-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kidung Ksatria Paminggir, Negara Teater, Kepada Yang Ingin Mengetuk Pintu Langit

Jumat, 22 November 2019 | 11:50 WIB Last Updated 2019-12-06T14:14:28Z
Kidung Ksatri Paminggir, Negara Teater, Kepada Yang Ingin Mengetuk Pintu Langit


KIDUNG KESATRIA PAMINGGIR

Aku menyingkir dari keramaian kehidupan
lari dari bayangan duniawi yang mengejar
mingat dari hiruk pikuk dunia kekuasaan
berdiam dalam tapa bathin tanpa batas...

Kesunyian telah menjadi tempat tinggalku
tak ada ambisi tak ada nafsu
pada kekuasaan minggir menyingkir
menentramkan bathin dalam ruang pamujan jiwa tapi
mata bathinku memancar menuruni lembah,
bukit dan ngarai pegunungan menjelajah desa-desa dan kota-kota hingga
ke kota raja masih banyak tangisan hati para jelata
negeri nyeri terdengar di telinga jiwaku
ku tutup telinga jiwa agar nuraniku jernih kembali sejernih air telaga ... :

Bila nanti zaman goro-goro datang kembali pada t'latah tanah negeri maka
aku akan turun gunung kembali bersama kesatria-kesatria negeri ini ... ;
Sekarang biar saja, aku menyingkir dari kehidupan
berdiam dalam lelaku samadi bathin panjang tanpa batas
berselimut waktu dan tabir hidupku

KEPADA YANG INGIN MENGETUK PINTU LANGIT

Kepada yang ingin mengetuk pintu langit :
apa yang sesungguhnya ingin kau sampaikan?
apa kalian ingin menyampaikan sendiri perbuatan-perbuatan dzhalimmu itu
kepada Pemilik pintu langit tersebut
kepada yang ingin mengetuk pintu langit :

Doa-doa atau mantra-mantrakah yang sedang kalian sampaikan itu...
kerna Kalamullah itu diturunkan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar ...:
Perbuatan kalian sungguh keji dan mungkar
kepada sesama saudara sendiri
perbuatan kalian sungguh biadab kepada sesama manusia dan
telah merusak harmonie kedamaian di dalam kehidupan ini !

Kepada yang ingin mengetuk pintu langit :
Islam itu mengajarkan ahlakul karimah agar
prilaku kita sebagai insannya menjadi baik dan
menghargai kehidupan yang ada di atas muka bumi ini ... ;

Lalu kenapa agama ingin kau jadikan : paham politik dalam bernegara,
agama dan politik itu seperti minyak dan api di jaman sekarang ini
tak dapat dicampuradukan kerna dapat menghancurkan kehidupan dan
menghanguskan nurani kepada yang ingin mengetuk pintu langit :

Islam ada untuk orang-orang yang berakal dan berpikir
sedangkan prilaku dan perbuatan kalian kepada saudara-saudaramu sesama muslim dan
kepada sesama umat manusia sudah benar-benar ke hilangan akal dan nurani ...:

Tak ada alasan Dia untuk membuka pintu langit dan
menjabah doa-doa kalian yang seperti ocehan mantra-mantra pembenaran diri
bukan atas dasar kebenaran dan memperjungkan:
meletakan hak kepada yang berhak

DIA YANG DIBANGKITKAN KEMBALI OLEH KEHENDAK TAKDIR

Lelaki itu diaktifkan kembali oleh takdir
ia bangkit lagi dan menggetarkan para lawan... "
lelaki itu selalu fokus pada targetnya
tak akan melepas begitu saja buruannya di tengah medan pertempuran yang
telah dijejaknya tak ada kata ampun dan
tak ada maaf bagi yang telah memangsa nasib kemanusian

Ia mesin perang yang tangguh dan terkalahkan bersama takdirnya
tak ada rasa gentar tak ada rasa takut kerna
ia bersikap apa adanya ia berjalan lurus pada keyakinannya
ini bukan tentang keimanannya tapi
berjuang dengan keras untuk meletakan hak kepada yang berhak ... :

Memberikan sanksi kepada yang patut diberikan
sanksi setegas-tegasnya tanpa memandang siapa pun
tak ada tebang pilih semuanya saja bagi mereka yang telah berbuat kejahatan
kepada kehidupan biar kejahatan-kejahatan di dalam sistem lebur dan musnah serta
tak lagi kelakuan seenak jidat menurut : pemahaman nenek loe !


BULL SHIT
(Aku Menggugat Zaman)

Tak usah membawa-bawa agama apalagi Tuhan
kalau pada kenyataan dan faktanya
agama hanya sebagai kedok badut belaka dan
tak pernah takut kepada Tuhan (kerna tak terlihat oleh mata telanjang)
tak usah berbacot sedang memperjuangkan nasib rakyat padahal
kenyataannya sedang memperkaya nasib keluarga sendiri dengan uang negara
ketakutan datang ketika Tuhan datang menghukum
mari taat dan setia memperjuangkan kemanusiaan dan
meletakan hak kepada yang berhak

Tak ada gunanya kepatutan bagi orang-orang berpikiran licik
tak ada gunanya kesantunan pada orang-orang yang berjiwa keji dan
tak perduli pada kemashalatan kehidupan
tak ada gunanya kelembutan dan kesopanan pada orang -orang yang berprilaku maling kekacauan-kekacauan ;

Kalian lah yang selama ini pengacau-pengacau itu sendiri di dalam sistem kerusuhan :
sesungguhnya kalian sendirilah yang telah membuat kerusuhan ekonomi pada kehidupan rakyat
di negeri ini Tuhan berang

Kepada kalian yang telah memperjual belikan nama-Nya dan
menyalahgunakan ajaran-Nya menjadi tameng untuk
kepentingan pribadi dan kelompok kalian tanpa
memperdulikan nasib banyak orang

Tuhan punya cara sendiri untuk memberikan sanksi di kehidupan ini lewat
proses hukum yang alami dengan bukti-bukti yang ada
ini saatnya Tuhan meletakan
yang hak kepada yang berhak melalui seseorang yang kalian anggap ;
bukan saudara seiman... " sesungguhnya Gusti Allah Mbonten Sare... "

NEGARA THEATER
(2) (Aku Menggugat Zaman)

Zaman telah bergejolak bhumiku tak semesra dulu lagi
matahari menyala-nyala
terik membadai tangisan hujan deras keras menyapu muka tanah...
lakon-lakon para durjana telah mentas tanpa perduli pada nasib dan
hilang nurani di atas pentas panggungnya
sang dalang tertawa geli terkekeh
di balik panggung jagad pakeliran
di balik samar cahaya lampu kanyon

Kepentingan dengan nafsu ambisi menguasai hasil agama-agama dijadikan domba aduan
di jadikan bahan dagelan dan tameng untuk
menutupi kepentingan - kepentingan para Rahwana dan Sengkuni serta
Duryudhana politik Nayang Genggong mulai terbawa arus zaman yang begitu kencang
menggerogoti nurani sabda para Bhegawan
tak lagi ampuh para Dewa di kahyangan
cakrakembang telah berselingkuh dengan para Dewa dari negeri-negeri asing
atas angin orang-orang menyalahkan musim kerna
alam tak lagi bersahabat dan mesra seperti dulu lagi
bala-bala sedang terjadi pada tanah negeri

Balai Majelis majelis Agung lungkra lalu
saling menyalahkan dan asal tuduh bahaya laten dan
radikal menyusup diam-diam seperti hantu malam
para wadyabala saling diadu dan beradu pamor agar
bercerai berai cinta dengan para jelata negeri...

Tak ada lagi tunduh kepada Raja Negeri semua berjalan liar tanpa arah
para pentul-pentul politik menari-nari keserupan di atas dan
di samping pentas pertunjukan demi uang bayaran yang
tak seberapa dan nasi bungkus untuk menganjal lapar pada
perut tanpa memperdulikan nasib hidup anak keturunan dan
masa depan tanah negeriku ini

Sang dalang makin dan semakin tertawa geli
terkekeh-kekeh dibalik panggung jagad pakeliran
di balik samar cahaya lampu kanyon
kepentingan masih dengan nafsu ambisi menguasai hasil alam negeriku yang
gemah ripah loh jinawi yang tak pernah habis dirampok rampok semenjak tiga setengah abad yang
lampau negeriku bagai Pentas Negara Theater selalu saja ada pementasan pementasan yang
memiriskan nurani dan mengeringkan air mata duka
matahari menghitam di atas langit khatulistiwa
rembulan gugur ke atas muka tanah bhumi...

Ilustrasi diambil dari dakatour.com
×
Berita Terbaru Update