-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SIUMAN BUNUH DIRI, DI ATAS KURSI

Senin, 08 Juli 2019 | 21:58 WIB Last Updated 2020-01-29T13:31:55Z
SIUMAN BUNUH DIRI, DI ATAS KURSI
Ilustrasi: Hitekno

DAGING UNTUK PEMABUK

Daging yang dipertengkarkan
dikerat-kerat usai perkelahian
tak lagi ada simbah darah

Diminta-minta,
dipaksa-paksa,
didoa-doa,
dibagi dengan konsesi
janji saling melindungi

Padahal daging diburu
dengan gelimpang ratusan
korban hilang nyawa
dimasak bersama-sama
dengan aneka bumbu
ditumbuk di atas remuk
ramuan khas lobi-lobi
menu demokrasi

Tak terdengar yang mengharamkan
tak menonjol suara menghalalkan
ayat-ayat dilipat rapi
di atas megah kursi

Mereka saling senyum bersalaman
katanya demi siskamling persatuan
bersama-sama mengipas-ngipas
kerat daging gemuk empuk
nganga mulut pemabuk

Tak terhitung daging membusuk
meringkuk di balik jeruji anti rasuah
beralas sejarah hitam
paling belatung

Bandung, 4 Juli 2019

SIUMAN BUNUH DIRI 

Berkali-kali ia bunuh diri
dengan matahari, api,
gelap dan pengap

Diawali dengan pagi
ia sosok sembunyi-sembunyi
pasrahkan jiwa ditikam kemalasan
kehilangan darah segar kehidupan
merobek-robek waktu di atas ranjang
tak ada daya dan kesempatan

Siang bangun, melompati jalan
robohkan pagar-pagar pembatas
luka menganga di kedalaman jiwa
baunya telah membutakan mata
hingga ia jatuh dari segala wajar
gagal menjadi jiwa raga bugar

Ia merangkak pada senja tanpa tangan
dalam lumur lumpur tutupi badan
berjatuhan sampah-sampah
dari mulutnya telah nanah
pingsan terbawa arus
sungai begitu keruh

Di hulu ia pelan-pelan siuman
berteriak memukul-mukul kepala
seolah memarahi segala cara
membunuh waktu sia-sia
membakar cahaya
dan suguhkan kegelapan
di sepanjang terang

Ia menatap langit magrib
tanpa mampu berkedip
sebab air mata menahan
derasnya rasa penyesalan
dalam sadar seruan azan

Walau semua sudah hilang
katanya: biarkan hanya punya
terakhir bisa sembahyang

Bandung, 5 Juli 2019

ORANG-ORANG MALAM

Mereka masih dipeluk temaram malam
padahal matahari telah memanggang
rasa seolah memangku rembulan
padahal bintang telah hilang

Mereka belum pulang
dari jalan enggan terang
tenggelamkan seluruh badan
dalam sungsang cawan-cawan
arak tanpa takaran

Kulihat gulita makin buta
ketika mabuk semakin nyala
dipestakan sampai hulu
dalam limbung lagu
cinta padamu

Padahal lagu cinta itu
di hilir tangkai-tangkai sembilu
menikam orang-orang karam
di lumpur kemelaratan
menyayat keadilan

Sulit kita menyandarkan
harapan pada pemuja remang malam
kecuali saksikan benturan-benturan
sampai dada mereka berlubang
dikuras semua hitam kotoran
dengan mata benderang
anak-anak siang

Bandung, 6 Juli 2019

DI ATAS KURSI

Kursi-kursi kecil di lorong lobi
dikerubuti para pemain sirkus
serupa tikus mengintip rakus
di atas kursi

Kalian diam-diam membuka
kardus-kardus berisi rencana
sodorkan nama-nama koki
katanya pengolah negeri
di atas kursi

Kemarin hebat saling melucuti
dicaci dalam demonstrasi
dipukul oleh ayat suci
kini menjadi puji
di atas kursi

Kata kalian negeri ini milik bersama
sedang saling tikai ciri dinamika bangsa
namun kalian lupa ratusan korban
ditelan oleh garang permainan
yang disulut panggilan suci
oleh mulut-mulut api
di atas kursi

Di baliknya ternyata kursi
diduduki dengan tiket anarki
kobarkan tentang keadilan
berujung soal pembagian
nyalakan soal oposisi
kemudian api mati
di atas kursi

Agama telah menjadi panah
ideologi dibelah membuah resah
stigma lama dibangun-bangunkan
Tuhan tiba-tiba menjadi suruhan
kafir dan bukan kafir dibuat tuduhan
tetapi jihad, jihad sampai di sini
di atas kursi

Adakah kelak kumpulan berjuta-juta
tanpa motivasi kuasai singgasana
lalu pembenci dengan dibenci
berbagi minum kopi
di atas kursi

Dan rekonsiliasi termaknai
merawat lapak makan dan berak
di atas kursi

Bandung, 7 Juli 2019

BERDAMAI DENGAN ANGIN

Wahai angin kemarau
izinkan saya meminta
jikalau bisa di depan mata
kau tak lagi kabarkan risau

Pada patah ranting-ranting
dari embusmu paling kering

Tentu kemarau tak begitu panik
walau awan sesekali mencuri rintik
asal ranting memegang batang
dan batang lekat ke akar
mencengkram kekar

Tak seperti kemarau kemarin
akar saling menggulingkan
mencari tetes minuman
yang direbut mulut
paling haus

Jadilah kau sekarang semilir
seindah bunyikan desir pasir
menghibur sekumpulan anak
berserak sepanjang pesisir
diusir musim perkelahian
daratan yang berlomba
berebut kekuasaan

Dan angin hendaklah
bukan malah hidangan
para pemabuk kemenangan
terlebih menjadi ludah
kerumunan kalah

Bandung, 8 Juli 2019

Karya YS Sunaryo

Gambar diambil dari housepaper.net
×
Berita Terbaru Update