-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hari Pertama Di Rumah Dinas, Perkenalan, Berteman Dengan Alam

Rabu, 03 Juli 2019 | 10:51 WIB Last Updated 2019-12-07T01:30:32Z
Hari Pertama Di Rumah Dinas, Perkenalan, Berteman Dengan Alam

HARI PERTAMA DI RUMAH DINAS

Langit pagi berwarna biru, angin mendesau dari dedaunan bambu yang melengkung, menambah suka cita hatiku.

Aku sendirian menempati rumah dinas yang diperuntukkan Kepala Sekolah. Dan di biarkan kosong dan sebagiannya ada yang rusak.

Kamar depan yang kutempati karena banyak cahaya matahari yang masuk, dan yang dua kamar lagi udaranya lembab karena aku tak tahan udara dingin.

Terlalu luas untuk kutempati sendirian. Untungnya aku akrab dengan penduduk sekitar. Mereka baik hati dan ramah. Aku senang dengan penyambutan warga sekitar.

Rumah Dinas yang kutempati ada di atas bukit, bila melihat ke depan rumah, terlihat pemandangan alam begitu elok dan sejuk memanjakan mata. Dan deretan rumah-rumah berbaris rapih berwarna warni.

Ketika malam aku tidur ditemani sepuluh anak-anak yang lucu dan kocak, ada yang pendiam, ada yang konyol suka melucu, dan ada yang hiper aktif.

Duniaku terasa hidup bila dikelilingi anak-anak. Mereka ramah dan polos juga baik hati dan kompak.

Aku bahagia setiap malam bersama mereka, bercanda dan penuh lelucon lucu, terkadang di sela-sela belajar, mengerjakan PR, mereka pintar menyanyi, suara mereka bila menyanyi merdu-merdu, karena mereka terlatih fisiknya setiap hari naik dan turun bukit.

Tak heran bila ada perlombaan marathon, atletik, dalam cabang olahraga, mereka selalu memborong piala. Terkadang mereka suka konyol dengan menakut-nakutiku dengan cerita horornya.

Seperti suara gamelan di tengah malam, dan selimut seperti ada yang memindahkan. Hiiiyyyy....

Bandung Barat, 2 juli 2019

PERKENALAN

Di hari Senin matahari bersinar di ufuk timur, indah keemasan, pagi yang sejuk, aku kenakan seragam abu-abu, mengawali pagi dengan upacara bendera, dan perkenalan pertama dengan semua murid dan guru-guru.

Wajah mereka begitu semringah dengan kedatanganku. Aku merasa akrab dengan mereka ketika pertama menyalami tanganku, banyak senyum yang kulum dari wajah-wajah polos mereka.

Aku kebagian mengajar di kelas satu dan dua, pagi mengajar kelas satu, siangnya mengajar kelas dua. Karena di sana minim guru, hanya ada Kepala Sekolah, guru PNSnya hanya dua orang, guru kelas dan guru agama, guru honor hanya tiga orang.

Merangkap pekerjaan adalah sesuatu yang menantang untuk ikut merasa bertanggung jawab. Karena di sekolah terpencil, sekolah kekurangan guru. Sebetulnya begitu berat tanggung jawabnya.

Tapi dengan niat rasa yang ikhlas akhirnya mempermudah pekerjaan. Mereka penurut, jarang ada yang nakal.

Wajah mereka ceria, semangat, walaupun rumah mereka jauh-jauh, ada yang menempuh 2,5  km sampai ke sekolah. Tetapi mereka semangat dalam belajarnya.

Di kelas satu dan dua, mengajar mereka adalah suatu tantangan, bagaimana supaya mereka senang di kelas, dan betah denganku.

Aku menerapkan cara mendidik dan megajar mereka, bukan sebagai guru kepada muridnya, aku berusaha agar mereka senang dalam belajar, dalam penguasaan kelas, kuterapkan akulah ibu mereka kedua setelah ibu mereka yang di rumah.

Aku sayang murid-muridku, mereka penurut, dan aku sebagai ibunya yang kedua, selalu menyenangkan mereka agar selalu ceria.
Dan bermanja padaku.

Ketika istirahatpun, aku bercanda dengan mereka, dan banyak yang mencurahkan isi hatinya padaku, seperti keadaan di rumahnya masing-masing, tentang ayah ibunya, tentang pekerjaan orang tuanya, tentang perjalanan dari rumah ke sekolah, yang penuh dengan petualangan.

Karena untuk menempuh sampai ke sekolah, mereka harus naik dan turun bukit, terkadang masih banyak binatang melata, seperti ular dan lain-lainnya.

Terkadang bila cuaca hujan, mereka tetap semangat pergi ke sekolah. Aku bangga, salut dan terharu bila mereka bercerita bagaimana menempuh perjalanan yang begitu jauhnya. Dan tak terbayang bila aku yang mengalaminya sendiri.

Aku tetap bersyukur, karena hidupku di permudah, dulu aku sekolah hanya dekat dengan lingkungan asrama. Aku menangis membayangkan perjalanan ke sekolah naik bukit turun bukit di kala hujan.

Bandung Barat, 2 juli 201

BERTEMAN DENGAN ALAM

Hari minggu adalah hari libur bersama dengan acara penuh petualangan. Aku dan anak-anak ingin mengelilingi sebuah bukit bambu yang tampak menyeramkan.

Bila yang tidak punya nyali pasti menangis dan ingin pulang lagi. Bagiku tidak berlaku, aku selalu penasaran dengan alam, ingin menguak sebuah misteri di dalamnya, walaupun ada sedikit rasa takut dalam hati.

Tapi dengan tekad yang membara aku beranikan diri untuk menahan rasa takutku. Bersama anak-anak yang pemberani.
Menurut kuncen setempat, katanya daerahnya masih angker.

Yudi bilang padaku, agar aku wanti-wanti tidak boleh ada barang yang di ambil satupun.
"Bu, bila ibu menemukan apapun, jangan di ambil ya!" Katanya mengingatkan aku.
"Iya!" Kataku, begitu besar rasa penasaranku.

Menurut cerita mereka, bila bambu kuning kecil di potong pendek, pasti memanjang lagi seperti semula, dan bila ada semut hitam besar merayap ke tangan harus diturunkan hati-hati.

Juga bila kita yakin untuk mengangkat batu besar, seberat apapun pasti terangkat. Aku dan anak-anak, juga Pak Dedi guru Agama ikut kut juga, menjaga takut ada hal-hal yang tak di inginkan. Tak lupa pula meminta ijin sama kuncen setempat sebelum pergi ke bukit bambu.

Mendaki bukit bambu adalah hal yang tidak mudah. Selain curam, jalannya juga licin, gampang terpeleset bila kita tidak hati-hati.

Aku dan anak-anak yang pemberani, naik bukit sambil membawa tongkat untuk menahan beban badan supaya tubuh tidak terguling ke bawah.

Kami semakin dekat, sepuluh langkah lagi sampai ke puncak bukit, dengan di sambut angin besar seperti angin puting beliung.

Di atas puncak bukit bambu adalah tempat makam keramat orang-orang jaman dahulu yang sakti, ada tiga makam, setelah sampai ke atas bukit sambil melawan arus angin yang besar, anehnya setelah menginjakkan kaki ke puncaknya, angin tersebut hilang dan tenang dan daun -daun bambupun ikut diam.

Aku terpana dengan semua kejadian tersebut. Pengalaman yang mendebarkan jantung.
Adi menunjuk makam sambil berkata"Bu ini makakam eyang!" Katanya, sambil melihat wajahku yang pucat ketakutan.

"Lihatlah, bambu ini akan kupotong menjadi tiga, coba ibu perhatikan!" Katanya, sambil memotong bambu kuning kecil, menjadi tiga bagian. Lalu di simpan di tanah.

Di sejajarkan. Dan satu bambu yang tidak di potong, di simpan di dekat tiga bambu yang di potong.

Lama kelamaan aneh bin ajaib, ketiga bambu yang di potong menjadi sama panjangnya dengan satu bambu yang tidak di potong.

Aku melongo, kok aneh ya, kataku dalam hati. Antara percaya dan tidak percaya tetapi nyata.

Walaupun tidak kenal dengan makam eyang, aku berdoa untuknya yang ada di dalam kubur.
Dan tanganku ada yang merayap semut hitam besar, aku spontan jariku menyentil semut hingga terpelanting dari jari tanganku.

Setelah selesai dan pamitan pada eyang yang ada di makam, kami pulang, dan begitu juga ketika datang, kami pulangpun di sambut angin besar, dan tiba-tiba badanku seperti ada yang menyentil.

Aku terpelanting ke bawah bukit sambil berlari, seperti ada tenaga gaib yang mendorong punggungku, aku kaget dan ketakutan. Anak-anak berlari berhamburan, untuk menolongku, Alhamdulillah tanganku bisa di raih oleh anak-anak.

Akhirnya kami kelelahan dan duduk melingkar, mata mereka seakan menyelidik ke mataku, aku melongo, dan tak mengerti apa yang terjadi.

Kelima anak itu Yudi, Adi, Eka, Ai, Ade, semua memandanku dengan tatapan aneh.
"Minum dulu ya bu!" Kata Ade, sambil memberikan botol minuman kepadaku yang masih kaget dengan kejadian tadi, setelah minum, jantungku baru tenang.

"Apa yang ibu lakukan tadi di atas?" Kata Eka, sambil memegang tanganku yang masih gemetaran. Dan aku mengingat-ingat apa yang kulakukan tadi.

"Oh iya, tadi di tangan ibu ada semut yang merayap, lalu ibu sentil sampai jauh terpelanting," kataku, sambil mengingat kejadian di atas bukit bambu yang menyeramkan.

"Naaaahhhh.....!" Kata anak-anak serempak.
"Ibu tadi sama Yudi sudah diingatkan, ibu lupaaa yaaz!" Katanya, sambil nyengir.

Semua anak-anak tergelak, mentertawakan kejadian lucu bagi mereka, aku hanya nyengir, menahan sakit kakiku, sewaktu berlari dengan tiba-tiba. Dan kakiku keseleo, Pak Dedi langsung memijit kakiku sampai sembuh.

Kami bertujuh pergi ke Cihalimun tempat pengolahan singkong menjadi tepung yang di sebut aci sampeu atau tepung singkong.

Perjalanannya lumayan jauh antara kurang lebih dua kilo meter jaraknya. Di sana banyak tumbuhan aren yang airnya ditadah semalaman memakai lodong bambu panjang besar, dan di olah menjadi gula aren yang besar, perkilonya di hargai lima ribu rupiah. 

Ijuknya yang hitam kasar bisa dibuat sapu ijuk dan keset kaki. Harganya tiga ribu rupiah di jual ke pemborong. Pohon aren bisa dibuat tepung di namai aci kawung atau tepung aren.

Cihalimun terkenal dengan aci kawung dan aci sampeu. Walaupun jauh, hasil kebunnya melimpah. Hasil panen mereka jual ke pemborong yang ada di Cikande.

Kami jadi tahu cara pengolahan tepung aren dan tepung singkong, juga pembuatan gula aren yang besar.

Di rumah penduduk kami di suguhi "peueut" yaitu gula aren yang cair seperti madu, rasanya enak, lembut di mulut, seperti minum madu, apalagi di bubuhi dengan singkong rebus, wah, sangat nikmat hangat-hangat di makannya.

Pulang dari Cihalimun kami mampir ke sungai yang airnya agak asat, batu-batunya besar, air sungai di gunakan petani untuk mengairi sawahnya, udaranya terkadang panas, terkadang dingin, cuacanya tak menentu.

Antara sungai dan sawah ada yang menarik perhatianku, di sana surganya burung anis kembang yang bulunya sangat bagus aneka warna, ada yang berwarna biru dan hijau, ada yang kuning dan hitam, ada juga yang paling mahal di jual ke kota adalah burng anis kembang, yang paling murah harganya lima ratus ribu rupiah. Dan yang paling mahal sampai sejuta rupiah. 

Banyak pemuda-pemuda yang menjerat burung anis, pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, dan juga harus sabar cara menjeratnya, karena seperti merpati, jinak-jinak merpati, seperti jinak tetapi susah untuk di tangkap.

Waktu itu burung anis sedang booming. Akupun di beri satu yang berwarna kuning biru dan hijau, gratis pula, aku senang di beri burung, tanpa tahu bagaimana mengurusnya dan memberi makannya apa.

Dengan percaya diri aku bawa ke rumah, dan kuberi makan roti dengan air, aku suapi sedikit demi sedikit, besoknya burung anisku yang malang akhirnya mati.

"Bu, mana burung anisnya?" Kata Eka, sambil melihat-lihat sangkar yang kosong.
"Mati...!" Kataku, dengan wajah yang kesal dan menyesal.

"Memangnya ibu kasih makan apa tuh burung?"  Eka sudah nyengir saja, karena dia tahu, aku tak bisa ngurus burung.

"Di kasih roti!" Kataku, sambil nyengir.
"Aduh ibu, burung tak doyan roti, tapi belalang sawah makanannya!" Kata Eka, sambil tertawa terbahak-bahak.

"Waduh, ibu kira, doyan roti ya!" Kataku, sambil tertawa, mentertawakan kebodohanku.
Aku kira, burung sama dengan manusia doyan makanan apa saja.

Dan malampun aku bermimpi dengan penghuni sungai, wajahnya seperti keledai, badannya seperti laki-laki tegap, kulitnya kelabu seperti kulit kerbau, ada ekornya, ujung ekornya berbentuk mata panah, matanya bulat merah, bibirnya lebar ke atas, sangat menyeramkan, dia memandangku dari dekat, dan terbangun dengan keringat dingin, hhhiiiiyyyyyy.....

Bandung Barat, 2 juli 2019

BERTEMAN DENGAN ANAK-ANAK LAPANG KONTRAK

Sudah menjadi kebiasaan setiap hari Sabtu, anak-anak digiring ke lapang kontrak untuk olah raga.
Pemandangan di lapang kontrak sangat indah dan banyak sinar matahari.

Lapangannya bersebelahan dengan kebun petani, mereka menanam jagung, dan membakar jagung, kami guru-guru dan anak-anak di suruh membakar jagung untuk sarapan pagi. Para petani di lapang kontrak ramah-ramah dan baik hati.

Orang tua muridpun membekali kami tiga kantung keresek besar dengan makanan, satu kantung timbel nasi putih dan nasi merah sebesar paha orang dewasa ada empat timbel, satu kantung lalapan aneka ragam, satu kantung lagi ikan mas goreng yang besar, ikan asin, sambal, dan berbagai macam tumis, cukup untuk makan satu RT. 

Setelah lelah berolah raga, kami makan nasi timbel ramai-ramai. Kebetulan di lapang kontrak ada sekompi Tentara dari PUSDIKAV Padalarang yang sedang latihan fisik, maka kamipun membuat lingkaran makan bersama-sama, lapanganpun ramai oleh anak-anak lapang kontrak yang membantu orang tuanya di ladang memetik jagung dan mencabut singkong, dan sebagian lagi memukul-mukul batu cadas putih untuk di angkut ke pabrik.

Sebetulnya anak-anak lapang kontrak, mereka bersemangat untuk sekolah, karena mereka kasihan dengan orang tuanya yang hidup sangat sederhana, mereka terpaksa berhenti sekolah, biaya hidupnya tak mencukupi untuk makan sekeluarga.

Aku asyik memperhatikan anak-anak lapang kontrak yang sedang bekerja, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang.

"Lagi asyik ya bu!" Katanya, membuatku kaget sekali.
Setelah kutengok , ternyata seorang tentara yang berpangkat sersan mayor, di lihat dari papan namanya yaitu ARYANTO.

Wajahnya hitam manis, berkumis tipis, dan senyumnya mengingatkan aku pada wajah Marcel penyanyi pop yang pernah aku tonton di televisi.

"Iya, lagi melihat anak-anak itu, usia sekolah, sudah bekerja keras bersama orang tuanya, kasihan ya!" Kataku, sambil menahan nafas, rasanya sesak dada ini, melihat mereka.
Hatiku menangis, kok, bisa-bisanya mereka tak sekolah.

"Jangan merasa bersalah, itu bukan kemauan mereka seperti itu, karena keadaanlah, mungkin tenaga lebih berguna, dari pada harus semolah!" Katanya, sambil menepuk-nepuk bahuku.

Di sisi lain aku terenyuh melihat anak-anak bekerja keras yang bukan porsinya. Di kala anak-anak yang lain sekolah dan bermain, mereka bekerja untuk membantu keluarga yang kekurangan.
Di sisi lain pula aku tak bisa menyalahkan orang tuanya yang membutuhkan tenaga anaknya.

"Iya pak!" Kataku, sambil mengusap air mataku.
"Ibu sangat peduli ya sama a ak-anak!" Katanta, masih menepuk-nepuk bahuku.

Tiba-tiba Shinta memanggil-manggil aku, dan melambaikan tangannya.
"Ibu cepat sini, kita makan singkong bakar, enak lho!" Katanya, sambil teriak-teriak dan lompat-lompat.

Anak ini lucu, matanya belo, giginya besar-besar, kulitnya putih dan cantik,  anak ini paling dekat denganku, dan suka melucu.

"Ayo Pak kita makan singkong bakar!" Kataku, mengajak pak sersan, dan mereka melingkar, bergabung, anak-anak yang olah raga dengan sebagian tentara, sama-sama makan singkong bakar, sambil melemparkan lelucon, lucu sekali.

Terkadang aku tertawa terbahak-bahak, yangengagetkan mereka.

"Ih, ibu kok ketawanya ngakak!" Kata Yudi, diapun sama tertawa terbahak-bahak, kamipun tertawa bersama, semua senang dan gembira, pukul sebelas kamipun pulang membawa kenangan masing-masing.
Sepanjang perjalanan pulang, aku masih kepikiran anak-anak lapang kontrak.
Kasihan ya....

Bandung Barat, 2 juli 2019

Oleh: Wiwin Herna Ningsih

Keterangan:
Bab-bab berikutnya akan diposting....

Gambar diambil dari dhio89.blogspot.com

×
Berita Terbaru Update