-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CINTA BEDA AGAMA

Kamis, 21 November 2019 | 17:52 WIB Last Updated 2020-01-30T07:13:49Z
CINTA BEDA AGAMA
Ilusstrasi: Shopback

OLEH: VINSENSIUS INDRA SERVIN

Senja merangkak di halte busway itu. Warna keperakannya bersyadu rasa pada bangku penantian antara kepergian dan kedatangan. Tapi sore ini bangku-bangku ini sangat sepi. Lengang. Membisu dalam kepasrahan. Bangku-bangku ini walaupun tak banyak tapi cukup bagi mereka yang pasrah dalam penantian. Sebab menunggu itu menyakitkan.

Di sudut bangku paling ujung jalur Kalideres-Pasar Baru duduk dua insan muda. Mereka sama-sama menanti Trans Jakarta menuju Harmoni. Mereka rupanya baru mengenal. Tak ada percakapan yang lebih indah dari bintang di langit yang mereka lakonkan cuman kata lepas rasa yang terukur dan terarah mereka nyatakan. Mungkin mereka sepasang rasa yang sedang mengukir kisah.

Desiran angin senja kembali mengingatkan mereka akan debu dan panasnya kota Jakarta. Desingan tronton membiang di telinga. Anak jalanan berlalu-lalang di bahu kota mencari sebutir nasi. Asap kendaraan membakar nasip anak bangsa. Oh…Jakarta. Tergambar indah di sudut wajah gadis manis yang bernama Keyla.

Keyla…’,sapa laki-laki yang duduk sebangku dengannya. Keyla pun menoleh kepadanya seperti angin sepoi-sepoi yang menepis lembut bunga-bunga pagar pada batas jalan ini. Sekilas tatapan matanya segera tenggelam rasa di balik roman wajahnya yang manis.

‘Maafkan aku Keyla…,’ dari tadi aku malu menegurmu, aku takut ini bukan kamu, apalagi maskermu menutup sebagian wajahmu. Ungkap cowok itu. Mata keyla pun meredup. Lalu ia membuka maskernya. Mulut manisnya sedikit membentuk bulan sabit. Bulan sabit yang molek, menari-nari di cakrawala. Manis sekali.

Lalu bibirnya bicara. ‘Maafkan aku kak yang mungkin maskerku membuatmu tidak mampu mengenal aku lagi. Tapi setidaknya kamu menghafal caraku berjalan, memahami caraku merapi rambut, atau caraku duduk. Kita sudah lama bersama tapi mungkin karena faktor agama itu yang membuat kamu melupakan aku, dan semua sifat dan tingkahku. 

Aku tak butuh laki-laki romantis yang buih-buih kata di mulutnya, tapi cukup bagiku laki-laki yang selalu membuat aku nyaman pada sandaranya. Aku sadar kok kita beda keyakinan tapi mungkin itulah takdir kita.

Keduanya pun kembali menjaga hening bukan kehabisan kata-kata melaikan ada sesuatu yang tumbuh diantara hati Keyla dan hati cowok itu yang belum dimakan waktu. Rasa yang terbungkus rapi pada detak jantung mereka. Rasa yang membuat mereka aman dan nyaman saat bersama.

Cowok itu kelihatannya sangat menyayangi Keyla. Bukan pertama-tama karena kecantikannya. Bukan karena kekayaan. Bukan karena kepandaian. Bukan pula karena body-nya yang super seksi, melainkan hati Keyla yang tulus murni. Meskipun sifat Keyla yang cuek dan masa bodoh namun bagi cowok itu justru hal itu yang menjadi salah satu daya tariknya.

‘Keyla, kadang aku mimpi bertemu kamu di taman Monas atau Kota Tua. Aku tak tahu apakah mimpiku itu manifestasi dari kenyataan di dalam dirimu. Atau hanya ketakutanku semata, tetapi bolehkah aku bertanya, apakah ada tempat di hatimu untuk menyimpan mimpiku?’

‘Mengapa kau mengatakan hal itu kak’, jawab Keyla dengan nada tegas.
‘aku sangat mencintaimu Keyla. Aku tahu kita beda agama, tapi mungkin itulah takdir kita. Tuhan itu satu, dan Dia pulalah yang akan mempersatukan kita. Agama memang beda tetapi punya tujuan satu yakni pintu Surga.’

Keyla menunduk. Hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan cowok itu. Jantungnya berdetak tak karuan. Ingin rasanya memeluk cowok itu erat-erat tetapi ia coba menyembunyi gejolak rasa itu pada lamunan panjang tak bertepi.

Mengpa kamu diam saja Keyla?
Kebisuanmu menambah gunda di dada ku. Diam mu menyimpan tanda tanya. Jujurlah Keyla. Jika kamu tidak suka dengan ucapanku silakan tamparkan diriku. Aku siap. Aku rela. Tapi jangan diam begitu dong?, ngomel cowok itu.

‘kak…,’ sapa Keyla sambil menggeser tubuhnya dan kini tubuhnya mendekat lekat dengan cowok itu. Dengan manja Keyla menyandarkan kepala pada bahu cowok itu.
‘kak…’, sekali lagi Keyla menyapa cowok itu. Cowok itu pun kembali menatap Keyla

‘Kak dalam setiap baik rindu ku mengisahkan sebidang kisah antara hatiku dan hatimu yang tersentuh waktu. Waktu tidak salah mempertemukan dua rasa ingin bersama. Hatiku telah dipasung dengan rindumu. Dan hatimu telah terikan oleh rasaku. Tak ada kata lain dalam doa malamku selain mempertemukan rindu dalam jarak. 

Angin tak berdusta menjatuhkan daun atau ranting sekalipun. Sebab demi menyuburkan pohon ia rela gugur. Maka benar kata orang esensi dari cinta adalah pengorbanan. Trimakasih untuk mu  yang mengorbankan waktu, tenaga dan semuanya demi aku, kau dan kesuburan cinta kita. I LOVE YOU MY DEAR. Sekali lagi aku mencinta mu.

Di elus pipi cowok itu dengan tangannya yang lembut. Tangan cowok itu pun mengapit tangan Keyla sebagai asmara mulai berseminya cinta di tengah keramaian. Sekali lagi cowok itu memeluk tubuh mungil gadis itu erat-erat.
**********  
Semenjak pertemuan itu Keyla dan cowok  itu tidak pernah bertegur sapa lagi. Mereka seperti tapak di pesisir pantai yang telah di jilat ombak. Hilang. Jejak-jejaknya kini tak lagi bertapak. Hidup kembali di terkam gelap. Tak pernah lagi ia merasakan indahnya hidup. Tak pernah lagi ia memuji senja. Dan tak pernah lagi ia menemukan sosok bidadari sebaik Keyla. Hidupnya benar-benar gelap.

Suara cicak kembali menyadarkan dia bahwa malam kembali berjaga. Menyapu kembali senja yang tunduk pada peraduannya. Angin sepoi-sepoi mengguyuri sedikit rasa bingung dan cintanya pada gadis berjilbab itu. Manis dan anggun menjadi ciri dirinya yang khas dan unik.

Lamunan panjang itu tiba-tiba berhenti di tepian sunyi, diusik oleh sebuah pesan pendek di hanphone-nya, ‘hallo kak apa kabarmu, aku sedang merindukanmu. Kening ini masih enggan kubasuhi air, sebab aku takut hubungan ini hanya berakhir di kening ini. Kening ini masih membekas ciuman hangatmu di halte busway itu. Sekali lagi aku mencintaimu kak. Bolehkah kita bertemu di Kali Jodo?

Boleh sekali sayangku. Jawabab cowok itu dengan hati berbunga-bunga.
Sungguh pesan ini mengguncang nadinya yang selama ini membeku. Daranya pun kembali beroprasi normal. Hidupnya  kembali diwarnai dengan setitik nada dalam layar kaca itu. Sungguh…cinta melebihi segalanya.

Tak beberapa lama kemudian mereka pun bertemu di Kali Jodo. Kali jodo menjadi saksi bisu pertemuan mereka kali ini. Kupu-kupu malam terbang kesana-kemari mencari mangsa. Ada yang bernyanyi. Ada yang menjual. Ada yang minum-minuman. Dan ada yang duduk berpasang-pasangan.
Lalu mengawali pertemua ini cowok itu lansung mengungkapkan isi hatinya

’Aku sangat mencintaimu sayang. Dan cintaku tak hanya bibirku yang mendarat di keningmu tapi cintaku akan mendarat di hatimu untuk selamanya. Aku mencintaimu karena kau telah menyempurnakan hidupku. 

Kau telah mewarnai duniaku. Dan yang teristimewa membuat aku nyaman berada disisihmu. Paduan kekurangan dan kelebihan kita bagai bumbu diantara masakan ibu. Enak dan tak overdosis. Aku sadar bahwa cinta itu satu untuk selamanya. 

Bagaikan karang di tepi pantai, walaupun ombak menerpanya tapi tetap kuat dan tak pernah goyah. Tetapi satu yang masih aku pikirkan’. Lalu cowok itu berhenti sekejap. Entah apa yang dipikirnya. Mukanya kelihatan kusut. Ada ketakutan yang tesembunyi dalam hatinya.

Apa lagi kak, bukankah kita telah direstui?. Bukankah kaka mencintaiku dengan tulus?. Atau ini semua hanya sebatas hayalan belaka?

Bukan Keyla? Potong cowok itu.
Lalu kenapa? Lanjut Keyla dengan nada terengah-engah. Matanya kini berair. Pipi manisnya dibanjiri setumpul air mata cinta.

Cowok itu pun dengan tenang merangkul Keyla dengan rasa kasih sayang yang tulus. Sekali lagi ia mencium kening keyla. Kedua tangannya mengelus-elus rambut pemilik pipih lesung itu.

‘Keyla, sekali lagi aku sangat mencintaimu. Tapi satu hal yang aku pikirkan dalam hubungan kita yakni perbedaan agama. Agama mu mungkin mengajarkan bahwa cinta beda agama itu dosa, atau dengan kata lain dilarang. 

Begitu juga dalam agamaku, menikah beda agama itu dianggap murtad. Lalu jika kita menikah nanti, agama mana yang kita pilih, mengikuti agamaku atau mengikuti agamamu?. Jika agamaku yang dipilih bagaimana dengan kaummu, apakah mereka menerima? Apalagi ayahmu seorang ustat, tentu sangatlah berat. Terus…jika agama mu yang di pilih bagaimana dengan kaum ku? Apalagi aku seorang anak pendeta ternama di daerah ku. Pungkas cowok pemilik gigi ginsul itu.

Lalu mereka kembali merunduk. Diam. Tak tak tahu bagaimana lagi ending dari rasa mereka. Berkhir sampai di sini atau tetap lanjut. Berakhir dengan kisah sedih atau bahagia. Cinta memang tak memandang siapa dan apa. Kapan dan dimana. Tapi cinta dibatasi oleh adat dan agama.

‘Kak agama memang beda tapi Tuhan tetap satu dan sama. Cintaku pada Tuhan tak ada artinya jika aku membenci agama lain atau tidak mencintai sesama di sekitarku. Apalagi melarang persilangan cinta. Kita sama manusia. Tak apalah kalau kita tetap satu dalam rasa. Satu dalam kata. Dan satu dalam raga. 

Sekarang kita memilih agama mana yang harus kita ikut. Agamku atau agamu?. Dan aku siap menerima konsekuensinya. Tegas Keyla. Akhirnya mereka pun memutuskan ke pelaminan dengan mengikuti agama cowok itu. Keduanya sangat bahagia. Kedua keluarga besar pun turut bahagia.

 Air memang sama. Dari sumber yang sama tapi rasanya berbeda. Air tawar rasanya tawar. Air laut rasanya asin. Tapi keduanya di pertemukan dalam muara. Begitulah agama. Keduanya sama. Dari sumber yang sama. Ajarannya sama tapi panutan berbeda. Ada yang mengikuti Nabi ISAH ALMASIH dan ada yang mengikuti NABI MUHAMAT SAW. Tapi tetap tujuan akhir sama pintu surga.

TENTANG PENULIS
Saya VINSENSIUS INDRA SERVIN, biasa dipanggil Servin. Alumni Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Sejak seminari sampai sekarang suka membaca, dan menulis. Sekarang bekerja di salah satu lembaga pendidikan di Jakarta, sambil menempuh SI di UNIVERSITAS INDRA PRASASTI (UNINDRA).

Ilustrasi diambil dari eskipaper.com
×
Berita Terbaru Update