-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tarian Likurai; Warisan Budaya dan Potensi Untuk Mencapai Kepentingan Nasional

Rabu, 10 Juli 2019 | 11:52 WIB Last Updated 2019-12-04T10:23:46Z
Tarian Likurai; Warisan Budaya dan Potensi Untuk Mencapai Kepentingan Nasional
Foto penulis

Tarian Likurai dikenal sebagai tarian pertunjukkan dalam penjemputan pahlawan kembali dari medan perang yang ditampilkan dengan penuh rasa syukur karena para pahlawan dapat kembali dengan selamat dan membawakan kepala manusia. 

Tarian likurai adalah sejenis tarian perang yang biasanya dipentaskan oleh 10 orang perempuan atau lebih dengan cara menari sambil memukul Tihar (gendang) dan dua orang laki-laki sebagai peronggeng menggunakan kelewang (pedang) mengitari para penari perempuan.

Para penari dalam tarian likurai mengenakan busana adat masyarakat Belu sebagai simbol kekhasan daerah dan penghormatan kepada para pahlawan yang telah berperang melawan musuh. 

Menurut Hendri Karnoza Kepala Bidang Perjalanan Insentif Kementerian Pariwisata dalam liputan lampungro.com; tarian Likurai adalah sebuah tarian perang khas dari masyarakat pulau Timor khususnya di Kabupaten Belu yang menceritakan perjuangan masyarakat setempat mengusir penjajah saat zaman penjajahan. 

Pasca kemerdekaan, tradisi ‘penggal kepala’ telah ditiadakan, namun tarian ini tetap ditampilkan saat acara adat, penyambutan tamu serta  pertunjukkan seni budaya sebagai upaya mempertahankan kebudayaan asli masyarakat Belu. 

Tarian likurai merupakan identitas masyarakat Belu yang hingga kini masih dijaga dan terus dilestarikan turun-temurun kepada generasi penurus agar tidak punah dalam proses perjalanan waktu.

Dalam prakteknya, tarian Likurai seringkali ditampilkan saat festival seni budaya, festival cross border dan pernah meraih rekor MURI atau penghargaan dari Meseum Rekor Indonesia dengan total 6.000 penari Likurai saat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda Indonesia tahun 2017 yang bertempat di padang rumput Fulan Fehan. 

Acara pementasan budaya ini dihadiri Menteri Dalam Negeri Indonesia  Tjahjo Kumolo, Anggota DPR RI asal NTT, Herman Hery, Bupati Belu Willybrodus Lay serta masyarakat Belu dan wisatawan Timor Leste. 

Kegiatan ini diiniasi oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Kabupaten Belu dan telah diagendakan untuk dilaksanakan setiap tahun.

Esensi dari kegiatan ini untuk memupuk semangat cinta budaya lokal dan menjadi daya tarik pariwisata di wilayah Border Tourism.

Tarian Likurai Sebagai Warisan Budaya 
Dalam buku Filsafat Kebudayaan yang tulis J.W.M. Bakker. SJ, melihat budaya sebagai manifestasi alam pikir manusia yang mempunyai keindahan, nilai estetika dan moral. 

Karya kebudayaan berlangsung terus-menerus dan merupakan tiitik tolak perkembangan lebih lanjut. Kebudayan yang telah diciptakan sebagai ahli waris dan pewaris, diterima dari angkatan yang dulu dan diteruskan kepada yang akan datang agar tidak perlu diciptakan berulang kali. 

Sebagaimana diketahui, tarian Likurai ditampilkan sebagai penghormatan kepada para pahlawan yang telah berhasil melawan musuh dengan membawa kepala manusia sebagai simbol keperkasaan. 

Dalam era modern, tradisi penggal kepala telah dihapuskan namun tarian likurai tetap dipertahankan sebagai tarian khas daerah yang telah ada dan terus diwarisi kepada generasi penerus sebagai hasil karya cipta dari para leluhur yang mempunyai nilai estetika, nilai moral, dan nilai perjuangan. 

Proses pewarisan tarian likurai kepada generasi penerus demi mengenang perjuangan para pahlawan dengan semangat yang gigih untuk meraih kemenangan. 

Semangat perjuangan dan keperkasaan ini terus dikembangkan agar apa yang ditanamkan dari Likurai terus berkiblat pada wajah generasi baru, tidak hanya sebagai bentuk tarian tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dapat diketahui bahwa Tarian Likurai asal Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini telah ditetapkan dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2016.

Penetapan ini sebagai bentuk legitimasi pemerintah Indonesia atas budaya-budaya daerah termasuk tarian Likurai sebagai karya yang terlahir dari para leluhur masyarakat kabupaten Belu dan Indonesia pada umumnya. 

Diplomasi Budaya dan Kepentingan Nasional 
Secara sederhana, diplomasi diartikan sebagai seni bernegosiasi, berunding antara para diplomat untuk mencapai tujuan masing-masing negara. 

Sebagaimana yang didefenisikan oleh S.L Roy; diplomasi merupakan seni mengedepankan kepentingan suatu negara melalui negosiasi dengan cara-cara damai apabila mungkin dalam hubungan negara lain, jika cara damai gagal, cara ancaman untuk kekuatan nyata diperbolehkan. 

Dalam perkembangannya, konsep dari diplomasi mengalami evolusi sehingga dikenal dengan konsep diplomasi tradisional dan diplomasi modern. 

Dalam konsep diplomasi tradisional lebih bersifat formal (kenegaraan) dan aktor utamanya adalah seorang diplomat sebagai representasi dari suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional dan seringkali isu yang diperbincangkan mengenai hubungan antar negara, keamanan antar negara serta penyelesaian konflik. 

Sedangkan konsep diplomasi modern, prospek diplomasi mengalami perubahan dan cakupannya lebih luas-bidang politik, ekonomi, keamanan, pendidikan serta bidang sosial budaya.
Aktor dalam diplomasi modern mencakup individu, kelompok, organisasi  serta negara.

Diplomasi budaya merupakan bentuk usaha yang dilakukan dengan menjadikan budaya sebagai instrumen untuk membangun citra yang baik di suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional. 

Pemanfaatan budaya untuk membangun hubungan yang baik dengan negara lain, praktek diplomasi budaya bisa dilakukan oleh individu, kelompok, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi.

Diplomasi budaya dilakukan dengan membangun kesan positif terhadap suatu negara dan membuka peluang adanya kerjasama antar negara untuk mencapai kepentingan nasional. 

Kepentingan nasional di sini adalah, memperkenalkan kebudayaan nasional pada dunia internasional dan negara.

Tujuannya untuk menjadi target dalam diplomasi budaya serta membuka peluang kerjasama bilateral, trilateral ataupun multilateral dalam bidang ekonomi, politik dan sosial budaya hingga menarik wisatawan mancanegara ketika ada pameran budaya nasional. 

Proses diplomasi budaya dalam memperkenalkan tarian likurai telah dilihat dalam pembukaan Asian Games, 18 Agustus 2018 di stadion Gelora Bung Karno. Hal ini dilakukan untuk  memperlihatkan kekayaan budaya nusantara kepada masyarakat Asia. 

Bentuk diplomasi budaya yang dilakukan oleh masyarakat Belu terlihat di setiap acara pembukaan Festival Cross Border selalu diawali dengan penampilan tarian Likurai. Kegiatan ini dihadiri oleh para wisatawan dari Timor Leste. 

Tidak hanya itu, dalam festival ini terdapat hubungan baik antara elemen sebagai ajang untuk mempromosikan karya tangan masyarakat; kain adat khas Belu, tas dan topi yang terbuat dari hasil alam serta makanan-makanan lokal dari masyarakat setempat.

Diplomasi budaya tarian Likurai dilakukan juga oleh para misionaris dengan membawakan tarian dalam perayaan paskah di Napoli, Italia pada bulan Mei 2019 sebagai bentuk promosi  budaya yang berasal dari masyarakat Belu dan membangun citra positif negara Indonesia kepada masyarakat Napoli, Italia dengan segala kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Nusantara. 

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Timor Leste menggelar acara pameran, promosi dagang, seni budaya pendidikan yang bertempat di distrik Oekusi, mengundang beberapa tarian dari NTT termasuk para penari dari Kabupaten Belu untuk berkesempatan menampilkan tarian Likurai dalam ajang promosi tersebut. 

Target yang ingin dicapai oleh pemerintah Indonesia yakni memperkuat hubungan harmonis yang telah dibangun dari kedua negara sahabat, serta  mendorong perekonomian dari kedua negara agar terus digenjot. 

Bentuk promosi tarian Likurai terus dilakukan sebagaimana diberitakan media online TimorDaily.com, Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan tarian Likurai akan berkesempatan untuk tampil dalam upacara kenegaraan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2019 di istana negara dengan jumlah 156 penari. 

Kini sedang dipersiapkan 6 orang untuk tampil di negara Australia dan negara Eropa lainnya. Artinya, dengan mempromosikan tarian Likurai ke berbagai tempat bahkan luar negeri, Indonesia memiliki daya tersendiri untuk kepentingan pengembangan budaya dan diplomasi budaya itu sendiri. 

Diplomasi budaya dalam promosi tarian Likurai demi mencapai kepentingan nasional dapat terlihat dengan membangun persepsi positif dalam kancah internasional dan memperkuat hubungan diplomatik dengan negara lain serta membuka peluang kerjasama dalam bidang lain dengan negara lain. 

Capaian dalam diplomasi budaya tarian likurai dalam setiap festival di wilayah perbatasan Kabupaten Belu ditandai melonjaknya kunjungan wisatawan dari Timor Leste dan mempercepat perputaran ekonomi masyarakat setempat. 

Dari berbagi rangkaian kegiatan yang telah dilakukan terkait pementasan Likurai di berbagai tempat, memberikan sebuah keyakinan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan spesifik masyarakat Belu membangun dan meningkatkan budaya lokal sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terlepas dari diplomasi budaya yang telah dilakukan, asumsinya; sebagai suatu kebangggaan tersendiri pada generasi muda untuk terus mempertahankan budaya lokal dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 

Ketika diplomasi budaya tarian Likurai terus dilakukan, akan memberi dampak signifikan untuk masyarakat Belu dan negara Indonesia  menjadikan budaya mempunyai bargaining position dalam percaturan politik internasional. 

Harapannya, kepada pemerintah kabupaten Belu untuk terus melakukan even-even lokal sebagai bentuk pelestarian budaya dan target utamanya adalah generasi muda berkiblat dalam merefleksikan nilai-nilai budaya serta mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. 

Dalam proses diplomasi budaya, perlu adanya sinergitas antara masyarakat, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Tujuan yakni memperjuangkan tarian Likurai menjadi nilai jual dalam kancah global sehingga akan membuka peluang menuju adanya kerjasama sister city, sister province ataupun kerjasama antara negara dalam pertukaran budaya, pemeran budaya di negera lain serta berimplikasi pada bidang politik, ekonomi dan bidang budaya sendiri sebagai target dalam pencapaian kepentingan nasional bangsa Indonesia.  

Oleh: Agustino Roi Ronaldo Arakat
Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional,  Universitas Respati Yogyakarta

×
Berita Terbaru Update