-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

LELAKI DI PUNCAK BUKIT MALABAR

Rabu, 20 November 2019 | 05:48 WIB Last Updated 2019-12-04T22:04:15Z
LELAKI DI PUNCAK BUKIT MALABAR
Ilustrasi diambil dari chanel youtube HIVI!

Oleh : Wiwin Herna Ningsih

Rumah tua di puncak bukit Malabar, peninggalan jaman Belanda masih berdiri megah. Catnya masih berwarna putih, dan temboknya yang bawah bercat hitam, kutatap dengan perasaan rindu.

Dulu, dulu sekali, aku pernah duduk di sini di bangku taman yang ada ayunannya, yang di ikatkan ke sebatang pinus yang rimbun dan teduh. 

Dan tangan kekar seorang remaja yang baru beranjak dewasa, mengayun-ayunkan tali ayunan untuk menyenangkan hatiku. Dan kami tergelak, tertawa bersama mengikuti tali ayunan yang seakan terbang terbawa angin.

Rambutku yang panjang tergerai juga ikut mengayun. Dengan napas yang terengah-engah kelelahan, aku minta berhenti.

"Andika, sudah, hentikan ayunannya!" Kataku, meminta untuk berhenti.
"Ya, selagi kamu senang, aku ayunkan lagi ya!" Katanya, ngeyel menggodaku.
Aku kelelahan, juga senang, aku dan Andika begitu bahagia.

Kami pun duduk di bangku taman sambil memandang hamparan bukit teh yang hijau dan asri, berpayung awan yang mendung, yang sebentar lagi akan hujan.

Udaranya cukup menyejukkan bila hari telah petang, di hatiku seakan ada senandung alam riang menyambut perasaan yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Dian, kenapa melamun?" Katanya, mengejutkanku dari rasa bahagiaku.
"Ah, kamu, aku tak apa-apa, aku hanya suka memandang bukit teh, rasanya senang tinggal di sini, jauh dari hiruk pikuk perkotaan," kataku mengelak.

"Iya, kapan-kapan bila kamu liburan lagi, nanti kuajak jalan-jalan lagi ya!" Kata Andika, sambil memegang tanganku yang dingin.
"Sip!" Kataku, sambil mengedip ke mata Andika.

Setiap musim liburan, aku selalu menyempatkan diri mampir ke rumah Andika yang jauh di atas bukit teh. Aku selalu menggunakan sepeda ontel kepunyaan saudaraku bila mampir ke rumah bangunan bekas Belanda.

Aku dan Andika adalah teman main sepeda sejak kecil. Dia ikut ayahnya dan bersekolah di Jakarta, sedangkan aku sekolah di Bogor.

Bila musim liburan, kami dan teman-teman selalu mangkal di rumah Andika. Andika itu di sukai teman-temannya, dan teman-temannya banyak, mereka selalu berkumpul di rumah Andika bila ada acara pendakian.

Kegiatan yang paling disukainya, dan akupun kadang-kadang suka ikut bila hanya menyisir di sekitar punggung bukitnya. Kami sama-sama menjelajah di setiap perbukitan dan menyusuri setiap kelokan jalan setapak yang tanahnya merah seperti debu bila musim kemarau.

Aku dan Andika sering berlibur bersama, berpetualang ke perbukitan teh, menelusuri bukit Gunung Nini yang asri, banyak bunga-bunga beraneka warna membingkai hamparan bukit teh, ketika itu langit biru cerah, kontras dengan hijaunya bukit teh dan aneka bunga.

Terkadang Andika mengajakku menyusuri punggung Gunung Malabar, pemandangannya bagus, sejuk, dan nyaman, tempat ini begitu hijau, karena hamparan kebun tehnya sangat luas. 

Kaya akan sejarah, dan sayang sekali banyak orang yang masih saja membuang sampah sembarangan.

Di Gunung Wayang tempat yang paling banyak kenangannya bersama Andika. Semua penuh kisah perjalanan dari bukit teh yang satu dan lainnya. Keindahannya takkan pednah terlupakan sepanjangnya.

Dan aku di sini, persis di depan pintu gerbang bercat hitam, bangunan megah peninggalan Belanda yang sudah direnovasi ulang, menambah elegan.

Dan rinduku di sini membuncah, setelah sekian tahun aku tak bersua lagi dengan Andika, di karenakan kesibukan kami masing-masing, dan melupakan waktu yang terus merambat perlahan dan telah jauh meninggalkan ingatanku pada Andika. 

Kini, dengan segudang rindu aku datang untuk memastikan apakah Andika baik-baik saja?

"Neng, mau bertemu siapa?" Aku dikejutkan oleh colekan jari di tanganku, ternyata Bibi Ari, pembantu rumah tangga keluarga Andika.

"Oh, saya mau bertemu Andika!" Jawabku, tergagap saking terkejutnya.
"Oh, Den Andika, mari masuk!" Bibi Ari menggandeng tanganku mengajak masuk dan duduk di ruang tamu.
"Ini neng, surat dari Den Andika untuk Neng Dian!" Kata Bibi Ari memberikan sepucuk surat bersampul biru untukku, dan aku bertambah penasaran apa isinya? Dan Andika tak terlihat di sekitar rumah.

Aku bertanya-tanya dalam hatiku, ada apa? Dengan tangan gemetar, kubuka surat bersampul biru itu, dan kubaca isinya.

Dear Dian,

Aku rindu padamu Dian, bertahun-tahun aku ingin berjumpa denganmu, tetapi aku tak bisa, dan tak berani cinta sama kamu, aku takut, takut sekali kehilanganmu, karena penyakit yang kuderita ini, dan dokter memvonisku, umurku tak  sampai dua tahun.

Dian, semoga kamu tak sedih ya, aku hanya tidur sebentar dan memimpikan kamu di duniaku, bila aku tak ada di sampingmu, tak mengajakmu jalan-jalan seperti biasa dulu waktu liburan, maafkan aku ya, bukan aku jahat padamu, aku hanya tak ingin kamu sedih. 

Dan tengoklah aku, dan doakan aku ya, semoga hari-harimu bahagia.

Love Andika

Ketika selesai kubaca surat Andika, tanganku gemetar, aku menangis meraung-raung, antara rindu dan sedih yang mendesak. Aku tak menyangka, Andika akan cepat meninggalkanku, aku melihat sewaktu dulu, tak kulihat dia memendam penyakit.

Oh Tuhan, mengapa begitu cepat dia pergi meninggalkan aku, selagi aku rindu padanya.
"Neng, biar bibi antar Neng ke puncak bukit melihat Den Andika ya!" Bibi Ari mengejutkan lamunanku dan tangisku terhenti, karena terkejutnya.

Di atas bukit Malabar, aku seakan melihat Andika tersenyum menyambutku, bayangannya ada di atas langit berkabut, seakan dia melambaikan tangannya, untuk kuraih.

Ketika sampai di dekat batu nisan, aku tak kuat menahan sedih, bercampur rindu. Kucium batu nisan itu dengan bersimbah air mata.

"Maafkan aku Andika, aku tak tahu, bila kau sedang sakit, mengapa kamu membohongi aku dengan semua penyakitmu, seolah-olah kamu tak sakit di depanku.

Aku menangis tak henti-hentinya sampai kering air mataku. Dan kupandangi langit di Bukit Malabar tetap berkabut, seakan sebentar lagi akan gerimis. Langkahku lunglai dan seperti tak ada kekuatan lagi. Aku pingsan dan tak ingat apa-apa lagi.

Bandung Barat, 19 November 2019

×
Berita Terbaru Update