-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi Ziarah PDPKK St. Klara, Paroki St. Antonius dari Padua Pasuruan

Kamis, 11 Juli 2019 | 13:08 WIB Last Updated 2019-07-11T06:08:09Z
Refleksi Ziarah PDPKK St. Klara, Paroki St. Antonius dari Padua Pasuruan
Foto saat bapak/i dan anak-anak berkumpul
Hidup Adalah Sebuah Peziarahan Tanpa Henti: Doa, Bekerja, dan Rekreasi adalah Instrumen vital Peziarahan Setaip Insan.

Sekilas Tentang PDPKK St. Clara, Paroki St. Antonius dari Padua PDPKK adalah Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik. Persekutuan doa ini sudah cukup lama membantu melayani di setiap Keuskupam dan Paroki-paroki mana pun. Termasuk di Paroki St. 

Antonius dari Padua, Keuskupan Malang, Pasuruan, yang bernaung di bawah perlindungan St. Clara. Persekutuan doa ini diinspirasi pertama-tama dari Roh Kudus seperti yang dijanjikan oleh Yesus Kristus (Isa Almasih) dan tanpa mengurangi peran penting perintis Gereja purba atau para Rasul. 

PDPKK ini didirikan oleh seorang Pastor yaitu Rm. Yohanes Indrakusuma, O carm. Setiap alasan pasti ada tantangan. Rm. Yohanes Indrakusuma pun mengalami hal itu, demikian pula para simpatisan beliau serta anggota PDPKK dan juga KTM.

Mereka adalah kumpulan awam Katolik sebagian besar, namun juga terbuka pada gereja-geraja non Katolik. Lalu pertanyaanya adalah apa saja kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ini? Apakah hanya sekedar doa saja? Atau merupakan suatu kumpulan makan-makan? Dan apakah kualitas dari persekutuan doa ini? Lalu apa kontribusi mereka bagi kehidupan menggereja, bermasyarakat, berbangsa,  dan bernegara? Rentetan pertanyaan tersebut merupakan cara untuk mempertajam pemahaman kita mengenai mereka.

Ziarah sebagai Instrumen berjumpa dengan Allah
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 5-7 Juli 2019 mereka mengadakan ziarah rohani, namun sangat terbuka pada keadaan dunia sekitar. Karena mereka hidup dalam konteks, maka apa pun yang mereka lakukan entah itu bersifat rohani mau pun jasmani tidak terlepas dari lingkungan dan keadaan sosial yang mengitari mereka. 

Namun demikian mereka berusaha sedapat mungkin melihat itu sebagai campurtangan Allah. Campur tangan Allah tidak hanya melalui hal-hal yang bersifat rohaniah, namun juga hal-hal yang bersifat jasmaniah atau dalam kalimat lain yakni campur tangan Tuhan itu justru melalui orang-orang sederhana yang ada di sekitar kita. Apa yang menarik dari ziarah kali ini.

Yang menarik adalah bahwa dalam ziarah kali ini mereka tidak hanya hendak mengeratkan persaudaraan dan persekutuan dengan mengalami bersama, karya Tuhan melalu segala ciptaan-Nya baik berupa materi maupun berupa suatu forma yang tidak mudah untuk dijelaskan namun dapat dirasakan bersama-sama. 

Penulis menyebut forma tersebut adalah karya Roh Kudus. Tetapi juga hendak terlibat aktif dalam mempromosikan kekhasan Indonesia dengan mengunjungi beberapa tempat kuliner serta tempat rekreasi yang bernuansa klasik dan sederhana. 

Terlepas dari pentingnya hal-hal rohani di tengah dunia yang serba Smartphone, mereka juga merasakan Tuhan melalui karya-karya seni para seniman ciptaan Tuhan. Ada beberapa karya seni yang dijumpai di beberapa kota yang sempat dilintasi oleh mereka saat ziarah yakni Patung Maria Jatiningsih Jogjakarta; Gua Maria Kerep Ambarawa, dan Patung sekaligus Pura Hati Yesus yang Maha Kudus Ganjuran. Tidak begitu mewah namun menampilkan kesederhanaan umat Kristiani. 

Itulah esensi dasar keimanan Kristiani yakni meneladani kesederhanaan Yesus Kristus. Ziarah ini dengan demikian sebagai instrumen bagi kita untuk berjumpa dan dekat dengan TUHAN ALLAH. Biasan-biasan kedekatan inilah kirannya dapat membuahkan kebaikan bersama atau bonum Commune. Seperti misalnya, mengeratkan rasa belaskasih kepada sesama anggota PDPKK, kepada sesama gereja, yang seiman dan yang tidak seiman dan pada akhirnya bermuara kepada KEDAMAIAN NKRI.

Hal ini dapat kita teropong dari kegiatan-kegiatan yang pernah dan sedang mereka rintis dari dulu hingga saat ini. Berapa kegiatan khusus di luar kegiatan berdoa yang pernah dan juga sedang mereka usahakan adalah memperhatikan orang berkebutuhan khusus. 

Perhatian tidak hanya berupa materi tetapi juga sapaan, senyuman dan saling menghibur dan menerima kemanusiaan satu sama lain. Hal ini pernah merek lakukan di Rumah Panti Asuhan, yakni di Lumajang, dll. Ini bukan suatu hal yang biasa tetapi dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi kita untuk terus menerus memperhatikan satu sama lain yang berkebutuhan khusus. 

Jadi, disini dapat kita lihat bahwa nilai positif dan konstruktif dari PDPKK tidak hanya soal kekuatan iman, tetapi juga aplikasi yang nyata dari apa yang diimani tersebut serasi dengan realitas yang membutuhkan kehadiran kita.

Dalam beberapa kesempatan penulis sempat bertukar pikiran dengan beberapa anggota aktif dari kelompok ini. Dari berbagai topik pembicaraan yang menarik, penulis tertarik dengan salah satu topik yakni menyoal kehadiran TUHAN dalam segala ciptaan dan dalam kejadian-kejadian sederhana. 

Mengapa menyoal kehadiran TUHAN? Karena di zaman ini kita cendrung menilai segala seatu secara instan dan tidak bertahan lama. Seoalah-olah dunia ini seperti terbagi menjadi dua ruang. Ruang kudus dan ruang profun. 

Ruang kudus merupakan ruang dimana segala sesuatu yang bersifat rohani itu ada dan eksis di sana dan hanya orang tertentu dapat mengantar kita ke ruang tersebut. Untuk sampai ke sana setiap orang harus memiliki kepercayaan tertentu sesuai dengan ajaran aliran kepercayaan dan agama yang dianut. 

Ruang profun diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat duniwi. Kedua hal ini dapat membahayakan orang yang kurang paham mengenai hal-hal yang bersifat transendental dan imanen. Kalau terlalu menekankan ruang sakral orang dapat jatuh kepada pengkultusan terhadap segala sesuatu yang bersifat duniawi. 

Sebaliknya terlalu menekankan ruang profun dapat jatuh kepada hal ini yakni tidak ada ruang yang sakral sehingga menegasi sesuatu yang bersifat rohani. Lalu bagimana kita seharusnya bersikap. 

Kita perlu hidup dalam konteks kebudyaan kita sendiri dan kebudayaan di mana kita berada. Dengan demikian ziarah kali ini bermaksud agar kita menceburkan diri di ruang kudus dan ruang profun demi mencapai keserasian dan keseimbangan dalam hidup menggereja, bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara. 

Mari kita hidup dalam konsteks dan merawat keimanan kita baik dalam hal rohaniah maupun jasmaniah, sebab PDPKK, dan kelompok kategorial Katolik lain juga dipanggil untuk mewartakan kabar gembira kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Syalom.

Oleh: Fr. Dominikus Siong, SMM
Pasuruan, 11 juli 2019

×
Berita Terbaru Update