-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Luka Taman Kota, Seribu Malam Di Kotamu, Buta Di Kotamu

Selasa, 02 Juli 2019 | 02:59 WIB Last Updated 2019-12-07T01:52:05Z
Luka Taman Kota, Seribu Malam Di Kotamu, Buta Di Kotamu


LUKA TAMAN KOTA

Di taman kota
tak ada kelopak bunga
kecuali tangkai duri
ranggas menusuki

Ke mana tuan siramkan
darah waris perjuangan
ketika taman kota
tanaman luka

Teriak sekumpulan demonstrasi
keras menampar wajah sendiri
ketika taman kota
adalah kita

Dan keindahan
tak lagi dipandang
ketika kesejahteraan
hanya rumpun khayalan
anak-anak pahlawan

Bandung, 23 Juni 2019

SERIBU MALAM DI KOTAMU

Ribuan pagi kulewati
siang dan petang kupadamkan
matahari juga pelangi

Aku gentayangan di waktu malam
terang di raga, begitu gulita di jiwa
terbang kepayang bersama kupu-kupu
menabrak pintu-pintu remang
hilang tali kencang

Kotamu tetap suguhkan nikmat
hingga tak ingat lidah telah api
dan mulut selalu tungku
dadaku berserak debu

Kota tak henti menari-nari
sedang aku semakin lupa diri
tersesat di seberang ujung jalan
pecahkan tangisan subuh
roboh segala tumbuh

Aku tetap merangkak pulang
walau wajahku coreng arang
ingin kokoh terakhir berdiri
pada barisan orang-orang
panjang sembahyang

Bandung, 24 Juni 2019

BUTA DI KOTAMU

Dahulu di kotamu
setiap siang kita telanjang
bersama saling menusuk mata
buta, menabrak-nabrak

Hingga tiba di mall sampai butik
leher kita dicekik tanpa ada jerit
untuk sebuah latah: branded

Sedangkan di caffe dan rumah makan
nganga mulut mengunyah asing jamuan
sambil nikmati kosong tontonan
membungkam gamelan

Pikiran kita dimain-mainkan
oleh lambang-lambang kemodernan
lalu diseret-seret tali liberalisasi
sederet nama dan makna
tak lagi dikenali

Kita pulang menunggang angin
dan jatuh di bising mesin-mesin
sebagai pengumpul sampah
di tubuh terlihat gagah

Sampah tertumpah
menerjang wajah
terdengar pasar
terbakar!

Bandung, 25 Juni 2019

KOTAKU TERPERANGKAP

Lagi-lagi kotaku terperangkap
jerat teriak orang-orang kalap
hari-hari tak henti dilempari
bunyi batu berkelahi
di atas kursi

Aku mengerti kota tak pernah diam
bergeliat dengan mata tak pejam
awasi manusia beragam lomba
berebut keping dunia
meminum bara

Dengan jibaku kerja
dengan keras suara
dengan doa-doa
dengan air mata
ada darah mengalir
dari hulu sampai hilir
di remuk hati dan kepala
menjadi anyir kata-kata
bahasa kota

Tetapi kota tak mau henti
terperangkap dalam putaran musim
di lambang-lambang demokrasi
di metode-metode meraih mimpi
hadirkan orang-orang terbuang
di antara orang-orang hilang
sampai tak terbilang

Kota mesti segera pindah
pada pangkuan jiwa-jiwa tabah
ketika lomba bertakdir kalah
tak sembarang meludah
atau kota selayaknya pulang
pada pelukan tangan dingin
syukuri sebagai pemenang
jangan hidangkan angin

Bandung, 26 Juni 2019

Gambar diambil dari tatangkostaman.blogspot.com
×
Berita Terbaru Update