.

Mereka memberiku ada yang berupa beras, nasi timbel, lauk pauk, lalapan, pisang, ubi, talas, singkong, bengkoang, kacang kulit, dan sebagainya.

Setiap pagi aku tak pernah masak, karena setiap pagi, mereka mengantarkan makanan, dan selalu ada di depan pintu dan aku tak tahu siapa saja yang mengirimkannya.

Pindah pembawa berkah, dan aku mensyukuri nikmat yang tak terhingga dari Tuhan yang Maha Pemurah. Melalui tangan mereka yang baik hati. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada mereka...amin...

Bandung Barat, 3 juli 2019

KESETRUM

Ketika aku sedang asyik beres-beres rumah, tiba-tiba ada suara anak perempuan yang menangis.
Setelah kudekati sumber suaranya, ternyata putrinya Bu Wiwi, namanya Tesa, sesenggukkan menangis.

"Mamah....aku mau mati yaa...!" Katanya, sambil menyusut air matanya.
"Masa orang mati bisa bicara!" Kata Bu Wiwi sambil tertawa.
"Kenapa?" Kataku. Kaget.

"Itu Tesa habis mandi, terus pegang kabel listrik, jadi kesetrum, sampai kaget, badan ibu gemetaran, takut kenapa-napa!" Kata Bu Wiwi sambil memeluk Tesa.
"Ibu, aku tak jadi mati ya!" Kata Tesa begitu polosnya.

Aku memeluknya, kasihan juga dia, kaget dan gemetar.
Untungnya tidak terjadi apa-apa, tak terbayang olehku. Aku bersyukur ternyata Tuhan masih melindunginya.

"Makanya, kalau tangan sedang basah, jangan pegang-pegang kabel ya!" Kataku, sambil mengusap rambutnya.

Aku sangat sayang pada Tesa. Anaknya cantik, putih, dan pintar juga pendiam. Dia paling dekat denganku, setiap malam tidur denganku.

Terkadang kami bertiga tidur di kamar Bu Wiwi. Bercerita dan bercanda setiap hari. Tesa adalah si bungsu yang manja, aku suka memanjakannya, dengan mengajak bermain boneka-bonekaan, masak-masakkan, dan main sekolah-sekolahan, pokoknya seru, apalagi dengan mengajak teman-temannya. Bertambah seru dan tak terasa waktu cepat berlalu.

Aku terbawa arus bahagia bila dekat anak-anak yang polos dan lucu. Rasanya kebahagiaan ini tak bisa di tukar dengan apapun, dan uangpun tak bisa membeli kebahagiaan. Bahagia adalah ketika kita mensyukuri pemberian-Nya baik yang kecil maupun yang besar. Tak bisa di ukur dengan apapun.

Bandung Barat, 3 juli 2019

PERPISAHAN

Dua tahun sudah aku mengabdikan kemampuanku di sekolah yang terpencil. Banyak sukanya ketimbang dukanya.

Tibalah waktu untuk berpisah dengan mereka yang kusayangi karena Kepala Sekolah mau mutasi, aku juga akan melanjutkan studyku, karena tempatnya jauh dan terjangkau oleh waktu dan tenaga yang habis di jalan.

Aku terpaksa mengikuti prosedur, pindah ke kampung halamanku, untuk berbakti di sana dan melanjutkan studyku. Mereka berbaris rapi dari kelas satu sampai kelas enam. Aku pamit pada mereka yang kusayangi.

Anak-anak menangisiku, karena terlalu kuat ikatan bathin aku dan anak-anak, sehingga begitu berat untuk berpisah dengan mereka. Aku tak kuat menahan tangisku. Aku mengusap kepala mereka dan menciumi pipi mereka.

Tanda kasih sayangku pada mereka. Dan kupeluk satu persatu. Perasaan sedih akan kehilangan mereka. Mereka adalah anak-anak yang paling semangat belajar, walau jarak tempuh dari rumah ke sekolah lumayan jauh,  kini mereka kehilanganku.

Di lubuk hati mereka, aku akan pergi jauh dan tak kembali lagi. Aku menangis berpelukan dengan mereka, tanda perpisahan.

Aku sangat sayang dan berat hati meninggalkannya. Aku akan kehilangan senyum cerianya, tawanya, candanya, semua kasih sayang anak-anak padaku.

Dan aku akan kehilangan kisah petualangan dengan mereka yang lucu, yang seru, yang menyenangkan, yang menyebalkan, semua bercampur aduk menjadi satu kesedihanDan perpisahan ini adalah perpisahan yang paling menyedihkan.

Anak-anak dan sekitar ikut membantu mengangkut perabotan ku, mereka memberikan  tanda kenang-kenangan untukku, ada yang memberi kipas bambu, ulekan, tilam bambu, cobek, asbak batu, dan banyak lagi. Sebagai kenang-kenangan yang tak terlupakan.

Aku sangat berterima kasih kepada anak-anak dan warga sekitar, beserta orang tua murid, yang telah berbaik hati padaku, yang telah memperhatikanku selama dua tahun.

Banyak kenangan indah yang tak akan kulupakan. Banyak suka duka yang kami alami yang tak akan kutemukan di perkotaan.

Dengan segala keramahan dan kepolosannya, gotong royongnya, semua sangat berkesan untukku. Kenangan paling indah adalah berpetualang dengan mereka.

Terutama rasa kasih dan erat persaudaraannya satu sama lain yang paling kuat tertanam pada jiwaku. Pengalaman yang paling berharga dalam hidupku adalah rasa kasih sayang yang tulus, saling memperhatikan, dermawan, menghargai sesama, saling membantu yang kesusahan. Dan itu semua aku rasakan dan aku alami.

Di dalam mobil, aku menangis sedih, seolah semua pergi meninggalkanku, serasa baru kemarin aku dan anak-anak tertawa, bercanda, bermain, berpetualang, gunung kapurpun terasa pergi menjauh dariku, juga batu-batu besar yang selalu menggoyangkan badanku, seolah ikut mengucapkan selamat jalan.

Aku berjanji, suatu saat akan kutulis kisah petualanganku dengan anak-anak dan akan kupersembahkan buku novel ini untuk sekolah yang telah mengajarkan aku rasa kasih sayang yang tulus, rasa bersama, saling menghargai. Dan lain lain.

Terakhir aku mengucapkan banyak terima kasih kepada warga Selajambe, anak-anak SDN MEKARSARI, Bapak Kepala Sekolah Bapak Masad Sudiyana yang sekarang sudah purna bakti, Pak Endang Dasuki yang telah banyak berjasa beserta (almh) Bu Ucun, Pak Dedi Suryadi, Bu Purwanti, Bu Nur, Pak Cuhlie beserta (almh) Bu Wiwi, Mak Uli, beserta anak-anak yang telah menemaniku selama dua tahun Adi, Yudi, Eka, Rohmat, Ai, Ai Mila, Ai riska, Dery, Tesa, Shinta, Ade, Rinda, dll, yang tak bisa di sebutkan.

Kalianlah penyemangat hidupku, pemberi pengalaman yang sangat berharga, yang tak bisa kulupakan selamanya. Terima kasih untuk semua.

Semoga pengalamanku ini untuk memacu semangat kepada guru-guru honor yang ada di tempat terpencil, jangan takut, teruslah berjuang dalam mendidik anak-anak di sekolah, rejeki sudah ada yang mengatur, percayalah Allah tidak tidur, akan selalu mendengar keluhan umatnya. Tetaplah berjuang di jalan Allah.
Pengalaman adalah guru yang terbaik.

Semangat.

Terima kasih.

Bandung Barat, 3 juli 2019
×
Berita Terbaru Update