-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CINTA PERTAMA MEMESONA

Senin, 25 November 2019 | 22:39 WIB Last Updated 2019-12-04T21:33:46Z
CINTA PERTAMA MEMESONA
Ilustrasi diambil dari sukita.info
Karya : Wiwin Herna Ningsih

"Heyyy....!!! Siapa yang melempariku terus, dasarrr...jahilll amat sih!!!" Kataku. Mataku berkeliling melihat siapa orangnya yang melempariku dengan sekepal kertas yang bertubi-tubi.

"Tak tahu tuh, siapa ya?" Djati meledekku sambil mengerling matanya padaku. Aku bertambah kesal di perlakukan seperti itu.

"Mungkin ada yang merasaaa kaleee...!" Kata Djati lagi, kali ini matanya melirik pada Rey, yang di lirik hanta mesem-mesem saja dan acuh tak acuh.

"Hayooo...kalau tak mengaku, aku jitakin satu persatu nih!" Ancamku pada teman laki-laki yang jahil.

"Ampunnnn...tuan putri, jangan jitakin aku ya, kepalaku cuma satu!" Kata Bhucun si mata sipit dari negeri Tiongkok, sambil mengusap-usap kepala pelontosnya.

Bila dia tersenyum, matanya ngumpet tak kelihatan. Aku mau tak mau ikut tersenyum, dan tak ada satupun yang mengaku.

Bel istirahat berdentang tiga kali, kami berhamburan pergi ke taman dekat perpustakaan. Dan mereka menyerbu kantin sebelah kiri perpustakaan.

Sedangkan aku pergi ke bangku perpustakaan untuk membaca buku kesukaanku yaitu buku sastra yang membahas tentang puisi.

Di bangku perpustakaan aku nikmati sejuknya angin yang datang dari lorong taman yang beraneka warna, di sinilah aku duduk di bangku panjang putih untuk membaca buku tanpa di ganggu.

Tiba-tiba punggungku seperti ada yang melempariku, dan kutengok, ternyata hanya  kertas yang di remas-remas-remas tangan berbentuk bola kecil, melayang ke punggungku.

Mataku menengok ke sana ke mari mencari siapa si pelempar kertas dan mataku menatap seorang laki-laki muda yang duduk acuh tak acuh, dia Rey, dan tak ada siapapun selain dia.

"Hey Rey! Kamu ya! Yang melempari punggungku dengan kertasmu?" Kataku, setengah berteriak.
Yang di teriaki olehku hanya duduk menopang dagu, dan pandangannya dingin, acuh tak acuh.

"Hey! Aku bicara sama kamu Rey! Dengar tidak sih?" Kataku, setengah marah padanya.

Matanya menyipit memandangku, lalu tangannya memetik bunga Soka merah saga. Dan di berikan padaku dengan gaya tengilnya. Aku setengah marah, dan juga ingin tertawa terbahak-bahak melihat gayanya.

"Maafkan aku tuan putri, aku persembahkan bunga naga ini, eeehh....salahhh..
Hm....bunga Soka ini untukmu sebagai pelipur lara tuan putri, dari pada marah-marah begitu, terimalah sebagai persembahan terakhir dariku yang suka pada tuan putri  Diana dari negeri dongeng!"

Kata-katanya tanpa titik tanpa koma, terus meluncur seperti air mancur. Aku tak tahan melihat gaya konyolnya, dan pecahlah tawaku di perpustakaan yang lengang dan sepi.

"Ih dasar kamu itu tak ada kerjaan ya!" Kataku, masih menahan rasa geliku, dan perutku menjadi sakit, kebanyakkan tertawa.

"Diana, maafkan kelakuanku di kelas tadi ya!" Katanya, sambil memegang tanganku yang gemetar seperti di aliri setrum seratus watt. Dan darahku mendesir, jantungku berdegup kencang tak karuan. Mataku melotot ke arah Rey.

Tangannya Rey tak mau melepaskan tanganku yang gemetaran. Seluruh jiwaku terguncang seakan goyah, tak bisa menahan demam yang meladaku. Aku terkulai lemas dan tak berdaya, bagaikan tangkai bunga Soka merah saga yang kering dan terlepas dari tangkainya.

Namun ada rasa bahagia yang merasuk dalam jiwaku, seperti pendar-pendar pelangi yang berwarna-warni merona dalam pandanganku

Mata Rey menatap mataku dengan keteduhannya, seolah aku sedang berteduh di serimbun pohon Akasia yang teduh dan menyejukkan hatiku.

"Diana, aku sayang pada kamu, itu lama sekali aku ingin mengutarakan perasaanku, maukah kau pun menyayangiku?"
Kata-kata Rey membuat aku terpana dan terpesona, ternyata dia tak sedingin dan acuh tak acuh seperti yang kulihat sehari-hari di kelas. Hatiku bergetar, pijakan kakiku terasa akan runtuh. Aku tak bisa menjawab, hanya anggukkan kepalaku saja yang memberi isyarat.

"Hey! Ayo kita ke kelas!" Katanya, mengejutkan dari lamunan panjang yang indah. Jahilnya datang lagi. Hidungku di jepit oleh jemarinya. Aku akan memukulnya, dia mengelak sambil berlari, dan aku tak sadar, aku kejar dia sampai ke tempat duduknya. Aku cubit tangannya, sambil mengancamnya.

"Awas ya, kalau pinjam buku puisiku lagi, aku tak akan memberimu kalau jahil terus!"  Aku tahu, Rey suka mengotak atik puisiku untuk di jadikan sebuah lagu.

Hari-hariku semakin penuh aneka bunga, hidupku terasa ceria, sekolahku seperti taman bunga yang mekar setiap hari. Dan sang mentaripun tersenyum padaku. Seolah menyapaku setiap pagi di taman perpustakaan tempatku membaca buku. Aku dan Rey begitu bahagia sepanjang hari.

Ketika guru fisika tak masuk ke kelas, kelas begitu riuh oleh canda ria anak-anak yang super jahil.
Seolah bebas dari beban yang menghimpit dengan segala rumus-rumus yang rumit.

PRAANGGG....
Tiba-tiba kelas hening dan ada sebuah batu yang lumayan besar nyasar masuk kelas dan memecahkan jendela kelasku.

Kami semua tersadar, akhirnya semua kalang kabut, ada yang berlari keluar, ada yang sembunyi di pojokan bangku, aku sendiri sembunyi di kolong meja.

Dan aku menyadari, dari luar jendela dekat dengan jalan raya, dan sekolahku paling mudah di serang oleh lemparan batu dari anak-anak STM, musuh bebuyutan anak SMA tempat aku sekolah.

Tiba-tiba ada tangan yang terkulai dekat dengan tempat sembunyiku. Dan ada darah yang mengucur di lantai kelas. Aku terkejut, dan kutelusuri dengan mataku, ternyata Rey.

"Rey! Kamu kenapa?" Tanyaku, dengan hati yang tak karuan. Tanpa ingat lagi dengan tawuran di luar, aku menghampiri Rey, kepalanya berdarah, aku menangis meraung-raung melihat darah berceceran di lantaidan di baju seragamnya. Tanganku meraih kepala Rey dan di tidurkan di pangkuanku.

"Rey! Kamu jangan mati Rey!!! Aku tak mau kehilanganmu!!!" Aku menjerit saking terkejutnys dan darah mengucur di baju seragamku. Sambil kuusap-usap pipinya.

"Diana, aku minta maaf ya, aku sangat sayang padamu, maafkan semua kejahilanku padamu selama ini ya, sudahlah jangan menangis, tersenyumlah untukku ya, mau kan?" Katanya, sambil meraih jemariku.

"Iya Rey," Aku mengusap air mataku dan tersenyum untuknya, walau hatiku terasa teriris sembilu.

"Terima kasih tuan putri Diana, aku bahagia sekali!" Katanya. Dan tersenyum padaku, dan matanya meredup, tangannya terkulai lemas. "Reeeyyyyy...!!! Aku limbung dan tak ingat apa-apa lagi.

Hari-hari terasa suram setelah Rey pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Bangku panjang tempat aku dan Rey bercanda ria kini terasa sunyi dan lengang, bunga Soka merah saga pun ikut layu, seolah ikut merasakan kehilangan Rey.

Langit begitu mendung kelabu, semua berkabung dengan kepergian Rey. Selamat jalan Rey, semoga engkau damai di sisi-Nya, amin.

Bandung Barat, 25 November 2019

×
Berita Terbaru Update