-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AKU MERINDU

Minggu, 24 November 2019 | 22:00 WIB Last Updated 2019-11-25T08:50:19Z
AKU MERINDU
Ilustrasi diambil dari http://kiokarma.com/
Karya : Wiwin Herna Ningsih

Ketika kemarau usai di penghunjung bulan September, laki-laki itu berjanji akan datang dan mengajaknya makan dan jalan-jalan di luar.

Di sebuah bukit yang rimbun yang penuh dengan pohon pinus yang meneduhkan dengan sebuah rindu.
Dan rindu itu begitu menyekap jiwanya, begitu rentan.

Dan rindu itu seperti fatamorgana yang memabukkan begitu hebatnya, begitu berat  menyandang sebuah rindu.
Rindu itu telah menenggelamkannya, hingga derai air mata tak tertahankan, hanya untuk sebuah rindu.

Dan malampun jiwanya tak tenang, gelisah senantiasa, karena rindunya tak kunjung tiba dalam ingatannya. Seperti sebuah denting hujan menusuki hatinya semakin lama semakin perih.

Bagaikan pedang mengiris relung jiwa karena sebuah rindu.
Dan air mata tetap membasahi tempat tidurnya yang sunyi.
Hanya tembok bisu dan dingin menatap hampa padanya.

Dan perempuan itu menanti rindunya hingga ke alam mimpi.
Mimpi yang indah akan sebuah janji, dan janji itu tak kunjung tiba, dalam tidurnya dia menangis.
Menangisi dadanya yang berat oleh sebuah rindu.
Lelangit kamarpun yang lengang adalah penawar rindunya dalam temaram cahaya samar dari lampu neon yang sebentar lagi akan padam dan mati.

Diapun menangis meminta kepada Tuhannya dalam doanya yang tak sempat dia ucapkan.
Karena dadanya sesak oleh tangis dan rindu yang menyatu dalam jiwa.
"Oh Tuhan, sampai kapan rindu ini membelenggu jiwaku yang hampa?"
Itulah ucapan yang kian hari kian menyiksanya.
Dan perempuan itu tumbang, karena setiap hari dia menangis, menangisi rindunya, yang kini telah menghilang di sebuah bukit pinus yang sunyi dan tertiup kabut selamanya.

Bandung Barat, 24 November 2019

×
Berita Terbaru Update